Novel ini menceritakan kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang bernama Syajia, nama panggilanya Jia.
Seorang perempuan yang sangat sederhana ini mampu menarik perhatian seorang laki-laki dari anak ketua yayasan di kampusnya dan seorang pemilik kafe tempat ia bekerja.
Tentu keduanya mempunyai cara tersendiri untuk bisa mendapatkan Jia. Namun Jia sudah terlanjur menaruh hatinya pada anak ketua yayasan itu.
Sayangnya perjalanan cinta tidak selalu lurus dan mulus. Banyak sekali lika-liku bahkan jalan yang sangat curam dalam kisah cinta Jia.
Apakah Jia mampu melewati Kisah Perjalanan Cinta nya? Dan siapakah yang akan mendapatkan Jia seutuhnya? Ikuti terus kisahnya di dalam novel ini yang mampu membawamu terjun kedalam Kisah Perjalanan Cinta Syajia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Geamul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Bersalah
“Jia, seharusnya kamu jangan cuekin Al gitu aja,” tegur Nana.
“Ya itu salah dia sendiri Na, aku cuma mau bikin dia ngerti aja,” bela Jia.
“Tapi sebaiknya kamu jangan terlalu cuek deh, salama ini kan dia juga udah baik sama kamu,” Nana berusaha meluluhkan hati Jia.
Namun sayangnya Jia tetap dalam pendiriannya. Ia masih terus bersikap cuek pada Al dan tak mempedulikannya lagi.
Selama ini pun Al selalu meminta pertolonngan pada Nana agar bisa membujuk Jia untuk memaafkannya.
“Aku udah usahain Al, tapi dia tetep sama pendiriannya. Sorry ya, aku gak bisa apa-apa lagi. Kayaknya kamu harus berusaha sendiri deh Al” ucap Nana pada Al.
“Oke, kalau gitu makasih sebelumnya,” sahut Al. Lalu ia pergi dengan wajah kecewa.
Entah apa yang Al rencanakan. Yang jelas, ia tidak akan menjauh dari Jia begitu saja. Ia akan terus mendekati Jia hingga bisa mendapatkan hati Jia.
***
Sudah satu minggu Jia tidak melihat Al, tepatnya Al tidak masuk kuliah selama itu. Entah kenapa hatinya terasa ada yang salah. Entah kenapa Jia merasa bersalah akan sikapnya terhadap Al, sehingga membuatnya tidak masuk kelas. apa iya ini gara-gara Jia?
Jia terus melamun memikirkan hal itu.
Seharusnya Jia mendengarkan perkataan Nana, sebaiknya ia jangan terlalu bersikap seperti itu pada Al sehingga bisa membuat Al sangat tersinggung. Apa cowok seperti Al bisa tersinggung? Jia kira dia orang yang sama sekali tidak mempedulikan orang lain. Penampilan sendirinya saja tidak dipedulikan, apalagi pada orang lain.
Tetapi, Jia merasa lebih tenang karena tidak ada yang mengganggunya. Namun, di dalam hari-harinya terselip kehampaan yang entah kenapa Jia selalu merasakan hal itu. Seakan dirinya kehilangan semangat dalam hari-harinya. Seharusnya ia sangat lega karena Al tidak lagi mengganggu dan membuat masalah.
“Ji, kamu kenapa sih bengong terus?” Nana mengagetkannya.
“Eh, enggak Na. aku gakpapa kok,” Jia mengalihkan lamunannya.
“Pasti lagi mikirin Al ya?” Nana begitu hafal dengan perasaan sahabatnya.
Jia mengangguk pelan, “Kenapa dia belum masuk kuliah juga ya? aku jadi merasa bersalah deh, takutnya dia gak masuk gara-gara aku,” ucap Jia khawatir.
“Mungkin Al sakit atau lagi ada acara. Lagian, menurutku kayaknya Al bukan orang yang suka menyalahkan orang lain. Apalagi ini sama kamu, orang yang dia suka,” Nana terkikik menggoda Jia.
“Apaan sih Na, kamu kan tahu aku benci sama dia.”
“Jangan bilang benci, nanti jadi cinta loh. Hati-hati ya! aku gak akan tanggung jawab,” Nana tertawa puas meledek Jia.
“Udahlah Na, jangan bikin aku kesel. Nanti kita belajar bareng di kafe ya, udah lama gak main kesana,” Jia mengalihkan pembicaraannya.
“Sorry deh. Oke, nanti aku kasih tahu Bima.”
***
Flashback. Satu minggu yang lalu.
Bima menemui Al yang sedang bermain sepak bola di lapangan dan tanpa aba-aba, pukulan Bima mendarat di pipi Al. Ia memberitahu bahwa Cantika sudah mengganggu Jia gara-gara Al. Bima mengancam Al untuk tidak mendekati Jia lagi, karena kalau tidak, Jia akan diganggu lagi oleh Cantika dan gengnya.
“Lo ngerti kan, apa yang gue bilang? Jadi, jangan sampai lo bikin masalah lagi!” tegas Bima.
Al hanya mengagguk dan terpaku mendengar perkataan Bima. Ia merasa sangat bersalah dengan apa yang telah diperbuatnya sehingga Jia menjadi menderita seperti itu. Seharusnya ia bisa menyadari bahwa Cantika cewek yang sangat licik, yang bisa melakukan apa saja.
Al pun langsung menemui Cantika dan memarahinya, sehingga Cantika tak berani lagi menyakiti Jia dan mendekati Al. Dan Cantika di paksa untuk meminta maaf pada Jia atas perbuatannya.
“Lo jangan berpikir bahwa gue tahu semua ini dari Jia, tapi gue punya mata-mata,” ucap Al merasa geram, “Dan lo harus minta maaf secepatnya. Karena kalau tidak, lihat dan tunggu aja akibatnya,” sambung Al lalu beranjak pergi.
“Sial! Kenapa sih dia harus tahu?” kesal Cantika. Cantika pun tak habis pikir kenapa Al lebih memilih Jia dari pada dirinya. Dan kedua temannya berusaha menenangkan Cantika.
***
Saat tiba di parkiran kafe, Jia melihat Al sedang bersama seorang perempuan yang sama saat Jia melihat mereka di kantin kampus. Keduanya keluar dari pintu kafe, Jia pun terus memperhatikannya sampai mereka menaiki mobil.
Jia sangat menyesal, seharusnya ia tak usah menghkawatirkan Al. Tentu laki-laki itu mempunyai dunianya sendiri dan bukan hanya tentang Jia. Tapi, kenapa Al selalu saja datang ke dalam pikirannya. Jia benar-benar sangat dirugikan.
Setelah Al dan perempuan itu pergi, tak lama kemudian Bima datang menghampiri Jia dan Nana.
“Kalian belum masuk?” tanya Bima.
“Kita baru sampe kok, yuk kita masuk!” ajak Nana. Jia pun hanya mengikuti kedua temannya.
Bisa-bisanya Jia terus memikirkan Al lagi. Siapa sebenarnya perempuan itu? Dan kenapa selama satu minggu ini Al tidak masuk kuliah? Pikirannya melayang, tak memperhatikan Bima yang sedang menjelaskan materi.
Keesokan hari.
Akhirnya Al pun masuk kuliah juga. Penampilannya masih tetap sama. Namun, dia kelihatan sangat tak bersemangat. Al yang biasanya selalu mengganggu Jia, hari ini ia sama sekali tak seperti dulu. Dia sedikit pendiam, dan selalu duduk lalu tertidur di kursinya.
Jia pun merasa aneh dengan Al. Apa benar sikap Al berubah karena Jia? Kalau memang benar, ia harus bagaimana? Meminta maaf? Sungguh ia sangat gengsi melakukan hal itu.
Ketika Jia akan pergi ke kantin, ia tak sengaja berpaspasan dengan Al dan keduanya hampir saling menabrak. Al hanya bersikap diam saja sembari menundukan wajahnya. Dan Jia sangat kebingungan harus berkata apa. Jia pun memberanikan diri untuk berbicara terlebih dahulu.
“Maaf, aku gak sengaja,” ucap Jia terlihat kaku.
Al tetap diam, ia tak menjawab ucapan Jia. Jia menafsirkan bahwa sikap Al benar-benar berubah. Ia pun sedikit agak kucel dari sebelumnya, dibagian dekat matanya terlihat lebam, seperti memar karena pukulan.
Ada apa sebenarnya dengan Al? Apa dia berkelahi? Beribu pertanyaan bermekaran dikepala Jia. Namun, ia tak berani untuk menayakannya. Al pun masih tertunduk dan terdiam.
Dengan langkah berat Jia meninggalkan Al yang masih tetap berdiam ditempat. Sebenarnya, ia ingin sekali menanyakan kabarnya. Apakah ada hal yang membuat dia seperti itu? Atau, apakah semua ini gara-gara Jia? Semuanya semakin terasa rumit adanya.
***
Saat di kantin.
“Na, barusan aku ketemu sama Al. Wajahnya kayak lebam gitu, kamu tahu gak kenapa?”
“Lebam? Aku gak tahu Ji,” reaksi Nana kebingungan.
“Iya Na, tadi aku lihat jelas banget,” Jia terlihat khawatir.
“Kenapa kamu gak tanya langsung aja Ji?”
“Em, aku gak ...” perkataan Jia tersekat. Nana pun langsung menyambar.
“Kamu masih cuekin dia?” tegur Nana.
“Bukannya gitu Na. Tapi, sikap Al gak seperti Al yang dulu.”
Jia menceritakan semua perubahan sikap Al pada Nana. mereka pun benar-benar kebingungan dengan sikap Al.