NovelToon NovelToon
Sorry, I Love You My Enemy

Sorry, I Love You My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:66
Nilai: 5
Nama Author:

Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.

Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.

kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.

namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.

apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..

mencoba berdamai

Malam semakin larut ketika Rayya akhirnya berdiri di hadapan papanya, menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. Ia menundukkan kepala sedikit, sikap yang jarang ia lakukan kecuali dalam kondisi tertentu.

“Pa, Rayya izin pulang lebih dulu,” ucapnya pelan, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil.

“Besok pagi masih ada rapat penting.” sambungnya.

Pak Surya menatap putrinya sesaat. Sorot matanya yang tajam sebagai direktur utama berubah lembut ketika beralih menjadi tatapan seorang ayah. Ia sempat melirik ke arah Devan yang masih dikerubungi para direksi dan tamu kehormatan.

“Kamu yakin tidak mau ikut sampai selesai?” tanyanya.

Rayya mengangguk. “Rayya sudah cukup lelah hari ini.”

Pak Surya tidak memaksa. Ia tahu putrinya keras kepala, dan jika Rayya sudah memutuskan sesuatu, jarang ada yang bisa mengubahnya. Ia hanya menepuk bahu Rayya singkat. “Hati-hati di jalan.”

Rayya membalas anggukan itu lalu berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Ia tidak ingin melihat ke arah Devan. Tidak ingin bertemu tatap dengan pria itu untuk kedua kalinya malam ini.

Sementara itu, Devan melihat punggung Rayya yang menjauh di antara tamu. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa mengencang. Ia tahu Rayya pergi bukan karena lelah. Ia pergi karena tidak ingin berada di ruang yang sama dengannya lebih lama.

Devan kembali mengalihkan perhatiannya ketika seseorang menepuk pundaknya, mengajaknya berbincang tentang rencana kerja dan target operasional. Ia mengangguk, menjawab seperlunya, tersenyum profesional. Pesta ini memang ditujukan padanya, tapi di lubuk hatinya, Devan tidak pernah menyukai sorotan seperti ini. Ia lebih nyaman bekerja dalam diam, membuktikan segalanya lewat hasil, bukan lewat tepuk tangan.

Namun malam itu, keadaan memaksanya tetap tinggal. Ia adalah pengawas Direktur Operasional yang baru. Simbol kepercayaan. Simbol perubahan. Dan simbol itu harus ditampilkan di depan semua orang.

Di sepanjang perjalanan pulang, Rayya duduk diam di kursi belakang mobilnya. Lampu-lampu kota berkelebat di balik jendela, namun pikirannya sama sekali tidak tertambat pada pemandangan indah itu. Dadanya terasa sesak. Ada rasa menyesal yang tak mau diakui, bercampur dengan amarah yang sejak tadi ia tekan paksa.

Kenapa aku berdiri?

Kenapa aku menuruti tantangan bodoh itu?

Rayya memejamkan mata, mengingat bagaimana tatapan Devan saat ia berdiri di tengah aula restoran. Tatapan yang tenang, sedikit sinis, seolah berkata: lihat, kamu tidak pernah benar-benar bisa menghindar dariku.

Ia menggertakkan giginya pelan.

Seharusnya aku pergi. Seharusnya aku menolak.

Namun kenyataannya, ia justru berdansa dengan pria yang selama ini berusaha ia singkirkan dari hidupnya. Meskipun hanya beberapa menit, cukup singkat, cukup formal, tapi terlalu bermakna untuk dilupakan begitu saja.

Rayya teringat jelas bagaimana tangan Devan menyentuh punggungnya dengan jarak yang terjaga, sikapnya yang sopan, nyaris dingin. Tidak ada provokasi berlebihan. Tidak ada kata-kata tajam. Justru itu yang membuat Rayya semakin kesal. Devan tidak lagi seperti anak SMA yang ia benci dulu. Pria itu kini matang, terkendali, dan—yang paling menyebalkan—berwibawa.

“Berhenti,” gumam Rayya lirih pada dirinya sendiri.

“Kamu tidak boleh terpengaruh.”batinnya.

Mobil berhenti di depan rumah besar keluarga Assyura. Rayya turun dengan langkah cepat, menolak bantuan sopir. Ia ingin sendiri. Ingin mengurung diri dari segala pikiran yang berkecamuk.

Begitu pintu kamarnya tertutup, Rayya bersandar di sana beberapa detik, mengatur napas. Ia menekan dadanya sendiri, seolah ingin menghentikan degup jantung yang sejak tadi tidak mau tenang.

“Aku membencimu, Devan Yudistira,” bisiknya, entah pada siapa.

Di tempat lain, Devan baru bisa benar-benar bernapas lega ketika acara akhirnya mendekati akhir. Ia berdiri di dekat jendela restoran, memandangi kota dari ketinggian. Gelas air mineral berada di tangannya, ia sengaja menolak minuman beralkohol.

Dalam keramaian itu, pikirannya justru melayang pada satu sosok yang sudah lebih dulu pergi.

Devan mengingat betul bagaimana ekspresi Rayya ketika namanya diumumkan sore tadi di kantor. Terkejut. Marah. Tersinggung. Semua emosi itu terbaca jelas di wajahnya, meski Rayya berusaha menutupinya dengan profesionalisme dingin.

Ia tahu, pertemuan ini tidak akan mudah. Ia juga tahu, kehadirannya di perusahaan pusat bukan hanya tentang jabatan dan tanggung jawab. Ini tentang masa lalu yang belum selesai.

Ucapan Pak Surya kembali terngiang di kepalanya, jauh sebelum semua ini terjadi. Tentang tanggung jawab. Tentang disiplin. Tentang menjadi seseorang yang pantas berdiri sejajar dengan siapa pun, termasuk Rayya.

Devan menarik napas dalam-dalam.

Ia tidak datang ke sini untuk mencari masalah. Tapi ia juga tidak berniat mundur hanya karena kebencian Rayya yang belum reda.

Keesokan paginya, Rayya datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Ia sengaja menyibukkan diri dengan tumpukan laporan, rapat internal, dan evaluasi proyek. Ia berharap kesibukan bisa mengusir bayangan Devan dari kepalanya.

Namun harapan itu runtuh ketika pintu ruang rapat terbuka.

Devan masuk dengan langkah mantap, membawa map hitam di tangannya. Tatapannya menyapu ruangan singkat sebelum berhenti pada Rayya. Tidak lama. Tidak intens. Tapi cukup untuk membuat Rayya mendongak.

Mereka tidak saling menyapa. Tidak ada senyum basa-basi. Hanya keheningan singkat yang terasa menegang, sebelum rapat resmi dimulai.

Sepanjang rapat, Devan berbicara dengan data yang rapi, analisis tajam, dan solusi konkret. Ia tidak menyerang siapa pun. Tidak menyudutkan Rayya. Justru sebaliknya, ia beberapa kali menguatkan keputusan Rayya dengan argumen yang logis.

Rayya mendengarkan dengan rahang mengeras. Ia benci mengakui satu hal: Devan memang kompeten. Sangat.

Dan itu membuat posisinya sebagai direktur semakin tertantang.

Setelah rapat selesai, Rayya bergegas mengemasi berkasnya. Ia tidak ingin tertinggal sendirian di ruangan yang sama dengan Devan.

“Rayya.”

Langkahnya terhenti.

Ia menoleh dengan sorot mata tajam. “Apa?”

Devan berdiri tidak terlalu dekat, menjaga jarak seperti yang selalu ia lakukan. “Soal kemarin malam… terima kasih sudah datang.”

Rayya tertawa pendek, tanpa humor. “Jangan salah paham. Aku datang bukan untukmu.”

“Aku tahu,” jawab Devan tenang. “Aku hanya ingin memastikan satu hal.”

“Apa lagi?” Rayya menyilangkan tangan di dada.

“Apa pun yang terjadi di masa lalu, kita sekarang ada di sini karena pekerjaan,” ucap Devan lugas. “Aku tidak berniat mengganggumu. Tapi aku juga tidak akan mundur dari tanggung jawabku.”

Rayya menatapnya lama. Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Tentang amarah. Tentang luka lama. Tentang rasa tersinggung yang tak pernah benar-benar hilang. Namun semua itu tertahan di tenggorokan.

“Aku juga tidak berniat mengganggumu,” jawab Rayya akhirnya, dingin. “Tapi jangan harap aku akan memudahkan jalanmu.”

Devan mengangguk kecil. “Aku tidak mengharapkan itu.”

Rayya berbalik dan melangkah pergi, kali ini tanpa ragu. Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu—perang ini baru saja dimulai.

Dan entah kenapa, perasaan itu bukan hanya tentang dendam,

melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!