Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fokus
Xarena menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya sebelum ia kembali berhadapan dengan layar monitor yang berkedip-kedip. Ia tidak peduli dengan tatapan mata rekan kantornya yang mulai berbisik-bisik melihat CEO mereka baru saja "disidang" di kantin. Baginya, angka-angka di Excel jauh lebih masuk akal daripada perasaan Alan yang tiba-tiba muncul ke permukaan seperti bangkai yang dipaksakan hanyut.
Ia memasang earphone, memutar daftar lagu instrumental dengan volume yang cukup untuk meredam kebisingan dunia luar. Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard. Input data, verifikasi faktur, cek saldo—semuanya ia lakukan dengan presisi mesin. Ia ingin tenggelam dalam kesibukan ini. Baginya, kesibukan adalah obat bius paling mujarab untuk membunuh kenangan.
Di sisi lain, Alan tidak langsung kembali ke ruangannya. Ia berjalan perlahan melewati deretan meja staf, sengaja mengambil rute yang memutar hanya untuk melewati meja Xarena sekali lagi. Ia ingin melihat ekspresi wanita itu. Apakah ada gurat penyesalan? Apakah ada sisa air mata?
Namun, yang ia temukan hanyalah punggung yang tegak dan fokus yang tak tergoyahkan. Xarena benar-benar memperlakukannya seperti angin lalu.
Tepat saat Alan berada hanya dua meter di belakang kursi Xarena, ponsel wanita itu yang tergeletak di atas meja bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk. Layarnya menyala terang, menampilkan nama kontak dengan emoji hati: "Rumahku ❤️".
Xarena melepas salah satu earphone-nya dan segera menggeser tombol hijau. Suaranya yang tadi sedingin es saat bicara dengan Alan, tiba-tiba mencair, berubah menjadi nada yang sangat lembut dan penuh kasih—nada yang dulu selalu Alan dengar setiap kali ia pulang kerja.
"Halo, Sayang? Kamu sudah makan belum?" tanya Xarena dengan nada riang yang terdengar begitu tulus.
Langkah Alan terhenti mendadak. Jantungnya terasa seperti diremas. Sayang?
"Oh ya? Makan apa tadi? Habis banyak nggak?" Xarena terkekeh kecil, sebuah tawa renyah yang sudah bertahun-tahun tidak Alan dengar. "Pintar anak Bunda... Iya, nanti Bunda belikan susunya ya. Yang rasa stroberi kan?"
Alan mengeratkan kepalan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya bergemuruh. Siapa? Siapa pria itu? Pikirannya langsung melayang ke kemungkinan terburuk. Apakah selama ini Xarena sudah hidup bersama pria lain? Apakah ada laki-laki yang menggantikannya memberikan kenyamanan yang gagal ia berikan?
"Iya, Sayang. Bunda kerja sebentar lagi ya. Jangan nakal sama Nenek di rumah. I love you too, Muach!" Xarena menutup telepon dengan senyum yang masih membekas di bibirnya.
Keheningan di sekitar meja itu terasa mencekam bagi Alan. Ia tidak bisa menahan diri lagi. Otoritasnya sebagai bos mendadak luntur oleh rasa cemburu yang membakar logika.
"Cepat sekali kamu menemukan pengganti," sindir Alan dengan suara rendah yang bergetar.
Xarena tersentak kaget. Ia tidak menyadari Alan masih berdiri di sana. Ia segera merubah raut wajahnya kembali menjadi datar, seolah baru saja melihat tumpukan sampah di pinggir jalan. Ia melepas earphone-nya sepenuhnya dan mendongak.
"Maaf, Pak Alan. Sepertinya tidak ada aturan di kontrak kerja yang melarang karyawan menerima telepon dari keluarga saat jam istirahat baru saja berakhir," jawab Xarena tenang.
"Keluarga? Atau selingkuhan?" Alan melangkah maju, menumpukan kedua tangannya di meja Xarena, mengurung wanita itu dalam jarak yang sangat dekat. "Siapa dia, Xarena? Siapa yang kamu panggil 'Sayang' tadi?"
Xarena ingin tertawa, tapi yang keluar hanya dengusan geli yang merendahkan. "Lucu ya. Tuan CEO yang terhormat mendadak jadi polisi moral? Apa peduli Anda dengan siapa saya berbicara?"
"Jadi, siapa pun pria yang saya panggil 'sayang', itu bukan urusan Anda. Bukankah lebih baik Anda mengurusi istri sah kesayangan Anda yang mungkin sekarang sedang membanting-banting tas Hermes-nya di rumah?"
"Xarena, jangan memancing amarahku."
"Saya tidak memancing apa pun, Pak. Saya hanya ingin bekerja," Xarena kembali memegang mouse-nya. "Tolong minggir. Anda menghalangi cahaya lampu, dan saya tidak bisa melihat angka-angka ini dengan jelas."
Alan merasa harga dirinya diinjak-injak. Namun, di balik amarah itu, ada rasa takut yang besar. Takut jika ia benar-benar telah kehilangan kesempatan untuk kembali.
"Kamu berubah, Ren. Kamu bukan Xarena yang aku kenal."
Xarena berhenti bergerak. Ia menatap layar monitornya dengan pandangan kosong sesaat. "Xarena yang dulu sudah mati, Alan. Kamu sendiri yang mengantar jenazahnya ke liang lahat setiap kali kamu memilih diam saat aku terluka. Sekarang, yang ada di depanmu adalah orang asing. Orang asing yang butuh gaji untuk menghidupi 'sayangnya' di rumah."
"Katakan padaku siapa dia! Apa dia memberikanmu uang? Apa dia yang membiayaimu selama ini?" Alan mulai kehilangan kontrol. Pikirannya dikuasai asumsi-asumsi liar.
Xarena menoleh perlahan, menatap Alan dengan tatapan iba. "Anda benar-benar picik. Anda pikir semua wanita bergerak karena uang? Tidak semua pria seperti Anda yang bisa dibeli dengan gengsi dan status sosial, Alan."
Tiba-tiba, Kinan datang mendekat dengan tumpukan dokumen, tidak menyadari ketegangan tingkat tinggi yang terjadi. "Ren, ini ada tambahan berkas dari departemen pemasaran... Eh, Pak Alan? Maaf Pak, saya tidak tahu Bapak masih di sini."
Alan menarik tubuhnya menjauh dari meja Xarena, berusaha memperbaiki jasnya yang sebenarnya tidak berantakan. Ia berdeham, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya yang sudah rontok.
"Selesaikan pekerjaanmu, Xarena. Jangan sampai urusan pribadi mengganggu performa kantormu," ujar Alan dingin, mencoba menutupi rasa malunya sebelum melangkah pergi dengan langkah cepat menuju lift pribadi.
Kinan melongo menatap punggung Alan, lalu beralih ke Xarena. "Gila, Ren! Pak CEO kayaknya mau meledak. Kamu ngomong apa lagi sama dia?"
Xarena menarik napas lega setelah kehadiran Alan menghilang di balik pintu lift. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, merasakan tangannya yang sedikit gemetar di bawah meja. "Biasa, Nan. Orang kaya kalau lagi bingung emang suka cari masalah."
"Tapi tadi itu... telpon dari siapa? Aku dengar kamu panggil sayang-sayang gitu. Wah, jangan-jangan kamu sudah punya gebetan baru ya? Kenalin dong!" goda Kinan sambil menyenggol bahu Xarena.
Xarena tersenyum tulus, kali ini senyumnya benar-benar sampai ke mata. Ia meraih ponselnya dan membuka galeri foto. Di sana, terpampang foto seorang balita cantik dengan mata bulat yang sangat mirip dengannya, sedang memegang botol susu stroberi.
"Iya, 'pacar' baruku. Namanya Ciara. Dia satu-satunya alasan aku masih bertahan hidup dan nggak gila di kantor ini," bisik Xarena lembut.
Kinan ikut tersenyum melihat foto itu. "Duh, cantik banget sih Ciara. Tapi Ren... Pak Alan tahu soal Ciara?"
Xarena menggeleng tegas. "Nggak perlu. Dia nggak berhak tahu."
Xarena kembali memasang earphone-nya. Ia tidak ingin lagi membahas masa lalu. Fokusnya sekarang adalah masa depan. Sebuah masa depan di mana ia tidak perlu lagi menundukkan kepala pada siapa pun, termasuk pada pria yang pernah ia cintai setengah mati namun menghancurkannya tanpa sisa.
Di ruangannya yang mewah di lantai paling atas, Alan berdiri di depan jendela kaca besar yang menghadap pemandangan kota. Pikirannya masih tertuju pada kata 'Sayang' yang diucapkan Xarena. Ia merasa ada sesuatu yang besar yang ia lewatkan. Sesuatu yang mungkin, jika ia tahu, akan mengubah hidupnya selamanya.
Ia meraih telepon di mejanya. "Siska, panggil tim IT ke ruanganku sekarang. Aku mau akses penuh ke semua rekaman CCTV kantor hari ini, dan aku ingin daftar riwayat telepon keluar-masuk dari meja Xarena."
Alan tidak tahu bahwa ia sedang mengejar bayang-bayang yang ia ciptakan sendiri, sementara di bawah sana, Xarena sudah melangkah jauh di depan, meninggalkan puing-puing cinta mereka yang sudah jadi abu.