NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Sore itu langit mulai berubah jingga ketika Clara keluar dari gedung kantor. Deretan kendaraan memenuhi jalan raya dengan suara klakson yang saling bersahutan. Orang-orang berjalan tergesa-gesa menuju halte, mencari ojek online, atau buru-buru pulang sebelum jalanan semakin macet. Clara menggenggam tas kain kecilnya sambil berjalan ke arah minimarket di ujung jalan.

Hari itu terasa melelahkan. Punggungnya pegal karena sejak pagi harus membantu mengecek laporan stok barang di gudang perusahaan. Kakinya juga sakit karena terlalu lama berdiri. Dulu ia bahkan tidak pernah membayangkan dirinya bisa bekerja seharian seperti itu. Biasanya, jika merasa sedikit lelah saja, ia akan langsung merebahkan diri di kamar ber-AC sambil memesan makanan dari restoran mahal.

Kini semuanya berbeda.

Clara masuk ke minimarket dengan langkah pelan. Pendingin ruangan langsung menyambut wajahnya yang masih panas karena perjalanan. Ia mengambil keranjang kecil lalu berjalan menuju rak bahan makanan.

"Telur tinggal sedikit di kontrakan," gumamnya pelan.

Ia mengambil satu rak telur isi sepuluh, lalu berjalan ke bagian sayuran kecil di dekat kasir. Di sana hanya tersedia beberapa cabai merah, cabai rawit, daun bawang, dan bawang merah dalam kemasan sederhana.

Clara tersenyum kecil.

Ia teringat ucapan Bu Suci beberapa hari lalu.

"Kalau belum bisa bikin sambal, potong cabai sama daun bawang kecil-kecil. Campur ke telur. Dijamin tetap enak. Orang hidup tidak harus makan mewah setiap hari."

Dulu Clara mungkin akan menganggap nasihat seperti itu kuno. Sekarang justru kalimat sederhana itu terus teringat di kepalanya.

Setelah membayar belanjaannya, Clara berjalan menuju kontrakan kecilnya. Gang menuju tempat tinggalnya mulai ramai oleh warga yang baru pulang kerja. Ada ibu-ibu yang sedang menyapu halaman, anak kecil berlarian sambil bermain bola plastik, dan aroma gorengan dari warung depan gang yang memenuhi udara.

Clara membuka pintu kontrakannya perlahan.

Ruangan sempit itu langsung terlihat. Kasur kecil di sudut ruangan, meja lipat dekat jendela, kompor portable di dekat rak plastik, dan beberapa peralatan masak sederhana yang dibelikan Bu Suci.

Meski sederhana, tempat itu mulai terasa nyaman baginya.

Clara meletakkan tas lalu menghela napas panjang.

"Mandi dulu," katanya pelan.

Beberapa menit kemudian Clara keluar dari kamar mandi dengan rambut masih sedikit basah. Ia mengenakan kaus longgar dan celana rumah sederhana. Setelah itu ia langsung berjalan menuju dapur kecilnya.

Ia mengambil dua butir telur lalu memecahkannya ke mangkuk plastik. Setelah itu ia mulai mengiris daun bawang dan cabai kecil-kecil.

Tangannya kini bergerak lebih terampil dibanding beberapa minggu lalu.

Dulu memegang pisau saja ia takut tangannya terluka.

Clara mengocok telur sambil tersenyum kecil.

"Jangan kebanyakan garam," gumamnya mengingat kejadian telur pertamanya yang terlalu asin.

Ia menuangkan sedikit minyak ke wajan, menunggu hingga panas, lalu perlahan menuangkan telur.

Suara desisan memenuhi ruangan kecil itu.

Clara memperhatikan telur dadarnya dengan serius. Ia menunggu bagian bawah matang sebelum membaliknya perlahan.

Tidak gosong.

Bentuknya juga tidak hancur.

Clara langsung tersenyum puas.

"Akhirnya berhasil juga," katanya senang.

Aroma telur bercampur daun bawang memenuhi kontrakan kecil itu. Clara segera memindahkan telur ke piring lalu menyiapkan nasi hangat di meja kecil dekat jendela.

Ia memandang hasil masakannya dengan perasaan puas yang aneh.

Dulu ia bisa membeli makanan mahal kapan saja, tetapi entah kenapa telur dadar sederhana buatannya sendiri terasa jauh lebih menyenangkan.

Namun sebelum ia mulai makan, terdengar suara ketukan pintu.

Tok. Tok. Tok.

Clara mengerutkan kening.

"Siapa, ya?"

Ia berjalan menuju pintu lalu membukanya perlahan.

Matanya langsung melebar.

"Ayah?"

Di depan pintu berdiri Pak Agung sambil membawa beberapa kantong belanja besar di kedua tangannya.

Pria itu mengenakan kemeja kerja yang lengannya sedikit digulung. Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya langsung melembut saat melihat Clara.

"Ayah lewat dekat sini," katanya pelan. "Sekalian membawa beberapa barang buat kamu."

Wajah Clara langsung berubah cerah.

"Masuk, Yah! Cepat masuk!"

Clara buru-buru mengambil sebagian kantong belanja dari tangan ayahnya.

Namun begitu melangkah masuk, Pak Agung langsung terdiam.

Tatapannya menyapu seluruh ruangan kecil itu perlahan.

Kontrakan itu benar-benar sempit.

Kasur Clara bahkan hampir menyentuh meja makannya. Lemari plastik kecil berada di dekat pintu kamar mandi. Rak piring hanya sebesar koper kecil. Tidak ada sofa, tidak ada ruang tamu, tidak ada dapur layak.

Pak Agung diam cukup lama.

Dadanya terasa sesak.

Dulu kamar Clara di rumah jauh lebih luas daripada tempat ini.

Putrinya yang dulu hidup serba nyaman kini tinggal di ruangan kecil dengan kipas angin tua dan jendela sempit.

Clara yang tidak menyadari ekspresi ayahnya malah sibuk membuka kantong belanja.

"Wah... ada beras."

Matanya berbinar.

"Bumbu dapur juga banyak."

Ia mengeluarkan satu per satu barang itu dengan wajah senang seperti anak kecil mendapatkan hadiah.

"Ayam juga? Banyak sekali, Yah."

Namun beberapa detik kemudian wajah Clara berubah murung.

"Tapi... aku tidak punya kulkas."

Ia memandang daging ayam itu dengan bingung.

"Kalau sebanyak ini nanti rusak."

Pak Agung langsung menatap putrinya.

"Besok Ayah belikan kulkas kecil."

Clara langsung menoleh cepat.

"Jangan, Yah."

"Kenapa jangan?"

Clara memandang sekeliling kontrakannya.

"Taruh di mana? Tempatnya sudah penuh begini."

Pak Agung ikut melihat sekeliling ruangan.

Kalimat itu justru membuat perasaannya semakin tidak nyaman.

Putrinya bahkan tidak punya cukup ruang untuk sebuah kulkas kecil.

Tangannya perlahan mengepal.

"Maafkan Ayah," katanya tiba-tiba.

Clara terdiam.

Pak Agung menunduk sebentar sebelum kembali bicara.

"Ayah tidak pernah membayangkan kamu tinggal di tempat sekecil ini."

Suasana mendadak sunyi.

Clara memandang wajah ayahnya beberapa detik.

Ia bisa melihat rasa bersalah di mata pria itu.

Perlahan Clara tersenyum kecil.

"Aku justru bersyukur, Yah."

Pak Agung menatapnya bingung.

"Bersyukur?"

Clara mengangguk pelan.

"Kalau Ayah tidak menyuruhku tinggal sendiri, mungkin aku tidak akan pernah tahu bagaimana hidup orang lain."

Pak Agung diam.

"Aku baru tahu naik bus itu melelahkan. Baru tahu harga cabai ternyata bisa mahal. Baru tahu masak telur saja tidak semudah kelihatannya."

Clara tertawa kecil.

"Telur pertamaku gosong total."

Pak Agung ikut tersenyum tipis.

"Benarkah?"

"Parah sekali. Bahkan kucing mungkin tidak mau makan."

Pak Agung akhirnya tertawa pelan.

Suara tawa kecil itu membuat suasana yang tadi berat menjadi lebih hangat.

Clara kemudian berjalan cepat menuju meja kecil.

"Tunggu, Yah."

Ia mengangkat piring berisi telur dadarnya.

"Aku masak ini sendiri."

Nada suaranya penuh kebanggaan.

"Ayah harus coba."

Pak Agung memandang telur dadar itu cukup lama.

Warnanya keemasan sempurna dengan potongan daun bawang dan cabai kecil di permukaannya.

Sulit dipercaya putrinya yang dulu bahkan tidak bisa menyalakan kompor kini memasak makanan seperti itu.

Clara segera mengambil sendok.

"Cepat dicoba."

Pak Agung mengambil sedikit potongan telur lalu mencicipinya perlahan.

Beberapa detik kemudian matanya membesar sedikit.

"Enak," katanya pelan.

Clara langsung tersenyum lebar.

"Serius?"

"Serius."

Pak Agung kembali mengambil potongan kecil.

"Tidak keasinan. Tidak gosong juga."

Clara tertawa kecil.

"Berarti aku naik level."

Pak Agung memandang putrinya lama.

Entah kenapa dadanya terasa hangat.

Selama ini ia takut Clara akan membencinya karena memaksa putrinya hidup mandiri. Namun gadis itu justru berubah menjadi lebih dewasa.

Clara tiba-tiba berdiri.

"Aku buat satu lagi."

"Tidak usah repot," kata Pak Agung.

"Harus."

Clara menunjuk telur terakhir di meja.

"Aku ingin Ayah lihat sendiri kalau aku sekarang sudah bisa masak."

Nada suaranya terdengar penuh semangat.

Pak Agung akhirnya tersenyum kecil lalu berdiri mendekati dapur kecil itu.

Ia berdiri di samping Clara sambil memperhatikan putrinya menyiapkan telur.

Clara mulai memecahkan telur dengan gerakan cepat.

"Bu Suci yang mengajariku," katanya sambil mengocok telur.

"Katanya kalau hidup sendiri harus bisa masak minimal telur."

Pak Agung mengangguk pelan.

"Beliau baik sekali sama kamu."

"Iya."

Clara tersenyum.

"Bu Suci bahkan mengajariku cara hemat uang."

Ia menambahkan potongan cabai ke dalam telur.

"Ternyata uang gampang sekali habis."

Pak Agung menatap putrinya.

Dulu Clara tidak pernah memikirkan soal uang.

Jika ingin sesuatu, tinggal meminta.

Sekarang gadis itu mulai memahami nilai kerja keras.

Clara menuangkan telur ke wajan.

Suara desisan kembali terdengar.

Pak Agung memperhatikan dengan serius.

"Kamu sekarang terlihat terbiasa di dapur," katanya.

Clara tertawa kecil.

"Awalnya aku hampir membakar spatula karena lupa mematikan api."

Pak Agung langsung menoleh cepat.

"Apa?"

Clara buru-buru melambaikan tangan.

"Tapi sekarang sudah aman. Aku belajar pelan-pelan."

Pak Agung menghela napas panjang.

"Kamu benar-benar membuat Ayah cepat tua."

Clara tertawa semakin keras.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suasana di antara mereka terasa ringan.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada suara tinggi.

Hanya ayah dan anak yang berdiri berdampingan di dapur kecil.

Setelah telur matang, Clara memindahkannya ke piring lalu meletakkannya di meja.

Ia segera mengambil nasi hangat.

"Ayah duduk."

Pak Agung menurut.

Clara mengambilkan nasi ke piring ayahnya terlebih dahulu sebelum mengambil untuk dirinya sendiri.

Gerakannya sederhana, tetapi membuat Pak Agung diam beberapa saat.

Dulu Clara bahkan jarang mengambil minum sendiri.

Kini putrinya mengambilkan nasi untuknya.

Mereka mulai makan bersama di meja kecil itu.

Ruangan sempit tersebut terasa hangat oleh aroma makanan sederhana.

Clara memperhatikan ayahnya mencicipi telur buatannya.

"Bagaimana?" tanyanya penuh harap.

Pak Agung mengangguk pelan.

"Enak sekali."

Clara langsung tersenyum puas.

"Aku latihan terus."

Pak Agung memandang wajah putrinya lama.

Ada sesuatu yang berbeda dari Clara sekarang.

Bukan hanya cara berpakaian atau cara bicara.

Tatapan gadis itu berubah lebih tenang.

Lebih dewasa.

Pak Agung perlahan menunduk sambil tersenyum kecil.

"Ayah bangga sama kamu," katanya pelan.

Kalimat itu membuat Clara terdiam.

Sendok di tangannya berhenti bergerak.

Sejak kecil Clara selalu berusaha mendapatkan pujian ayahnya. Namun pria itu terkenal keras dan jarang mengungkapkan perasaannya secara langsung.

Karena itu kalimat sederhana tadi terasa sangat berarti.

Clara menunduk pelan sambil tersenyum.

"Aku juga berusaha supaya Ayah tidak kecewa lagi."

Pak Agung langsung menggeleng.

"Ayah tidak pernah kecewa punya anak seperti kamu."

Suara pria itu terdengar berat.

"Ayah hanya takut terlalu memanjakanmu."

Clara memandang ayahnya.

Untuk pertama kalinya ia benar-benar memahami alasan di balik sikap keras pria itu.

Pak Agung bukan tidak sayang.

Ia justru terlalu khawatir.

Clara tersenyum kecil.

"Sekarang aku mengerti, Yah."

Pak Agung mengangguk pelan.

Mereka kembali makan dalam suasana tenang.

Di luar kontrakan, suara motor dan percakapan warga masih terdengar samar. Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Udara malam perlahan menjadi lebih dingin.

Namun di dalam kontrakan kecil itu, suasana terasa hangat.

Pak Agung memandang putrinya yang sedang makan dengan lahap.

Dulu Clara sering mengeluh jika lauk di rumah tidak sesuai seleranya. Kini gadis itu makan telur dadar sederhana dengan wajah puas.

Perubahan itu terasa begitu besar.

Dan anehnya, meski hati Pak Agung masih terasa sakit melihat Clara tinggal di tempat sempit seperti ini, ia juga merasa bangga.

Putrinya ternyata jauh lebih kuat daripada yang ia kira.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!