Kesalahpahaman membuat dua remaja seperti Tom & Jery ini terpaksa menikah di usia 18 tahun. Qanita Langit Zoe adalah gadis nakal dengan sejuta ide. Baginya membuat ulah adalah sebuah hobi. Sejak awal sekolah dia dipertemukan dengan Mahendra Ghabumi Adelard, salah seorang bad boy yang hobi membuatnya emosi.
Langit menyukai Albiru, dokter magang tampan yang tinggal tepat di sebelah rumahnya. Namun bagaimana jadinya jika kesalahanpahaman malah membuatnya harus menikah diam-diam dengan Bumi, bukan dengan pria yang dia sukai.
Apalagi begitu menikah Bumi mempunyai sejuta rahasia yang baru Langit ketahui.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leon Messi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
[26] Ternyata Biru Suka Langit?
Langit menunduk memainkan ponselnya menunggu lift mengantarkannya ke lantai di mana Ibu di rawat. Alden menghubunginya. Menanyakan kembali untuk datang nanti malam.
Usai mengetik balasan Langit mendongak kala lift berdenting. Dia tersenyum, saat hendak melangkah ia membeku melihat keberadaan Biru yang berdiri di depan lift.
Menggunakan jas kebanggaannya.
Netra pria itu juga menatapnya.
Sepersekian detik mereka saling menatap. Jantung Langit berdetak. Dia menggenggam kuat ponselnya dan membasahi bibirnya. Teriakan yang memanggil nama Biru membuat Langit mengerjap.
Dia buru-buru melangkah ke luar lift.
Sedang Biru yang hendak masuk tidak jadi. Cowok itu menoleh melihat Hanum yang mendekat membawa segelas kopi panas.
"Katanya kamu mau lihat perkembangan Pak Anton. Sudah selesai? Gimana? Apa dia masih sering mengeluh sakit perut?"
Langit menatap dokter cantik yang menghampiri Biru. Dia ingat itu siapa. Sudah dua kali Langit melihatnya.
Dokter cantik yang lagi dekat sama Biru.
Dadanya sesak. Hanum belum menyadari Langit yang berdiri di depan lift. Karena tidak mau melihat mereka, Langit hendak berjalan pergi, tapi Biru mencegatnya.
"Mau ke mana?"
Langkah Langit terhenti. Ia menatap wajah Biru. "Em mau lihat Ibu."
Sebelah alis Biru naik. "Tante Orlin sakit?"
Setahunya Langit memanggil Orlin Mama. Bukan Ibu.
"Eh enggak Kak Biru. Itu Langit mau lihat Ibu ...." Jeda sesaat. Bola matanya berotasi, mencari jawaban yang pas biar Biru gak curiga.
"Loh ini siapa Bir?" Hanum berdiri di samping Biru. Tatapan Langit beralih pada dokter cantik tersebut.
"Jangan-jangan kamu ya yang nama kontaknya tetangga bocil itu?"
Eh?
Hanum tersenyum lebar. Dia amat teramat bahagia. Biru mengernyit. "Kamu mau memberiku kopi kan? Sudah pergi sana.
Pasien menunggumu." Biru mengambil alih kopi tersebut.
Bukannya pergi, Hanum mendekat pada Langit dan mengulurkan tangan.
"Kenalin nama aku Hanum. Nama tetangga bocil yang bikin Biru senyum-senyum sendiri baca pesan ini siapa?"
Biru senyum-senyum sendiri balas pesan dia? Langit sontak menatap Biru yang langsung mengalihkan tatap. Seperti menghindar.
Apa wanita bernama Hanum itu benar bilang hal ini? Albiru... senyum? Hah? Mana mungkin!
"Aku ... Langit kak." Langit menerima uluran tangan itu dengan canggung.
"Jadi Langit ini yang kamu suka Biru?"
Hanum mengerling menggoda Albiru. "Pantes saja. Langit cantik ya?"
Langit masih tidak mengerti. Ia kembali menatap Albiru dan Hanum bergantian. Sebenarnya siapa Hanum ini dan apa maksud ucapan Hanum jika Biru suka dia?
Jika Hanum seseorang yang spesial bagi Albiru dan tahu Biru balas pesannya sambil senyum, kenapa enggak marah atau seengaknya berwajah tidak bersahabat.
Tapi Kak Hanum ini malah tampak santai dan menggoda Biru. Juga tampak senang.
"Aku gak senyum-senyum," elak Albiru. "Sana urus pasienmu."
"Aku masih punya waktu tiga puluh menit lagi untuk nengok pasien. Sekarang mau bicara dulu sama Langit."
"Langit kamu buru-buru? Gimana kalau kita minum kopi di kantin rumah sakit? Aku penasaran cewek mana yang berhasil buat Biru akhirnya jatuh cinta."
Deg!
Jatuh cinta?
Kenapa makin aneh sih?
Langit juga gak paham. Dia berusaha mencerna.
Kenapa pernyataan Hanum membuatnya mulai salah paham. Selama ini Biru bersikap cuek dan dingin. Tapi ternyata Biru tersenyum membaca pesannya. Maksudnya apa? Apa... Biru benar menyukainya?
Tapi kan selama ini Albiru bersikap dingin dan tidak menganggapnya ada. Di mana letak sukanya? Sungguh jantungnya berdetak karena ini dan Langit sangat penasaran.
"Hanum, Langit sibuk. Tidak usah kamu ganggu."
"Kamu kalau malu pergi aja deh Bir. Aku mau bilang Ibu soal Langit nanti."
Albiru tampak kaget. "Han-"
"Yuk Langit ikut aku yuk!" Hanum tiba-tiba mengandeng tangannya untuk masuk lagi dalam lift. Langit bingung. Dia yang ingin menyela keburu ditutup sama Hanum liftnya.
Gadis itu melambai pada Albiru yang tampak tidak tenang. "Langit, gak perlu dengerin Hanum," pesannya sebelum lift benar-benar tertutup.
Hanum terkekeh. "Jelas sekali dia takutnya. Kayaknya paling benar aku narik kamu buat ngobrol."
Langit menggaruk dahinya dengan senyum canggung. Tolong jelaskan pada Langit tentang hal ini. Semuanya masih blur.
Hanum mengajaknya ke kafe kantin di
Lantai dasar dan membawakan dua gelas kopi yang masih panas. Keduanya duduk berhadapan di bagian dekat jendela yang mengarah ke taman hijau rumah sakit.
Tangan Langit memegang kopinya yang masih mengepulkan asap. Terasa hangat dengan tangannya yang dingin karena ngobrol sama seseorang yang dia anggap sepesial bagi Albiru.
Langit bahkan duduk dengan kikuk.
"Langit." Hanum mencondongkan badannya. Dibanding dia yang jadi kaku, Hanum begitu santai dan tersenyum lebar. "Santai aja. Aku baik kok orangnya."
Langit tersenyum kecil dengan anggukan. Ia menatap Hanum yang begitu cantik. Wajahnya bersinar. Teduh. Kian terlihat memukau dengan jas dokternya yang terpasang.
Langit merasa tidak ada apa-apanya.
"Jadi kamu itu rumahnya tetanggaan sama Biru ya?"
Langit mengangguk.
"Hem pantes dia betah di sana. Padahal Ibu sudah suruh pindah biar lebih dekat ke
Rumah sakit. Padahal kan jarak rumah ke rumah sakit jauh."
Langit tidak mengerti.
"Karena kamu ternyata dia gak pindah. Katanya udah nyaman walaupun jauh. Ck ck ck anak itu. Kenapa gak bilang aja dia punya cewek yang disuka sebelah rumah?" Hanum tertawa.
Langit masih mencerna.
Biru suka dia? Masa sih?
"Aku makasih banget loh sama kamu Langit. Biru itu gak pernah dekat sama cewek manapun. Tapi dia bersemangat kalau ada kamu. Aku sampai mikir dia menyimpang gak suka cewek. Ibu saja udah nyuruh bawa calon ke rumah. Tapi dia selalu ngalihin pembicaraan." Hanum berujar panjang lebar.
"Kak Biru cuek kok sama Langit," ujarnya pada akhirnya. Mengelak pernyataan Biru suka dia. Gimana mungkin?
"Itu sikap luarnya aja. Aku kenal banget sama Biru. Dia gak pernah senyum, eh baca chat kamu dia senang banget."
"Kak Hanum bukannya tunangannya kak Biru??"
Dahi Hanum mengernyit. Dia diam sesaat lalu tertawa. "Tunangan?" ulangnya.
"Kak Hanum lebih dekat sama kak Biru.
Waktu itu juga pergi jogging bareng di CFD."
Hanum berpikir, teringat dia menahan senyum. "Jadi waktu itu kamu lihat aku sama Biru?" tanyanya dibalas anggukan. "Kok gak nyapa Biru?"
"Em itu karena-"
"Kamu ngira aku kekasih Biru ya?
Hanum terkekeh. "Kita bukan pasangan Langit. Kami saudara sepersusuan. Aku udah dekat banget sama Biru dari kecil." Hari ini dia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.
Pantes saja mereka boleh bersentuhan.
Namun itu sama sekali tidak membuat Langit lega. Karena bagaimanapun kisah cintanya pada Biru tidak bisa berlanjut.
"Jangan cemburu Langit. Biru itu sukanya kamu."
Langit menatap wajah cerah Hanum. "Kak Biru enggak suka kok sama Langit. Kami gak ada hubungan apa-apa. Lagipula kak Biru gak sedekat itu sama Langit. Kak Biru cuek, dingin dan juga gak anggap Langit."
Hanum menggeleng seraya mengibaskan tangannya. "Aduh Langit. Itu emang sikap Biru. Tapi kamu itu beda. Aku bisa lihat dari tatapan Biru ke kamu tadi beda dengan gimana dia natap orang lain. Biru itu suka kamu. Tapi dia ahli menyembunyikan sampai kamu gak akan tahu. Aku karena udah kenal dan tahu Bumi, bisa lihat gimana perbedaan tatapannya ke setiap orang."
Glek!
Dada Langit sesak. Harusnya dia senang kan tahu hal ini? Dia akan tersenyum lebar sepanjang waktu dan menggoda Biru kapanpun. Tapi kenyataan sudah berbeda.
Terlambat untuk dia tahu dan kini tidak berarti apa-apa lagi.
Harusnya Langit tidak pernah tahu agar dia mudah move on. Tapi jika seperti ini bagaimana dia menjauh dari Biru?
Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
***
Langit melangkah ke ruangan Ibu dengan melamun. Pikirannya pada Biru. Dia menghela nafas dan menunduk menatap lantai.
Di saat dia berusaha menghindar tapi
Kenapa semesta malah membuatnya kesulitan?
"Langit. Lo dari mana aja?" Suara itu membuatnya mendongak. Bumi berdiri di depan pintu Ibu dan berlari kecil ke arahnya.
Netranya menatap wajah khawatir Bumi.
Kesalahan besarnya adalah menyakiti Bumi dengan masih mencintai Albiru. Saat ini Bumi sedang berusaha agar hubungan mereka dalam kenyamanan dan perasaan di antara mereka hadir.
Tapi penjelasan Hanum membuatnya ragu. Laki-laki yang selama ini dia cinta, ternyata juga menyukainya. Siapa yang tidak senang dan juga sesak bersamaan?
"Kok diem. Lo ilang ke mana? Tadi gue suruh ke ruang Ibu. Tapi lo gak ada. Gak ada masalah apapun kan?"
Langit menggeleng dengan senyuman kecil. "Enggak kok. Gue tadi ada urusan bentar. Jadi telat ke sini."
"Ketemu orang yang lo kenal ya?" tebak Bumi dianggukinya. Beruntungnya Bumi tidak bertanya lagi. Cowok itu hanya mengangguk.
"Ya sudah ayo masuk."
Langit mengangguk. Di saat dia akan melangkah. Ponselnya berbunyi. Ada nama Albiru tertera di layar. Langit menatap lama. Bumi ternyata juga tidak sengaja lihat.
Ia lekas menyimpan ponselnya.
"Yuk. Gue gak sabar ketemu Ibu." Langit mengulas senyum dan berjalan duluan. Ia abaikan chat Biru karena menghargai Bumi.
"Kalian sering chattan?"
Pertanyaan itu membuatnya menghentikan langkah. Langit berbalik badan. "Enggak kok. Sejak waktu itu gue gak ada chat kak Biru," ujarnya hati-hati. "Lo gak marah kan?"
Bumi menggeleng. "Gue tahu kok lo paham apa yang harus lo lakuin. Gue percaya. Walaupun lo masih ada perasaan buat Dokter Biru. Lo gak akan ngejar dia seperti dulu lagi."
Kalimat Biru memukul perasaannya telak. Langit merasa bersalah.
Bumi tersenyum dan merangkul bahunya memasuki ruangan Ibu. Bagaimana perasaan Bumi yang merupakan suaminya jika istrinya mencintai orang lain?
"Jangan diem mulu lo. Lo bukan Langit
Kalau kebanyakan diam."
Langit hanya memberikan cengiran. Jauh di dalam lubuk hati, perasaannya sedang berperang. Memasuki ruangan Ibu, dia mendekat ke brankar. Langit berdiri dan mengenggam tangan Ibu. Matanya menatap lekat wajah yang tampak tirus. Tubuh yang kian kurus dan ringkih dan mata yang terus tertutup.
Berbeda dengan Ibu di foto yang tampak segar dan cantik.
Jika Ibu tahu kondisi putranya beliau pasti akan terluka. Bumi hanya tinggal sendiri. Sebagai seseorang yang sudah jadi istri sahnya, dia merasa jahat masih menyimpan rasa pada Biru.
Tapi Langit tidak mengerti bagaimana dia
bisa menghapus perasaannya buat Biru dan belajar mencintai Bumi.
Di dalam hatinya, dia juga ingin menutup luka Bumi, menyembuhkan luka itu dan memberikan apa yang selama ini tidak Bumi rasakan. Langit ingin menjadi istri yang membahagiakan Bumi setelah banyak rasa sakit yang diterima.
"Ibu, maafin Langit karena belum suka
Bumi. Maafin Langit belum bisa jadi yang terbaik buat Bumi. Langit bandel, nakal, sulit diatur dan kerjaanya juga terus berantem sama Bumi, tapi Langit janji akan berusaha melupakan kak Biru dan sayang sama Bumi," monolognya dalam hati.
"Jadi Ibu gak usah khawatir ya. Bumi gak akan sedih lagi. Gak akan terluka lagi. Ibu harus sehat dan bangun. setelah itu kita kumpul bareng ya Bu? Bumi kangen banget sama Ibu."
***
"Jadi lo tiap hari ke sini?"
"Hm. Tiap hari. Kadang gue nongkrong bentar. Baru ke sini. Sorenya langsung masuk kerja."
"Mulai sekarang gue aja yang ke sini."
"Lo kan les."
Langit menghela nafas. Iya benar juga.
Mana lesnya senin sampai sabtu. Dia jadi punya waktu lihat dan jaga Ibu hari minggu. Padahal dia berkeinginan besar untuk meringankan beban Bumi.
"Jangan sampai kepikiran bolos les." Bumi mengingatkan. Mewanti-wanti tindakan
Langit.
aja?" "Tapi masa gue lihat Ibu tiap hari minggu
"Itu cukup Langit. Lo fokus aja sama sekolah dan les. Gak usah mikirin ibu."
"Ya gak bisalah Bumi. Masa lo sendirian yang jaga Ibu."
"Ibu bukan tanggung jawab lo."
"Tapi Ibu mertua gue. Udah kayak mama."
"Gue senang lo peduli. Tapi lo juga harus perhatian pendidikan. Gue gak akan senang kalau lo lalai sama pendidikan karena ini.
Katanya mau ngalahin gue."
"Kita kan bisa belajar bareng. Lo ajarin gue dan kasih tips ngalahin lo. Gampang kan?"
Langit menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Lo ngalahin gue tapi nanya tips ke gue? Itu mah gue sengaja ngalah."
"Lo sebagai suami yang baik ya harus ngalah."
"Soal ini kita tetap harus berlomba."
"Kok lo gitu sih?"
"Kalau gak gitu, lo gak terpacu."
"Gue tetap belajar kok. Les juga tiap hari kecuali minggu. Kurang terpacu apa?"
"Pokoknya lo fokus aja sama sekolah. Ibu biar tanggung Jawab gue."
"Bumi, gue kan-"
"Lo cukup di sini, di samping gue. Support gue dan hargain gue. Itu udah cukup buat gue jalani semua ini. Karena sekarang gue gak sendiri. Gue punya rumah kalau gue capek. Gue punya lo yang sekarang jadi alasan gue untuk kuat buat hidup, Langit." Netra Bumi menatapnya dalam.
Langit menutup bibirnya. Dadanya bergetar akan ucapan itu. Lagi sesak datang. Bumi yakin padanya. Bumi sudah menaruh harapan besar padanya. Sementara Langit masih belum benar-benar menyingkirkan pria lain dalam hidupnya.
***
Sorenya mereka kembali ke rumah untuk nanti abis maghrib langsung on the way ke rumah Alden. Langit masih di rumah Bumi. Dia baru selesai mandi dan sudah memakai gaun navy polos dibalut hijab instan.
Walaupun Bumi itu suaminya, Langit sih gak mau buka hijab. Dia tidak terbiasa. Dari kecil di didik Ezhar menutup rambut.
Sementara dia mandi dia kamar Bumi.
Cowok itu mandi di kamar mandi dekat dapur.
Langit yang mau sholat kebingungan karena
lupa kan gak bawa mukena. Tadi siang sama ashar sholatnya di mesjid.
Akhirnya dia duduk saja di tepi kasur.
Netranya lalu melirik ponsel pria itu yang
banyak notif masuk. Langit karena kepo mengulurkan tangannya ambil. Herannya gak dikunci sama sekali.
Apa Bumi gak punya privasi?
Dia membuka WhatsApp dan melongo melihat chat masuk dari banyak cewek-cewek.
Rata-rata membalas status Bumi. Langit bisa tahu karena ada tanda jika itu balasan status.
Lagipula dia tidak berani buka.
Vioni
[Loh Bum, lo sama siapa?]
Aira
[Bumii... jangan bilang lo punya pacar]
Mika
[Gue patah hati. Lo jadian sama siapa?]
Meli
[BUMI INI GAK BENAR KAN!]
Intan
[What? Please Bum, itu bukan pacar lo kan???]
Mega
[Gilaaa!! Pacar lo? Gak kan?]
Nesa
[Bum:(]
Arnia
[Pacarlo?:(]
Liana
[Kok tumben pos sama cewek? Bum? Gak pacar kan?]
Rifka
[Dia siapa Bumi?]
Kening Langit mengernyit. Kok chatnya pada itu sih. Masih banyak chat masuk ke bawah yang isinya ya protes dari para ciwi dan pertanyaan itu pacar lo?
Dia mencoba buka status Bumi. Curiga karena hari ini mereka seharian bersama. Benar saja saat membuka status, ada foto tangannya dan Bumi yang genggaman, Langit melotot.
Eh sejak kapan di foto?
Mana captionnya, "Prioritas" pake emot love merah.
Astaghfirullah!!!
Gimana gak heboh. Bumi itu gak pernah buat status Whatsapp ataupun instagram. Sekali masukkan status menggemparkan. Gimana para cewek gak langsung protes cowok idaman mereka udah punya cewek.
Apalagi Bumi gak pernah dekat sama cewek manapun.
Ting!
Ia menengok lagi layar ponsel Bumi. Ada grup yang dia duga isinya Alden, Hugo dan Liam. Tag Bumi. Langit sih yakin mereka lagi ribut perihal status Bumi yang di posting setengah jam lalu.
Seengaknya langit lega hanya tangan. Jadi belum ada yang curiga sama dia. Dia taruh kembali ponsel yang terus berisik akan
Notifikasi dan membuka ponselnya.
Ada puluhan notifikasi grup angkatan
Grup kelas dan ya dari Bina. Langit membuka grup angkatan. Isinya membahas status Bumi. Mereka sibuk bertanya dan menduga. Siapa cewek yang lagi dekat sama Bumi. siapa yang Bumi maksud di statusnya.
Anak sekolah kita apa sekolah lain?
Heboh sekali
Langit berdecak. Dia lalu membuka chat
Bina karena malas juga baca grup yang topiknya, 'status Bumi'
Bina
[Ngit!!]
[Gilaa Bumi sekali posting status bikin heboh]
[Lo udah lihat status dia belum?]
[Bumi kayaknya jadian. Tapi selama ini dia gak dekat sama siapa-siapa]
[Fans nya auto patah hati jamaah ahaha]
Anda[Gue udah lihat]
[Biasa aja]
[Emang lo gak patah hati?]
Bina
[Enggak dong]
[Gue patah hatinya kalau salah satu dari mereka gini. Kecuali Bumi ]
Anda
[Hah lo suka siapa di antara mereka?]
Bina
[Ada deeh]
Anda
[Ish lo mah main rahasiaan. Gitu lo sama gue?]
Bina
[Sengaja. Biar lo penasaran]
Langit mengernyit. Lah selama ini Bina terlihat biasa saja pada keempatnya. Ke Hugo, Liam dan Alden. Jadi Bina sukanya siapa dong?
Anda
[Kok lo gak pernah lihatin suka mereka?]
Bina
[Ini namanya mencintai dalam diam]
[Eh bay the way, lo datang jam berapa ke ulang tahun Alden?]
Anda
[Habis Maghrib. Gue lagi siap-siap]
Bina
[Mau gue jemput ke rumah lo gak? Biar Bareng]
Langit melotot
Anda
[Enggak. Jangan deh. Lo duluan aja. Gue aman]
Bina
[Oke deh. Sampai jumpa di sana bestie sayang. Muah
Langit menghela nafas lega. Saat pintu dibuka dari luar dia lekas menaruh ponselnya. Bumi masuk. Cowok itu sudah sangat fresh.
Memakai kemeja putih dan celana hitam dasar.
"Kok lo formal banget?"
"Alden nyuruh make ini. Lagian di acaranya juga ada tamu undangan orang tuanya Alden."
"Kan Alden yang ulang tahun. Kok teman nyokap bokapnya datang?"
"Mereka beda Langit. Keluarga Alden terpandang. Jadi kalau ulang tahun ya rekan bisnis sampai ikut."
"Kata Alden acaranya sederhana dan orang tertentu aja."
Bumi terkekeh. Dia mengulung lengan kemejanya. Sore ini cowok itu terlihat berbeda. Makin terlihat tampan dengan setelan kemejanya. Vibes CEO muda seakan melekat.
"Alden merendah. Acaranya di ballrom hotel keluarga. Ya pasti mewah."
"Woah gue baru tahu Alden sekaya itu."
Langit berdecak kagum. Ia bangun dari duduknya.
"Bum. Gue mau sholat. Tapi lupa deh bawa mukena. Gimana dong?"
Bumi menoleh. "Punya Ibu ada. Biar gue ambil. Tunggu di sini."
"Hm." Seperginya Bumi tinggal aroma harum sabun mandi. Langit mengipas udara di sekitarnya. Hum dia kok jadi suka wangi Bumi habis mandi ya?
"Nih." Bumi menyerahkan mukena putih dan juga sajadah bergambar makkah. Langit menerimanya dan segera memakai mukena.
"Arah kiblatnya ke mana?"
Bumi mengambil sajadahnya di dalam lemari dan mengembangkan sajadahnya lalu sajadah Langit di belakangnya.
"Kita jamaah?" tanyanya Langit melihat sajadah mereka.
"Iya dong Munah."
"Lo bisa imamin gue?"
Bumi menyentil dahi Langit. "Bisalah."
lagi. "Ini beneran mau jamaah?" tanya Langit
"Kenapa? Gak mau?"
"Mau kok!" Langit lekas berdiri di atas sajadahnya. Dia hanya kaget karena akan diimami.
Bumi menarik kedua sudut bibirnya sedikit lalu juga ikut berdiri di atas sajadahnya. Untuk pertama kalinya pasangan yang baru menikah itu melaksanakan sholat berjamaah.
Sejujurnya Bumi cukup berdebar. Biasanya dia sholat sendiri. Kini dia punya
Makmum. Langit juga sama, dia membasahi bibirnya dan menyentuh dadanya yang berdebar saat Bumi berdiri di hadapannya.
Cara pandangnya berbeda.
Dan jujur Bumi yang berdiri mengimami nya ini membuatnya merasa teduh dan juga takjub. Vibes Bumi yang biasanya menyebalkan kini hilang hilang. Yang dia lihat adalah sosok laki-laki bertubuh tegap yang siap membimbingnya dalam jannah.
Langit mengulum senyum kecil, ia lalu menunduk dan mulai fokus saat Bumi mulai takbir.
"Allahu Akbar!"
Saat bacaan sholat iftitah dilantunkan.
Fokus Langit pecah. Suara merdu Bumi mengalun memenuhi indra pendengarannya.
Bacaan sholat yang membuat dadanya bergetar dan menghadirkan rasa nyaman.
Ia seakan dibuat hanyut dalam bacaan itu.
Tajwid yang tepat dan suara yang enak didengar. Bolehkah dia jujur dadanya berdebar karena hal ini?
Walaupun di awal Fokusnya terganggu karena kagum. Langit sebisa mungkin fokus sholat hingga mereka menyelesaikan hingga
Salam.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Humi mengusap wajahnya lalu berbalik duduk hafal belakang. Langit yang habis sholat langsung lihat punggung Bumi, gelagapan karena malu.
Ia menunduk dan berdizikir. Tapi uluran tangan Bumi membuatnya menaikkan alis.
"Salim dong Munah."
"Hah?"
"Biasanya gitu kan?"
"Oh iya iya." Langit belum langsung mengambil tangan itu untuk salim. Dia diliatin dulu dengan ragu.
"Di salim bukan dilihatin."
Langit mengangkat tangannya. Saat dia menyentuh tangan itu untuk salim dan menciumnya, tubuhnya bereaksi aneh lagi.
Jantungnya berdebar tanpa dia minta dan langit membeku saat dia mengangkat kepala Bumi menahan tengkuknya dan
Cup!
Sesuatu yang basah terasa di dahinya.
Kecupan yang membuat tubuhnya seakan disengat listrik. Langit merasa dunianya juga berhenti saat tatapan Bumi menatapnya dalam.
Deg deg deg!
Tuhan...
Wajahnya... panas
Langit menelan ludah.
Sepersekian detik ia hanyut pada buncahan yang tidak dia mengerti.