Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.
Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.
"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"
Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kendali Di Atas Rahim
Naya menepis tangan perawat yang mencoba menyodorkan vitamin cair ke mulutnya."Singkirkan itu. Aku tidak butuh obat dari tanganmu."
"Ibu Naya, mohon kerja samanya. Pak Arkan memesan vitamin ini khusus agar Ibu tidak lemas lagi," jawab Suster Sari dengan nada datar yang selalu berhasil memicu emosi Naya.
"Aku tidak panggil Arkan ke sini. Sekarang."
Pintu kamar terbuka sebelum suster itu sempat berbalik. Arkan masuk, langkahnya tenang namun auranya memenuhi ruangan. Ia memberi isyarat kecil pada perawat untuk segera keluar.
"Ada apa lagi, Naya? Kamu baru bangun dan sudah membuat keributan yang melelahkan."
"Aku mau Suster Sari diganti. Aku tidak suka cara dia menatapku, seolah-olah aku ini narapidana atau pasien gangguan jiwa yang sedang diawasi," Naya menatap Arkan tajam, tidak ada rasa takut yang tersisa di matanya.
Arkan menatap Naya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Dia perawat terbaik yang bisa aku sewa dengan gaji dua kali lipat. Dia punya lisensi untuk menangani kehamilan risiko tinggi seperti kondisimu sekarang."
"Aku tidak peduli soal lisensinya. Pilihannya cuma dua: kamu ganti dia dengan orang yang lebih manusiawi dan tidak robotik, atau aku tidak akan menyentuh makanan apa pun hari ini. Kamu bilang bayi ini butuh ketenangan, kan? Suster itu membuatku stres setiap detik dia bernapas di ruangan ini."
Naya menyilangkan tangan di depan dada. Ia menggunakan "kartu bayi" untuk pertama kalinya dengan sengaja. Ia tahu Arkan sangat terobsesi pada janin di rahimnya, dan itu adalah satu-satunya senjata yang ia miliki saat ini.
"Baik. Aku akan menyuruh asistenku mencari penggantinya sore ini. Puas?"
"Belum. Aku mau jendela balkon dibuka. Aku merasa tercekik di ruangan tertutup ini."
"Tidak." Arkan bangkit, hendak menyudahi pembicaraan.
Kamu bilang aku ratu di sini. Ratu mana yang tidak boleh menghirup udara segar di rumahnya sendiri? Apa semua ratu Arkan harus mati perlahan dalam sangkar emas?"
"Ratu yang sedang mengandung hartaku yang paling berharga harus mengikuti aturanku, Naya. Satu suster sudah aku ganti sesuai maumu, jangan minta lebih atau kesabaranku akan habis sebelum sore tiba."
Arkan harus pergi ke kantor untuk memantau persiapan acara ulang tahun perusahaan. Baru sekitar lima belas menit mobilnya keluar dari gedung, pintu kamar Naya terbuka. Sofia masuk tanpa permisi, membawa kotak perhiasan besar berbahan beludru hitam.
Kali ini Sofia tidak lagi memaki atau berteriak seperti kemarin. Ia tampak lebih terkendali, namun sorot matanya tetap penuh dengan kebencian yang mendalam.
"Arkan menyuruhku membawakan ini. Dia ingin kamu memakainya untuk acara perusahaan besok malam," Sofia membuka kotak itu, memperlihatkan sebuah kalung berlian dengan mata zamrud besar di tengahnya.
Naya hanya melirik perhiasan mewah itu tanpa minat sedikit pun. "Simpan saja. Terlalu berat untuk leherku. Aku tidak mau memakainya."
"Jangan tidak tahu diuntung, Naya. Kalung ini harganya bisa membeli kembali tiga rumah lama milik mendiang ayahmu. Arkan memberikannya agar kamu tidak terlihat memalukan di depan kolega kami."
"Kalau harganya semahal itu, kenapa tidak Tante pakai saja sendiri? Tante lebih butuh kemilau berlian untuk menutupi wajah Tante yang terlihat sangat lelah karena terus-menerus memikirkan cara mengusirku dari sini," sahut Naya dengan nada tenang yang mematikan.
Sofia menutup kotak perhiasan itu dengan suara yang keras. "Kamu pikir karena ada nyawa di perutmu, kamu bisa mengatur segalanya? Arkan hanya peduli pada keturunannya, bukan padamu. Begitu kamu melahirkan anak laki-laki yang dia inginkan, kamu akan sadar betapa tidak berharganya dirimu di mata keluarga Arkan. Kamu hanya inkubator."
"Setidaknya untuk sembilan bulan ke depan, aku adalah orang yang paling berkuasa di rumah ini. Dan jika Tante terus bicara dengan nada mengancam seperti itu, aku bisa saja bilang pada Arkan kalau kehadiran Tante membuatku mual. Tante tahu kan apa yang akan Arkan lakukan jika tahu ibunya mengganggu kesehatan ahli warisnya?"
Sofia menggertakkan gigi, tangannya mencengkeram kotak perhiasan itu sampai buku-buku jarinya memutih. Ia tahu persis bahwa saat ini Arkan sedang berada dalam fase obsesi yang sangat gila. Putranya tidak akan segan-segan mengusir siapa pun yang dianggap sebagai gangguan bagi Naya. Tanpa sepatah kata lagi, Sofia berdiri dan meninggalkan kamar dengan langkah kaki yang dihentakkan ke lantai.
Naya menarik napas panjang setelah pintu tertutup. Tubuhnya sedikit bergetar. Ia mulai paham pola permainannya; ia tidak butuh tenaga fisik untuk melawan mereka. Ia hanya perlu menunggangi obsesi Arkan untuk memukul balik setiap orang yang mencoba merendahkannya.
***
Sore hari, Arkan kembali ke apartemen membawa beberapa katalog furnitur. Ia duduk di samping Naya yang sedang mencoba duduk di kursi santai dekat jendela yang masih terkunci.
"Aku sudah memutuskan. Ruang kerja lamaku di sebelah akan dirombak total menjadi kamar bayi. Aku sudah menyewa desainer interior terbaik untuk menyelesaikannya dalam waktu satu bulan," menunjukkan katalog desain kamar dengan gaya minimalis modern namun sangat mewah.
Naya menatap katalog itu dengan pandangan hampa. "Itu terlalu cepat, Arkan. Kandunganku baru enam minggu. Masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi."
"Tidak ada kata terlalu cepat untuk Arkan. Semuanya harus sudah sempurna bahkan sebelum dia menarik napas pertamanya di dunia ini," Arkan menunjukkan gambar tempat tidur bayi yang terbuat dari kayu oak pilihan dengan ukiran inisial keluarga.
"Apa kamu pernah berpikir, Arkan... bagaimana jika anak ini nanti tumbuh dan mengetahui apa yang kamu lakukan pada kakeknya?" tanya Naya tiba-tiba, suaranya sangat lirih namun jelas.
Ia menoleh ke arah Naya, matanya yang tadi tampak sedikit bersemangat kini kembali menjadi dingin dan datar.
"Kenapa dia harus tahu sejarah yang sudah aku kubur dalam-dalam? Dia tidak butuh masa lalu yang kelam. Dia hanya perlu tahu bahwa ayahnya adalah pria paling berkuasa yang bisa memberikan apa pun yang dia inginkan di dunia ini."
"Kamu ingin dia tumbuh menjadi monster sepertimu?"
Arkan mendekat, merangkul bahu Naya dengan kekuatan yang sedikit memaksa agar Naya menatapnya. "Aku ingin dia tumbuh menjadi pria yang kuat, Naya. Pria yang tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun. Jika itu artinya dia harus menjadi monster, maka jadilah. Tapi aku akan memastikannya menjadi monster yang paling ditakuti."
"Kamu benar-benar sudah gila," bisik Naya dengan jijik.
"Aku terobsesi, Naya. Dan sekarang, pusat obsesiku ada dua: kamu dan bayi itu. Jadi, berhentilah bicara soal moralitas atau kebencian. Fokuslah untuk menjadi ibu yang sehat untuk anakku."
"Aku ingin anak laki-laki," gumam Arkan pelan, tangannya mengusap perut Naya yang masih tertutup gaun satin. "Dia akan memiliki mataku, dan ketegasan dariku."
"Bagaimana kalau dia perempuan?"
Arkan terdiam sejenak, seolah sedang menimbang kemungkinan itu. "Maka dia akan menjadi satu-satunya wanita di dunia ini yang tidak akan pernah aku sakiti, selain kamu. Aku akan menjadikannya putri yang paling dimanja di seluruh negeri. Tapi, aku tetap ingin anak laki-laki sebagai penerus takhta."
"Besok malam, pastikan kamu tidak membuat malu di acara perusahaan. Pakai kalung yang dibawa ibuku tadi. Tersenyumlah di depan kamera, biarkan semua orang melihat bahwa kita adalah pasangan paling harmonis. Itu akan menaikkan nilai saham kita dan membungkam musuh-musuh bisnisku," Arkan melepaskan pelukannya dan menatap wajah Naya.
"Hanya jika kamu memenuhi janjimu soal Janu," Naya mengingatkan dengan suara tegas.
"Aku tidak pernah menjilat ludahku sendiri, Naya. Sepuluh menit bicara dengannya setelah acara selesai, tanpa pengawasan langsung di dalam ruangan rumah sakit. Itu adalah hadiahku untuk kepatuhanmu hari ini," Arkan bangkit dan merapikan kemejanya.
"Aku mau dia mendapatkan perawatan terbaik, Arkan. Bukan sekadar dirawat."
"Dia sudah ada di kelas VIP sekarang. Makanannya bahkan lebih baik dari makanan supir mana pun di kota ini. Sekarang, tidurlah lebih awal. Aku akan menyuruh penjahit datang besok pagi untuk fitting terakhir gaunmu. Jangan sampai ada kerutan sedikit pun."
Arkan mematikan lampu utama kamar, hanya menyisakan lampu tidur yang temaram. Ia tidak meninggalkan ruangan; ia tetap tidur di samping Naya, memeluk pinggang istrinya dengan sangat protektif seolah takut Naya akan menguap jika ia melepaskan pegangannya sebentar saja.
Naya terjaga di dalam kegelapan yang sunyi. Ia merasakan napas teratur Arkan di tengkuknya. Rasa benci itu masih membara, sangat besar dan dalam, namun di sela-selanya, ia mulai menyadari bahwa ia punya posisi tawar. Ia tidak lagi perlu meronta atau berteriak histeris. Ia hanya perlu menjadi "istri yang patuh" di permukaan, sambil perlahan-lahan mengumpulkan setiap informasi dan kekuatan yang bisa ia dapatkan dari kedekatan paksa ini.
"Besok malam adalah panggungmu, Arkan. Tapi aku yang akan memegang skenarionya tanpa kamu sadari," batin Naya sebelum akhirnya matanya terpejam karena kelelahan emosional yang menguras habis energinya.