Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Perbedaan Yang Kontras
Waktu berjalan jauh lebih cepat daripada yang Naomi sadari.
Perawatan Davin setelah operasi langit-langit memang melelahkan, tetapi hasilnya perlahan mulai terlihat. Luka operasinya membaik dengan sangat baik. Jahitan menutup rapi. Meski begitu, perjalanan Davin tentu belum selesai. Karena kasus celah bibir dan langit-langit bukan hanya soal operasi luar semata.
Sekarang Davin mulai rutin menjalani observasi lanjutan ke dokter spesialis gigi dan mulut anak yang direkomendasikan Junie. Bagian gusinya terus dipantau. Pertumbuhan giginya juga diperhatikan ketat untuk memastikan tidak ada gangguan besar di kemudian hari. Selain itu, terapi wicara juga mulai rutin dilakukan.
Awalnya Naomi sempat sedih ketika mendengar penjelasan soal terapi jangka panjang itu. Rasanya seperti perjuangan mereka tidak pernah benar-benar selesai. Namun kali ini Naomi tidak merasa sendirian.
“Pelan-pelan aja,” kata Junie suatu kali saat melihat Naomi terlalu tegang di ruang konsultasi. “Perkembangan Davin bagus.”
Naomi menunduk menatap anaknya yang sedang duduk di lantai sambil memainkan balok warna-warni.
“Iya… tapi aku takut ada yang kurang.”
Junie tersenyum kecil. “Namanya orang tua pasti begitu.”
Naomi langsung melirik. “Dokter juga?”
“Apalagi kalau anaknya kayak Davin,” jawab Junie spontan.
Naomi sedikit terpaku. Sementara Davin malah tertawa kecil lalu merangkak mendekati Junie sambil membawa balok mainannya.
“Da!” serunya bangga.
Junie langsung mengambil balok itu. “Wah, pintar.”
Memang benar. Davin tumbuh menjadi anak yang sangat pintar. Usianya kini sudah lewat satu tahun. Wajah kecilnya semakin tampan. Bekas operasi di bibirnya mulai tampak samar. Matanya bulat cerah seperti Naomi. Sementara sifatnya sangat aktif dan penuh rasa ingin tahu. Dia cepat belajar bicara meski pelafalannya masih harus terus dilatih.
“Ma…”
“Mamam…”
“Jiji…” panggilnya suatu hari pada Jihan.
Jihan langsung heboh setengah mati.
“YA AMPUN DIA MANGGIL AKU!”
Padahal Naomi tahu itu masih asal bunyi. Tapi tetap saja semua orang di apartemen ikut senang melihat perkembangan Davin.
Terapi wicara di rumah juga menjadi rutinitas baru. Naomi bahkan sampai membuat kartu gambar sendiri dari karton bekas. Dia duduk berjam-jam mengajari Davin menyebut kata sederhana.
“Ma-ma.”
Davin menatap mulut ibunya serius.
“Ma…”
Naomi langsung mencium pipi anaknya gemas. “Pinter!”
Kadang Junie ikut membantu saat berkunjung.
“Coba lihat bibir saya,” katanya sabar sambil duduk di depan Davin. “Pa-pa.”
Davin mengikuti dengan ekspresi serius seperti sedang ujian besar.
Melihat itu, Naomi sering diam-diam tersenyum sendiri. Karena dulu dia pikir hidup mereka sudah hancur. Namun sekarang, apartemen kecil itu justru terasa penuh kehidupan.
Hari demi hari berlalu. Davin semakin disukai banyak orang. Anak itu ramah, mudah tertawa, dan sangat pintar membaca suasana. Bahkan perawat-perawat di klinik Junie sering berebut menggendongnya.
“Duh ganteng banget sih!”
“Matanya lucu ya ampun…”
“Kalau besar pasti bikin repot cewek.”
Naomi selalu tertawa malu mendengarnya.
Sementara Junie diam-diam terlihat bangga sendiri tiap mendengar orang memuji Davin.
...***...
Berbeda jauh dengan suasana hangat di apartemen Naomi. Rumah keluarga Hartanto justru semakin terasa dingin meski penuh kemewahan.
Abyan kini sudah berusia enam bulan. Secara fisik, bayi itu tumbuh sangat sehat. Wajahnya tampan, kulitnya bersih, dan tubuhnya gemuk menggemaskan. Namun sifatnya jauh berbeda dari Davin.
Abyan sangat cengeng. Sedikit tidak nyaman langsung menangis keras. Dan yang paling membuat Anggun frustrasi, anak itu sama sekali tidak betah dengannya.
“Ya ampun…” keluh Anggun suatu pagi sambil mencoba menggendong Abyan.
Baru beberapa detik berada di pelukannya, bayi itu langsung menangis kencang sambil mendorong tubuh ibunya sendiri.
“Abyan!” kesal Anggun.
Namun begitu Bu Wati datang mengambil alih...
“Nah sayang… sini sama Bi Wati…”
Tangisan Abyan langsung mereda perlahan. Anggun melongo tidak percaya.
“Ini anak kenapa sih?” gerutunya kesal.
Bu Wati hanya tersenyum canggung. “Mungkin lagi rewel aja, Bu.”
Padahal semua orang di rumah tahu. Abyan memang jauh lebih dekat dengan pengasuhnya dibanding ibunya sendiri.
Karena sejak lahir, Bu Wati-lah yang paling sering bersamanya. Yang menyuapi, yang menidurkan, yang menggendong saat demam, dan yang mendengar tangis tengah malam.
Sementara Anggun lebih sering sibuk di luar rumah. Akibatnya Anggun malah semakin malas mengurus anaknya sendiri.
“Udah lah sama Bu Wati aja,” katanya suatu sore sambil sibuk memilih outfit di tablet.
Tangisan Abyan yang rewel justru terasa seperti gangguan baginya.
Anehnya, justru Zayn yang sekarang lebih sering menemani Abyan dibanding semua orang. Meski sangat sibuk sebagai dokter penyakit dalam, Zayn tetap berusaha menyempatkan waktu pulang lebih cepat beberapa kali dalam seminggu. Kadang malam-malam dia masuk ke kamar bayi sambil masih memakai jas dokter.
“Anak Papa belum tidur?”
Abyan langsung tersenyum lebar tiap melihat ayahnya.
Bu Wati bahkan sering bilang, “Kalau sama Pak Zayn, Abyan anteng banget.”
Dan memang benar. Di pelukan Zayn, Abyan biasanya jauh lebih tenang. Mungkin karena meski sibuk, Zayn tetap memberikan perhatian tulus pada anaknya.
Suatu malam, setelah berhasil menidurkan Abyan, Zayn duduk sebentar di kursi dekat boks bayi sambil memandangi wajah kecil itu.
Anaknya sempurna, sehat, dan tidak kurang apa pun. Namun entah kenapa, akhir-akhir ini Zayn justru sering merasa rumahnya kosong.
Anggun makin sibuk. Mereka makin jarang bicara. Bahkan makan malam bersama pun semakin langka.
Ponsel Zayn tiba-tiba bergetar.
“Ayah?”
Suara Roby terdengar dari seberang telepon.
“Iya, Yah?”
“Ke ruang kerja sebentar.”
Zayn sedikit heran karena sudah cukup malam. Namun dia tetap mengangguk. “Baik.”
Beberapa menit kemudian, Zayn masuk ke ruang kerja besar milik ayahnya.
Ruangan itu dipenuhi aroma kayu mahal dan cerutu tipis. Roby duduk santai di kursi kerjanya sambil memegang segelas minuman.
“Kamu duduk dulu,” perintah Roby.
Zayn menurut. “Ada apa, Yah?”
Roby memperhatikan putranya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Kamu tahu kan usia Ayah udah nggak muda lagi.”
Zayn mengernyit samar. “Ayah sakit?”
Roby langsung tertawa kecil. “Belum separah itu.”
“Terus?”
Roby meletakkan gelasnya pelan. “Ayah mau mulai mundur pelan-pelan dari rumah sakit.”
Zayn langsung sedikit terkejut.
Selama ini Roby Hartanto adalah pusat dari semuanya. Direktur utama Rumah Sakit Hartanto. Sosok keras yang membangun kerajaan bisnis medis keluarga mereka dari nol.
“Ayah serius?”
Roby mengangguk tenang. “Dan Ayah mau kamu mulai belajar pegang posisi direktur.”
Zayn membeku sesaat.
“Aku?”
“Ya kamu.” Roby tersenyum tipis. “Kamu anak laki-laki satu-satunya.”
Zayn terdiam. Jujur saja, sejak dulu dia memang tahu posisi itu suatu hari akan jatuh ke tangannya. Namun mendengar langsung tetap terasa berat.
“Ayah mau pensiun?” tanyanya pelan.
Roby terkekeh kecil. “Ayah cuma mau lebih santai.”
Padahal dalam pikirannya, ada alasan lain yang tidak dia katakan. Akhir-akhir ini Roby memang semakin sering mencari alasan keluar rumah. Semakin menikmati kehidupan di luar pengawasan Ratna. Namun tentu saja itu tidak mungkin dia ceritakan pada anaknya sendiri.
“Kamu mulai ikut Ayah meeting direksi minggu depan,” lanjut Roby. “Belajar pelan-pelan.”
Zayn mengangguk otomatis. Sejak kecil dia memang terbiasa patuh pada ayahnya.
“Tapi…” Roby berhenti sejenak. “Untuk sekarang jangan bilang Mama dulu.”
Zayn langsung mengernyit. “Kenapa?”
Roby tersenyum tipis sambil menyandarkan tubuh. “Karena Ayah belum mau dia terlalu ikut campur.”
Jawaban itu terdengar aneh bagi Zayn. Setahunya selama ini Ratna justru selalu paling bersemangat soal rumah sakit keluarga mereka.
“Bukannya Mama pasti senang?”
Roby mengangkat bahu santai. “Nanti aja kalau semuanya sudah siap.”
Zayn masih merasa sedikit heran. Namun dia tidak banyak bertanya lagi. “Baik.”
Roby tersenyum puas melihat jawaban putranya. “Bagus.”
Lalu pria tua itu berdiri sambil menepuk bahu Zayn pelan. “Kamu harus mulai belajar jadi pemimpin besar sekarang.”
Zayn mengangguk pelan. Namun entah kenapa, malam itu dadanya terasa berat. Karena semakin hari, hidupnya justru terasa semakin jauh dari kata hangat.