Mengisahkan tentang kisah kehidupan dari seorang pemuda biasa yang hidupnya lurus-lurus saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan cantik yang sekonyong-konyong mengigit lehernya kemudian mengaku sebagai vampir.
Sejak pertemuan pertama itu si pemuda menjadi terlibat dalam kehidupan si perempuan yang mana si perempuan ini memiliki penyakit yang membuat nya suka ngehalu.
Dapatkah si pemuda bertahan dari omong kosong di Perempuan yang tidak masuk akal itu?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketua Kelas demam
Kini aku ada di UKS setelah mengantar si Ketua Kelas yang sekarang sedang di tangani perawat di kampus ini.
Aku sendiri hanya menunggu dalam diam.
Tak lama perawat tadi keluar dari dalam ruang rawat dan aku pun langsung bertanya padanya.
"Bagiamana keadaannya Bu!?" Aku tanya sambil menghampirinya yang juga mendekat padaku.
"Demamnya sangat tinggi tapi tidak apa-apa karena saya sudah memberikan obat... !?" Kemudian si Perawat melihat lenganku yang masih berdarah.
"Itu tangan kamu kenapa berdarah begitu!?" Aku terkejut karena baru sadar kalau aku belum sempat mengurus bekas gigitan itu.
"Um.... Di gigit kucing Bu!" Terpaksa aku berbohong.
Meksipun aku ragu si ibu Perawat percaya.
"Tapi kok tadi saya lihat mulut siswa itu ada bekas-bekas darah?.... Apa dia yang gigit kamu!?" Aku pun panik bagaimana haru menjelaskannya.
Untungnya aku dapat dengan cepat membuat alasan. "Itu... Mungkin tadi ketika aku bawa ketua kelas ke sini tanganku yang luka ini tidak sengaja bersentuhan dengan bibirnya!"
Kali ini aku panik karena aku tidak terbiasa berbohong jadi aku yakin sekali kalau kebohonganku ini terlihat begitu jelas.
"Oh, begitu!"
'Lah?... Dia percaya pada apa yang aku katakan?.'
"Kalau begitu sini saya akan obati, nanti itu infeksi!" Baru juga bisa menghela nafas lega kini aku di buat panik lagi.
Kalau sampai tanganku ini di obati olehnya maka si Ibu Perawat akan tahu kalau ini bukan gigitan kucing tapi gigitan manusia.
"Gak papa Bu, gak usah di obati karena saya bisa sendiri!" Punggungku kala itu terasa berkeringat dingin.
Aku agak heran ya kenapa juga aku sampai sepanik dan segelisah ini padahal aku tidak salah apa-apa.
Malahan aku korban di sini.
"Loh kok gitu. Kan ini pekerjaan saya sebagai perawat jadi biar saya saja!" Ia memaksa dan bahkan sudah mengambil obatnya.
"Enggak Bu beneran gak usah, saya bisa sendiri...!" Untungnya di waktu yang tepat datang seseorang yang benar-benar sangat menolongku pada saat itu.
"Bu! Ada yang kena gigit ular Bu!" Teriak seorang siswi sambil membawa siswi lainnya yang menangis.
"Hah! Kok bisa ada ular di sekolah ini!?" Segera si Ibu Perawat pergi untuk menolong orang itu karena ia lebih butuh pertolongan.
Setelah si Ibu Perawat pergi aku pun bisa menghela nafas lega. "Fyuuhh. Aku selamat!..."
Siang hari kemudian aku kembali ke UKS untuk memeriksa keadaan si Ketua Kelas yang mana sampai sekarang masih demam tinggi.
Karena tidak ada perubahan padanya aku pun tanya pada si Ibu Perawat. "Bu! Ini kok demamnya kayak gak turun-turun ya!?"
Sekarang si Ibu Perawat memeriksa dan ternyata benar kalau demamnya belum turun juga. "Lah iya... Kayaknya kamu harus bawa dia pulang deh biar di rawat oleh orang tuanya!"
"Kayaknya itu gak mungkin bisa saya kamu deh Bu!".
"Loh kenapa?!".
"Karena saya tidak tahu rumahnya dimana apalagi saya juga gak punya kendaraan!" Si Ibu Perawat langsung terdiam.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita hubungi saja orang tuanya!?" Aku pun mengangguk. "Oke!"
Tapi kemudian kami malah saling diam dan tatapan gak jelas.
"Loh Bu? Kenapa malah diam!?"
"Harusnya saya yang tanya kenapa kamu malah diam?!" Aku bingung hingga alis mataku tertekuk sebelah.
"Ha?! Saya diam karena menunggu ibu menghubungi orang tuanya lah!"
Si Ibu Perawat menjawab hal yang sama. "Ya saya juga menunggu kamu untuk menghubungi keluarga anak ini!"
Dan kami pun terdiam lagi.
"... Apa ibu gak ngambil hpnya tadi ketika di rawat? Saya mana punya nomor orang tua Ketua Kelas ini!?"
"Saya gak menemukan hp tadi, jadi saya pikir kamu yang ngambil itu karena katanya kalian pacaran!" Aku makin terheran-heran.
"Hah?! Ibu dapat gosip darimana hingga mengira kalau kami pacaran?!".
Si Ibu Perawat langsung mengeluarkan hpnya dan menunjukkan sesuatu. "Itu tersebar di grup sekolah kita!".
Aku yang melihat itu terkejut hingga membeku di tempat.
"Bu... Ini salah paham, aku sama Ketua Kelas gak ada hubungan apa-apa dan lagi mana berani aku ngambil hpnya sedangkan dia ini anaknya bosku!".
"Kalau begitu segera hubungi bos kamu!" Enteng bener dia ngomong kayak begitu ketika dia sama sekali tidak tahu kondisiku.
"Masalahnya bosku itu seorang CEO sedangkan saya ini cuma tukang bersih-bersih. Mana mungkin saya punya nomor telponnya!" Kali ini kemudian berdua diam cukup lama.
"Kalau begitu bagaimana kita bisa menghubungi keluarganya...!?" Kemudian ia melirikku dengan tatapan yang mencurigakan menurutku.
Endingnya aku malah di suruh menjemput bosku itu dengan naik sepeda ontel.
"Haahh... Kenapa juga aku harus melakukan sejauh ini hanya untuk menjemput seseorang. Apa tidak bisa si Ibu Perawat itu urus saja si Ketua Kelas hingga Pak Bos datang dengan sendirinya!".
Aku bergegas mengayuh sepeda dengan kecepatan semaksimal mungkin yang aku bisa.
Beberapa menit kemudian aku tiba di kantor dan segera masuk dan hendak naik ke atas tapi langsung di hentikan oleh keamanan.
"Berhenti! Kamu mau kemana!?" Aku langsung terdiam dan menjawab. "Saya mau baik ke atas pak!".
"Ngapain? Kamu kira siswa SMA bisa masuk secara sembarangan di sini!" Aku lupa belum ganti baju.
"Tapi pak saya petugas kebersihan di sini jadi saya mau naik ke atas buat melakukan tugas saya!" Terlihat kalau orang ini tak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Apa iya?..." Ia melotot padaku dengan penuh kecurigaan.
Untungnya tak lama setelah itu ada seorang petugas kebersihan yang datang dan bersaksi kalau aku adalah salah satu petugas kebersihan di sini.
Sambil memanggul sapu aku naik ke atas tanpa berganti baju dulu.
Kemudian aku pun masuk ke ruangan si Pak Bos. "Assalamualaikum! Pak ada keadaan darurat!!" Aku berteriak.
Di dalam si pak bos terlihat sedang bekerja dengan sekretaris yang merapihkan beberapa dokumen.
"... Tidak sopan! Bisa-bisanya tukang bersih-bersih seperti kamu masuk tanpa izin!" Teriak si Sekertaris padaku sambil menunjuk.
"Tapi saya sudah mengucapakan dalam tadi dan lagi saya begini karena memang ada keadaan darurat!".
Si Pak Bos pun bertanya padaku. "Jadi ada apa hingga kamu panik begitu!?".
"Anak anda sakit demam sejak pagi dan sekarang malah semakin parah. Jadi saya datang untuk memberitahu anda!" Sibpak bos terlihat terkejut.
"Apa?!" Segera ia bangun dan menghampiriku.
"Terus kenapa kamu tidak menghubungi saya saja!?".
"Karena saya gak punya nomornya Pak Bos!" Si Pak Bos seketika terdiam.
"Terus kenapa kamu tidak minta!?".
"Karena saya cuma tukang bersih-bersih jadi mana pantas saya punya nomor pak bos san lagi mana berani saya minta nomor anda!?" Si Pak Bos langsung diam sambil mengelus-elus keningnya.
"Sudahlah, ayo antar saya ke sekolah!" Aku pun langsung di dorong keluar oleh si Pak Bos hingga aku mulai jalan cepat dengan terpaksa.
"Eh, tapi!?..." Baru juga aku bilang kalau aku tidak bawa kendaraan untuk mengantarkannya tapi si Pak Bos malah...
"Sudah diam. Jangan banyak tapi-tapi, antarkan saja saya ke sekolah!" Mau tak mau aku diam dan mengantarkan si Pak Bos ke sekolah.
Di tengah perjalanan si Pak Bos pun bertanya. "Um... Kenapa kamu malah membawa saya menggunakan sepeda?!"
Sambil mengayuh aku menjawab. "Ya karena saya gak punya kendaraan. Dan bahkan sepeda ini bukan punya saya tapi punya sekolah!".
"Terus kenapa kamu gak bilang!?"
"Kan pak bos sendiri yang menyuruh saya diam tadi ketika saya mau memberitahu kalau saya gak punya kendaraan!" Si Pak Bos pun diam karena tahu kalau ia yang salah.
"Sudahlah. Lagipula kita sudah dekat dengan sekolah juga!" Aku mengayuh semakin cepat di jalan khusus sepeda.
Dari raut wajahnya sepertinya si Pak Bos sangat ketakutan dan tegang aku bonceng dengan sepeda dalam kecepatan tinggi.
Tak lama tibalah kami di sekolah dan si Pak Bos langsung masuk UKS untuk memeriksa anak kesayangannya itu yang masih sangat lemas.
Tahu kalau kondisi anaknya sangat buruk si Pak Bos langsung menghubungi ambulans dan tak berselang lama ambulans itu datang.
Mereka langsung menjemput si Ketua Kelas untuk di bawa ke rumah sakit dan itu cukup heboh sekali.
Karena selain ada petugas rumah sakit ada juga mobil reporter yang meliput kejadian itu.
'Anak orang kayak memang beda ya. Demam biasa saja hebohnya minta ampun.'
Aku sendiri hanya berdiri diam di tempat yang agak jauh sebelum hendak pergi untuk lanjut kerja.
Tapi ketika aku baru balik badan tiba-tiba saja muncul pria di belakangku yang langsung menyeretku masuk ke dalam mobil.
"Eh! Apa ini!?... Tolong, penculikan di depan umum!" Kukira pada saat itu aku sedang di culik dan itu membuatku panik.
Ternyata aku cuma di bawa ikut ke rumah sakit oleh bodyguardnya di pak bos.
Di dalam mobil itu aku hanya bisa duduk diam sambil sesekali memperhatikan orang-orang bertubuh besar dan kekar yang ada di dalam mobil.
Beberapa jam kemudian setelah si Ketua Kelas di tangani para dokter.
"Gimana keadaan anak saya dok!?" Si dokter yang baru saja keluar dari ruangan langsung di tanyai.
"Kondisinya sudah baik-baik saja, tapi... Kok anak ini tubuhnya lemah sekali ya seperti orang yang kurang makan!?"
Si Pak Bos langsung sedih.
"Haahh... Anak ini punya penyakit aneh Dok. Sejak kecil ia memang sulit makan dengan alasan-alasan tidak masuk akal!"
"Ia bisa tetap sehat saja itu karena vitamin ini!" Kemudian ia mengeluarkan sekantong darah yang langsung di ambil oleh si Dokter.
"... Ini vitamin?... Tapi kok di simpan di bungkus yang mirip kantong darah!?"
"Ya... Saya tidak bisa jelaskan lebih rinci tapi itu memang di desain seperti itu!".
"Bentuk dan teksturnya sangat mirip dengan darah tapi bahkan-bahannya itu terdiri dari sari buah, vitamin dan lain sebagainya!".
"Dan kalau di makan itu akan lebih terasa seperti strawberry karena memang ada campurannya di sana!".
'Walah. Jadi ini darah yang pernah di bicarakan Ketua Kelas ya.'
'Yah. Aku juga sudah menebaknya sih kalau itu vitamin dan bukan darah asli.'