Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Davika adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.
Keseharian Davika dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Davika. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Davika di dalam keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketukan Sepatu Sang Pelindung
Suasana di ruang sidang utama kediaman Mwohan mendadak hening takzim saat Abah Kiai selesai membacakan draf pranikah asli yang telah disinkronkan dengan berkas yayasan dua puluh tahun lalu. Lembaran kertas legal berstempel resmi itu kini tergelar di atas meja jati, bersih dari segala bentuk manipulasi yang sempat dirancang oleh Kamil.
"Bagaimana para saksi dan dewan pengasuh? Apakah berkas ini sudah sah menurut syariat dan hukum?" tanya Abah Kiai, menyapu ruangan dengan pandangan matanya yang teduh namun berwibawa.
"Sah."
"Alhamdulillah, sah."
Suara sahutan dari para kyai sepuh Jombang terdengar mantap, memecah ketegangan yang sempat menggantung di udara. Gus Zayyad yang duduk tegap di samping Bapak Handoko mengembuskan napas panjang, merapikan sarung tenun halusnya dengan gerakan taktis. Bahu kirinya yang masih terbebat perban buatan Davika terasa sedikit berdenyut, namun rasa nyeri itu terkalahkan oleh kelegaan yang luar biasa masif di dadanya.
*Tak. Tak. Tak.*
Tiba-tiba, suara ketukan langkah kaki yang berat, konstan, dan sarat akan tekanan militer terdengar menggema dari arah selasar marmer depan. Pintu ganda ruang sidang utama yang berornamentasi emas itu terbuka perlahan, menampilkan sesosok pria tegap yang membelah pendar cahaya matahari siang.
Kapten Sagara berdiri di ambang pintu. Seragam putih kapten penerbangannya yang kontras dengan jaket kulit hitam yang tersampir di bahu membuat beberapa pengurus senior dewan pengasuh menoleh serentak. Sorot mata elangnya yang dingin dan tidak tersentuh langsung mengunci pandangan ke tengah ruangan. Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah tas koper taktis hitam, sementara pet kaptennya terselip rapi di bawah lengan kiri.
"Assalamu'alaikum," suara bariton Sagara mengalun rendah, bergaung dengan otoritas mutlak yang sanggup mengintimidasi siapa pun di dalam ruangan.
"Wa'alaikumussalam... Gara," ucap Bapak Handoko, wajah tuanya langsung berbinar bangga melihat putra tertuanya telah menapakkan kaki kembali di bumi Jakarta setelah mengendalikan badai dari langit Shanghai.
Sagara melangkah maju, membungkuk memberikan penghormatan takzim yang langka kepada Abah Kiai, lalu menjabat tangan Bapak Handoko dengan erat. Penguasa langit keluarga Mwohan itu kini telah hadir secara fisik, melengkapi dinding pertahanan yang mustahil ditembus oleh sisa-sisa komplotan musuh.
Setelah sesi formal dewan pengasuh mereda untuk persiapan khutbah nikah, Sagara berjalan menuju sudut ruangan tempat Gus Zayyad berdiri. Dua pria dominan dengan tinggi badan yang hampir setara itu saling berhadapan, menciptakan atmosfer persaingan taktis yang dingin namun sarat akan rasa hormat profesional.
Sagara meletakkan koper taktis hitamnya di atas meja kaca monokrom, lalu membukanya dengan bunyi *klik* yang bersih. Di dalam koper itu, selain dokumen manifes kargo yang bersih, terdapat beberapa botol produk perawatan kulit eksklusif dengan label premium berbahasa Mandarin—pesanan *skincare* satu juta per botol titipan Davika.
"Semua urusan logistik hulu di Shanghai sudah saya segel seutuhnya, Gus," ucap Sagara datar, matanya melirik sekilas ke arah bahu kemeja koko putih Zayyad yang sedikit mencuat akibat tebalnya perban di dalam. "Dan saya lihat... Anda masih menyimpan simpul pita buatan Jerry di balik pakaian Anda."
Zayyad seketika membetulkan posisi kerah kokonya dengan gerakan kaku, rahang tegasnya mengetat menahan canggung. "Ini hanya untuk memastikan luka akibat hantaman balok semalam tidak terbuka saat akad berlangsung, Kapten."
Sagara menarik sudut bibirnya tipis, memamerkan seringai dingin yang penuh arti. "Jerry memang ceriwis, tapi dia tahu cara menaruh tanda pada aset yang dia lindungi."
Belum sempat Zayyad membalas sindiran taktis sang pilot, sesosok tubuh mungil dengan *oversized hoodie* merah muda mendadak melesat masuk dari arah pintu samping. Davika langsung menghambur mendekati meja, matanya yang berwarna *green-gray* langka berbinar gila begitu melihat deretan botol kosmetik mewah di dalam koper Mas Gara.
"Waaaaah! Mas Gara emang ATM Berjalan terbaik sedunia!" seru Davika girang, tangan super kecilnya langsung menyambar botol-botol itu tanpa memedulikan tatapan kaku dari para kyai sepuh di sekitar mereka. Sifat randomnya kembali meledak seutuhnya. "Lihat nih, Gus kaku! Kulit Davik bakal makin mulus, jadi nanti kalau dandanin Gus lagi pas acara resepsi, hasilnya bisa makin *glowing*!"
Zayyad hanya bisa terdiam dengan jakun yang naik turun, sementara Sagara mengembuskan napas pendek sembari menggelengkan kepalanya setengah jengkel dengan kedegilan adiknya namun ada kilat pelindung yang pekat di matanya. Badai di dua benua telah resmi berakhir, berganti dengan riuh rendah persiapan akad nikah yang akan mengunci takdir luhur di bawah atap mahkota Al-Anwar.
selalu bilangnya kitab😄😄😄