Sequel Langit Senja Galata
Pernikahan adalah suatu hal sakral untuk menyatukan dua hati dalam satu ikatan janji suci. Lalu bagaimana jika pernikahan tersebut terjadi antara dua orang yang tidak pernah akur satu sama lain? Alvin adalah CEO yang dingin, sedangkan Nana adalah gadis yang terlihat sempurna tapi memiliki gangguan duck syndrome. Baik Alvin maupun Nana memiliki ke hidupan lain di balik layar, tanpa ke duanya tahu bahwa mereka adalah musuh bebuyutan di dunia cyber.
Adik Lunara Ayzel Devran tersebut tanpa pikir panjang menujuk gadis yang sedang duduk di samping sang kakak adalah calon istrinya. Hanya demi menghindari kehidupannya diusik oleh sang kakek yang telah membuat hati sang kakak banyak tersakiti.
“Aku akan menikah dengan Nana,” ucap Alvin.
Nana yang sedang minum terkejut, dia tidak sengaja menyemburkan minumannya.
“Onty jolok! Baju Ezza jadi bacah,”
Apa alasan Nana akhirnya menyetujui permintaan Alvin? Lalu bagaimanakah kehidupan ke duanya setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia calon istriku
Altezza kembali bermain lego bersama dengan Nana, mereka berdua tidak perduli dengan suasana di ruang keluarga yang sudah berubah tegang. Jika Altezza tidak perduli karena memang bocah tiga tahun tersebut tidak mengerti apa yang sedang kakek tua itu ributkan, sedangkan Nana karena memang dia tidak punya urusan dengan mereka. Nana juga tidak ingin masuk lebih jauh dalam hal yang bukan urusannnya.
Tadinya Ayzel tidak ingin berlama-lama di ruang keluarga, selain karena Haziel yang bangun. Dia juga tidak mau di tuduh ikut campur, Ayzel melepaskan semua hal yang berkaitan dengan nama belakang Zekai. Sesaat sebelum menikah dengan Alvaro, Ayzel sudah melepaskan nama belakangnya. Jika dulu dia bernama Lunara Ayzel Devran Zekai, maka saat ini tidak ada embel-embel nama Zekai lagi. Dulu nama Zekai tersemat karena permintaan sang oma, oma Liana memberikan syarat pada suaminya yang tidak lain kakek Zekai. Oma bersedia memaafkan kakek Zekai, asal putri pertama Anara dan Devran tersebut memiliki nama Zekai.
Sedangkan Alvin? Dia tidak memakai nama Zekai, selain dia anak ke dua. Alvin juga seorang laki-laki, dia tentu punya power lebih dari pada sang kakak. Karena itulah dia tidak membutuhkan nama Zekai jika hanya sebagai pelengkap saja, ayah Devran mendidik Alvin dengan baik. Memberikan fasilitas sesuai minat dan bakatnya, tentu tidak meninggalkan tujuan utama bahwa kelak Alvin yang akan menjadi penerus Jazganara.
“Zeze pamit keatas duluan!” pamit Ayzel.
“Di sini saja, kak. Kakak adalah putri sulung keluarga ini,” tahan Alvin pada sang kakak.
Ayzel menatap sang suami, Alvaro mendekat. Dia merangkul pundak istrinya yang masih menggendong Haziel. “Aku ada di sini, sayang. Kamu akan baik-baik saja selama ada aku di sisimu,” lirih Alvaro.
Ayzel tersenyum, dia mengangguk. Mereka berdua lantas duduk di samping bunda Anara, suasana di sana tidak lagi hangat. Hawa dingin seolah ikut masuk dan mengunci diri di dalam ruangan tersebut.
Bahkan saat bibi membawakan minuman dan juga kudapan yang tadi di buat bunda Anara ke ruang keluarga, suasana masih tegang. Bibi menurunkan cangkir-cangkir berisi teh dan juga kudapan keatas meja, setelah itu dia kembali ke pantry.
“Ada apa mencariku, kek?” tanya Alvin datar, setelah bibi kembali ke dapur.
“Apa begini cara Devran mendidikmu, Vin? Tidak sopan pada yang lebih tua,” bukan menjawab pertanyaan Alvin, kakek Zekai justru mengajukan protes pada salah satu cucunya tersebut.
“Ayah mendidikku dan kakak dengan sangat baik. Kakek tidak perlu meragukannya," sanggah Alvin.
Dugh
Kakek Zekai menghentakkan tongkat kayu yang menjadi pegangan untuknya berjalan, Alvin bergeming. Dia tetap duduk tanpa ekspresi, Alvin ingin tahu apa yang sebenarnya kakeknya itu inginkan darinya.
Kakek Zekai kemudian beralih menatap putrinya, lebih tepatnya pada bunda Anara. “Apa kamu belum mengatakan pada Alvin, Ana?”
“Maaf, pah. Tapi Anara rasa Alvin punya kehidupannya sendiri, dia pasti punya pilihannya sendiri. Lagi pula Alvin sudah menjadi CEO Jazganara Tech sebelum Zeze menikah dengan Alvaro,” jawab bunda Anara.
“Lalu bagaimana denganmu, Devran? Aku akan menganggapmu sebagai menantu dan juga kembali menaruh nama Zekai di belakang nama putri sulungmu dan juga Alvin. Tapi kamu harus penuhi keinginanku,”
Ayah Devran menghela napas, dia menatap putri sulungnya. Ayzel yang paling dia dan sang istri khawatirkan, dari kecil dia terkucilkan dari keluarga besar.
“Ze tidak apa-apa, yah. Aku sudah memiliki kehidupanku sendiri, jauh lebih baik dari apapun. Aku memiliki suami yang luar biasa,” Ayzel sangat paham apa yang ingin di tanyakan sang ayah, dia bisa membacanya lewat sorot mata ayah Devran. Jangan lupakan profesi Ayzel yang merupakan seorang psikolog, dia bisa memahami situasi yang ada di sana. Karena itu dia menahan diri untuk tidak banyak bicara, begitu juga dengan Alvaro yang baru pertama kali bertemu dengan kakek Zekai.
Ayah Devran mengangguk. “Terimakasih nak,” ucapnya pada sang putri.
Kali ini ayah Devran mengambil napas panjang, dia menghembuskannya perlahan. Kemudian dia bersitatap dengan mertuanya, dia sangat yakin dengan keputusannya. Apapun resikonya, ayah Devran akan menanggungnya. Dia tidak akan pernah menjual kebahagiaan putri dan putranya hanya untuk mendapatkan pengakuan dari sang mertua.
“Maaf tuan Zekai. Tapi saya sepakat dengan istri saya, Alvin punya kehidupan sendiri. Dia berhak memilih apa yang dia mau, bukan atas dasar paksaan. Seumur hidup itu sangat panjang,” jawab ayah Devran.
Kakek Zeka tersenyum dengan seringanya. “Aku tidak butuh persetujuan kalian, aku hanya ingin Alvin segera memimpin perusahaan Zekai. Dia juga harus segera menikah dengan pilihan ku,” ucapnya dengan nada tegas.
“Apa?” Alvin bangkit dari duduknya, jika tadi dia masih diam dan tidak terlalu menunjukkan siapa dirinya. Kali ini Alvin hampir saja meledakkan emosinya, berhasi sang ayah bisa menenangkan putra ke duanya tersebut.
Suasana di ruang keluarga makin tegang, di sela-sela ketegangan tersebut mereka bisa mendengar langkah kaki yang berjalan masuk menuju ruang keluarga.
“Siang semuanya,” sapa seorang gadis yang dua tun di bawah Alvin. “Maaf, kek. Yerin baru datang,” ucap perempuan tersebut.
Kakek Zekai tersenyum. “Kemarilah, Yerin!” pinta kakek Zekai, gadis berusia dua puluh lima tersebut lantas duduk di samping kakek Zekai.
“Kalian sudah saling mengenal, bukan?” tanya kakek Zekai diangguki Yerin.
“Tidak!” jawaban Alvin berbanding terbalik dengan Yerin.
Alvin bahkan menatap dingin Yerin, ekspresi Yerin berubah saat mendapati tatapan dingin dan menusuk dari Alvin. Ingin rasanya berbicara, namun di sana ada banyak orang. Jadi Yerin memilih diam untuk sementara waktu.
Kakek Zekai tersenyum miring, dia menatap bergantian Alvin dan Yerin. “Kakek tidak perduli kamu sudah mengenal Yerin atau belum, satu hal yang harus kamu lakukan. Menikah dengan Yerin dan menjadi CEO Zekai Company,” ucap kakek Zekai dengan penuh penekanan.
Alvin terkejut? Tidak...adik Ayzel tersebut kembali bergeming, otaknya sedang memikirkan sesuatu.
“Aku tidak ingin menikah dengan Yerin!” ucapnya datar. “Aku sudah punya calonku sendiri,” lanjutnya membuat semua terkejut.
“Jangn kira aku tidak tahu kalau kamu sedang bohong, Vin. Anak buahku sudah memantaumu dari lama, tidak ada satupun wanita yang punya hubungan denganmu. Jadi jangan menolak untuk menikah dengan Yerin.
Kini giliran Alvin yang tersenyum penuh seringai. “Aku dan calon istriku LDR, kami jarang bertemu dan hanya berkomunikasi via chat. Jadi wajar jika kakek tidak tahu aku sudah punya pacar,”
“Aku tidak perduli kamu sudah punya pacar, Vin. Kalian baru pacaran dan belum menikah, jadi kamu tetap bisa menikah dengan Yerin. Hanya Yerin yang cocok mendampingimu,” kakek Zekai masih berusaha menekan Alvin. “Karena kakek yakin kamu belum move on dari masa lalumu,” imbuhnya.
Ayah Devran kali ini sudah tidak sabar lagi, dia tidak perduli jika mertuanya tersebut mengumpati dirinya. Tapi bagi ayah Devran sudah cukup untuk papa mertuanya tersebut menyakiti hati anak-anaknya.
Belum sempat ayah Devran bicara, Alvin sudah lebih dulu bicara. “Kakek lihat perempuan yang sedang bermain dengan Altezza? Dia Nana,” ucapnya.
“Aku akan menikah dengan Nana,” lanjutnya dengan ekspresi dingin dan tidak ada candaan sama sekali.
Byuurrr
Nana saat itu sedang minum terkejut, dia menyemburkan minumannya tidak ak sengaja dan mengenai sang keponakan.
“Onty jolok! Baju Ezza jadi bacah,” kesal Altezza, bocah itu langsung berdiri. Dia berlari kearah sang papa. “Papa, Ezza mau ganti baju!” pintanya pada sang papa.
“Sebentar ya, sayang! Kita naik nanti sama mama dan adik,” jawab Alvaro, berbeda dengan sang istri. Pria dengan dua lesung pipi tersebut terlihat santai menanggapi ucapan Alvin. Dia langsung mengangkat sang putra ke dalam gendongannya.
Sementara itu Nana yang merasa namanya tercatut gara-gara si pria dingin itu, dia berdiri dan menghampiri Alvin. Dia menatap bunda Anara, ayah Devran, Ayzel dan Alvaro bergantian. “Aku dan Alvin ti...”
“Tidak mau pacaran lama-lama. Karena itu mumpung semua ada di sini, aku langsung bilang pada kalian. Aku dan Nana akan segera menikah!” Alvin meraih tangan Nana dan menggenggamnya.
Nana bingung, tangannya bahkan sudah keringat dingin. Dia menatap penuh tanya pada Alvin, bertemu dengan Alvin saja baru beberapa kali dan mereka tidak pernah akur. Hei! Yang benar saja...tiba-tiba pria itu mengumumkan akan menikahinya? Mata Nana mulai ke kanan dan ke kiri, Ayzel cukup peka akan hal itu. Adik sepupu suaminya tersebut mulai panik, Ayzel yang masih menggendong Haziel. Mama dua anak tersebut mendekat kearah Nana, dia membisikkan sesuatu.
Nana menarik napas panjang, kemudian menghembuskan perlahan. Ayzel juga mengusap lembut punggung Nana, hal tersebut ternoctice oleh bunda Naura. “Papah sudah dengar, kan? Alvin sudah punya calon istri, Anara Harap papa menghargai keputusan Alvin nanti. Perasaan tidak bisa di paksa,” ucapnya pada kakek Zekai.
Yerin menatap penuh luka. “Aku tahu kamu belum bsia move on, Vin. Aku bisa menggantikan dia,” ucap Yerin.
“Aku tidak pernah ada hubungan dengan siapapun kecuali Nana,” Alvin menatap Nana. “Jadi bagaimana aku bisa tidak move on?” tanya Alvin pada Yeri dengan tatapan menusuk.
Kakek Zekai mengepalkan ke dua tangannya, dia lantas berdiri. “Kita pulang dulu Yeri! Jangan khawatir, Alvin akan tetap menikah denganmu. Kakek pastikan itu terjadi!” pria itu dan Yerin keluar dari rumah keluarga Devran dengan marah.
Alvin mendapat tatapan serius dari seluruh anggota keluarganya. “Aku serius! Aku akan menikah dengan Nana,” ulangnya lagi.
Nana hanya bisa melongo, dia masih mencerna ucapan Alvin.
“Kakak harus bicara denganmu nanti, Vin!” ucap Ayzel.
“Ayo hubby!” ajak Ayzel ke kamar lebih dulu.
Mau tak mau di tengah huru hara yang di ciptakan Alvin, baik Alvaro maupun Ayzel harus ke kamarnya untuk mengganti baju putranya. Haziel juga dari tadi sudah mengeliat, Ayzel takut putranya kembali terbangun karena ke gaduhan yang terjadi.
Begitu juga dengan Nana, bunda Anara memintanya untuk ke kamar. Nanti dia akan bicara dengan Nana setelah bicara dengan Alvin.
berperang sama masalalu tuh capek karena apa saraf"nya yg lembut kaya lelembut jadi terganggu alias oleng tapi bentar doang sih ya kan Thor
tapi aku suka gaya Nana sih
moga kena stroke 🤣🤣🤣🤣
ga bisa nolak 🤣🤣🤣