Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
"Ngapain lo di sini? Salah masuk kandang lo?"
Suara Alvaro memecah keheningan pagi di kelas XII-IPA 1. Kalimat itu tidak diteriakkan, tapi tajamnya sanggup menghentikan aktivitas seluruh siswa yang sedang sibuk mengeluarkan buku. Alvaro berdiri di depan mejanya, melipat tangan di dada dengan dagu terangkat angkuh, menatap ke arah barisan belakang tempatku duduk.
Namun, bukan aku yang ia tatap. Melainkan sosok yang baru saja menarik kursi tepat di belakangku.
"Kandang lo terlalu wangi. Gue butuh sedikit aroma sampah biar nggak lupa daratan," sahut Bara santai. Ia melempar tas punggungnya yang tipis ke atas meja hingga menimbulkan bunyi debuman keras.
Bara tidak mengenakan jaket kulitnya hari ini. Ia memakai seragam sekolah yang meski masih terlihat agak berantakan, tapi kancingnya terpasang rapi sampai ke atas. Rambut hitamnya yang liar disisir ke belakang, memperlihatkan dahi yang tegas dan tatapan mata yang tidak lagi sekadar beringas, tapi menyimpan sebuah janji yang sangat berat.
"Bara, lo tahu kan ini kelas unggulan? Bukan tempat buat tidur atau cari keributan," Alvaro melangkah maju, sorot matanya berkilat penuh permusuhan. "Lo nggak akan bisa ngikutin satu jam pun pelajaran di sini."
"Gue punya telinga buat denger, bukan cuma tangan buat mukul, Varo. Kenapa? Lo takut takhta lo kegeser sama 'preman' kayak gue?" Bara menyeringai miring, lalu ia duduk dengan tenang, membuka sebuah buku tulis yang masih sangat bersih.
Aku menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungku. Aku menoleh sedikit ke belakang, melihat Bara yang kini sedang berusaha memegang pulpen dengan cara yang terlihat kaku. Jemari besarnya yang penuh bekas luka perkelahian itu tampak tidak terbiasa menggenggam benda sekecil pulpen.
"Bara," bisikku pelan.
"Hm?"
"Terima kasih... sudah beneran masuk," ucapku tulus.
Bara tidak menatapku langsung. Ia hanya bergumam rendah, matanya fokus menatap papan tulis di depan. "Gue nggak suka ingkar janji. Buruan belajar, jangan liatin gue terus kalau nggak mau gue bawa kabur lagi."
Aku tersenyum tipis, lalu berbalik menghadap ke depan. Aku membuka buku matematika wajibku. Selama ini, aku hanya peduli pada pelajaran seni dan desain. Matematika, fisika, dan kimia bagiku hanyalah deretan angka yang tidak punya jiwa. Tapi melihat Bara yang biasanya menguasai jalanan kini bersedia 'terjara' di dalam kelas demi syarat yang kuberikan, ada sesuatu yang meledak di dalam dadaku.
Jika dia bersedia belajar untuk melindungiku, maka aku harus menjadi pintar untuk memantaskan diri di sampingnya. Aku tidak boleh lagi menjadi Aira yang bodoh dan lemah. Aku harus menjadi Aira yang sanggup meruntuhkan kesombongan keluarga Maheswari dengan otakku sendiri.
*
Suasana kelas berubah mencekam saat Pak Surya masuk. Guru matematika senior yang terkenal tanpa ampun itu langsung menuliskan sebuah soal kalkulus di papan tulis tanpa menyapa sama sekali.
"Integral substitusi dengan batas tak tentu," Pak Surya mengetukkan spidolnya ke papan tulis. "Siapa yang bisa mengerjakan? Kalau tidak ada, saya akan tunjuk orang yang menurut saya hanya membuang-buang kursi di kelas ini."
Mata Pak Surya melirik ke arah belakang, tepat ke arah Bara yang sedang mengerutkan kening dalam, menatap soal itu seolah sedang menatap musuh bebuyutan.
"Alvaro, silakan ke depan. Beri contoh pada 'teman' baru kita bagaimana cara berpikir di kelas ini," perintah Pak Surya.
Alvaro berdiri dengan percaya diri. Ia melangkah ke depan, mengambil spidol, dan mengerjakan soal itu dengan sangat cepat. Langkah-langkahnya rumit, menggunakan rumus-rumus turunan yang sulit dimengerti bagi orang awam. Setelah selesai, ia meletakkan spidol dengan dentingan keras, lalu menoleh ke arah Bara.
"Selesai, Pak," ucap Alvaro bangga. Ia kemudian menatap Bara dengan senyum meremehkan. "Mungkin ada yang merasa soal ini terlalu ajaib? Atau butuh penerjemah bahasa manusia?"
Beberapa siswa tertawa kecil, mengikuti ejekan Alvaro. Aku melihat Bara mengepalkan tangannya di bawah meja. Wajahnya memerah, bukan karena takut, tapi karena frustrasi. Ia mencoba memahami apa yang ditulis Alvaro di papan tulis, tapi baginya, itu semua hanyalah coretan tanpa makna.
"Bara Galaksi," suara Pak Surya terdengar dingin. "Coba kamu kerjakan soal yang sama dengan angka yang saya ubah sedikit. Maju."
"Saya nggak bisa, Pak," sahut Bara jujur.
"Kalau nggak bisa, ngapain kamu masuk kelas saya? Mau pamer wajah sangar?" Alvaro menimpali, suaranya terdengar sangat puas. "Kelas ini butuh otak, Bara. Bukan cuma otot yang gede."
Aku tidak tahan lagi. Rasa perih melihat Bara dipermalukan membuat keberanianku meledak. Aku berdiri dari kursiku, membuat semua mata tertuju padaku.
"Pak Surya, boleh saya mencoba menjelaskan cara yang lebih mudah untuk mengerjakan soal ini?" suaraku terdengar stabil, mengejutkan diriku sendiri.
"Kamu, Aira? Bukannya nilai matematika kamu selalu di bawah rata-rata?" Pak Surya menaikkan sebelah alisnya.
"Saya sudah belajar tadi malam, Pak," jawabku bohong, padahal aku hanya mencoba menghubungkan logika desain yang sering kugunakan dengan pola angka di papan tulis.
Aku melangkah ke depan, melewati Alvaro yang menatapku dengan binar tidak percaya. Aku mengambil spidol, lalu menghapus cara rumit Alvaro. Aku mulai menuliskan langkah-langkah yang jauh lebih sederhana, memecah variabel-variabel sulit itu menjadi logika dasar yang lebih mudah dicerna.
"Anggap variabel ini adalah potongan kain," ucapku pelan, mataku melirik ke arah Bara yang kini menatapku intens. "Kita tidak perlu menjahit semuanya sekaligus. Kita cukup mencari pola yang berulang, lalu menyatukannya di akhir."
Dalam tiga baris, soal itu selesai. Hasilnya sama persis dengan jawaban Alvaro, tapi dengan cara yang jauh lebih efisien.
Kelas sunyi. Pak Surya mendekat, memeriksa pekerjaanku dengan teliti.
"Logika yang sangat menarik," gumam Pak Surya. "Sederhana, tapi tepat sasaran. Kamu belajar dari mana, Aira?"
"Saya hanya mencoba melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, Pak," jawabku sambil melirik Alvaro yang kini wajahnya merah padam karena malu. Takhtanya sebagai si jenius baru saja digoyang oleh gadis yang selalu ia panggil sampah.
Aku kembali ke tempat dudukku. Saat melewati meja Bara, ia membisikkan sesuatu yang membuat jantungku berdesir. "Loe keren, Ra. Makasih."
*
Istirahat tiba, namun kelas masih terasa panas. Alvaro berdiri di depan meja Airin, namun matanya tidak lepas menatapku dan Bara yang sedang duduk berdampingan. Bara sedang mencoba mengerjakan ulang soal tadi, dan aku dengan sabar membimbingnya.
"Gue nggak ngerti kenapa loe harus pake angka ini," keluh Bara, pulpennya hampir menusuk kertas karena terlalu gemas.
"Pelan-pelan, Bara. Anggap saja ini seperti sudut saat kamu mau melancarkan pukulan. Kamu harus tahu jarak dan kekuatannya, kan?" jelasku lembut.
Bara terdiam, lalu mulai menggoreskan pulpennya lagi. "Oalah... jadi ini tuh kayak koordinat target?"
"Persis!" aku berseru senang.
Di baris depan, Airin meremas kotak pensilnya dengan sangat kuat. Ia melihat bagaimana Alvaro mengabaikan ceritanya tentang tugas seni dan justru terus-menerus melirik ke arah kami. Airin bisa merasakan perhatian Alvaro yang selama ini hanya miliknya, kini mulai terbagi. Ada rasa tidak terima yang meluap di matanya.
Saat Alvaro sedang pergi keluar kelas sebentar untuk mengambil buku di perpustakaan, Airin berdiri. Ia melangkah menuju mejaku dengan botol tinta hitam di tangannya.
Aku sedang sibuk membantu Bara, hingga tidak menyadari Airin sudah berdiri tepat di samping mejaku. Di bawah meja, aku sedang meletakkan buku sketsa rahasiaku—sebuah desain gaun mahakarya yang rencananya akan kukumpulkan untuk lomba tingkat nasional. Gaun yang kuberi nama "The Awakening".
"Aduh! Tanganku licin!"
Byur!
Cairan hitam pekat itu tumpah dengan sangat presisi. Bukan ke meja, bukan ke bajuku, melainkan langsung jatuh ke arah buku sketsa yang terbuka di bawah meja.
"Oups! Maaf ya, Aira. Aku beneran nggak sengaja," Airin menutup mulutnya dengan tangan, menunjukkan ekspresi pura-pura terkejut yang sangat memuakkan.
Aku terpaku. Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat tinta hitam itu merambat cepat, menelan setiap detail jahitan halus yang kugambar dengan penuh cinta di atas kertas itu. Desain yang kukerjakan selama berbulan-bulan, yang menjadi satu-satunya tiketku untuk membuktikan diri pada Kakek Alvaro, kini hanya menjadi noda hitam yang mengerikan.
"Loe sengaja, ya?" suara Bara meninggi, ia berdiri dengan mata yang berkilat berbahaya.
"Bara, jangan kasar! Aku kan sudah minta maaf!" Airin membela diri, suaranya mulai dibuat serapuh mungkin agar siswa lain melihatnya sebagai korban.
Aku hanya bisa menatap buku sketsaku dengan mata yang mulai panas. Duniamu baru saja dihancurkan lagi oleh orang yang sama, tepat saat aku baru saja mulai merangkak naik. Rasa sesak itu kembali, mencekik leherku hingga aku tak bisa bicara. Air mata jatuh tanpa bisa kubendung, membasahi noda tinta yang kini merusak mimpiku.