Suatu hari sikap Maya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Dia yang tadinya gadis pendiam dan lemah, kini memiliki tatapan tajam mematikan. Semua itu terjadi setelah pingsan yang dia alami. Semua orang terkejut dengan perubahan Maya. Julukan psiko mulai tersemat pada dirinya.
Abang tirinya yang mesum dan geng yang sering membully Maya di sekolah sekarang hanya bisa tercengang. Jika dahulu Maya hanya pasrah hingga bahkan tak berani menatap, maka kini dia malah berkata, "Aku akan sobek mulutmu jika berani menyentuhku!"
Apa yang terjadi pada Maya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Guru C4bul
Bel masuk kedua masih lama. Koridor sekolah mulai sedikit sepi karena sebagian besar murid sudah kembali ke kelas masing-masing. Suara langkah kaki yang tadi ramai perlahan menghilang, berganti dengan suara kipas angin tua yang berputar malas di langit-langit lorong. Cahaya matahari siang masuk lewat jendela-jendela panjang di sisi gedung, menciptakan bayangan memanjang di lantai keramik.
Sementara itu di koperasi sekolah, Angel berdiri sambil melipat tangan kesal. Seragam putih barunya masih dibungkus plastik. Wajahnya jelas belum bisa menerima kejadian di toilet tadi.
“Gila sih itu anak,” gerutu salah satu anggota Geng Violet sambil mengusap lengannya sendiri, seolah masih merinding mengingat tatapan Maya sebelumnya. “Tatapannya serem banget.”
Angel langsung mendecakkan lidah keras. “Takut?” tanyanya sinis.
“Ya enggak juga…”
“Terus jangan kayak ayam mau dipotong!”
Beberapa anak langsung diam. Tidak ada yang berani membantah Angel kalau suasana hatinya sedang buruk.
Ziva berdiri agak diam di belakang mereka. Tangannya memegang tali tas dengan erat, sementara pikirannya masih kacau sejak kejadian di toilet tadi. Karena jujur saja, dia belum pernah melihat Maya seperti itu.
Maya yang dia kenal biasanya selalu diam, menunduk, dan memilih menghindar kalau diganggu. Tapi tadi berbeda. Cara Maya menatap Angel benar-benar membuat bulu kuduknya berdiri. Bahkan waktu di rumah semalam pun aura Maya sudah terasa aneh.
Namun di toilet tadi? Itu benar-benar seperti melihat orang lain.
Angel menoleh cepat ke arah Ziva. “Lo kenapa diem aja?”
Ziva tersentak kecil. “Hah? Enggak.”
Angel menyipitkan mata. “Saudara tiri lo kesambet setan apa gimana sih?”
Beberapa anggota geng tertawa kecil mendengar ucapan itu. Namun kali ini Ziva tidak ikut tertawa. Entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman yang terus mengganggu pikirannya.
Angel kembali melanjutkan sambil mengangkat dagu angkuh. “Pokoknya gue nggak terima dipermaluin kayak tadi.”
“Terus gimana?” tanya salah satu anggota geng hati-hati.
Angel tersenyum miring. Senyum tipis penuh niat buruk yang langsung membuat beberapa anggota geng saling pandang.
“Kita bikin dia kapok sekalian.”
Ziva mengernyit. “Maksud lo?”
Angel mendekat sedikit lalu berbisik pelan pada mereka. Ekspresi beberapa anggota geng langsung berubah.
“Eh… serius?”
“Parah banget…”
Angel malah terkekeh kecil.
“Dia yang mulai duluan.”
Suasana sempat hening beberapa detik. Ziva menunduk pelan sambil menggigit bibir bawahnya. Ada bagian dari dirinya yang sebenarnya ragu. Namun bayangan Maya yang tadi berdiri dengan tatapan dingin kembali muncul di kepalanya. Anehnya itu membuatnya merasa terancam.
“Yaudah,” katanya akhirnya lirih. Dia mengangkat wajah perlahan.
“Sekalian aja.”
Angel tersenyum puas.
Sementara itu di UKS, Maya baru selesai mengganti seragamnya dengan pakaian olahraga sekolah. Kaus putih longgar dan celana training hitam membuat gerak tubuhnya jauh lebih nyaman dibanding rok sekolah.
Dia keluar sambil mengeringkan rambut memakai handuk kecil. Wajahnya tampak santai seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
“Seragam olahraga lebih enak,” gumam Maya.
Dia mengangkat kaki lalu mengayunkan tendangan ke udara bak Jackie Chan.
Swush.
Sudut bibirnya terangkat kecil. “Lumayan masih lentur.”
Beberapa siswi yang kebetulan lewat langsung menatap aneh ke arahnya. Namun Maya tidak peduli.
Selanjutnya Maya beranjak dari UKS. Langkahnya santai menyusuri lorong belakang sekolah. Area itu relatif sepi karena dekat gedung olahraga indoor.
Udara di sana terasa lebih dingin. Cat dinding beberapa bagian sudah mulai mengelupas, sementara suara dari kelas-kelas utama terdengar samar dari kejauhan.
Dari arah gedung olahraga terdengar bunyi pantulan bola basket.
Duk.
Duk.
Duk.
Namun suara itu berhenti tiba-tiba ketika Maya semakin dekat. Saat melewati pintu gedung indoor, seseorang tiba-tiba keluar dari balik pintu dan hampir menabraknya.
Maya refleks menahan bahu orang itu.
“Heh, hati-hati—”
Kalimatnya terputus. Seorang siswi berdiri di depannya dengan napas gemetar. Rambutnya berantakan. Matanya merah penuh air mata. Pipinya juga tampak merah seperti habis ditampar keras.
Begitu melihat Maya, siswi itu malah terlihat semakin panik.
“Permisi!”
Dia buru-buru melepaskan diri lalu berlari menjauh begitu saja tanpa berani menoleh lagi.
Maya mengernyit. “Aneh," komentarnya singkat.
Tatapannya mengikuti siswi itu beberapa detik sampai sosoknya menghilang di tikungan lorong. Naluri Priska langsung menangkap ada sesuatu yang tidak beres. Meskipun kini dia hidup sebagai Maya, insting lamanya belum pernah hilang. Dia terlalu terbiasa membaca ketakutan di wajah orang. Wajah siswi tadi jelas bukan ekspresi seseorang yang baru dimarahi biasa.
Maya lalu melirik ke arah pintu gedung olahraga indoor yang sedikit terbuka. Kesunyian langsung menyambut. Namun justru terlalu sunyi.
Perasaan waspada perlahan muncul. Maya akhirnya melangkah masuk. Lapangan indoor tampak kosong. Lampu sebagian mati sehingga ruangan terlihat remang-remang. Hanya suara kipas angin besar yang berputar pelan di langit-langit.
Kreek...
Kreek...
Langkah Maya menggema pelan di lantai lapangan. Dia berjalan perlahan sambil memasukkan tangan ke saku celana training. Tatapannya menyapu sekitar dengan tenang namun tajam.
“Nggak ada orang…” gumamnya.
Namun semakin jauh dia melangkah, semakin terasa ada sesuatu yang janggal. Udara di bagian belakang gedung terasa lebih pengap. Saat mendekati area ruang loker belakang...
“Hhh… ah…”
Maya langsung berhenti. Alisnya terangkat pelan. Suara aneh terdengar samar dari balik pintu ruang loker.
“Hah?”
Dia mendekat tanpa suara. Insting lamanya langsung aktif otomatis seperti predator yang sedang mengendap-endap. Langkahnya ringan. Nyaris tidak menimbulkan bunyi.
Pintu loker terbuka sedikit. Begitu Maya mengintip dari celah kecil, dia langsung membeku beberapa detik. Di dalam ruang loker ternyata ada guru olahraga sekolah, Pak Darto.
Pria bertubuh besar itu berdiri terlalu dekat dengan seorang siswi yang tampak ketakutan. Seragam siswi itu berantakan dan tubuhnya terlihat gemetar.
Suasana di ruangan sempit itu terasa menyesakkan. Mata Maya langsung menyipit tajam.
“Oh…”
Otak Priska yang terbiasa hidup di dunia kriminal langsung memproses situasi dengan cepat. Tatapan Maya perlahan berubah dingin.
Sementara di dalam, Pak Darto belum sadar ada seseorang mengintip. Tangannya masih bergerak seenaknya sambil menahan bahu siswi tersebut.
“Jangan takut…” suara pria itu terdengar pelan. “Bapak kan cuma sayang sama kamu.”
Maya hampir muntah mendengarnya. Di dunia mafia dulu, Priska sudah melihat banyak manusia busuk. Pengkhianat, pembunuh dan orang-orang licik yang menjual teman sendiri demi uang.
Namun melihat seorang guru menyalahgunakan posisinya seperti ini tetap membuat darahnya mendidih. Terlebih korbannya masih anak sekolah. Tatapan Maya berubah semakin gelap. Beberapa detik dia hanya diam berdiri di depan pintu.
Di kepalanya, Priska mulai menghitung banyak kemungkinan. Kalau ini dunia lama miliknya, pria seperti Pak Darto mungkin sudah tidak akan bisa berjalan lagi besok pagi.
Atw ramuan bwt orang lain?
Mau nunggu diperkosa sama Jomie lagikah baru bertindak Priska?
Atw nunggu dibully rame² baru dibales Priska?
Enak banget tuh yang nge bully & merkosa dikasih waktu pengampunan terus sama Priska
🤨
Karena gak disinggung sama sekali keamanan sekolah baik penjaga sekolah, CCTV atw harus divideokan oleh orang lain baru viral semua kelakuan minus anggota sekolah disitu? 🤔