NovelToon NovelToon
Akhirnya Menemukan Mu

Akhirnya Menemukan Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Call Me Nunna_Re

Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

"Mas...kamu dimana?."

Suara itu terdengar jelas. Tegas. Menggema dari arah lorong. Tubuh Haikal seketika menegang. Itu suara Gita.

Jantungnya berdegup kencang, seolah hendak keluar dari dadanya. Dalam sepersekian detik, wajahnya berubah. Apa yang sebelumnya penuh dorongan dan kekacauan, kini berganti dengan kepanikan yang ia paksa untuk disembunyikan.

Laura menangkap perubahan itu dan justru tersenyum tipis.

“Mas....!” suara Gita terdengar lagi, kali ini lebih dekat.

Haikal menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Ia memejamkan mata sesaat, seolah sedang mengumpulkan seluruh kendali yang hampir lepas dari tangannya.

“Aku harus pergi,” katanya dengan suara rendah namun tegas, seakan berbicara lebih kepada dirinya sendiri.

Laura tidak menjawab. Ia hanya memiringkan kepala, menatap Haikal dengan tatapan penuh arti.

Sebelum benar-benar menjauh, Haikal sempat mendekat sekali lagi. Gerakannya cepat, seolah dilakukan tanpa berpikir panjang. Ia menunduk, meninggalkan sebuah tanda kecil di leher Laura, sesuatu yang tidak akan mudah disembunyikan.

Laura terdiam sesaat, lalu tersenyum lebih lebar.

Haikal menatapnya, suaranya hampir berbisik, “Nanti… kita sambung lagi.”

Kalimat itu meluncur begitu saja, meninggalkan gema yang berat di udara.

Tanpa menunggu jawaban, Haikal segera merapikan pakaiannya, mengusap wajahnya, lalu melangkah cepat menuju pintu. Ia membuka pintu kamar Laura perlahan, memastikan lorong kosong, lalu menutupnya kembali dengan hati-hati sebelum berjalan cepat menuju dapur.

Langkahnya dibuat senormal mungkin, meski jantungnya masih berdetak keras.

Di dapur, Haikal langsung menuju dispenser. Ia mengambil gelas, menuangkan air dingin, lalu meminumnya setengah isi dalam satu tegukan. Air itu terasa dingin di tenggorokannya, namun tidak cukup untuk meredakan panas di wajahnya.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat.

“Mas..kamu kok diam aja aku panggilin dari tadi?”

Ia menoleh. Gita berdiri di ambang dapur, menatap suaminya dengan dahi sedikit berkerut. Matanya menyapu wajah Haikal yang tampak memerah, napasnya yang belum sepenuhnya stabil.

Ada sesuatu yang terasa tidak beres.

Namun sebelum Gita sempat membuka mulut untuk bertanya, Haikal lebih dulu bersuara.

“Ada apa, Git?” tanyanya cepat, berusaha terdengar santai. “Kamu nyari aku?”

Gita terdiam sejenak. Tatapannya masih meneliti wajah Haikal, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi di balik ekspresi suaminya.

“Iya,” jawabnya akhirnya. “Tadi aku pulang, aku nggak lihat kamu di ruang depan. Kupikir kamu di taman belakang.”

Haikal menggeleng cepat. “Nggak. Aku cuma haus. Dari tadi di dapur.”

Jawaban itu terdengar sederhana, tapi ada nada tergesa yang tidak luput dari perhatian Gita.

“Oh,” Gita mengangguk pelan. Ia melangkah masuk ke dapur, berdiri tak jauh dari Haikal. “Aku kira kamu ke mana.”

Haikal tersenyum kecil, senyum yang terasa dipaksakan. Ia mengangkat gelasnya sedikit. “Tadi tenggorokanku kering.”

Gita memperhatikan gelas itu, lalu kembali menatap wajah Haikal. Perasaan aneh menggelitik dadanya. Ia mengenal suaminya terlalu lama untuk tidak menyadari keganjilan sekecil apa pun.

“Panas?” tanya Gita tiba-tiba.

Haikal tersentak kecil. “Hah?”

“Wajah kamu merah,” lanjut Gita. “Kepanasan?”

Haikal tertawa pendek, berusaha menutup kegugupannya. “Iya, mungkin. AC kamar mati kali.”

Gita hanya mengangguk, meski hatinya belum sepenuhnya yakin. Ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, perasaan tidak nyaman yang muncul begitu saja.

“Ya sudah,” katanya akhirnya. “Aku mau ke kamar.”

“Hmm,” sahut Haikal singkat.

Gita berbalik pergi, namun sebelum benar-benar meninggalkan dapur, ia sempat menoleh sekali lagi. Tatapannya singgah sebentar di wajah Haikal, seolah ingin memastikan sesuatu.

Haikal pura-pura sibuk mencuci gelas.

Langkah Gita menjauh.

Begitu suara langkah itu menghilang, Haikal bersandar pada meja dapur, menghela napas panjang. Tangannya mencengkeram tepi meja, menahan perasaan campur aduk yang kembali menyerangnya ada rasa takut, bersalah, namun juga sesuatu yang lain… sesuatu yang berbahaya.

Sementara itu, di dalam kamar Laura, suasana jauh berbeda. Laura berdiri di depan cermin, menyingkap rambutnya sedikit, memperhatikan tanda di lehernya. Ujung bibirnya terangkat, membentuk senyum penuh kemenangan.

Ia menyentuh tanda itu perlahan, seolah memastikan bahwa semua yang terjadi bukan sekadar ilusi.

“Pak Haikal…kamu ternyata ganas juga” gumamnya pelan.

Di matanya, tidak ada penyesalan. Yang ada hanya kepuasan bahwa ia telah berhasil melangkah lebih jauh dari yang ia rencanakan.

Ia tahu, malam itu hanyalah awal.

Dan ia juga tahu, Gita mungkin belum menyadarinya sekarang.

Tapi cepat atau lambat, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.

Laura merapikan pakaiannya, lalu duduk di tepi ranjang. Senyum itu masih bertahan di wajahnya, seolah ia baru saja memenangkan sebuah permainan yang belum selesai.

Permainan yang melibatkan hati, kepercayaan, dan kehancuran perlahan.

Dan di luar sana, Haikal berdiri di antara dua dunia, dunia yang ia bangun bersama Gita, dan dunia gelap yang tanpa sadar mulai menyeretnya semakin dalam.

Ruang tamu terasa lebih dingin dibanding dapur, meski lampu menyala terang. Haikal duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuannya. Layar menyala, namun pandangannya tidak benar-benar fokus pada apa pun yang tertera di sana. Jari-jarinya sesekali mengetik, lalu berhenti, lalu mengetik lagi dengan gerakan mekanis tanpa arah yang jelas.

Pikirannya masih kacau.

Setiap suara kecil dari arah lorong membuat bahunya menegang. Setiap detik berlalu terasa seperti ujian kesabaran.

Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat.

Gita muncul dari arah kamar. Rambutnya terurai, pakaiannya tampak sangat sexy. Ia berhenti sejenak di ambang ruang tamu, menatap suaminya yang tampak tenggelam dalam dunianya sendiri.

“Masih kerja mas?” tanya Gita lembut sambil melangkah mendekat.

Haikal menoleh sekilas, lalu kembali menatap layar. “Hmm… iya. Cuma cek beberapa hal.”

Nada suaranya datar. Terlalu datar.

Gita duduk di sebelahnya, cukup dekat hingga lutut mereka hampir bersentuhan. Ia memiringkan tubuhnya sedikit, sengaja mendekat. Tangannya menyentuh lengan Haikal pelan, seolah mencari perhatian yang sejak tadi terasa menjauh.

“Kamu capek gak? Mau aku pijitin?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan tapi tangan nya mulai menggerayangi paha Haikal bagian dalam.

Haikal mengangguk singkat tanpa menoleh. “Sedikit.”

Jawaban itu membuat Gita mengerutkan kening.

Biasanya, Haikal akan tersenyum, bercanda, atau setidaknya mematikan laptopnya jika ia sudah duduk sedekat itu. Namun sekarang, Haikal justru terlihat seolah ingin menjaga jarak, meski secara fisik mereka berdampingan.

Gita mencoba lagi.

Ia mendekatkan wajahnya ke bahu Haikal, pura-pura melihat layar laptop. “Dari tadi serius banget. Aku ganggu, ya?”

Haikal sedikit menggeser laptopnya, refleks. “Nggak, kok.”

Namun tetap saja, ia tidak menutup laptop. Tidak juga menoleh.

Gita menarik napas pelan. Ada perasaan aneh yang semakin menguat di dadanya. Ia mendekatkan wajahnya sedikit lagi, berniat mencium pipi Haikal seperti biasa sebuah kebiasaan kecil yang selalu berhasil membuat Haikal tersenyum.

Namun sebelum bibirnya benar-benar menyentuh kulit Haikal, hidung Gita menangkap sesuatu.

Aroma itu lembut, tapi jelas.

Parfum.

Bukan aroma yang asing, tapi juga bukan aroma yang biasa ia pakai. Gita terdiam.

Ia menarik napas sekali lagi, memastikan dirinya tidak salah. Aroma floral samar tercium dari tubuh Haikal manis, lembut, dan bertahan di udara.

Alis Gita berkerut lebih dalam. Haikal menoleh sedikit, menyadari jeda yang terlalu lama.

“Kenapa?”

Gita tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan. “Nggak… aku cuma…”

Kalimatnya menggantung. Ia menahan diri untuk tidak langsung bertanya. Namun pikirannya sudah berlari ke banyak kemungkinan.

Ia menjauh sedikit, menatap wajah Haikal dari samping. Wajah itu masih tampak memerah, meski kini lebih samar. Mata Haikal menghindari tatapannya, kembali fokus ke layar laptop yang entah berisi apa.

Gita menelan ludah.

“Kamu pakai parfum baru?” tanyanya akhirnya, berusaha terdengar santai.

Jari Haikal berhenti mengetik.

Hanya sepersekian detik. Tapi cukup bagi Gita untuk menyadarinya.

“Hah?” Haikal menoleh cepat. “Nggak.”

“Terus ini bau apa?” Gita tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. “Aku cium ada wangi bunga.”

Haikal menarik napas dalam. “Mungkin dari… ruangan. Atau sofa. Pembantu baru kan pakai parfum juga.”

Jawaban itu terdengar terlalu cepat. Terlalu siap.

Gita mengangguk pelan, meski hatinya semakin tidak tenang. Ia tahu betul satu hal tentang dirinya sendiri—ia tidak suka parfum beraroma floral. Selama ini, parfum yang ia gunakan selalu agak strong. Dan Haikal tahu itu.

Sangat tahu.

“Lucu ya,” kata Gita pelan. “Padahal kamu tahu aku nggak suka wangi bunga.”

Haikal menoleh, tersenyum tipis. “Iya… makanya aku nggak pakai.”

Jawaban itu tidak sepenuhnya salah. Tapi justru itulah yang membuat dada Gita terasa semakin sesak.

Ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh, menyandarkan punggung ke sofa. Tangannya terlipat di pangkuan, sementara matanya menatap ke depan, bukan ke arah Haikal.

“Kenapa kamu dingin banget malam ini?” tanya Gita tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuat Haikal kembali terdiam.

“Aku nggak dingin,” katanya akhirnya. “Cuma capek aja.”

Gita menoleh, menatapnya lurus. “Biasanya kalau capek, kamu tetap nyari aku.”

Kalimat itu sederhana, tapi penuh makna.

Haikal menutup laptopnya dengan gerakan cepat. “Aku mau istirahat aja, Git. Besok aku masih banyak kerjaan.”

Ia berdiri, mengambil laptop, lalu melangkah pergi begitu saja menuju kamar, meninggalkan Gita sendirian di ruang tamu.

Gita menatap punggung suaminya yang menjauh.

Ada perasaan perih yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia mengangkat tangannya, mengusap hidungnya sendiri, seolah aroma itu masih tertinggal di udara. Floral. Lembut. Bukan miliknya.

“Bukan cuma capek mas…” gumam Gita pelan.

Di dalam hatinya, sebuah kecurigaan mulai tumbuh. Masih kecil, masih samar, tapi cukup kuat untuk membuatnya tidak bisa lagi merasa tenang.

Dan di tempat lain dalam rumah itu, seseorang tersenyum dalam diam menyadari bahwa jarak kecil yang mulai tercipta adalah celah yang bisa ia manfaatkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!