NovelToon NovelToon
DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

DHAHAR : Jangan Mati Di Rantau Naya

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Mia AR-F

Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.

" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.

Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.

_

Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

06 : Kunci di kaki Agus

Malam hari di mess tiba-tiba mati lampu sejak jam 9 malam tadi, dan sekarang sudah jam setengah satu malam dan listrik belum juga nyala. Cuma senter hp Naya yg nerangin kamar. Naya memilih untuk tinggal di kamar Intan, dan Abel. Rosa belum juga menunjukkan tanda-tanda jika dia akan pulang.

Abel masih meluk lutut di tepi kasur. Hp-nya dipegang Naya. Chat itu masih nyala di layar.

'Giliran kamu. Kamu yang akan mati. Abel.'

"Mbak..." bisik Naya. "Ini siapa yg ngirim?"

Abel geleng. Air mata nggak berhenti. "Nggak tau... nggak ada nomornya..."

BUG!

Dari ruang tengah. Kenceng. Kayak laci warung dibanting, padahal jarak warung 300 meter.

Intan kebangun, "Naya, Abel? Kalian denger enggak?"

Naya buru-buru matiin layar hp. "Denger apa, Teh?"

"Kayak... Kayak ada yg ngetok pintu," suara Intan ragu. "Tapi nggak ada siapa-siapa."

Abel makin nyuruk ke tembok. "Teh... aku mau pulang... aku mau pulang ke Cianjur..."

"Astaga Bel, udah sabarin aja." Ujar Intan mencoba menghibur Abel.

Naya diem teringat nametag Sari pindah tempat, dan sekarang chat vonis mati tertuju kepada Abel. Ada sesuatu yang tidak beres tentang rumah makan itu, dan bodohnya Naya baru menyadari itu hari ini.

Pagi hampir tiba Naya sama sekali nggak tidur. Dia nulis di buku diary kecilnya.

Naya diary 09/09

'Aku mau berhenti. Hari ini juga. Gaji nggak seberapa. Nyawa taruhannya.'

"Naya, Naya..!! Kerja!!"

Seseorang membangunkannya yang merupakan Teh Intan yang juga sudah siap kerja dengan seragam sales-nya.

Naya tersentak dari tidurnya. Dengan paksa dia bangunin badan. Ternyata dia ketiduran. Naya melihat Abel yang masih tidur juga.

Tanpa mikir panjang Naya ke kamar mandi dan mandi asal. Pake kemeja putih. Dia nggak niat kerja. Niatnya ngomong baik-baik ke Pak Dermawan.

Naya keluar dari kamar mandi dan melihat Intan yang sedang make up. Abel masih di kamar, nggak keluar.

"Teh, aku niat ngomong ke Pak Dermawan hari ini," ujar Naya.

Intan ngerut kening. "Ngomong apa?"

"Mau berhenti, Teh. Aku takut," jawab Naya jujur.

Intan narik tangan Naya. "Na, jangan gegabah. Kamu belum sebulan. Dendanya gede."

"Denda?" Naya kaget.

Intan ngangguk pelan. "Semua yg kerja di sini tanda tangan kontrak. 6 bulan. Kalau keluar sebelum 6 bulan, bayar 3 juta. Buat ganti rugi nyari orang baru."

"3 juta??" Tanya Naya.

"Emang gak cukup gede tapi ya udah. Kamu ngomong baik-baik aja dulu," potong Intan. "Jangan bilang karna takut. Bilang aja orang tua sakit di kampung kalo pun maaf, kamu udah gak ada orang tua. Gak ada alasan lain, Na."

Naya mengangguk paham saat di berikan arahan oleh Intan.

Naya baru sampe rumah makan di jam 8 pagi. Agus lagi buka rolling door. Liat Naya pucet bahkan nyaris tak pakai make up tidak seperti biasanya, dia nanya, "Lu nggak apa-apa, Na?"

Naya geleng. "Mang, Pak Dermawan udah dateng?"

"Belum. Biasanya jam setengah 9 kalau rumah makan udah buka," jawab Mang Agus.

Naya duduk di bangku plastik lipet. Matanya ke laci. Ketutup. Kunci masih tergantung di pake tanggal. Nggak ada tetesan merah. Aman. Untuk sekarang.

Rifki yang baru turun tangga. Liat Naya, mata panda Naya sudah menunjukkan sesuatu yang aneh yang membuat Rifki menghampiri Naya ke meja kasir.

Rifki langsung bisik, "Lu nggak tidur?"

Naya ngangguk. "Aku mau resign."

Rifki kaku. Matanya ke pintu dapur, mastiin Zuan dan Nesya nggak denger. "Jangan, Na. Lu nggak bisa."

"Kenapa?" Naya udah mau nangis.

"Kontrak," jawab Rifki pelan. "Sari juga mau berhenti dulu. Hari ke-12 kerja. Pak Dermawan keluarin kertas. Suruh bayar denda 30 juta. Sari nggak punya duit. Dan besoknya... Sari hilang."

Naya nutup mulut. Jadi Sari itu nama mantan karyawan yang pernah kerja di sini, dan ironisnya hilang.

Rutinitas rumah makan terjadi seperti biasa, pembeli mulai datang. Pak Dermawan dateng. Nggak bawa rantang, namun anehnya hanya membawa map coklat.

Lihat Naya, bibir Pak Dermawan senyum namun matanya tidak ikut tersenyum. "Pagi, Naya. Abel udah mendingan?"

Naya berdiri. Tangannya dingin. "Pak... saya mau ngomong."

Pak Dermawan yang seolah sudah mengerti dengan santai duduk di meja nomor 1. Nepuk kursi sebelah. "Duduk sini."

Naya mengeluarkan keringat dingin, dan duduk kaku.

"Ngomong apa?"

"Pak, saya mau berhenti kerja. Ibu saya di kampung sakit. Saya harus pulang."

Pak Dermawan diem. Matanya nggak marah. Datar. Dia buka map coklat. Ngeluarin 1 lembar kertas. Di lemari kertas itu ada tulisan surat perjanjian kerja.

Ada tanda tangan Naya di bawah. Tanggal 06/09. Tiga hari lalu. Hari terakhir dia training di cabang Bekasi yang di urus oleh Pak Harto dan Bu Siti, disuruh tanda tangan oleh Pak Dermawan untuk kontrak kerja resmi.

"Baca pasal terakhir, pasal 13." ujar Pak Dermawan. Jarinya nunjuk.

PASAL 13

TERKAIT IKATAN KERJA & GANTI RUGI

Pihak Kedua wajib terikat kerja pada Pihak Pertama selama 6 (enam) bulan terhitung sejak tanggal 07 September.

Apabila Pihak Kedua mengundurkan diri secara sepihak atau melanggar tata tertib sebelum masa kerja sebagaimana ayat 1 berakhir, maka Pihak Kedua wajib membayar ganti rugi kepada Pihak Pertama sebesar Rp5.000.000 (lima juta rupiah) per bulan dikali sisa masa kontrak.

Pembayaran ganti rugi wajib dilunasi secara tunai paling lambat 3 (tiga) hari kalender sejak tanggal pengunduran diri dinyatakan.

Apabila Pihak Kedua tidak mampu membayar, Pihak Pertama berhak melakukan penagihan kepada penjamin/keluarga Pihak Kedua sesuai data KTP & Kartu Keluarga yang terlampir pada kontrak ini.

Pihak Kedua menyatakan telah membaca, memahami, dan menyetujui seluruh isi kontrak tanpa paksaan.

Ditandatangani di: RM Dermawan Bekasi

_Tanggal: 07/09_

Keterangan: Penandatanganan dilakukan saat Pihak Kedua menjalani masa training di lokasi milik Pak Harto dan Bu Siti.

Nama Pihak Kedua: Naya Anindya Putri

Tanda tangan: [ttd Naya]

Saksi 1: Pak Harto

Tanda tangan saksi 1: [ttd Pak Harto]

Saksi 2: Bu Siti

Tanda tangan saksi 2 : [ttd Bu siti]

Pihak Pertama

Nama: Pak Dermawan

Tanda tangan: [ttd Pak Dermawan]

"Kamu yang tanda tangan sendiri hari itu, dengan kesadaran kamu." Ujar Pak Dermawan datar.

Naya baca. Mata langsung ke angka Rp5.000.000 per bulan. Lututnya lemes.

"Kamu masuk tanggal 7," Pak Dermawan tertawa ngejek sambil ngitung dengan jarinya di depan Naya, "Sekarang baru tanggal 9. Baru kerja 2 hari. Sisa kontrak 5 bulan 28 hari. Kita bulatkan 6 bulan. 5 juta kali 6..."

"30 juta, Pak," Rifki nyaut dari belakang. Suaranya kosong. Dia dejavu.

"Tepat," Pak Dermawan nutup map.

"Tunai. Tiga hari wajib udah lunas. Nggak bisa nyicil. Nggak bisa jaminan BPKB."

Naya tertunduk, dia merasa di ancam dan juga di rendahkan karna tawa Pak Dermawan dan wajah puas Pak Dermawan.

"Pak... Saya nggak baca waktu itu," suara Naya lirih. Air matanya jatuh.

"Kamu itu udah dewasa. Apa jangan-jangan kamu enggak lulus sekolah?" tanya Pak Dermawan.

Naya diem.

Rifki yang melihat itu tanpa sadar meremas tinjunya marah di belakang punggung.

Pak Dermawan nutup map coklat kontrak kerja itu lalu dengan santainya berbicara, "Gini aja. Kamu kerja yg bener sampe 6 bulan. Saya nggak akan potong gaji. Kalau kamu kabur, saya tagih ke keluarga kamu di kampung. Saya juga akan lapor polisi, alamat KTP kamu ada di sini."

Naya nelan ludah. Ancaman halus.

"Tapi Pak... Semalem ada yg ngancem Abel nyuruh mati..." Naya keceplosan.

Pak Dermawan ketawa kecil. "Anak sekarang mainannya gitu. Jangan gampang percaya. Fokus kerja aja."

Dia berdiri, tepuk bahu Naya. "Ya udah. Jaga kasir lagi di sana. Ingat, jangan berani bikin saya tekor."

Pak Dermawan pun pergi ninggalin Naya sama kertas kontrak di meja.

Rifki nyamperin, liat kertas. "Kan gue udah bilang."

Naya remes kertas itu. Mau nangis enggak bisa. Mau kabur nggak punya duit.

Naya jaga kasir namun lebih sering ngelamun. Salah pencet harga 2 kali. Laci nggak kebuka. Zuan sampai harus turun tangan untuk meng-handle kasir.

"Bisa gak sih jaga kasir yang bener? Ini soal uang loh!" Zuan marah.

Naya yang emosi banting hp ke laci. Laci KLIK kebuka sendiri. Di dalem, di atas nampan merah, ada nametag baru. Plastiknya masih kinclong.

Tulisannya: NAYA_KASIR.

Tanggal dibuat: 09/09

Hari ini tanggal 09/09.

"Sekarang kamu udah resmi jadi karyawan disini." Ujar Zuan pada Naya yang meremas nametag itu.

"Pakai nametag itu, dan kerja yang bener." Tegas Zuan lalu pergi.

Naya nutup laci kenceng. Kunci masih di paku tanggal. Perlahan tangannya gemetar.

Rifki liat dari jauh, "Ini udah di mulai."

Jam 17.00, Naya nggak cabut. Dia disuruh Pak Dermawan lembur.

"Abel nggak masuk. Kamu yang tutup kasir," kata Pak Dermawan. "Rifki temenin."

Jam 11 malam saat bersih-bersih laci belum ditutup. Agus yang bersih-bersih sementara Nesya dan Zuan yang sudah kelar di dapur sudah pulang, kecuali Zuan yang memang messnya ada di rumah makan.

Di kasir Rifki yang ngitung duit. Naya yang nyatet. Keringet netes ke buku kas. Naya benci lembur di rumah makan ini.

TING!

Kunci mental dari paku tanggal. Jatuh ke lantai. menggelinding jauh ke kaki Agus. Pandangan mereka bertiga tertuju pada kunci itu.

Lampu rumah makan tiba-tiba mati. Rifki menghidupkan Lampu dari HP doang. Naya menyentuh bahu Rifki yang ada di sampingnya karna merasa takut.

Agus nunduk. Nggak kaget, dia udah hapal suara kunci jatuh. Dia noleh ke Rifki, ke Naya.

"Gue tau ini tanda apa." Suara Agus berat.

"Mang?" Rifki memanggil.

"Gue yg ambil. Gue yg gantung nanti."

Zuan nongol tangga dari mess atas lantai 3. " Nggak bisa, Mang. Nama di struk Naya. Pak Dermawan yg nulis. Kalau ngelanggar, gentong marah. Lu lupa Sari?"

Agus ketawa hambar, "Justru karena gue inget Sari. Dia juga anak baru. Gue diem aja waktu itu. Besoknya dia hilang."

Agus ngelirik Naya yg gemeteran, dia melihat Naya seakan melihat Sari, "Gue nggak mau hal itu terus menerus terulang."

BUG!

Laci kebuka sendiri. Nampan merah kosong. Di bawah nampan, struk tulisan Pak Dermawan:

09/09 NAYA

10/09 AGUS

11/09 – RIFKI

Naya lemes melihat namanya di sana saat struk itu di senter oleh Rifki, "Mang… aku takut…"

Agus menghampiri dan jongkok depan Naya. Nyerahin kunci.

"Denger, Na. Aturannya gini. Lo yg masukin nampan. Lo yg kunci laci. Tapi gue yg gantung kuncinya ke paku tanggal. Biar semua cepat. Paham?"

"Tapi Mang-" Rifki mau protes. Agus nyetop.

"Udah 4 tahun gue pernah akalin gini, Ki. Gentong tua, gampang dibego-begoin. Asal kunci balik ke paku sebelum tengah satu semua aman.”

Naya ngangguk. Rifki memberikan nampan pada Naya yang masukin nampan. Naya mengunci laci. Tangannya gemeter.

Agus dengan cepat merebut kunci dari Naya. Jalan cepet ke tembok. Gantungin kunci ke paku tanggal.

KLIK!

Listrik nyala.

Zuan dari tangga sampai melongo, "Gila, Mang. Lu berani bener."

"Kalau gue takut, gue udah mati dari dulu." Balas Agus.

1
Sarah
Dari bahasa Sunda kah referensi kalimat dan nama tempat makannya sendiri? Atau bukan?
Mia AR-F: lebih ke jawa sih kk
total 1 replies
Sarah
Kakaknya Naya menarik juga. Aku emang belum baca sampai jauh tapi jujur ada sedikit harapan dia bisa terlibat jugalah di cerita meskipun mungkin gak bisa bener-bener bantu tapi bisa disebut atau diceritakan lagi sih. Kayaknya dia tokoh yang potensial deh. Gimana dia yang cuek banget sama orang lain kayak gak ada ramah-ramahnya. (yang jujur agak curiga itu karena perjalanan merantau yang sulit juga. Selain entah karena mungkin itu emang sikap dasarnya.)
Mia AR-F: kk salsa mah udah tau dunia rantau sekeras apa 🥹
total 1 replies
Sarah
Maksudnya? Simak kah kak?
Mia AR-F: iya kk simak 🤭
total 1 replies
Sarah
Nama adalah doa. 😃
Sarah
Ngakak 😂
Sarah
Suasananya beneran hangat dan akrab banget yah? Biasanya kan seri horor atau thriller selalu ngasih suasana yang udah mencurigakan dan lingkungan orang-orang di sekitar yang sepi, individualis, dll. Tapi ini enggak, jadi makin serem karena yang terlihat aman ternyata ada sesuatu dibaliknya. Apalagi kalau terjadi di dunia nyata. 💀
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!