NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Rahim yang Kosong dan Sumpah yang Terucap

Aroma itu adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Alina. Bau antiseptik yang tajam, dingin, dan menusuk hidung. Bau yang selalu mengingatkan manusia pada dua hal yang saling bertentangan namun sering hadir bersamaan: harapan akan kesembuhan dan kepastian akan kematian.

Perlahan, kelopak mata Alina yang terasa seberat timah terangkat. Cahaya lampu neon putih di langit-langit langsung menyergap retinanya, menyilaukan dan memaksanya mengerjap berkali-kali. Pandangannya buram, berbayang, seperti lensa kamera yang rusak. Kepalanya berdenyut nyeri seiring dengan irama jantungnya yang lemah, dan sekujur tubuhnya terasa remuk redam, seolah-olah ia baru saja dijatuhkan dari ketinggian gedung pencakar langit.

Namun, bukan rasa sakit di kepala atau memar di punggungnya yang membuat napas Alina tercekat.

Ada sesuatu yang salah. Ada sesuatu yang hilang.

Instingnya bekerja lebih cepat daripada logika. Tangan kirinya yang terpasang selang infus bergerak kaku, merambat turun menyentuh perut bagian bawahnya. Di sana, di balik kain selimut rumah sakit yang kasar, ia merasakan kekosongan yang absolut.

Dingin. Hampa. Sunyi.

Ikatan batin magis yang sempat ia rasakan beberapa jam lalu—sensasi hangat keberadaan nyawa lain yang berdenyut bersamanya, sebuah kehidupan kecil yang baru saja ingin ia lindungi mati-matian—kini lenyap tak berbekas. Rahimnya terasa seperti rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya secara paksa.

"Sus..." Suara Alina keluar berupa cicitan serak yang menyedihkan. Tenggorokannya kering dan perih. "Sus..."

Seorang perawat wanita berumur empat puluhan yang sedang merapikan tiang infus menoleh. Wajahnya menyiratkan simpati yang mendalam, jenis tatapan kasihan yang justru membuat perut Alina mual. Di sebelah perawat itu, seorang dokter pria melangkah maju mendekati ranjang. Ia memegang papan catatan medis dengan ekspresi berat, seolah papan itu terbuat dari batu nisan.

"Syukurlah Ibu Alina sudah sadar," ucap dokter itu dengan nada rendah dan hati-hati.

Alina tidak mempedulikan basa-basi itu. Matanya menatap liar, mencari jawaban. "Anak saya... mana? Bayi saya baik-baik saja, kan, Dok? Tadi... tadi saya jatuh, tapi saya sudah minum vitamin... dia kuat kok..."

Dokter itu menghela napas panjang, lalu menatap mata Alina lurus-lurus. Tidak ada gunanya berbohong. "Maafkan kami, Bu Alina. Benturan keras pada perut Ibu saat terjatuh menyebabkan trauma yang fatal. Terjadi abrupsio plasenta—plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum waktunya. Pendarahannya terlalu hebat."

Dokter itu berhenti sejenak, memberikan jeda yang menyiksa sebelum menjatuhkan vonis akhirnya.

"Kami sudah melakukan tindakan kuretase darurat untuk menyelamatkan nyawa Ibu. Tapi janinnya... kami tidak bisa menyelamatkannya. Janin itu sudah tiada."

Waktu seakan membeku. Suara detak jam dinding di ruangan itu terdengar seperti palu godam yang menghantam gendang telinga Alina.

Sudah tiada.

Dua kata. Hanya dua kata sederhana, namun daya rusaknya melebihi badai apapun.

"Nggak mungkin..." bisik Alina, menggelengkan kepalanya lemah di atas bantal. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, panas dan mendesak keluar. "Dokter pasti salah periksa. Coba cek lagi... tolong cek lagi..."

"Bu, Ibu harus ikhlas..." perawat itu mencoba mengusap lengan Alina.

Sentuhan itu memicu ledakan di dalam diri Alina.

"TIDAK!" Alina menjerit. Jeritan yang bukan berasal dari pita suara, melainkan dari jiwanya yang tercabik-cabik secara brutal.

Ia meronta, berusaha bangun meski tubuhnya masih lemah. Ia mencengkeram sprei rumah sakit, meremasnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tangisannya pecah, meraung-raung memenuhi ruang rawat inap yang steril itu. Suara tangis seorang ibu yang kehilangan anaknya bahkan sebelum sempat melihat wajahnya.

"Anakku! Balikin anakku! KALIAN BOHONG!" teriaknya histeris. "Dia ada di sini! Dia masih ada!"

Perawat dan dokter berusaha menahannya agar jarum infus tidak terlepas dan melukai pembuluh darahnya. Mereka menyuntikkan sesuatu ke dalam selang infus—obat penenang dosis tinggi. Tapi bagi Alina, tidak ada obat bius di dunia ini yang mampu meredam rasa sakit dari hatinya yang baru saja diamputasi.

Perlahan, efek obat mulai bekerja. Tubuh Alina melemas. Rontaannya berhenti. Namun, air matanya tidak. Cairan bening itu terus mengalir deras membasahi pipi, telinga, hingga bantalnya yang sudah basah kuyup.

Dalam ketidakberdayaan fisiknya, memori kejadian siang tadi berputar ulang di otaknya seperti proyektor film horor yang rusak.

Apotek yang dingin. Lantai keramik putih.

Wajah Sisca Angela. Wajah cantik yang dipenuhi kebencian dan keangkuhan. Kalimat-kalimat penghinaan itu terngiang jelas. "Dasar penipu! Perempuan murahan!"

Lalu dorongan itu. Tangan Sisca yang mendorong dadanya tanpa ragu. Detik ketika keseimbangannya hilang. Detik ketika perutnya menghantam rak besi. Rasa sakit yang merobek.

Dan darah.

Darah merah segar yang menggenang di lantai putih. Darah dagingnya. Darah anaknya.

Tapi yang paling menyakitkan dari semua ingatan itu adalah wajah Rendy Angkasa.

Alina memejamkan mata, tapi wajah Rendy tetap ada di sana. Pria itu berdiri kaku. Pria itu melihatnya jatuh. Pria itu melihat darah mengalir dari tubuh Alina. Namun, apa yang dia lakukan?

Dia diam.

Dia tidak berlari memeluk Alina. Dia tidak membentak Sisca. Dia tidak memanggil ambulans. Dia hanya berdiri mematung, ketakutan, pengecut, dan lebih memilih menjaga perasaan calon istri kayanya daripada menolong ibu dari anaknya yang sedang sekarat.

"Mereka membunuhnya..." desis Alina lirih di tengah isak tangisnya yang mulai melambat karena obat. "Mereka membunuh anakku..."

Dokter dan perawat akhirnya meninggalkan ruangan setelah memastikan kondisi fisik Alina stabil, membiarkan pasien malang itu beristirahat. Pintu tertutup dengan bunyi klik pelan, meninggalkan Alina dalam kesunyian yang mencekam.

Sepi.

Benar-benar sepi. Tidak ada siapa-siapa di samping ranjangnya. Tidak ada Rendy yang datang meminta maaf sambil bersimpuh. Tidak ada keluarga yang menggenggam tangannya. Alina sendirian di kota besar ini, terbaring tak berdaya dengan rahim yang dikurung sepi dan hati yang hancur lebur.

Di luar sana, malam Surabaya mungkin sedang ramai. Orang-orang tertawa. Pasangan kekasih bergandengan tangan. Dan mungkin, saat ini Rendy sedang ditenangkan oleh keluarganya, atau mungkin Sisca sedang sibuk mencari alasan untuk membenarkan tindakannya, mencuci tangan dari darah yang ia tumpahkan.

Mereka masih hidup. Mereka masih bernapas. Sebentar lagi mereka akan menikah, berdiri di pelaminan megah, tersenyum pada tamu undangan, memamerkan cincin dan kebahagiaan palsu mereka.

Ketidakadilan ini terasa mencekik leher Alina.

Mengapa ia yang harus menderita sendirian? Mengapa ia yang harus kehilangan segalanya? Ia hanya mencintai dengan tulus. Ia menemani Rendy dari nol. Ia menerima segala kekurangan pria itu. Tapi balasannya adalah penghinaan, pengkhianatan, dan kini... kematian anaknya.

Perlahan, isak tangis Alina berhenti. Bukan karena sedihnya hilang, tapi karena air matanya sudah habis. Kesedihan yang mendalam itu perlahan mengkristal, memadat, dan berubah wujud menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan kuat.

Kebencian.

Alina membuka matanya. Tatapannya menembus langit-langit kamar, seolah menembus batas langit dan menatap Tuhan secara langsung. Sorot mata yang semula redup, lugu, dan penuh kasih, kini telah mati. Digantikan oleh tatapan dingin, tajam, dan penuh dendam.

Gadis bodoh bernama Alina Oktavia yang percaya bahwa cinta akan indah pada waktunya telah meninggal dunia di meja operasi tadi. Yang terbaring di ranjang ini sekarang adalah sosok yang berbeda.

Tangan Alina mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia merasakan kekuatan aneh mengalir dari rasa sakitnya. Rasa sakit ini akan ia rawat. Ia tidak akan membiarkannya sembuh. Ia akan menjadikannya bahan bakar untuk tetap hidup.

"Dengar aku, Tuhan," bisiknya pada kesunyian malam. Suaranya parau, bergetar, namun penuh penekanan pada setiap suku kata.

"Malam ini, di ruangan ini, aku bersumpah demi nyawa anakku yang tak berdosa."

Napas Alina memburu. Ia membayangkan wajah Rendy dan Sisca satu per satu.

"Kalian merenggut satu-satunya hal suci yang kumiliki. Kalian membuangku seperti sampah dan membunuh harapanku tanpa rasa bersalah. Maka, aku bersumpah..."

"Rendy Angkasa. Sisca Angela. Kalian tidak akan pernah hidup tenang mulai detik ini. Silakan kalian menikah. Silakan kalian tertawa di pesta mewah kalian. Nikmati sisa-sisa kebahagiaan kalian selagi bisa."

Alina menggertakkan giginya.

"Aku tidak akan membunuh kalian. Itu terlalu mudah. Kematian adalah jalan keluar yang terlalu nikmat bagi pendosa seperti kalian. Tidak... aku ingin kalian tetap hidup."

"Aku ingin kalian hidup cukup lama untuk melihat rumah tangga kalian menjadi neraka. Aku akan menghancurkan kedamaian kalian. Aku akan menghancurkan harga diri kalian. Aku akan mengambil senyum dari wajah kalian, satu per satu, sampai kalian merasakan kehampaan yang sama seperti yang aku rasakan malam ini."

"Aku akan menjadi mimpi buruk di setiap tidur nyenyak kalian. Aku akan menjadi duri dalam setiap langkah kalian."

Alina menarik napas panjang, menghirup aroma antiseptik itu dalam-dalam, menyimpannya sebagai memori aroma perang.

"Darah anakku tidak akan kering sia-sia. Tunggu aku. Tunggu saat aku bangkit dari ranjang ini. Karena saat itu terjadi, tidak akan ada lagi Alina yang pemaaf."

Malam itu, di kamar rumah sakit nomor 304, sebuah sumpah telah terpatri di langit. Seorang ibu yang terluka telah mengubah dukanya menjadi pedang. Dan ia siap menunggu seumur hidup, jika itu yang dibutuhkan, untuk menghunjamkan pedang itu tepat di jantung kebahagiaan orang-orang yang telah menghancurkannya.

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!