Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 6.
Aurora tidur telentang sambil termenung di atas ranjangnya memikirkan tentang ucapan Gama siang tadi, apa yang harus Aurora lakukan.
Suara nada dering terdengar Aurora segera mengambil handphonenya, ternyata suara dari group yang isinya hanya Aurora, Zara, dan Khanza, Aurora membuka room chat mereka.
Zara :
hai gais
Khanza :
berisik
Zara :
gue baru aja ngomong udah di bilang berisik aja
Khanza :
😏😒
Zara :
ini mana sih Yang gue butuhin nggak nongol nongol
Aurora :
ada apa sih berisik gue lagi nonton drakor ke ganggu gara gara kalian ngoceh nggak jelas mulu
Zara :
Ra lo beneran mau nyerah aja sama tantangan itu?
Aurora :
nggak tau
Zara :
kok nggak tau sih, gue butuh kepastian ini!!
Aurora :
gue siang tadi jujur sama Gama
Aurora memilih jujur kepada kedua temannya, terlalu sulit baginya untuk menyembunyikannya.
Zara :
jujur apa anjir?
Khanza :
iya lo jujur soal apa sama Gama?
Aurora :
gue ngaku kalau di awal gue tiba-tiba deketin Gama karna tantangan dari lo buat dapetin duit yang lo janji in
Zara :
BEGO! begonya tuh nge bego banget tau nggak hah!!!
Khanza :
kali ini gue dukung di Zara, Ra lo bego apa gimana dah nggak tau gue ama tingkah absurd lo itu
Aurora cemberut kok malah memaki Aurora bukannya mendukungnya, moodnya makin buruk setelah membaca chat dari kedua temannya
Zara :
Heh markonah!! lo kenapa dah jujur segala nggak habis thinking gue!!!? 😫😫
Khanza :
Iya lo kenapa malah jujur sih
Aurora :
nggak tau dah gue buntu, bukannya bela gue kalian malah maki gue:(
Zara :
ya lo emang pantes di maki anjir
Aurora :
tapi tadi sore pas pulang sekolah gue di anter pulang sama Gama
Zara :
HAH!!!??
Khanza :
kok bisa?
Zara :
iya kenapa bisa lo pulang bareng ama Gama, pas tadi lo udah jujur ama tuh orang? jelasin sekarang CEPET!!!
Aurora :
sebenarnya setelah gue jujur soal tawaran dari lo, Gama malah nawarin gue balik
Zara :
apa???
Khanza :
apa?
Zara :
cepet anjir lelet banget lo jadi orang!!! kayak orang penting aja!
Aurora :
sabar napa dah
dia nawarin gue jadi pacar dia kalau gue terima gue di kasih duit 15 juta
gila nggak tuh orang duit segitu banyak di hamburkan tanpa mikir panjang
Zara :
SERIUS LO!!??
wahh gila sih, terima aja napa lo kan gila duit
Aurora :
mulut lo!
Zara :
kan bener
Aurora tidak bisa membantah lagi karna kenyataan memang seperti itu.
Pagi datang Aurora keluar kamar untuk menghampiri ibunya yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka, tapi sebelum Aurora sampai ke meja makan tanpa sadar Aurora mendengar pembicaraan ibu dan ayahnya di sisi dapur.
"Gimana ini yah, kita nggak mampu bayar segitu uang kita aja cukup buat sehari hari aja." Ucap Ibu Larasati.
Ayah Aurora terlihat frustasi ia mengusap wajahnya." Ayah juga nggak tau harus gimana, ayah juga nggak tau kalau ayah di tipu sama temen ayah bu, maafin ayah malah jadi beban buat keluarga."
Ibu Larasati tampak menggeleng kepala tanda tidak setuju."Ayah nggak gagal jadi kepala keluarga, gapapa kita bisa melaluinya bersama."
Ayah Aurora terseyum lesu."Dari mana ya bisa dapet uang 20 juta."
Aurora termenung mendengar bahwa ayahnya barusan telah di tipu oleh temannya sendiri, dan ayah rugi harus membayar 20 juta.
Aurora tahu bahwa keluarganya bukan dari keluarga terpandang, makanya dari itu Aurora sangat suka uang karna keluarganya yang serba pas pasan.
Aurora berpura-pura tidak tahu dengan percakapan antara kedua orang tuanya dan melanjutkan langkahnya ke meja makan, terdapat adiknya yang sudah duduk.
Arkan yang melihat kakaknya ingin menjahili kakaknya.
"Yah, ayah tau nggak kemarin sore kak Ara bawa cowok ke rumah yah." Ungkap Arkan tanpa dosa.
Aurora melotot mendengar penjelasan dari Arkan, Aurora tanpa segan menginjak kaki Arkan keras, sampai Arkan mengaduh kesakitan.
"ADOH SAKIT, ayah liat sendiri kan kak Ara suka nyiksa ade." Adu Arkan dengan ekpresi tersakiti yang mana membuat Aurora mual melihatnya, pintar sekali mengadu domba.
"Sudah sudah jangan berantem terus." lerai Ibu Larasati.
"Siapa dia Ara?." Tanya Ayah Aurora namanya Damar.
"Dia temennya Ara yah, kayaknya baik kok orangnya dia juga sopan." Ibunya yang menjawab.
Ayah Damar mengangguk kecil tidak memperpanjang lagi, dan mereka fokus dengan sarapan mereka.
Ayah Damar yang memang setiap berangkat sekolah selalu mengantar Aurora.
"Belajar yang bener ya." Pesan ayah Damar pada Aurora sambil mengusap rambut Aurora lembut.
Aurora mengangguk dan salim kepada ayahnya sebelum ayahnya meninggalkan Aurora di gerbang sekolah.
Aurora berjalan sambil melamun menuju ke kelas memikirkan masalah kedua orang tuanya, dan Aurora teringat dengan dengan tawaran dari Gama, apakah Aurora terima saja tawaran dari Gama.
Aurora mengeluarkan handphone untuk mengirim pesan kepada Gama.
Aurora :
kak bisa kita ketemu nanti setelah istirahat?
nanti aku ke rooftop
Aurora mengantungi lagi handphone tanpa menunggu jawaban dari Gama dan kembali berjalan ke arah kelasnya berada.
Di sana di bangku Aurora Zara dan Khanza terlihat memandang Aurora dengan tatapan penasaran, Aurora menghela napas pelan mereka pasti akan bertanya tentang semalam.
"Sini lo." Suruh Zara.
Aurora melangkah gontai ke arah mereka.
"Jelasin maksud lo semalam." Titah Zara.
"Kan udah gue jelasin semalam." Tukas Aurora terlihat cuek.
"Jelasin apanya Markonah." Zara yang gemas menabok pelan Aurora.
"Iya cepet jelasin gue juga penasaran." Ujar Khanza yang sedari tadi diam akhirnya ikut bersuara.
Aurora menghela napas."Jadi gini, kan gue udah jujur sama Gama kalau gue deketin dia tuh gara gara tantangan dari lo, kenapa gue malah jujur ama Gama, ya karna gue takut gimana kalau nanti kebongkarnya karna orang lain malah tambah runyam kan, makanya gue milih jujur." Terang Aurora.
"Okay, kalau soal Gama yang nawarin lo jadi pacar lo gimana?." Tanya Khanza
"Gue juga heran waktu denger Gama malah nawarin gue jadi pacar dia gue belum tau alesannya."
"Terima aja, Gama nggak seburuk itu buat jadiin pacar kan."
"Iya Gama emang nggak buruk, yang patut di pertanyakan tuh dia." Tukas Khanza sadis.
Aurora mendelik sinis ke arah Khanza senggak pantes itu Aurora bersanding dengan Gama, emang sih Aurora juga sadar diri dia bukan gadis cantik apalagi menarik, sedangkan Gama cowok ganteng dan paling penting dia kaya.
"Heh, nini lampir bukannya kasih semangat sama temen lo malah ngejatuhin mentalnya."
Memilih abai mereka mulai diam karna masuk pembelajaran di mulai, tidak ada kendala sama sampai bel istirahat berbunyi.
"Yok lah kita cus ke kantin." Ajak Zara sudah bersiap siap untuk ke kantin mengisi perutnya yang sudah keroncongan minta di isi.
"Gue nggak bisa ikut kalian ke kantin." Tolak Aurora.
Zara dan Khanza menoleh ke arah Aurora.
"Kenapa?." Tanya Khanza.
"Gue mau ketemu Gama, ada yang mau gue omongin."
Zara menarik tangan Khanza seolah bersemangat mendengar Aurora yang akan menemui Gama."Okay, goodluck ya best."
Aurora berbelok ke arah yang menuju rooftop karna tadi setelah cek handphonenya Gama membalas pesan yang isinya mengizinkan Aurora menemuinya.
"Kak." Panggil Aurora pelan
Gama menoleh dan menggeser tempat duduk mereka.
Aurora duduk di sebelah Gama canggung ia meremas tangannya gugup, Aurora bingung harus memulai dari mana.
Gama yang menyadari kegugupan Aurora mencoba memulai percakapannya."Kenapa?."
"em... a—anu kak soal waktu itu yang kakak tawarin ke a—aku masih berlaku?."
Gama mengangguk mengiyakan.
"Tapi, kalau boleh tau alesan kakak ngajak aku pacaran apa?."
Gama diam tidak langsung menjawab." Karna saudara gue."
Aurora mengerutkan kening bingung kenapa dengan saudara Gama." Emang kenapa kak?."
"Gue nggak bisa kasih tau lebih detailnya."
Aurora mengangguk mungkin itu privasi jadi Aurora tidak bertanya lebih lanjut lagi.
"J—jadi kita sekarang pacaran?." Aurora memalingkan wajahnya karna malu setelah mengatakan kalimat itu.
Gama melihat Aurora yang salah tingkah menahan senyum geli dan mengangguk."Iya."
"Sekarang gue transfer uang yang gue janjikan sama lo, sini kirim gue no rek lo."
Aurora dengan ragu ragu mengirim no rekening Aurora, dan benar saja Gama mengirim sejumlah uang 15 juta." Makasih kak, em... kak ini nanti kakak nggak akan nagih lagi kan uangnya?."
Aurora kan hanya berjaga jaga kalau suatu saat nanti Gama malah menagih uangnya kembali, Aurora tidak bisa membayarnya.
Gama terkekeh pelan mendengar penuturan Aurora." Enggak Ara."
Entah kenapa Aurora malah salting mendengar Gama memanggilnya dengan sebutan Ara.