Bagi Revanza, rumah bukanlah tempat untuk pulang, melainkan tempat di mana ia selalu menjadi figuran yang terlupakan. Di saat ia pulang dengan tubuh penuh luka akibat jatuh dari motor, pandangan ibunya justru tertuju penuh pada sang kakak, Arkael—si anak emas yang selalu sempurna. Namun, di balik senyuman tenang Arka yang merebut segalanya, ada sebuah rahasia berdarah yang perlahan mulai menggerogoti nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: JUARA YANG BERBEDA.
Bab 11: Juara yang Berbeda.
Hari pembagian rapot selalu menjadi hari yang paling dibenci oleh Revanza. Baginya, hari itu tidak lebih dari sebuah panggung sandiwara tahunan di mana dia dipaksa berdiri di sudut paling gelap, sementara lampu sorot utama menerangi sosok sang kakak dengan begitu megah. SMA Pelita Bangsa pagi ini tampak ramai oleh kedatangan para orang tua murid, namun Revan memilih untuk duduk sendirian di warung kopi belakang sekolah, mengabaikan fakta bahwa Ibunya saat ini pasti sedang berada di dalam kelas XII MIPA 1 untuk menerima rapot Arka.
"Van, nih rapot lo. Tadi dititipin Bu Ratna ke gue karena lo gak ada di kelas," Miko tiba-tiba datang, menyodorkan sebuah map sampul tebal berwarna biru tua ke atas meja kayu warung.
Revan melirik map itu sekilas tanpa berniat membukanya. "Gimana? Peringkat bawah lagi, kan?"
Miko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya tampak agak canggung. "Ya... gitu deh, Van. Peringkat 28 dari 30 siswa. Terus... ada surat teguran dari BK juga di dalemnya gara-gara absen lo yang kebanyakan bolos bulan ini." Miko menghela napas, lalu duduk di sebelah Revan. "Tapi asli, Van, yang bikin heboh satu sekolah bukan nilai lo. Di mading depan, nama Kak Arkael dipajang lagi. Juara Umum satu sekolah dengan nilai rata-rata nyaris sempurna. Guru-guru sampai berdiri tepuk tangan pas nama dia disebut di aula tadi."
Revan tersenyum sinis, mengambil batang rokok yang belum dinyalakan lalu memainkannya di jari-jemari. Dada cowok itu terasa berdenyut nyeri, sebuah rasa sesak yang akrab kembali menyergapnya. Juara umum lagi, batin Revan, hatinya terasa semakin dingin dan membatu. Tentu saja. Dengan semua fasilitas kamar VIP rumah sakit, ruang ujian ber-AC, dan perhatian penuh dari para guru, aneh kalau dia gak dapet juara satu.
Sore harinya, dengan perasaan yang campur aduk, Revan terpaksa pulang ke rumah. Ia berniat menaruh map rapot sialan itu di meja belajar kamarnya sebelum kembali menginap di rumah Miko. Namun, begitu ia melangkah melewati pintu depan, aroma harum masakan yang sangat akrab langsung menusuk indra penciumannya.
Aroma semur daging sapi dan sup ayam kampung hangat. Itu adalah menu makanan mewah yang hanya dimasak oleh Ibu pada momen-momen tertentu saja.
Di ruang makan, suasana tampak begitu hidup. Sebuah tumpeng nasi kuning berukuran sedang berhiaskan lauk-pauk lengkap terletak di tengah meja. Ibu sedang sibuk menata piring-piring dengan senyuman yang merekah lebar—sebuah senyuman tulus yang sudah berbulan-bulan tidak pernah Revan lihat di wajah wanita itu. Di sudut meja, Ayah yang baru saja pulang kerja bahkan masih mengenakan kemeja kantornya, tampak sedang tertawa lebar sembari menepuk-nepuk pundak Arka dengan penuh rasa bangga.
Arka duduk di sana, mengenakan kemeja kasual yang tampak agak longgar di tubuh kurusnya. Wajahnya masih pucat, namun ia berusaha ikut tersenyum tipis mendengar pujian-pujian yang dilontarkan oleh Ayah.
"Anak kesayangan Ayah memang luar biasa. Dalam kondisi lemas begitu pun tetap bisa bawa pulang piala Juara Umum," ucap Ayah dengan nada suara yang bergetar penuh kebanggaan, matanya tampak berkaca-kaca.
"Ini semua karena doa Ayah sama Ibu juga," sahut Arka lirih, suaranya terdengar sangat parau.
Revan berdiri membeku di ambang pintu ruang makan, menjinjing tas ranselnya dengan satu tangan yang mencengkeram erat tali tas hingga buku jarinya memutih. Kehadirannya sore itu bagaikan sebuah bayangan hitam yang tiba-tiba merusak pemandangan indah di dalam ruangan.
Senyuman di wajah Ibu seketika memudar begitu menyadari keberadaan Revan. Atmosfer hangat di ruang makan mendadak berubah menjadi canggung dan dingin dalam hitungan detik.
"Oh, kamu pulang, Revan?" tanya Ibu, nadanya berubah menjadi datar dan tegas, sangat kontras dengan suaranya saat mengobrol dengan Arka tadi. "Mana rapot kamu? Sini Ibu lihat."
Tanpa bersuara, Revan melangkah maju. Ia melemparkan map biru tua itu ke atas meja makan dengan asal, membuat map itu mendarat tepat di samping piring Arka.
Ayah meraih map tersebut, membukanya dengan cepat, dan dalam beberapa detik, wajah hangat Ayah langsung berubah menjadi merah padam karena menahan amarah. Ayah membanting map itu kembali ke meja. "Peringkat 28?! Dan ini apa? Surat peringatan dari BK lagi?! Revan, kamu ini benar-benar tidak punya otak atau bagaimana, hah?!" bentak Ayah, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
"Ayah... udah, Yah, jangan marah-marah dulu. Revan baru pulang," Arka mencoba menenangkan Ayah, memegang lengan pria paruh baya itu dengan tangannya yang bergetar.
"Kamu jangan bela adekmu terus, Arka! Dia ini tidak tahu diuntung!" sahut Ayah ketus. Ayah kembali menatap Revan dengan pandangan penuh kekecewaan yang mendalam. "Lihat Abangmu, Revan! Dia sakit-sakitan, tapi tetap berjuang belajar demi membanggakan nama keluarga! Sedangkan kamu? Fisik segar bugar, kerjaannya cuma kelayapan, berantem, dan bawa pulang sampah seperti ini ke rumah! Kamu gak malu sama Abangmu?!"
Kata-kata Ayah terasa seperti palu besar yang menghantam telak harga diri Revan hingga hancur berkeping-keping. Fisik segar bugar katanya? Revan mengepalkan tangannya di balik saku celana. Di mata Ayah dan Ibu, dia hanyalah wadah kosong yang tidak berguna, sementara Arka adalah segalanya.
Revan menatap Arka dengan pandangan yang sarat akan racun kebencian yang teramat pekat. Di dalam benak Revan, Arka sengaja mempertahankan peringkat satu itu untuk terus menginjak-injak keberadaannya di rumah ini.
"Buat apa Revan malu?" sahut Revan, suaranya terdengar sangat tenang namun dingin, menantang tatapan mata Ayahnya tanpa rasa takut. "Gue emang sampah di rumah ini, kan? Lagian, panggung juara hari ini kan emang cuma buat si anak emas kesayangan kalian. Gak usah banding-bandingin gue sama dia. Gue sama dia jelas beda. Dia pahlawan, gue bajingannya."
"REVAN! Jaga ucapan kamu ke Ayah!" bentak Ibu, air matanya mulai menggenang karena merasa terluka oleh ucapan sinis anak bungsunya.
"Revan... maafin gue. Gue gak bermaksud buat—" Arka mencoba berbicara, wajahnya tampak semakin panik dan pucat. Namun, tepat di saat itu, sebuah rasa nyeri yang teramat hebat kembali menusuk bagian pinggang belakangnya. Arka tersentak, tubuhnya mendadak membungkuk kaku, dan tangannya dengan panik mencengkeram pinggiran meja makan untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk dari kursi. Organ ginjalnya yang kian sekarat kembali memprotes keras stres emosional yang terjadi di sekitarnya.
"Arka! Kamu kenapa, Nak?!" Ibu langsung panik, mengabaikan Revan sepenuhnya dan beralih memeluk tubuh Arka yang mulai gemetar menahan sakit.
"Tuh, lihat kelakuan kamu, Revan! Kamu cuma bisa bikin Abangmu drop lagi!" ketus Ayah sembari membantu Ibu memegangi tubuh Arka.
Revan menatap pemandangan itu dengan senyum sinis yang semakin melebar di wajahnya, meskipun hatinya hancur berkeping-keping di dalam sana. Tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi, Revan berbalik badan. Ia menyambar tas ranselnya, melangkah lebar-lebar menaiki tangga menuju kamarnya hanya untuk mengunci diri, menolak untuk ikut campur dalam "drama" keluarga yang menurutnya sangat memuakkan itu. Di dalam kamarnya yang gelap, Revan mengempaskan tubuhnya di atas kasur, merasakan kehampaan yang luar biasa merayapi seluruh jiwanya.
Bersambung....
.
.
.
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...