Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil Mbak, Tante atau Ibu ??**
MINGGU SIANG. HARI KETIGA SETELAH BAILLA BILANG “IYA”.
Statusnya belum resmi nikah. Baru “tunangan tempo”. Nama aneh yang dikasih Pak Arya sendiri waktu Bailla tanya, “Lah terus gue manggil Bapak apa sekarang?”
“Panggil Pak Arya dulu aja. Biar anak-anak gak kaget. Nanti kalau udah akad, baru ganti jadi ‘Papa’.”
Bailla cemberut. “Gue kayak barang diskon aja. ‘Tempo’.”
“Tempo itu artinya waktu. Biar kita punya waktu buat saling kenal. Biar anak-anak gak kaget pas pindahan.”
Alasan bagus. Ga bisa dibantah.
Makanya minggu siang ini, Bailla berdiri di depan gerbang rumah Pak Arya. Tangan kanan bawa kotak pizza. Tangan kiri bawa kantong plastik martabak.
Rumah itu megah. Tapi ga norak.
Desainnya ala vintage modern. Cat putih, jendela kayu cokelat tua, atap genteng merah. Halaman depan cukup luas. Ada taman kecil penuh bunga kamboja dan mawar mini.
Di pojok ada gazebo kayu pipih, modelnya kayak gazebo di desa nenek Bailla di Cianjur. Satu kata buat ngedeksinya: UNIK.
Bailla berdiri di depan pagar besi hitam, ngerasa kayak mau sidang skripsi. Deg-degan. Telapak tangan basah.
Di kepalanya muter satu pertanyaan "Gimana kalau mereka benci gue? Gimana kalau mereka ngebandingin gue sama almarhumah Mama mereka? Gimana kalau mereka teriak “Ibu tiri jahat!” kayak di sinetron?
Dia narik napas panjang. “Bailla, lu bukan penjahat. Lu cuma bawa pizza dan martabak. Jadi Santai.”
Pagar dibuka dari dalam. Pak Arya muncul. Kaos polo biru, celana chino, rambut disisir rapi. Umur 38 tahun tapi masih kelihatan ganteng kayak dosen muda yang disuka anak kampus.
“Akhirnya dateng. Anak-anak udah nunggu dari jam sebelas.”
“Jam sebelas? Sekarang jam satu, Pak.”
“Itu namanya nunggu dengan harapan.” Pak Arya nyengir. Buka pagar lebar. “Masuk. Tim juri udah siap.”
Bailla masuk. Wangi melati dari taman langsung nyium hidung.
Rumah ini... sederhana tapi mahal. Mempesona. Dan iya, berbau harum uang. Hehe.
Bailla hari ini dandan cukup anggun. Dress pink muda motif bunga sakura kecil, panjangnya selutut. Sepatu kets putih biar gampang lari kalau digangguin anak kecil. Makeup tipis, lipstik warna nude.
Tinggi 155 cm, berat 48 kg, kulit putih oriental. Ga heran kalau di kampus dia dijuluki “Primadona”. Tapi hari ini, semua gelar itu ga guna. Hari ini dia cuma “calon Mama tiri” yang gugup setengah mati.
Di ruang tamu, tiga anak udah duduk berjejer di sofa panjang warna krem. Kayak tim juri Indonesian Idol. Ekspresi beda-beda.
Yang pertama, Arbil. 17 tahun, kelas 2 SMA. Kaos bola tim Real Madrid, celana pendek, kaki di atas meja. Tangan meluk dada. Tatapan: “Awas kalau kamu galak. Gue lapor Papa.”
Muka mirip Pak Arya. Tinggi, hidung mancung, tapi matanya dingin. Kayak lagi nguji nyali.
Yang kedua, Ara. 12 tahun, SMP. Rambut dikuncir dua, jepitan kupu-kupu warna pink. Matanya muter dari Bailla ke kotak pizza, dari pizza ke Bailla. Lidah dijulurin dikit. Jelas lapar.
Yang ketiga, Aya. 4 tahun, TK A. Masih pakai daster kecil gambar Marsha and The Bear. Di tangan ada boneka Barbie rambutnya botak sebelah. Fokusnya 100% ke Bailla. Kayak liat mainan baru yang ukurannya gede dan bisa diajak ngobrol.
Pak Arya tepuk tangan sekali. Suara tepukannya ngebelah hening.
“Anak-anak, ini Kak Bailla. Calon...” dia nyangkut sebentar, kayak nyari kata yang aman. “...teman baru di rumah.”
Hening. Hanya suara detik jam dinding. Tik tik.
Bailla bisa denger jantungnya sendiri.
Aya yang mecah duluan. Dia nunjuk Bailla, matanya berbinar.
“Kak cantik kayak Tante di TikTok!”
Bailla ketawa, kaget. “Makasih, Dek. Tante TikTok yang mana? Yang suka joget?”
“Tante yang joget-joget terus dijewer Mama!” jawab Aya polos.
Arbil langsung nyikut lengan Aya pelan. “Sst! Mama udah gak ada, Aya!”
Suasana langsung beku. Dingin kayak AC disetel 16 derajat.
Bailla buru-buru sodorin kotak pizza ke depan. Tangan gemetar dikit.
“Eh ini, Kakak bawa Pizza dan martabak. Kalian suka? Rasa sosis sama jagung. Favorit anak kecil.”
Ara yang dari tadi diam, tiba-tiba ngangkat tangan kayak di kelas.
“Kak... eh, Tante... eh, Ibu?”
Bailla dan Pak Arya barengan: “Hah?”
Ara nyengir, pipi merah. Malu.
“Aku bingung manggilnya. Kata Papa, harus sopan. Kalau ‘Mbak’ nanti dikira pembantu. Kalau ‘Tante’ kejauhan. Kalau ‘Ibu’...” dia lirik foto almarhumah mamanya di dinding. Foto Mama Sarah senyum lembut, pake baju kebaya biru. “...takut Ibu di surga marah.”
Bailla jongkok. Biar sejajar sama Ara. Lututnya bunyi sedikit. Umur 21 tahun tapi udah kayak nenek-nenek.
“Gimana kalau panggil ‘Kak Bailla’ aja dulu? Nanti kalau Kakak udah bisa masak sayur sop seenak almarhumah Ibu, baru kita ganti. Deal?”
Ara manggut-manggut. “Deal! Tapi Kakak harus janji ya. Ibu masaknya enak banget. Sayur sopnya ada bakso ikan.”
“Bakso ikan? Kakak bisa. Tapi ikan lelenya diganti sosis aja ya. Lebih murah.” Bailla nyengir.
Arbil mendengus. Sok cool. “Emang Kakak bisa masak? Jangan-jangan cuma bisa mie instan. Mie instan juga gosong.”
Tertantang. Bailla berdiri, tangan di pinggang. Gaya emak-emak RT.
“Oh ya? Kakak juara 2 lomba masak 17-an RT lho. Menu andalan: mie goreng tanpa gosong. Bumbunya rahasia. Ada kecap, ada cinta.”
“Hebat! Papa kalau bikin nasi goreng selalu ada item-itemnya. Katanya itu ‘bumbu rahasia’. Padahal itu arang.”
Pak Arya batuk. Pura-pura lihat cicak di langit-langit. “Bumbu arang, Bil. Biar ada sensasi smokey.”
Seketika mereka ketawa. Arbil juga nyengir, walau buru-buru dibuang mukanya ke jendela. Canggungnya leleh dikit-dikit.
Lalu drama terjadi pas bagi pizza.
Aya langsung nyambar kotak. “Aku mau yang banyak topingnya! Yang pojok!”
Ara protes. “Kamu kan gak habis, Kak! Nanti mubazir! Kasih ke Ara aja!”
Aya cemberut. “Sudah, bagi tiga aja. Eh empat ding, sama Papa. Kak Arbil mau gak??”
Arbil yang dari tadi duduk manis, berdiri.
“Gak makasih kakak sudah kenyang.” Suaranya datar. Terus dia beranjak dari tempat duduk menuju ke kamar.
“Bil.... Mau kemana kamu ayo duduk kak Bailla masih disini”. Pak Arya menegur. Suaranya ga marah, tapi ada nada tegas.
Arbil berhenti di tangga. Ga nengok. “Gak mau. Saya gak punya kakak. Apalagi ibu muda seperti itu nanti ujung-ujungnya pergi dan kabur.”
Bailla diem. Dada sesak.
Pak Arya narik napas. “Arbil yang sopan dong ngomongnya. Kan udah kita bicarakan.”
“Ahhh terserah papa aja. Arbil mau ke kamar.” Arbil turunin nada. Dia balik badan. “Maafin Arbil Kak Bailla jika kurang sopan.”
Bailla yang masih sedikit syok, cuma bisa jawab tenang.
“Iya Arbil gak apa-apa. Kakak ngerti.”
Arbil naik ke kamar. Pintunya ditutup pelan. Tapi kedengeran keras di hati Bailla.
Sisa mereka bertiga diem.
Pak Arya usap wajah. “Maaf ya Bailla. Dia... masih susah.”
Bailla angguk. Senyum dipaksain.
“Gapapa Pak. Wajar. Gue juga kalau posisi dia mungkin lebih galak.”
Ara yang peka, langsung ngerubah suasana.
“Ayo kapan makan pizza nya? Ara udah lapar nih. Kita bagi empat ya??”
“Lima dong. Kakak juga mau.” Bailla berusaha mencairkan suasana. Ambil satu slice, pura-pura ga denger detak jantungnya yang masih kencang.
Mereka semua diem, nengok ke Bailla. Baru sadar, “oh iya, orang baru ini juga makan.”
Bailla ambil pizza. Sengaja kasih bagian pojok ke Pak Arya. Bagian tengah yang banyak sosis ke Ara. Bagian pinggir yang banyak keju ke Aya.
Pas mau ambil buat dirinya sendiri, tinggal remah-remah. Plus satu potong kecil yang kejepit di pojok kotak.
Ara ngeliatin. Tiba-tiba dia dorong piringnya ke Bailla.
“Nih, Kak. Punyaku aja. Aku udah kenyang... tadi.” Padahal jelas belum makan. Pipinya masih kosong.
Bailla melirik Pak Arya. Pak Arya pura-pura sibuk ngelap meja, tapi ujung bibirnya naik. Matanya berkaca dikit.
Bailla gigit pizza dari piring Ara.
“Makasih, cantik. Mie goreng Kakak besok buat kamu dua piring. Janji. Tanpa gosong.”
Aya yang dari tadi diem, tiba-tiba nyodorin boneka Barbie botak ke Bailla.
“Kak, ini Barbie. Namanya Barbie Botak. Dia sakit kanker. Kakak bisa jadi dokternya ya?”
Bailla kaget.
Pak Arya yang denger langsung nunduk. Suaranya serak. “Aya...”
Tapi Bailla cuma angguk. Dia ambil boneka itu.
“Bisa dong. Dokter Bailla spesialis rambut. Nanti Kakak beliin wig buat Barbie. Warna pink kayak dress Kakak.”
Aya tepuk tangan. “Yeay! Kak Bailla baik!”
Pak Arya akhirnya ketawa. Suara ketawanya lega.
“Anak gue jago nyari orang baik, ya.”
Sore itu suasana jadi cair. Mereka ngobrol ngalor-ngidul. Ara cerita dia suka nari K-pop. Aya cerita dia punya temen imajiner namanya “Kiki Kucing”
Pak Arya cerita waktu Arbil kecil pernah nyembunyiin cicak di tas sekolah temennya.
Bailla dengerin semua. Ketawa. Nimpalin. Dia ga ngerasa jadi orang luar lagi. Dia ngerasa... diterima, meski sedikit.
Jam empat sore, Bailla pamit pulang. Pak Arya anterin ke gerbang.
“Gimana? Trauma?” tanya Pak Arya sambil buka pagar.
Bailla geleng. “Enggak. Cuma... Arbil kayaknya butuh waktu.”
“Iya. Dia paling deket sama Mama. Waktu Mama meninggal, dia yang jagain Aya dua minggu. Ga sekolah. Ga main. Cuma duduk di kamar.” Pak Arya nghela napas.
“Dia takut kehilangan lagi.”
Bailla angguk. “Gue ngerti. Gue juga takut kehilangan rumah. Makanya gue di sini.”
Pak Arya senyum. “Makasih ya, Bailla. Udah mau datang. Udah mau sabar.”
Bailla naik taxi online yang udah nunggu.
Sebelum pintu ditutup, dia lirik ke dalam rumah.
Aya lambai-lambai dari jendela. “Kak Baillaaaa! Besok bawa donat yaaa!”
Ara lambaikan tangan. “Kak Bailla Tanpa Gosong! Jangan lupa mie gorengnya!”
Pak Arya ngangkat jempol.
Di lantai atas, kamar Arbil pintunya masih tertutup. Tapi ada bayangan di balik gorden. Kayak ada yang ngintip.
Sore itu dia pulang bawa dua hal:
Kotak pizza kosong.
Julukan baru dari Ara: “Kak Bailla Tanpa Gosong”.
Di dalam taxi, Bailla ketawa sendiri.
Canggung? Banget. Lucu? Juga. Menakutkan? Masih. Apalagi putra pertama Pak Arya kayak masih belum sepenuhnya menerima.
Tapi untuk pertama kalinya, kata “anak tiri” di kepalanya tidak berbentuk beban. Tapi berbentuk dua anak yang rebutan martabak, dan satu orang yang masih menata hati. Itu masih bisa dimaklumi.
Mungkin, pikir Bailla sambil liat lampu kota yang mulai nyala,
jadi keluarga tidak harus mulai dari cinta. Kadang cukup mulai dari donat dan panggilan “Kak” yang tidak gosong.
Di luar kamar, hujan turun lagi. Di dalam hati Bailla, ada sesuatu yang anget. Kayak api kecil yang baru nyala.
Pelan.
Tapi nyata.