"Selamat, Ibu Alana. Bayinya laki-laki, sehat, dan tampan sekali," ucap sang dokter tersenyum hangat.
Alana mencium kening putranya dengan air mata yang terus mengalir. "Hai, sayang... Ini Ibu. Mulai hari ini, cuma ada kita berdua. Ibu berjanji akan menjagamu dengan seluruh hidup Ibu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GERBANG ISTANA PAPA
Suasana di dalam kabin mobil mewah itu terasa hangat dan senyap, hanya menyisakan suara embusan AC yang halus. Musik instrumental anak-anak diputar dengan volume rendah, sengaja disiapkan Samudera untuk menyambut sang putra.
Melalui kaca spion tengah, Samudera melirik Arkana yang duduk di car seat baris belakang. Bocah itu tampak sibuk memandang keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang mulai terlewati, dengan tangan yang masih setia memeluk robot besarnya.
"Arka," panggil Samudera lembut, membuka percakapan.
Arkana mendongak, matanya berbinar menatap kaca spion tengah saat menyadari sang papa sedang memperhatikannya. "Iya, Papa?"
"Bagaimana tadi? Arka senang bisa sekolah online ditemani Papa?" tanya Samudera, sengaja memancing obrolan untuk mengikis sisa-sisa trauma kejadian dengan guru tadi.
Arkana mengangguk dengan penuh semangat hingga rambut depannya ikut bergerak. "Senang sekali, Papa! Arka bisa kasih tahu ke Ibu Guru dan teman-teman kalau Arka punya Papa yang hebat. Papanya Arka tinggi dan pakai baju keren!"
Mendengar kalimat polos itu, dada Samudera berdesir hebat. Ada rasa bangga sekaligus sesak yang bercampur menjadi satu. Ia mencengkeram setir mobil sedikit lebih erat, mencoba menahan emosinya agar tidak tumpah di depan anaknya.
"Papa juga senang sekali bisa temani Arka," balas Samudera, suaranya melembut. "Nanti, Papa akan carikan Arka sekolah baru yang jauh lebih bagus. Sekolahnya besar, ada lapangan bola, dan banyak mainannya. Arka mau?"
"Mau, Papa! Nanti di sana gurunya baik?" tanya Arka dengan nada sedikit mencicit di akhir kalimat, menyiratkan secercah ketakutan yang masih tersisa.
Samudera melirik tajam ke depan, rahangnya mengeras sesaat mengingat wanita bernama Yeni itu. Namun saat berbicara pada Arka, suaranya kembali selembut sutra. "Tentu saja. Semua gurunya pasti baik dan sayang sama Arka. Kalau ada yang nakal atau buat Arka sedih lagi, Arka langsung bilang ke Papa, ya? Papa yang akan maju paling depan untuk bela Jagoan Papa."
"Siap, Papa!" seru Arka, menirukan gerakan hormat militer dengan tangan mungilnya. "Papa... rumah Kakek dan Nenek masih jauh?"
Samudera terkekeh pelan melihat tingkah menggemaskan itu. "Sedikit lagi sampai, Sayang. Di sana Nenek sudah buatkan puding cokelat kesukaan Arka, dan Kakek sudah belikan jalur lintasan mobil balap yang besar di ruang tengah."
"Wah! Benarkah, Papa? Sore nanti Arka mau main balap mobil sama Papa dan Kakek!" pekik Arka girang, rasa cemasnya kini benar-benar telah menguap digantikan oleh antusiasme yang membara.
Samudera tersenyum lebar, menatap lurus ke jalanan di depannya dengan perasaan tak sabar untuk segera memperkenalkan sang putra kepada kedua orang tuanya.
Gerbang besi tinggi menjulang sewarna hitam arang terbuka secara otomatis saat mobil mewah Samudera melintasi area penjagaan depan. Kendaraan itu melaju pelan, menyusuri jalanan paving blok bersih yang membelah halaman rumput hijau yang tertata sangat rapi dengan pepohonan rindang di kanan dan kirinya.
Di ujung jalan, berdiri sebuah bangunan megah bergaya modern kontemporer dengan pilar-pilar kokoh yang menjulang tinggi. Dindingnya yang didominasi marmer putih dan kaca-kaca besar memantulkan cahaya matahari pagi, menciptakan kesan mewah yang sempat membuat Arkana tertegun di kursi belakang.
"Wah... rumah Papa besar sekali! Seperti istana lego yang Arka buat," gumam Arkana polos, wajahnya menempel di kaca jendela mobil dengan mata membelalak takjub.
Samudera terkekeh pelan sembari menghentikan mobilnya tepat di depan lobi utama rumah. "Ini rumah Arka juga. Ayo, kita turun."
Begitu pintu mobil dibuka oleh kepala pelayan yang sudah bersiap menyambut, Samudera segera keluar dan menggendong Arkana ke dalam dekapan hangatnya. Ransel dinosaurus Arka menggantung di salah satu pundak kekar Samudera.
Saat melangkah masuk melewati pintu jati kembar yang besar, kemegahan bagian dalam rumah itu langsung menyambut mereka. Lampu gantung kristal yang indah menjuntai dari langit-langit yang tinggi, dan lantai marmernya berkilat saking bersihnya. Namun, atmosfer dingin rumah mewah itu seketika pecah oleh suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah tangga utama.