Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Setelah mendapatkan pelepasan dengan bermain solo di kamar mandi dan Haikal pun langsung mandi malam itu membuat tubuhnya terasa segar. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa merasakan kenikmatan itu walaupun hanya bermain solo. Sementara itu sang pembantu baru yaitu Laura tampak tersenyum puas setelah mengintip. Akhirnya ia tau jika Haikal bukanlah lelaki impoten seperti yang ia dengar dari Gita tapi laki normal. Laura semakin percaya diri jika tubuhnya bisa membuat Haikal menjadi pria seutuhnya, berbeda saat Haikal bersama dengan istri nya Gita.
Pagi itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Cahaya matahari menyelinap masuk lewat jendela ruang makan, memantul di permukaan meja kayu yang mengilap. Aroma kopi hitam menguar perlahan, bercampur dengan bau roti panggang yang masih hangat. Haikal duduk di kursinya, mengenakan kemeja kerja berwarna abu-abu, menatap cangkir kopi di depannya tanpa benar-benar melihatnya.
Pikirannya masih berantakan.
Malam sebelumnya meninggalkan rasa lega yang aneh, bukan bahagia, bukan juga puas sepenuhnya. Lebih seperti seseorang yang baru saja menghela napas setelah menahan dada terlalu lama. Namun bersama rasa itu, muncul kegelisahan yang tak bisa ia jelaskan.
Langkah kaki terdengar dari arah dapur.
“Pak Haikal, kopinya sudah saya tambahkan sedikit gula, seperti biasa,” suara Laura terdengar ringan, nyaris seperti menggoda.
Haikal mengangkat wajahnya.
Laura berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan kaos longgar berwarna putih yang tampak kebesaran di tubuhnya, dan hotpants yang membuat kaki jenjang nan mulusnya terekpos dengan sempurna. Rambutnya dibiarkan tergerai sederhana, tanpa riasan berlebihan. Penampilannya kasual, namun entah mengapa terasa berbeda pagi itu, lebih hidup, lebih percaya diri. Penampilan Laura berhasil membuat Haikal terpukau apalagi parfum Laura yang terkesan manis membuat Haikal candu, sangat berbeda dengan parfum Gita yang Strong.
“Iya, terima kasih,” jawab Haikal singkat, namun mata nya tak lepas dari paha Laura.
Laura melangkah mendekat, meletakkan piring sarapan di depan Haikal. Ia tersenyum kecil, senyum yang tidak terlalu lebar, tapi cukup untuk menarik perhatian. Tatapan mereka sempat bertemu sepersekian detik, lalu Haikal cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
Ada jeda yang canggung.
Laura merapikan posisi piring, lalu berdiri di sisi meja, seolah ragu untuk pergi.
“Pak Haikal kelihatannya kurang tidur,” katanya hati-hati.
Haikal terdiam sejenak sebelum menjawab. “Ah… mungkin. Pekerjaan lagi banyak.”
Laura mengangguk pelan, seolah memahami, meski matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang lebih dalam.
“Kalau begitu, Pak Haikal harus sarapan yang banyak. Biar kuat,” katanya sambil tersenyum nakal. Kata 'kuat' berhasil membuat jantung Haikal berdegub keras.
Haikal hanya mengangguk.
Saat Laura berbalik untuk kembali ke dapur, kakinya tersandung ujung karpet kecil di dekat meja. Semua terjadi begitu cepat. Entah sengaja atau tidak.
“Ah—!”
Tubuh Laura kehilangan keseimbangan. Refleks, Haikal berdiri dan meraih lengannya dan refleks menarik Laura ke pelukan nya. Dalam hitungan detik, jarak di antara mereka lenyap. Laura terhenti tepat di depan Haikal, terlalu dekat untuk ukuran yang wajar. Dada Laura menempel sempurna di dada bidang Haikal. Napas mereka bertabrakan. Waktu seolah melambat.
“Maaf… maaf, Pak Haikal,” ucap Laura gugup, tangannya mencengkeram lengan Haikal untuk menjaga keseimbangan. Tapi ia semakin menekan duo melon kenyal nya pada dada bidang Haikal.
Haikal bisa merasakan detak jantungnya sendiri, cepat dan tidak beraturan. Ia berdiri kaku, seolah takut gerakan sekecil apa pun akan memperburuk keadaan.
“I-iya… tidak apa-apa,” katanya pelan.
Namun mereka tidak langsung menjauh.
Ada keheningan yang tebal, sarat dengan sesuatu yang tak terucap. Laura menatap wajah Haikal dari jarak dekat, memperhatikan garis lelah di bawah matanya, rahang yang mengeras, dan mata yang tampak menyimpan terlalu banyak hal.
“Pak Haikal…” panggilnya lirih.
“Ya?” jawab Haikal, suaranya serak.
Laura menelan ludah. “Saya… saya benar-benar tidak sengaja.”
Haikal mengangguk, masih menahan Laura agar tidak jatuh. “Saya tahu.”
Beberapa detik kemudian, Laura perlahan menarik diri. Ia menundukkan kepala, pipinya sedikit memerah.
“Maaf sekali,” katanya lagi.
“Tidak apa,” Haikal mengulang, kali ini lebih tegas, seolah menenangkan dirinya sendiri.
Laura mundur selangkah, memberi jarak. Namun sejak saat itu, suasana berubah.
Mereka sama-sama merasakan sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Laura kembali ke dapur, namun gerakan semakin terlihat menggoda di mata Haikal. Bo kong Sin tal itu seolah memanggil-manggil Haikal untuk me remasnya.
Sementara itu Laura kembali menata peralatan dengan lebih pelan, pikirannya melayang. Ia tadi sempat merasakan Jojo Haikal mengeras di bawah sana. Ia teringat akan apa yang dilihatnya tadi malam. Pikiran Laura semakin Liar. Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu memantapkan diri sebelum kembali ke ruang makan.
“Pak Haikal,” katanya lagi, kali ini dengan nada lebih serius.
Haikal mengangkat wajah.
“Ada apa?”
Laura berdiri di depan meja, kedua tangannya saling menggenggam. “Saya harap saya tidak membuat Bapak tidak nyaman.” ucap Laura memulai drama nya.
Pertanyaan itu membuat Haikal terdiam. Ia memikirkan Gita. Istrinya. Perempuan yang sudah sekian lama berbagi atap dengannya, namun belakangan terasa semakin jauh.
“Laura,” katanya akhirnya, memanggil nama itu dengan hati-hati. “Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.”
Laura menatapnya, matanya berbinar, namun ada keraguan di sana. “Kalau begitu… kenapa Pak Haikal kelihatan seperti sedang menahan sesuatu?”
Pertanyaan itu terlalu tajam.
Haikal meletakkan sendoknya perlahan. “Beberapa hal… tidak selalu bisa dibicarakan,” ujarnya pelan.
Laura mengangguk, seolah menerima jawaban itu, meski jelas ia sudah tau apa yang saat ini tengah di tahan oleh Haikal.
“Saya hanya ingin bekerja dengan baik di sini, Pak,” katanya lembut. “Kalau kehadiran saya malah merepotkan, saya bisa jaga jarak.”
Kata-kata itu menusuk Haikal lebih dalam dari yang ia duga.
“Tidak,” jawabnya cepat. “Bukan begitu maksud saya.”
Laura terkejut, lalu tersenyum kecil. “Baik, Pak Haikal.”
Ada ketulusan di suaranya, namun juga sesuatu yang lain sesuatu yang membuat Haikal merasa bersalah tanpa tahu alasan pastinya. Tatapan Haikal tertuju pada dada Laura yang mana tadi ia merasakan kelembutan nya.
"Sepertinya yang di balik sana sangat besar dan empuk." Batin Haikal meneguk ludah kasar.
Laura yang menyadari itu pun tersenyum menyeringai,
"Ada apa Pak?"
"Oh tidak ada apa-apa sebaiknya kamu kembali ke dapur."ucap Haikal di mana Cinta Laura terus berdiri di depannya maka ia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.Ia sudah merasakan ngilu di bagian bawahnya karena jojonya sudah mengeliat dengan sempurna.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar memasuki rumah megah itu.
Gita, pulang dengan keadaan yang tampak kacau.
Laura langsung menunduk hormat. “Selamat pagi, Bu Gita.”
“Pagi,” jawab Gita singkat, matanya melirik sekilas ke arah Haikal dan Laura. Tidak ada ekspresi mencurigakan, hanya wajah datar yang sulit ditebak.
Haikal berdiri. “Aku sudah sarapan,” katanya.
Gita mengangguk. “Aku mau tidur, capek.”
“Ya,” jawab Haikal singkat.
Gita berbalik pergi tanpa banyak bicara. Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Laura menatap Haikal sebentar, lalu berkata pelan, “Saya ke dapur lagi, Pak.” ucap Laura tapi di telinga Haikal nada bicara itu sangat menggoda, seolah memanggilnya untuk ikut kedapur bersama dan melakukan hal yang iya-iya.
“I-Iya,” jawab Haikal dengan suara yang sudah serak.
Saat Laura menghilang di balik pintu dapur, Haikal duduk kembali. Tangannya gemetar halus. Ia menyadari satu hal yang membuat dadanya sesak, Bukan Laura yang berbahaya.
Melainkan dirinya sendiri.
Ia menatap pintu dapur lama sekali, lalu menutup mata, mencoba mengendalikan pikirannya. Di sisi lain rumah, Laura bersandar di meja dapur, menekan dadanya pelan, berusaha menenangkan napasnya sendiri.