kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
Keesokan paginya, dirumah Sitoh dan Samsul penuh asap kemenyan yang sudah padam jadi abu dingin. Sitoh melempar cawan tanah liat ke dinding sampai pecah.
"Gagal....! Lagi-lagi gagal" suaranya parau, bukan marah biasa. Ada takut yang nyangkut di ujung tenggorokan,
Samsul duduk di sudut, mukanya pucat tangannya gemetar memegang keris tua yang semalam dipakai. Di ujung bilah itu tidak ada darah, Cuma ada noda hitam seperti jelaga yang tidak bisa dilap.
"aku dengar suaranya sendiri semalam," kata Samsul". Aku sudah di depan pagar, tapi saat aku mau lewat, seperti ada tembok angin Menendang balik dan tiba-tiba dadaku terasa sesak."
Sitoh mendengus, tapi matanya tidak berani melihat ke arah keris itu lama-lama." udara di situ berat dan beratnya seperti ditahan langit, aku merasa ini pasti ulah kakek tua penjaga yang ada ditubuh bocah sialan itu". Geram sitoh sambil mengepal tangannya, hingga kuku jarinya memutih."untuk apa lagi dia harus ikut campur, seharunya dia sudah membusuk di dalam tanah bersama cacing cacing itu.
Mereka berdua diam, Di luar ayam sudah berkokok tiga kali, tapi rumah itu masih gelap. tidak ada yang berani buka jendela dan anak-anak sitoh masih bergelut dalam selimut dan yang baru menikah juga tidur bersama suaminya yang bernama adnan
Samsul akhirnya berbisik,
"Kalau benar benteng anak itu masih kuat...! kita tidak bisa menyentuh dia. Yang ada malah balik ke kita."
rencana mereka ketunda, dan sekarang Kadir pasti sudah curiga siapa yang mengirim.
"Besok malam kita coba lagi," katanya, tapi suaranya sudah tidak yakin.
"Lewat jalan lain atau Lewat orang dalam, jika kita tidak bisa membunuhnya, kita akan membuat dia sakit-sakitan dan ayu akan berpikir, daripada menangguk sakit yang berkepanjangan, lebih baik mati agar rasa sakit itu tidak menyisakannya".setelah mengatakan itu, mereka berdua langsung tertawa terbahak-bahak.
Di luar, matahari mulai naik dan Di rumah Kadir, pintu depan belum dibuka. Tapi di dalam, tiga kali ketukan malam tadi tidak pernah dijawab, anak-anak dan menantu kadir sudah bangun untuk sholat subuh dan berbeda dengan anak-anak sitoh dan Samsul yang masih bergelut dengan selimut dan melewatkan sholat subuh.
Di luar, matahari mulai naik, kuning pucat menyusup lewat sela-sela atap seng.
Suara air wudu dari belakang rumah sudah kedengaran sejak setengah jam lalu. Wati sudah bangunin Ayu pelan-pelan, ngusap muka adiknya pakai air dingin biar melek.
“Cepat, sebelum imam mulai takbir,” bisiknya.
Anak-anak, menantu dan cucu Kadir berbaris di ruang tengah yang disapu bersih. Sarung dan mukena lusuh tapi rapi. Kadir berdiri paling depan, suaranya pelan tapi tidak ragu waktu baca Al-Fatihah.
Ayu ikut di belakang Wati, bibirnya komat-kamit. Malamnya dia tidak tidur nyenyak, tapi anehnya badannya tidak lemas. seperti ada yang menahan.
Beda jauh sama rumah yang hanya beberapa rumah dari rumah Samsul.
Anak-anak Sitoh dan Samsul masih bergelut sama selimut tebal, dengkuran mereka kalah sama suara murai di pohon mangga. Sholat subuh lewat begitu aja. Buat mereka, malamnya terlalu panjang buat marah dan takut, jadi paginya kebayar sama tidur.
Pas azan berkumandang dari masjid, Samsul sudah mengunci pintu belakang dan menyeret pintu toko kelontongnya naik.
“Krek… krek…” bunyi besi tua itu bikin beberapa tetangga yang lewat nengok.
Sitoh mengelap meja kaca yang debunya tebal, matanya masih merah.
“Buka aja dulu, selamanya kita tidak bisa sembunyi di rumah terus,” katanya ketus.
Toko kelontong itu buka seperti biasa. Gula, minyak, sabun, rokok eceran ditata rapi. Perlahan-lahan truk besar kembali datang untuk membangun toko Samsul supaya lebih besar.
Tapi saat jam 7, suara mesin diesel berat ngagetin seisi gang.
"Braaak... bruuum..."
Truk besar masuk, ban belakangnya menginjak tanah di samping lahan kosong samping toko Samsul. Di bak belakang ada besi, semen, kayu papan, sama spanduk biru bertuliskan: _“Pembangunan Toko Samsul Jaya – Segera Hadir Lebih Besar”_.
Samsul keluar dengan kaos oblong yang lengket keringat, senyumnya lebar tapi tidak sampai ke mata.
“Alhamdulillah, akhirnya cair juga dananya,” kata kneknya ke mandor yang turun dari truk.
"maka ayo kerja cepat, biar gajinya cepat cair".ucap si mandor kepada anak buahnya.
Sitoh diam di dalam toko sambil melihat dari balik kaca. Tangannya berhenti mengelap...!
Dia tau duit itu bukan dari jualan sabun dan gula, tapi dari hasil menumbal nyawa Safri dan Midah.
Beberapa tetangga yang lewat dan langkah mereka berhenti, Ada yang berbisik, ada yang cuma geleng kepala.
“Lihat itu,” gumam seorang ibu ke anaknya. “Uang cepat memang beda jalannya.”
"huuzzzz.....! Ibu tidak boleh ngomong begitu, nanti jarinya fitnah".
Sitoh yang mendengarnya hanya tersenyum tipis, tapi di kepalanya bukan hitungan bata dan semen yang muter.
Dia berpikir, kalau benteng rumah kadir beneran tidak bisa ditembus, apa yang bakal akan dia kasih makan untuk jin tersebut dan setelah lama berpikir, ia ingat pesan dukun harus menumbalkan yang masih sedarah dengannya.
Di rumah Kadir, suara ketokan palu dan alat truk dari proyek itu terdengar jelas.
Kadir yang baru selesai baca wirid habis subuh mengangkat kepala. Ia tidak ngomong apa-apa dan Cuma melihat ke Ayu yang lagi menyapu halaman.