NovelToon NovelToon
Cinta Atau Dendam, Suamiku?

Cinta Atau Dendam, Suamiku?

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Genius / Pelakor jahat
Popularitas:288.8k
Nilai: 5
Nama Author: Edelweis Namira

Thalia Puspita Hakim, perempuan berusia 26 tahun itu tahu bahwa hidupnya tidak akan tenang saat memutuskan untuk menerima lamaran Bhumi Satya Dirgantara. Thalia bersedia menikah dengan Bhumi untuk melunaskan utang keluarganya. Ia pun tahu, Bhumi menginginkannya hanya karena ingin menuntaskan dendam atas kesalahannya lima tahun yang lalu.

Thalia pun tahu, statusnya sebagai istri Bhumi tak lantas membuat Bhumi menjadikannya satu-satu perempuan di hidup pria itu.

Hubungan mereka nyatanya tak sesederhana tentang dendam. Sebab ada satu rahasia besar yang Thalia sembunyikan rapat-rapat di belakang Bhumi.

Akankah keduanya bisa hidup bahagia bersama? Atau, justru akhirnya memilih bahagia dengan jalan hidup masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edelweis Namira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERMAINAN YANG TAK SEHARUSNYA

"Lepaskan aku, Kak!" desis Thalia mulai tidak nyaman karena dekapan Bhumi yang mulai erat.

Kak Bhumi. Sebenarnya itu adalah panggilan yang saat kecil ia sematkan untuk putra kedua keluarga Dirgantara itu. Pria yang terkenal tidak banyak bicara, berbeda dengan Mas Langit, kakak sulungnya.

Keluarga mereka pernah bertetangga. Dulu saat Thalia kecil kesepian, ia akan ke kediaman Dirgantara. Namun, Bhumi sekeluarga pindah saat Thalia duduk di bangku SD.

Thalia cukup sedih karena ia tidak punya teman, apalagi saat papinya menikah lagi, perhatian kepadanya mulai berkurang. Hingga akhirnya Tuhan mengirimkan Julian saat mereka SMP.

Thalia bertemu kembali dengan keluarga itu saat ia libur kuliah. Tepat saat keluarga mereka merencanakan pernikahan Bhumi dan Adelia lima tahun lalu.

Namun, takdir justru berjalan lain dari rencana. Kini, Thalia lah yang dinikahi Bhumi. Meskipun hanya sebagai alat pelunasan utang. Dan, Thalia sangat mengerti posisinya.

"Lepasin!" Thalia masih berusaha melepaskan dirinya.

Mata Bhumi terbuka perlahan. Senyum miringnya seketika membuat tubuh Thalia merinding. Bagaimana tidak? Pria yang tadinya seperti tidak sadar itu kini menatapnya dengan mata memerah. Deru napasnya begitu cepat dan dekat di wajah Thalia. Apalagi dekapannya semakin membuat tubuh mereka menempel satu sama lain.

Thalia benar-benar tidak nyaman. Ia benci dengan Bhumi yang mabuk.

Meskipun hubungan mereka di masa lalu juga diawali dengan keadaan mabuk seperti ini, tetapi sekarang ada yang aneh.

Thalia bisa merasakan betapa kerasnya Bhumi menahan amarahnya sekarang. Namun, saat matanya terbuka dan bertemu langsung dengan mata Thalia, nyala kemarahan dalam dirinya semakin tersulut.

"Jangan macam-macam! Aku bisa teriak, Bhumi!" pekik Thalia dengan sorot panik.

"Ada apa dengan wajahmu, hah? Bukannya biasanya kamu selalu menantang saya?" Bhumi lantas mendekatkan wajahnya ke arah Thalia.

"Bhu...mi...Jangan!" Thalia masih berusaha mendorong Bhumi agar menjauh darinya.

Alih-alih menjauh. Tenaga Thalia sama sekali tidak sebanding dengan Bhumi. Apalagi dengan keadaan Thalia yang begitu kelelahan karena belum cukup waktu istirahat.

Tubuhnya masih sangat lelah karena menjaga Jemia semalaman. Belum lagi tadi pagi, Bhumi menyentuhnya dalam waktu yang cukup lama sehingga membuat rasa lelah Thalia semakin bertambah.

"Nikmati saja, Jalang Kecil!" Bhumi lekas meninggalkan jejaknya di leher putih Thalia.

Sekuat tenaga Thalia menahan dirinya agar tidak mengeluarkan suara desahan. Ia tahu, Bhumi akan semakin terpancing gairah saat dirinya mengeluarkan suara.

Bibir Bhumi berada cukup lama di leher Thalia, membuat Thalia menahan napasnya sejenak. Seolah mendapatkan suntikan energi, Bhumi tiba-tiba menjadi lebih bersemangat.

Bukan semangat dalam artian baik, melainkan ia semakin bergairah menghukum Thalia. Apalagi mengingat Thalia yang begitu menyayangi anak Julian itu membuat dadanya panas tanpa ia ketahui sebabnya.

Mata Bhumi semakin berkabut. Satu tangannya mengunci tangan Thalia di atas kepala perempuan itu, sementara tangannya yang lain mulai menurunkan lengan dress Thalia.

"Jangan lakukan itu, Kak. Kamu bahkan nggak sadar. Aku mohon!" Tanpa bisa dicegah air mata mulai keluar dari sudut mata Thalia.

Ketakutan semakin menyelimuti hatinya. Selama ini ia menerima saja jika Bhumi ingin menyentuhnya. Toh Bhumi juga menyentuhnya dengan lembut, setidaknya masih dilakukan dengan pemanasan.

Tetapi sekarang? Thalia merasa Bhumi yang sedang marah akan sulit mengontrol dirinya sendiri.

"Diam, Jalang!" gertak Bhumi, pelan. Matanya menyala tajam menatap Thalia.

Thalia semakin terkesiap saat Bhumi mendaratkan bibirnya di bahu polos Thalia.

"Jangan banyak protes! Tugasmu hanya membuka kaki lebar-lebar. Sama seperti yang kamu lakukan pada pria di luar sana!"

Awalnya Thalia memang merasakan sakit hati saat Bhumi menghinanya seperti seorang jalang. Namun, sekarang telinga dan hati Thalia sudah kebal dengan perkataan jahat itu.

Thalia sadar diri bahwa dirinya memang tidak sebaik itu. Ia juga tidak butuh pengakuan dari Bhumi bahwa selama ini ia tidak seburuk apa yang ada di pikiran Bhumi.

"Saya belum pernah bertemu perempuan sejahat kamu. Bagaimana bisa kamu hidup tenang setelah membunuh anak saya?!" lirih Bhumi. Kemudian, merebahkan kepalanya di dada Thalia.

Thalia mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya pria ini bersikap begitu kehilangan layaknya seorang ayah. Padahal Thalia tahu, Bhumi hanya ingin jabatan di perusahaan keluarganya.

"Kini kamu justru hidup bahagia dengan kehadiran anakmu dengan sahabat sialanmu itu." Kepala Bhumi kembali terangkat.

Anak? Thalia tidak mengerti apa maksud Bhumi.

Sorot dingin penuh kemarahan itu menusuk netra Thalia. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya di telinga Thalia. Cukup lama ia di sana. Setelah itu, tangannya mulai ke meraba tubuh Thalia yang lain.

Kemudian, Bhumi berbisik rendah, "Saya akan memberi hukuman kepadamu malam ini. Jangan harap kamu bisa baik-baik saja besok!"

Tubuh Thalia terpaku seketika. Tenaganya seakan menguap begitu saja.

Malam itu, dalam keheningan malam dan di ruangan yang begitu asing itu, tubuh Thalia disentuh Bhumi layaknya seorang jalang.

Jangan mengharapkan adanya pemanasan seperti biasa. Bhumi benar-benar menghukum Thalia dengan kasar. Tidak peduli dengan air mata dan tangis dalam diam seorang Thalia Puspita yang menyayat hati.

...***...

Matahari menyelinap malu-malu dari celah ventilasi. Cahayanya mengenai tepat wajah rupawan seorang Bhumi Satya. Kepala Bhumi masih begitu berat. Tidak hanya itu, Bhumi juga bisa mencium aroma minuman keras dari mulutnya.

"Sial! Apa yang...."

Tubuh Bhumi menegang saat dirinya baru menyadari bahwa ada sosok lain yang terbaring di sampingnya.

Bhumi langsung mencoba duduk. Ia masih begitu terkejut dengan keadaannya yang begitu berantakan saat terbangun. Dan kini, sosok perempuan berambut panjang yang tidur membelakanginya itu juga membuatnya tak kalah terkejut.

Mata Bhumi menyipit. Mengamati punggung polos yang cukup tak asing baginya.

Rambut cokelat? Dan tahi lalat di dua sisi punggung polos itu sudah membuat tubuh Bhumi menegang.

"Thalia? Bagaimana bisa dia di sini?" gumam Bhumi bingung.

Masih dalam kebingungan, Bhumi merasa tubuhnya begitu lengket. Matanya menyapu sekeliling. Pakaiannya dan pakaian Thalia berserakan di bawah tempat tidur.

Bhumi lalu segera turun dari tempat tidur. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama untuk Bhumi mandi, sebab beberapa menit kemudian ia sudah keluar dengan tubuh segar dan wangi berbalut jubah mandi.

Awalnya Bhumi ingin mengecek ponselnya. Ia butuh Aji untuk membawakan pakaian ganti untuknya dan Thalia.

Namun, ada yang menarik perhatian Bhumi saat itu. Thalia.

Tubuh itu tidak seperti orang tertidur pada umumnya. Bhumi lalu berjalan cepat mendekati Thalia yang masih tertidur itu.

Wanita yang tampak polos dengan mata terpejam itu tidak bergerak sama sekali. Bhumi lantas mengecek pernapasan wanita itu. Masih hidup.

"Thalia!" panggil Bhumi datar.

Tubuh itu tetap tidak bergerak. Bhumi bahkan mengulangnya hingga beberapa kali dan disertai dengan tepukan lembut di wajah wanita itu.

Hasilnya tetap sama. Tubuh itu masih kaku.

Bhumi lalu merubah posisi tubuh Thalia menjadi telentang. Saat itulah, ia melihat noda darah di sprei bawah Thalia.

Tiba-tiba saja kejadian semalam masuk ke pikiran Bhumi. Suara rintihan Thalia, permainan kasar yang menghukum Thalia tanpa ampun dan juga air mata Thalia yang semakin membuat Bhumi menggila. Semuanya berkumpul jadi satu.

"Sialan!" desis Bhumi mulai menyadari sesuatu.

Cepat-cepat ia mengambil ponselnya di nakas dan segera menghubungi Aji.

"Segera ke Galaksi. Minta dokter Regina bersiap. Istri saya pingsan."

*

*

*

Apa perlu Bhumi yang ini kini bumi hanguskan? 😂

1
Ma'e Tinok
yg sbr ya kk,gpp selalu ku tunggu ko💪💪💪😘😘😘
Mirrabella
kak jangan lama2 dong up nya
Teti Hayati
Curiga sama ini orang, suruhan emaknya Adel kan..?? hayoo ngaku..!!!
betriz mom
semangat dan salam sehat bahagia 🙏
Mirrabella
x ini kocak😂😂😂
@Resh@
apa nanti bakal berhasil kenapa yg jahat selalu menang sih,Sampek berhasil di tuker wes wessss udah lah
Makinjaya Makinjaya
semangat kak.peluk jauh dr aku
Iish Qhina
turut berduka kak🙏
Anonim
sehat2 ya kak.aku merasakn spt kk bgmn rasax d tglkn oleh seorang ayah yg merupakn cinta pertama ank perempuan itu seprti kehilngn penopang hidup/Cry/
Edelweis Namira: Iya. kamu juga yaa. sehat selalu.
total 1 replies
IceQueen
semangat thorr
tetap berkarya dan tetap menulis dengan sepenuh hati
Edelweis Namira: Terima kasih yaa, Kak. Sehat selalu😍
total 1 replies
hasana
jangan sampai d tukar dong thor kasian
Teti Hayati
Gak apa ka, tetep ditunggu Up nya.. 🤗
Mas Bhumi masih setia nongkrong di favorit ku, enggan pergi sebelum End.. hee
Tetep semangat ka, kehilangan orang tersayang memang tak mudah.. ini kamu udh hebat lho, ditengah suasana hati yg gak karuan tapi masih diusahakan nulis..
padahal ada dari sekian penulis yg ninggalin karyanya gitu aja tanpa penjelasan apapun.. Tapi km nggak..
Makasih yaa...
🤗
Teti Hayati: 🤗🤗🤗🤗🤗.....
total 2 replies
Bunda Idza
tetap semangat Thor...
Bunda Idza: sama2🥰
total 2 replies
Dilla Fadilla
lanjut Thor 💪👍
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Teti Hayati
Wessslah... emang gak akan sadar ni orang, sama kayak emaknya... hukuman penjara pun kayakny terlalu bagus untuk mereka berdua... 🤭
Teti Hayati
Masih inget punya Tuhan..?? 😒
Nona aan Chayank
Bhumi mode cemburu gk abis² sama Julian.. 😅😅
Edelweis Namira: Dia memang gitu. Sampai Julian nikah kayaknya baru berhenti
total 1 replies
@Resh@
kenapa thalia awas kau adelll bikin metong napa tu demit nyebelin bangett gak tobat2
Edelweis Namira: Gak ada kata tobat kata Adelia mah
total 1 replies
Bunda Idza
kasih lakban aja mulutnya Ji 😂😂😂😂
Bunda Idza: 😂😂😂 semangat Ji
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!