Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 : Menelusuri bawah kota
Aris menuruni tangga besi yang sudah berkarat, diikuti oleh Liora yang bergerak sangat hati-hati. Begitu kaki mereka menyentuh dasar gorong-gorong, suasana langsung berubah. Suara bising kota di atas sana meredup, berganti dengan gema tetesan air yang jatuh ke genangan: tik... tik...
Di bawah sini, udara terasa sangat pengap dan lembap. Percikan air sesekali melompat dari pipa-pipa besar yang bocor di langit-langit beton. Cahaya senter Aris menyorot dinding yang dipenuhi lumut hitam dan kerak yang tebal. Sesekali, terdengar suara cicit tikus yang berlarian di dalam pipa-pipa besi, serta suara gemuruh rendah dari kendaraan yang melintas tepat di atas kepala mereka.
"Liora, hati-hati licin." bisik Aris sambil menghentikan langkah.
Liora mengangguk, ia merapatkan jaketnya. "Baunya aku tidak tahan, Aris. lebih pengap, lebih berat rasanya." ujar Liora.
"Iya sama, tapi sepertinya bukan cuma itu," Aris menunjuk ke arah kabel-kabel yang terbungkus pipa fleksibel di dinding. "Lihat? Semuanya seperti baru."
Mereka terus berjalan perlahan, menghindari genangan air di lantai. Setelah melewati beberapa blok, Aris mendadak menarik lengan Liora untuk bersembunyi di balik pilar beton. Di ujung lorong sebelah kiri, terlihat belasan tikus berlarian dengan terburu-buru menuju satu arah yang sama. Tak berselang lama, gelombang tikus kedua datang meski tidak sebanyak yang pertama lalu ikut menyusul, seolah-olah ada sesuatu yang mereka tuju di ujung lorong itu.
"Kenapa mereka semua ke sana?" tanya Liora heran.
"Kita ikuti saja," jawab Aris singkat.
"Jangan cari masalah! Kita tidak tahu disana ada apa." Liora mencoba untuk tidak mengikuti ajakan Aris.
Aris hanya menatap Liora sambil memberi isyarat untuk mengikuti kemana tikus-tikus itu berlari, Liora hanya bisa pasrah dan mengikuti Aris dari belakang.
Mereka berjalan mengikuti arah gerombolan tikus tadi. Begitu sampai di lorong tujuan, Aris mengarahkan senternya ke lantai. Mereka berdua tersentak. Di depan mereka, terdapat tumpukan puluhan tikus yang sudah mati. Kondisinya cukup membuat mereka sedikit mual. Tubuh tikus itu ada yang mengering dan mengeras, ada juga yang masih basah dengan luka menganga dan ada beberapa yang masih hidup seperti mengerang menahan sesuatu lalu puff... Letupan kecil terjadi di tubuh tikus-tikus itu. Persis seperti kecoa di wastafel tadi bahkan hampir sama seperti yang terjadi dengan Pak Jaya.
Aris terdiam, matanya terpaku pada pemandangan itu. Sementara itu, Liora langsung menutup mulut dan hidungnya dengan tangan. Wajahnya pucat, sesekali ia terlihat mual melihat bangkai-bangkai yang tidak wajar itu.
Aris berjongkok, tidak bicara, tanpa menyentuh air, ia mengambil sebuah kantong plastik kecil di saku celananya. Dengan menggunakan ujung obeng, ia mengorek sedikit kerak berwarna abu-abu yang menempel di salah satu bangkai tikus dan memasukkannya ke dalam plastik.
"Baunya... benar-benar aneh. Ini menyengat sekali Ris," Liora bicara dari balik tangannya. "Aris, ayo balik. Aku sudah tidak kuat, baunya mulai bikin pusing."
Aris melihat wajah Liora yang mulai lemas. Ia mengangguk. "Oke, kita kembali sekarang."
Mereka berbalik arah, berjalan lebih cepat menuju tangga yang mengarah ke lubang drainase tepat di depan toko Pak Jaya. Begitu memanjat keluar Aris langsung menutup rapat lubang kontrol yang terbuat dari besi sambil terengah-engah dan mereka kembali lagi ke dalam toko.
Aris dan Liora duduk di kursi kayu biasa, mereka masih terlihat lelah apalagi Liora dengan wajah sedikit pucat dan sesekali masih merasa mual.
"Liora, wajahmu? Pucat sekali, habis di kejar apa?" sambil sedikit menahan senyum, Aris mencoba mencairkan suasana agar Liora sedikit lebih tenang.
Liora menatap Aris dengan sedikit kesal, "eh, kamu tidak lihat tadi di bawah tikusnya bagaimana? Hueekkk, masih bisa-bisanya kamu senyum.!"
Aris pun berdiri, "setidaknya itu bisa jadi pengalaman baru buatmu. Tunggu, aku bawa minum dulu." Aris berjalan ke arah meja kasir disana ada dua botol air minum.
Aris melewati dapur kecil dan secara refleks menoleh ke arah wastafel tempat kecoa mati tadi. Dahinya berkerut. Bangkai kecoa yang tadinya mati keras seperti batu itu sudah hilang. Yang tersisa hanya cairan hitam yang mulai memudar dan sebagian mengering, terbawa hanyut ke lubang pembuangan karena terus-menerus terkena tetesan air keran.
"Liora, kecoanya hilang," ucap Aris bingung.
"Hah? Mana mungkin?" Liora mendekat ke wastafel.
Namun, mata Liora menangkap sesuatu yang bergerak di dekat kaki meja. "Aris! Lihat, itu kecoa bukan?!"
Seekor kecoa dengan punggung yang tampak aneh, kasar, dan berwarna lebih gelap dari biasanya sedang merangkak keluar dari dapur dengan gerakan yang kaku tapi masih cukup cepat. Liora mencoba mengejarnya sampai ke pintu belakang dan sekali dua kali mencoba menginjaknya namun kecoa itu masih gesit masuk ke bawah celah pintu di belakang dapur dan menghilang ke dalam gelapnya gorong-gorong.
Liora berdiri mematung di pintu. "Aris... kecoa itu..."
Aris menatap plastik berisi sampel kerak di tangannya. Ketakutan baru mulai muncul di benaknya.
"Kita harus kembali ke Dokter Ferdi," gumam Aris.
...****************...