NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CRYBABY

“Nanti Ma, kalo ada waktu senggang aku segera kabarin. Sabar dulu ya,” ucap Karel di telepon saat dirinya masih berjalan di koridor.

“Cepet ya, Mama gak sabar.”

Usai berbicara, Karel mengakhiri panggilan dan menekan pin apartment. Ia langsung masuk dan bertukar pesan cukup intens dengan James, lagi dan lagi karna tidak bisa bertemu. Karena dia tengah berada di luar daerah.

“Mama aku udah nemu calonnya, menurut kamu gimana. Ketemu apa jangan?” kata Karel frustasi.

James sepertinya cemburu. “Coba liat mana orangnya. Aku nilai, kalo cocok aku izinin ketemu.”

“Tapi aku males, dia yang punya pacar itu katanya.” Karel bicara sambil mengirimkan foto Mireya.

Jantung James mencelos. Ia terdiam melihat perempuan yang akan di jodohkan dengan Karel. Ada rasa tidak rela sama sekali. “Siapa namanya?”

“Mireya katanya, temuin apa jangan?”

“Jangan. Dia kayaknya gak bakalan pernah ngerti apalagi toleransi sama keadaan kamu.”

Karel merasa ada yang mengerti. “Beneran? Tapi mama aku pasti gak setuju sih. Bakalan kecewa banget kalo aku batalin janji gitu aja. Apa temuin sekali dan bilang gak cocok?”

“Gausah, lebih baik gak ketemu sama sekali. Dari pada memberikan kesan sesaat.”

“Iya aku bakalan kasih tau mama kalo aku gak bisa datang. Alasannya sibuk? Atau gak ada waktu apa mending punya wanita idaman lain?”

“Punya seseorang yang lagi kamu tunggu aja, gitu juga beres. Udah dulu ya, see you again.”

Layar pun kembali ke beranda. Karel hendak menelepon Elena tapi panggilan video darinya keburu datang. Langsung ia terdiam dan terhubung.

“Gimana, gimana?”

“Sepuluh menit yang lalu Mama baru aja menanyakan hal yang sama. Sekarang jawabannya enggak bisa. Aku sibuk banget, gak ada waktu. Dan sebenarnya aku lagi nungguin seseorang, boleh kasih aku waktu lagi gak, Ma?”

“Duh gimana ya, Mama malu ngomong ke Mirae. Kamu gimana sih? Gak jelas banget tau ah!” Elena lagi-lagi merajuk dan mengakhiri panggilan.

Elena langsung mengguncang bahu suaminya merengek-rengek. Ingin di manja dan di mengerti perasaannya sekarang. “Jangan tanya keadaan aku sekarang! Aku sedih Papah, kecewa banget.”

“Utututu sayangku cintaku mwah - mwah,” balas Thomas lalu menyeruput kopi.

...--✿✿✿--...

“Gatel banget mau cerita, tapi beneran mau dengerin?” ucap Mireya yang sepertinya ragu. Antara mau cerita tapi takut.

Luz senantiasa antusias seperti biasa. “Cerita aja kali, kayak gak pernah cerita aja sama gue. Ayo mau cerita apa?”

Mireya menarik nafas dan membuangnya. “Ada temen bonyok mau ngenalin anaknya sama gue. Menurut lo gimana? Orangnya gatau gue gak bisa nilai gak kenal soalnya.”

“Yaelah itu lu naksir kagak? Tertarik kagak? Kalo cuman nambah kenalan, ketemu aja. Siapa tau cocok kan?”

“Nah itu dia, masalahnya gue juga udah punya pacar cuman LDR. Dia di Singapura.” Mireya makin keliatan kusut sekarang.

Luz langsung ngerti. “Enak juga lo banyak yang naksir dari dulu sih gak heran. Laku keras haha.”

“Apaan sih, emang lo sama sekali gak pacaran lagi?”

Luz memalingkan wajahnya. “Enggak, tapi bukan berarti gak punya cowok. Yang kemarin mah skandal semua.”

“Jadi gimana nih? Ketemu apa jangan? Gue gak cerita ke pacar gue, takut dia marah. Lebih takut gue kepincut dan gatau diri sih sebenarnya.”

“Yeuh kocak lo. Kalo naksir ambil dong, kapan lagi? Lo mau kayak gue nyesel seumur hidup karna gak confess waktu itu?”

Mireya langsung mendekatkan wajahnya. “Eh iya kabar tuh cowok gimana?”

“Gatau, terakhir liat udah nikah sama punya anak. Dan gue disini sampe detik ini masih terus menyesali waktu.”

Mireya mencoba memberikan dukungan emosional. “Ikhlasin ya, sabar. Lo juga hebat, keren, pasti dapet yang setara sayang sama lo pake banget oke? Gausah di pikirin lagi. Oh iya lo mau cerita gak nih? Kayaknya lecek bener.”

“Gue sebenarnya mau cerita soal sesuatu yang gak siapapun tau kecuali gue sama dia.”

...--✿✿✿--...

“Mana ya dia?” gumam Zaren melirik sekitar kafe yang ramai. Ia tahu persis Luz sering kesini karna tempat favoritnya.

Melihat dua orang perempuan ngobrol asik, Zaren menghampirinya dan meminta waktu untuk bicara dengan Luz.

“Gue gamau.” Bahkan Luz memalingkan wajah enggan melihatnya.

“Sebentar aja.”

Mireya melirik Zaren dengan mimik bertanya. Luz mengerti kode ini. “Siapa?”

“Bukan siapa-siapa gausah di ladenin, biarin aja ngomong sendiri, setan dia.” Luz sama sekali enggan bicara dengannya.

Zaren pun terus mengajak Luz bicara sampai dia meninggalkan bangkunya. “Luz!” Ia berlari mengejar Luz dan meraih tangannya.

Langsung di tepis kasar. “Gausah pegang-pegang apaan sih? Kenal juga kaga.”

“Kalo temen gue gamau ngomong sama lo jangan di paksa.” Mireya berusaha melindungi.

“Gue mau minta izin ngomong sebentar aja.”

Mireya pun bicara dengan Luz sampai akhirnya Luz memberikan kesempatan untuk Zaren bicara dengannya.

“Apaan? Ngapain sih lo harus dateng lagi? Mau apa lo? Badan gue?” Luz bicara sambil membelakangi Zaren. Bahkan melipat tangan di dada. Rasanya kesel banget ngeliat muka songongnya. Kenapa bisa ia mau berhubungan badan dengannya cukup lama?

Zaren gugup, ia menelan ludahnya. “Lo beneran hamil.”

“Kaga, ngibul gue.”

“Serius Luz Valerie.”

Luz memutar bola matanya dan membuang nafas kasar. “Apasi nanya-nanya kayak orang bego. Mau apa sih lo?”

“Tuhkan bener. Mending gugurin lagi aja Luz, gue mohon. Itu lebih baik buat kehidupan kita.”

“Kita? Sejak kapan lo sama gue bisa jadi kita, seperti yang lo bilang? Halu kali.” Luz tertawa hambar.

Zaren menggeleng pelan. Tahu Luz kecewa tapi tidak sepenuhnya ini salah bagi dirinya. “Emang lo mau semua orang tua kelakuan busuk lo?"

“Gak di kasih tau juga pada tau. Lo gak mikir pas kita HS di hotel setan-setan gak liat?” Luz mulai membalikkan tubuhnya menatap Zaren. “Diem kan lo? Makanya mikir.”

“Terus ntar gimana nasib anak itu? Gak punya bapak dan gak bisa punya akta. Mending gugurin kasian.”

“Gue lebih kasian sama lo. Kenapa emangnya masalah buat lo? Siapa sih ngatur-ngatur, heran. Suami bukan, donatur bukan, bencana iya.”

Zaren mendekat ke arah Luz. Cerita kehidupan yang panjang bersamanya memang tidak akan semudah itu di, lupakan apalagi saat bermain cinta.

“Hamil kali ini mual gak?”

Luz berpikir. Iya juga ya? “Enggak tuh aman aja.”

“Itu dia. Gue yang mabok parah ini pasti gara-gara anak lo Jadi cepet gugurin, gue malu.”

Tangan Luz turun. Ia menatap Zaren lekat. “Malu? Gue lebih malu anjing hamil gak ada lakinya. Lakinya kek dajal.”

“Gue cowok.”

“Terus masalah? Gue cewek dan gue yang bawa anak lo di perut gue anying. Gue aja gak repot napa lu repot hah?!” Luz menunjuk wajah Zaren seperti ingin meludahinya. Matanya melototi Zaren begitu tajam.

“Masalahnya gua mau nikah.”

Luz terkekeh. “Oh nikah? Pantes ngebuang gue, udah ada gantinya ternyata.”

“Gak gitu. Udahlah kita gak pacaran, cuman partner with benefit, just partner seks gak lebih.” Zaren masih bicara netral tapi dapat membuat Luz tersulut emosi. “Sorry gua tau gua ini salah. Jadi gugurin please gua gamau nambah dosa nelantarin anak. Lagian kalo gini bisa malu-maluin tau gak, apa kata orang? Gua mual-mual mulu cok, capek di tanya mulu kenapa.”

Luz menunjuk dada Zaren dan mendorongnya, ada rasa kecewa dan sesak, jadi itu alasannya ternyata. “Masih punya urat malu lu? Gue kira udah putus haha.”

“Luz please.”

“Gak akan! Gue bakalan pertahanin.” Luz mengangkat tangannya.

Zaren menahan tangan Luz yang ingin menonjoknya. “Itu juga gak akan jadi beban sama lo, semua masalah beres. Emang keluarga lo nerima hah?”

“Gue gak peduli, ini keputusan atas hidup gue yang sepenuhnya hak gue. Mending lu pergi dari hadapan gue... dan jangan pernah datang lagi, kalo cuman buat minta hal yang lo tau, gue gak akan penuhin, meskipun lo nangis darah sekalipun!” Luz menyeka air matanya dan hendak melangkah pergi.

Zaren menahannya dan menarik Luz ke dalam pelukannya. “Lo gatau apa-apa.”

“Dan gue juga gak pengen tau.” Luz mendorong Zaren dan menatapnya lekat, tatapan penuh kebencian kini tersirat jelas.

Zaren tahu itu. “Sorry. Tapi tolong---“

Luz menepis tangan Zaren dan pergi. “Bodo amat, gue gak peduli, itu derita lo.”

Sebenarnya Zaren juga tiba-tiba merasa tidak rela Luz meninggalkannya dengan tatapan benci. Bukan sumringah seperti biasanya. Dia gadis yang periang dan cukup berharga di hidupnya, tapi sayang ia tidak ingin menjadikannya satu.

...--✿✿✿--...

Luz berjalan sambil menangis. Ia menghampiri Mireya dan duduk menunduk. Air matanya berjatuhan. Rasanya sakit, sangat sakit. Ia menumpahkan segala emosinya lewat air mata.

“Nangis aja dulu, biar lo tenang. Abis itu cerita, gue janji gak akan bocor.” Mireya mengusap tangan Luz dan menunggunya tenang juga berhenti menangis.

Setelah merasa puas menangis, Luz meminum air dan mulai bicara. “Gue gatau harus cerita dari mana intinya, now... im pregnant.”

Mata Mireya terbelalak kaget. Ia melirik perut Luz dan mengerjakan mata. “Ko bisa? You have a boyfriend?”

Luz menggeleng. “Lebih tepatnya partner seks.”

“Terus tadi ayahnya?” tanya Mireya yang peka.

Luz mengangguk. “Iya, dia minta gue gugurin. Tapi gue gamau.”

“Oke itu keputusan lo, tapi lo yakin?”

“Yakin, gue gamau pendarah hebat lagi yang ngebuat gue hampir mati.”

Dahi Mireya mengerut. “Dari yang gue tangkap, itu artinya... lo pernah keguguran juga sebelumnya?”

“Lebih tepatnya gue pernah aborsi.” Tangis Luz kembali pecah, wajahnya telah berurai air mata yang tumpah ruah.

Mireya langsung memeluknya agar tenang. Ia tidak bisa menghakiminya. “Lagian apa sih yang lo harepin dari itu selain hal ini yang bakalan terjadi, opsi terakhir lo di tinggal gitu aja.”

“Gue tau gue oon, bodoh, tapi saat itu gue cuman pengen dukungan kalo gue bisa. Gue udah berdosa, gamau lagi,” katanya sambil membuang ingus.

Mireya sangat kaget, Luz benar-benar di luar dugaan. “Gue gatau kalo lo senakal itu sampe berani kayak gitu.”

“Sorry udah ngecewain lo, tapi—lo pasti kecewa kan? Lo orang pertama yang tau selain dia.”

“Bukan orang pertama dong.” Mireya mengambil tisu dan memberikannya ke Luz. Lalu duduk. “Udah lega belum? Kasian baby lo pasti ikut sedih kalo lo sedih.”

Luz pun meneguk air agar tenggorokannya kering. “Iya kah?”

“He’em tau, di lain sisi gue seneng lo mau jadi ibu, di lain sisi gue sedih karna lo---“

Luz mengangguk. “Thank you, dan sekarang gue masih bingung. Gue pengen rubah takdir dan hapus dosa di masalalu walau mustahil. Setidaknya kalo gue kasih hidup, gue punya kesempatan buat memperbaiki semuanya yang udah berantakkan.”

“Ide bagus. Emang udah berapa lama kenal sama tuh cowok?”

“Gue sama dia gak libatin perasaan emosional, kayak cinta gitu enggak, lebih ke nafsu doang. Kalo s*nge baru ketemu, di luar itu enggak.”

Mireya menghela nafas. “Pantesan, dari kapan mulainya?”

“Kita kuliah di kampus yang sama, gue kenal dia dari aplikasi. Kita sama-sama gak ada pengalaman, gue cuman mau having seks sama yang sama-sama belum pernah dan dia orangnya. Salahnya itu, kita gak pernah cerita soal pribadi selain tau nama panggilan, gue gatau nama lengkap atau alamatnya selain tau provinsi doang.” Luz bercerita sambil memainkan kuku.

“Berarti lama juga dong dan cuman sama dia?”

“Iya sama dia, dari awal masuk kampus aja sampe sekarang gue udah dua puluh tujuh tahun. Lumayan lama, dan gue beneran jujur lho cuman mau sama dia karna udah tau masing-masing dan punya gaya favorit yang sama.”

Mireya menepuk dahinya. “Di luar prediksi. Kalo kalian pacaran, pasti udah 8 tahun.”

“Kalo dia gatau pernah sama siapa aja, namanya cowok kan.”

“Selama itu juga lo gak naksir siapapun.”

“Iya.”

“Dia juga?”

“Kayaknya sih.”

“Pas hamil pertama kali kapan? Jadi ini bukan yang pertama ya.”

Luz menggeleng. “Bukan, gue pernah hamil pas di tahun pertama mulai aktif HS. Pas itu kita masih sibuk kuliah, sering ngeflek sampe akhirnya aborsi pun gampang. Kita ke dokter yang aman, dokter bilang kandungan gue bakalan lemah. Dan ternyata sekarang kejadian lagi.”

“Abis ini udah, gausah berurusan lagi sama begituan. Fokus sama masa depan, jangan gegabah lagi.” Mireya memberikan peringatan. “Gue beneran kecewa, tapi bukan berarti itu bakalan jadi alasan gue ninggalin lo di saat terpuruk kayak gini.”

Luz memeluk Mireya sangat erat. “Gue harap kalo gue udah gak ada, lo yang jagain anak gue ya?”

...--To Be Continued--...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!