NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 tugas pertama

Gedung pencakar langit Adhitama Group berdiri tegak bak raksasa baja yang mencengkeram pusat kota. Arsitektur kaca modernnya berkilau angkuh di bawah terik matahari pagi, memancarkan aura kekuasaan mutlak dari sang pemilik tunggal.

Alana melangkah melintasi pintu lobby utama yang megah dengan dada yang bergemuruh hebat. Di sampingnya, Devano duduk dengan tenang di atas kursi roda elektriknya, mengenakan setelan jas hitam formal yang sangat rapi. Wajah pria itu datar tanpa ekspresi, sebeku es di kutub, memancarkan aura tirani yang membuat seluruh karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat dengan tubuh gemetar.

Namun, begitu sosok Alana tertangkap oleh pandangan mata publik, keheningan lobby seketika pecah oleh bisik-bisik miring.

"Lihat itu... wanita yang berjalan di sebelah Tuan Devano. Apakah dia benar-benar Nyonya Adhitama yang baru?"

"Kudengar dia hanya anak buangan dari keluarga Wijaya. Pengantin pengganti yang murahan karena kakak tirinya melarikan diri!"

"Cih, berani sekali dia mengangkat dagunya di tempat ini. Dasar wanita haus harta, memanfaatkan kelumpuhan Tuan Devano untuk naik kasta!"

Setiap kalimat sindiran itu melesat bak anak panah beracun yang menghujam langsung ke harga diri Alana. Langkah kakinya sempat goyah, jemarinya yang dingin meremas ujung blazer kerja yang dikenakannya. Namun, ingatan tentang ancaman Devano semalam membuat Alana terpaksa menguatkan kepalanya. Ia harus tersenyum. Ia harus berpura-pura menjadi istri yang bahagia di depan kamera publik.

Kreeek.

Pintu lift khusus CEO terbuka di lantai teratas. Lantai ini adalah area steril, hanya diperuntukkan bagi jajaran eksekutif tertinggi dan asisten pribadi. Begitu mereka keluar, seorang wanita dengan pakaian kerja yang sangat ketat dan rok mini di atas lutut sudah berdiri menyambut dengan senyuman yang dibuat-buat.

Dia adalah Vivi, sekretaris senior Adhitama Group yang sudah bertahun-tahun mengincar posisi untuk menjadi wanita di sisi Devano.

"Selamat pagi, Tuan Besar Devano," sapa Vivi dengan suara yang disengaja mendesah manja. Pandangan matanya beralih ke arah Alana, memancarkan kilat permusuhan dan kejijikan yang sangat pekat. "Dan... selamat pagi untuk Anda, 'Nyonya' palsu."

Alana tersentak mendapat sambutan sefrontal itu. Belum sempat ia membalas, Vivi sudah melangkah maju, menyerahkan sebundel dokumen tebal ke arah Alana dengan sentakan kasar hingga beberapa lembar kertas hampir terjatuh.

"Karena Tuan Devano membawa Anda ke sini sebagai asisten magang, maka tugas pertama Anda adalah memilah dokumen laporan keuangan lima tahun terakhir ini. Kerjakan di kubikel pojok luar, jangan mengotori ruang kerja pribadi Tuan Devano dengan kehadiranmu yang tidak kompeten," ketus Vivi dengan nada memerintah yang sangat angkuh.

Alana menatap tumpukan kertas itu, lalu beralih menatap Devano. Pria itu hanya diam, duduk di kursi rodanya sembari menatap layar tablet tanpa niat sedikit pun untuk membela Alana di depan sekretarisnya. Kepuasan dingin terpancar dari wajah Vivi saat melihat Alana diabaikan oleh suaminya sendiri.

"Baik, akan saya kerjakan," ucap Alana tenang. Ia menerima dokumen itu dengan lapang dada. Sejak kecil dianiaya oleh ibu tirinya, tekanan dari sekretaris seperti Vivi bukanlah apa-apa bagi ketegaran mentalnya.

Tiga jam berlalu dengan sangat menyiksa. Alana duduk di kubikel sempit di luar ruangan, berkutat dengan ribuan angka yang membuat kepalanya berputar. Punggungnya terasa pegal, dan matanya mulai memerah menahan kantuk. Di saat yang sama, Vivi sengaja mondar-mandir di depannya sembari membawa secangkir kopi hangat ke dalam ruangan Devano dengan senyum kemenangan.

"Alana, masuk ke dalam sekarang."

Suara bariton Devano tiba-tiba menggema melalui alat interkom di meja kerja Alana.

Alana buru-buru bangkit berdiri, merapikan pakaiannya, dan melangkah masuk ke dalam ruang kerja CEO yang luar biasa luas dan didominasi dinding kaca besar yang memperlihatkan pemandangan seluruh kota dari ketinggian.

Di dalam ruangan, Vivi sedang berdiri dekat dengan kursi roda Devano, memamerkan belahan dadanya yang sengaja direndahkan saat menyajikan kopi. Begitu Alana masuk, Vivi langsung meliriknya dengan tatapan meremehkan.

"Tuan Devano, apakah Anda ingin saya mengusir wanita ini? Dia pasti mengganggu konsentrasi bekerja Anda," ujar Vivi dengan nada manis yang memuakkan.

Devano tidak menjawab Vivi. Pria itu perlahan mengangkat wajahnya, menatap Alana yang berdiri tegak dengan sisa dokumen di tangannya. Kilat kemarahan yang pekat tiba-tiba berkobar di dalam manik mata hitam sang tirani.

"Vivi, keluar," perintah Devano, suaranya rendah dan sarat akan ancaman mutlak.

Vivi tersenyum puas, mengira perintah itu ditujukan untuk Alana. "Kau dengar itu? Keluar dari—"

"Aku bilang KAU yang keluar, Vivi!" bentak Devano dengan suara yang menggelegar, menghantam meja kerjanya dengan tangan kekar hingga cangkir kopi di atasnya bergetar nyaring.

Vivi seketika pucat pasi, tubuhnya gemetar ketakutan melihat amarah sang CEO. Tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun, sekretaris seksi itu langsung berbalik dan berlari keluar ruangan, menutup pintu ganda dengan rapat.

Kini, ruangan luas itu hanya menyisakan Devano dan Alana dalam keheningan yang mencekam.

"Kemari, Alana," desis Devano, suaranya kembali rendah namun sepuluh kali lebih mengintimidasi.

Alana melangkah ragu-ragu mendekat. Begitu jarak mereka tersisa satu langkah, sebuah fenomena yang mengerikan terjadi. Devano tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Alana dengan kekuatan yang luar biasa.

Brak!

Dalam satu sentakan kasar, Devano menarik tubuh Alana hingga wanita itu terjerembap di atas meja kerja yang besar. Dokumen-dokumen yang tadi dipegang Alana berhamburan berantakan di atas lantai marmer.

Sebelum Alana sempat memproses apa yang terjadi, Devano telah bangkit berdiri dari kursi rodanya! Kedua kakinya yang panjang menumpu dengan kokoh, mengunci tubuh ringkih Alana di atas meja kerja. Devano mencondongkan tubuhnya yang kekar, memenjarakan Alana di bawah kungkungan dadanya yang bidang dan keras. Kedua tangan pria itu bertumpu di sisi kanan dan kiri kepala Alana, mematikan seluruh celah untuk melarikan diri.

"T-Tuan Devano... Anda berdiri... ini di kantor..." cicit Alana dengan napas yang memburu panik, matanya membelalak menatap wajah tampan pria yang kini berada hanya beberapa sentimeter di atas wajahnya.

Aroma parfum maskulin yang bercampur wangi tembakau mahal dari tubuh Devano langsung meracuni indra penciuman Alana, menciptakan ketegangan sensual R-15 yang sangat pekat di antara mereka.

"Kau membiarkan wanita lain menginjak-injak harga dirimu di depan mataku, Alana?!" desis Devano dengan rahang yang mengeras penuh amarah. Jemarinya yang panjang bergerak naik, mencengkeram dagu Alana dengan kuat, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang berkilat posesif ekstrem.

"Dia... dia hanya memberikan saya tugas, Tuan..." jawab Alana dengan suara bergetar, air mata mulai menggenang di sudut matanya akibat tekanan dominasi yang terlalu menyesakkan dada.

"Tugas?!" Devano menyeringai sinis, sebuah ekspresi kejam yang membuat ketampanannya terlihat begitu mematikan. "Kau adalah istri dari Devano Adhitama! Mulai detik ini, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang boleh menghinamu atau membuatmu menundukkan kepala, kecuali AKU!"

Devano memajukan wajahnya, membisikkan kata-kata panas tepat di depan bibir Alana yang bergetar hebat. "Setiap helai rambutmu, setiap jengkal kulitmu adalah milikku. Jika kau membiarkan dirimu dihina oleh orang lain, itu sama saja kau sedang merendahkan kepemilikanku, Alana!"

Sebelum Alana sempat membela diri, Devano membungkuk dan membungkam bibir mungil Alana dalam sebuah ciuman yang sangat kasar, panas, dan menuntut kepatuhan absolut.

Alana melenguh pelan di dalam tenggorokannya, meremas kemeja hitam Devano seiring dengan rasa takut dan gairah asing yang mulai membakar seluruh akal sehatnya. Devano mengunci pinggang Alana dengan satu tangan, mengangkat tubuh wanita itu sedikit lebih tinggi di atas meja kerja, memperdalam ciuman tirani yang menandai kepemilikan mutlaknya di tengah ruang kerja CEO yang mewah.

Ketika ciuman panas itu terlepas, napas keduanya tersengal-sengal di udara. Devano menyeka sisa saliva di sudut bibir Alana yang memerah bengkak menggunakan ibu jarinya dengan gerakan kasar namun sarat akan obsesi gelap.

"Mulai besok, meja kerjamu pindah ke dalam ruanganku. Tepat di bawah tatapan mataku," perintah Devano serak, menatap puas pada mempelai penggantinya yang kini terkulai lemas tak berdaya di bawah kuasanya. Sandiwara kepatuhan ini baru saja dimulai, dan Alana tidak akan pernah bisa lepas dari jerat sang tirani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!