Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
******
“Semua barang kebutuhan yang di perlukan anda sudah saya siapkan, Nona Muda,” lapor kepala pelayan dengan sikap hormat.
Ia berdiri sedikit jauh di belakang Calista, punggungnya tegak, namun raut wajahnya tak mampu sepenuhnya menyembunyikan keterkejutan. Sejujurnya, ia tak pernah membayangkan Nona mudanya ini akan ikut bepergian ke negara Arctovia untuk mengurus urusan pekerjaan—terlebih dalam kondisi Calista yang baru saja pulih.
Nona muda nya ini belum pernah sekalipun menyentuh perkerjaan perusahaan Pranawijaya, apa kondisi nanti akan baik baik saja?
“Tuan Damar juga sudah menunggu Anda di bawah, Nona,” lanjutnya. “Mobil telah di siapkan untuk mengantarkan Nona dan Tuan Damar ke Bandara Pranawijaya.”
Langkah Calista terhenti.
“Bandara Pranawijaya?” tanyanya, alisnya terangkat, jelas kebingungan.
Kepala pelayan mengangguk mantap. “Ya, Nona. Bandara khusus milik keluarga Pranawijaya. Biasanya di gunakan bila Tuan Besar harus bepergian jauh secara mendadak atau untuk perjalanan yang bersifat privat.” jelas kepala pelayan, mungkin karena kecelakaan yang membenturkan kepala Calista membuat Nona muda nya ini akan sering lupa akan sesuatu.
Calista terdiam sejenak.
Bandara pribadi.
“Pesawat bisnis untuk perusahaan?” tanya Calista kemudian, memastikan.
“Jet pribadi, Nona muda,” jawab kepala pelayan tanpa ragu. “Nona Calista juga memilikinya. Di hadiahkan oleh Tuan Besar saat ulang tahun Anda yang ke- tujuh belas.”
Calista menghembuskan napas panjang, dadanya terasa sedikit penuh dan sesak.
Ia memang tahu kalau keluarga Pranawijaya itu kaya—sangat kaya malah. Namun ia tak pernah menyangka kekayaan mereka berada di tingkat yang… seperti ini.
Bukan sekadar memiliki perusahaan besar, melainkan fasilitas yang bahkan tak tersentuh oleh kebanyakan konglomerat.
Pantas saja dulu lima tahun yang lalu, saat perusahaannya mengajukan kerja sama, proposal itu di tolak tanpa banyak pertimbangan.
Bukan karena idenya buruk.
Bukan karena perusahaannya tak berkembang.
Melainkan karena mereka tidak sepadan.
Atau mungkin… masih berada di empat tingkat di bawah standar keluarga Pranawijaya.
Calista—saat masih menjadi Aruna—tidak bisa di katakan berasal dari kalangan bawah. Ia hidup mapan, mandiri, dan di hormati di lingkupnya sendiri. Namun kini, berdiri di dalam dunia Pranawijaya, ia mendadak merasa kecil.
Sangat kecil.
Seperti debu yang beterbangan—
ada, namun nyaris tak berarti.
“Kepala pelayan,” ucap Calista dingin. “Selama saya bepergian, kamar milik saya ini jangan ada siapa pun yang masuk tanpa izin saya.”
Kepala pelayan refleks menegakkan tubuh.
“Bahkan untuk di bersihkan,” lanjut Calista. Tatapannya tajam, mengandung peringatan yang jelas. “Saat saya kembali, saya tidak ingin ada satu pun barang berpindah tempat. Debu yang seharusnya ada, biarkan tetap ada.”
Ia tidak berlebihan.
Mansion sebesar itu terlalu mudah menjadi sarang niat buruk. Dan terlebih—ia belum menemukan siapa orang yang mendorong pemilik tubuh ini hingga hampir meregang nyawa.
“B-baik, Nona muda,” jawab kepala pelayan dengan suara bergetar, menunduk dalam-dalam.
Aura Calista saat ini begitu tajam, seolah siap menguliti siapa pun yang berani mengusiknya.
"Kunci rapat pintu kamar ku selama aku pergi. "
******
“Tumben sekali kamu ingin ikut campur dengan urusan perusahaan,” Damar membuka suara.
Saat itu, keduanya sudah berada di dalam jet pribadi milik Calista, melaju menembus langit malam menuju ke negara Arctovia. Interior jet yang luas dan elegan terasa sunyi, hanya di isi dengungan mesin yang stabil.
Damar tak henti hentinya melirik ke arah Calista.
Aura baru yang terpancar dari Calista sejak keluar dari rumah sakit—tenang, waspada, namun berbahaya—membuatnya tertarik sekaligus gelisah.
“Hanya ingin mencoba hal baru,” jawab Calista singkat, tanpa menoleh.
Tatapannya lurus ke depan, menembus jendela jet yang memperlihatkan hamparan awan putih terselimuti kegelapan malam.
“Hal baru?” Damar menyeringai tipis. “Atau kamu mulai bosan jadi istri yang hanya duduk manis di dalam mansion?”
Calista meliriknya sekilas.
“Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin tahu beberapa hal penting di sana.”
Damar terdiam.
“Kira kira berapa jam lagi kita bisa sampai di di negara Arctovia?” tanya Calista kemudian.
“Sekitar empat jam,” jawab Damar. “Kalau cuaca bersahabat.”
Empat jam.
Terlalu lama untuk sekadar menunggu tanpa kepastian.
“Sebaiknya kamu istirahat terlebih dulu,” ujar Damar akhirnya, nadanya lebih rendah dari biasanya. “Perjalanan kita masih lama. Akan aku bangunkan nanti kalau kita sudah tiba.”
Calista menoleh perlahan. Tatapannya singkat, datar—namun cukup membuat Damar merasa seolah sedang dinilai.
“Aku tidak terbiasa tidur di tempat asing,” balas Calista tenang.
“Ini jet pribadimu, Calista.” sahut Damar cepat.
Sudut bibir Calista terangkat tipis. Bukan senyum.
“Satu tubuh namun di huni oleh jiwa yang berbeda,” gumamnya pelan.
Damar mengerutkan dahi. “Apa?”
“Tidak ada.” Calista menyandarkan punggungnya. “Kalau aku tertidur, pastikan tidak ada siapa pun masuk ke kabin ini tanpa izinku.”
Nada perintah itu keluar begitu alami.
Damar menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Tidak akan ada.”
Calista memejamkan mata, dan akhirnya tertidur pulas. Ingat bahwa semalam Calista hanya bisa tidur beberapa jam saja setelah mimpi itu dan setelahnya ia tidak bisa kembali memejamkan matanya dengan tenang.
Damar menatap wajah Calista yang kini tertidur nyenyak.
“Jangan membenciku, Calista,” gumamnya pelan. “Aku sadar, sejak awal kamu memang tak pernah punya perasaan padaku… bahkan pada Arkana sekalipun.”
*****
Calista mengeliatkan tubuhnya saat cahaya terang menembus kelopak matanya.
“Jam berapa sekarang?” tanyanya dengan suara serak khas orang baru bangun.
Ia meregangkan tubuh sebentar, mengelus pelipisnya, lalu menatap sekeliling. Dahinya mengerut samar.
Ini bukan jet.
“Ini di mana?” tanyanya bingung.
“Di kamar hotel,” jawab Damar dari arah kamar mandi. “Semalam sekitar jam tiga dini hari kita sudah tiba di negara Arctovia.”
Damar keluar dengan rambut masih sedikit basah, handuk kecil di tangannya. Ia sudah rapi—jelas sengaja mengganti pakaian di kamar mandi.
“Lalu kenapa kamu ada di kamarku?” tanya Calista tajam.
“Kamarmu?” Damar mengangkat alis. “Ini kamar kita. Aku juga punya hak di sini.”
“Berdua?” Calista langsung duduk tegak. “Kenapa tidak pesan kamar terpisah saja? Keluarga Pranawijaya tidak akan bangkrut hanya karena memesan dua kamar.”
Ia tidak ingin berada sedekat ini dengannya.
Status istri itu milik Sekar.
Bukan milik Aruna—yang bahkan tak pernah terbiasa dengan keintiman.
“Kita suami istri,” jawab Damar santai. “Memangnya salah kalau satu kamar?”
Ia menatap Calista lebih lama.
“Atau… kamu benar benar berniat menikah lagi? Itu sebabnya beberapa hari ini setelah balik dari rumah sakit kamu terlihat menjauh dari ku?”
Udara di kamar itu seketika mengeras.
Calista menatap Damar tanpa emosi.
“Aku menjauh,” katanya pelan, dingin, “karena aku sedang belajar memastikan—siapa yang benar benar aman berada di sekitar ku.”
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭
gx lanjuut 21 ,, 🤭