NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Petani Kecil yang Bahagia

Xiao An berpikir keras. Ini adalah kesempatan emas. Dia tidak lagi terkurung di rumah sakit, dan dia punya sumber daya. Dia harus memanfaatkan ini sebaik mungkin. "Mandiri pangan," gumamnya, menetapkan itu sebagai prioritas utama. Mengingat ini musim semi, waktu yang tepat untuk bercocok tanam. Semoga saja ini masih awal musim, pikirnya.

Dengan tekad bulat, dia menyambar beberapa benih dari rak – mungkin benih sayuran yang paling mudah tumbuh seperti bayam atau lobak. Lalu, dia mengambil cangkul yang paling ringan dan tampak paling nyaman di tangannya. Sudah saatnya Gembala Kecil ini menjadi Petani Kecil juga.

Beberapa cangkulan berlalu, dan Xiao An sudah merasakan otot-ototnya menjerit protes. Keringat menetes deras dari dahinya, mengalir membasahi pelipis dan lehernya. Bajunya yang tadi pagi masih terasa kering kini sudah mulai basah oleh keringat, menempel di punggungnya. Napasnya terengah-engah, dan tangannya terasa pegal.

Namun, alih-alih merasa mengeluh atau ingin menyerah, sebuah senyum lebar justru terukir di wajahnya. Senyum itu bukan senyum paksaan, melainkan senyum puas, tulus, dan penuh makna. Rasa capek yang melandanya ini adalah jenis capek yang berbeda, capek yang terasa membahagiakan.

"Inilah rasanya memiliki tubuh yang sehat dan bugar?" gumam Xiao An pada dirinya sendiri, di antara napas-napas beratnya.

Dulu, kelelahan baginya adalah pertanda buruk, alarm bahaya bahwa tubuhnya kembali menyerah pada penyakit. Kelelahan berarti nyeri, demam, dan kembali terperangkap dalam selimut tebal rumah sakit.

Tapi sekarang, kelelahan ini terasa seperti medali, bukti bahwa tubuhnya berfungsi, bahwa ia hidup, bahwa ia bisa berkeringat dan lelah karena bekerja, bukan karena sakit. Setiap tetes keringat adalah penanda kebebasan dan kehidupan yang telah ia dapatkan kembali.

Xiao An terus mencangkul, tak peduli pada keringat yang mengucur deras atau otot-ototnya yang mulai pegal. Dia bekerja tanpa henti, hingga matahari telah terik tepat di atas kepalanya, memancarkan panas yang menyengat. Akhirnya, dengan napas terengah-engah, dia meletakkan cangkulnya.

Dia berjalan gontai, kemudian merebahkan diri pada batang pohon besar di samping telaga kecil yang meneduhkan. Napasnya masih memburu, namun senyum puas tak lekang dari wajahnya saat memandangi lahan yang baru dicangkul itu.

Di depannya terhampar lahan yang baru dicangkul, dengan barisan-barisan benih yang telah ia tanam. Xiao An berhasil menanam berbagai jenis tanaman: jagung, kentang, tomat, mentimun, lobak, bawang, cabe, dan beragam sayuran lainnya.

Bentuknya jauh dari kata rapi atau sempurna. Ada barisan yang miring, ada gundukan tanah yang tak rata, dan beberapa bibit mungkin tertanam terlalu dekat. Ini adalah pekerjaan pertamanya, jauh dari standar petani profesional.

Namun, Xiao An sudah sangat puas. Dia menatap hasil kerjanya dengan bangga. Ini adalah bukti nyata bahwa tubuhnya sehat, bahwa dia bisa berkarya, dan bahwa dia tidak lagi menjadi tawanan penyakit. Rasa lelahnya sebanding dengan kebahagiaan yang meluap. Dia telah menanam benih harapan untuk masa depan pangannya sendiri.

Sambil merebahkan diri di bawah pohon, memandangi lahannya yang baru digarap, mata Xiao An jatuh pada telaga yang berkilauan di dekatnya. Sebuah ide baru melintas di benaknya.

"Cukup luas untuk memelihara beberapa ikan," pikirnya.

Ya, memelihara beberapa ikan di masa depan akan sangat bagus untuk sumber protein, dan pastinya jauh lebih menarik daripada hanya mengandalkan sayuran.

Lalu, pandangannya beralih ke seluruh luasnya peternakan. Jika sudah punya domba dan kebun, kenapa tidak sekalian? Menambahkan beberapa ayam mungkin juga hal yang baik. Telur dan daging ayam pasti akan sangat membantu memenuhi kebutuhan pangannya.

Namun, ketika pikirannya sampai pada domba-domba putihnya yang sedang merumput damai, Xiao An langsung membuang ide untuk mengonsumsinya jauh-jauh. Itu tidak mungkin! Mengingat dia memiliki gelar Gembala Kecil, bagaimana bisa seorang gembala tanpa domba? Itu seperti mengkhianati gelarnya sendiri.

Domba-domba itu adalah aset hidupnya, teman-temannya di lahan ini, bukan sekadar makanan. Ia akan menjaga mereka.

Adapun sapi besar dan berotot di samping kandang, Xiao An segera membuang jauh idenya. Dia membayangkan dirinya berusaha menyeret sapi raksasa itu ke meja jagal, dan segera menggelengkan kepala. Mustahil!

Xiao An tersenyum kecil. Masa depannya di sini, sebagai Gembala sekaligus Petani, tampak semakin menarik. Rencana-rencana kecil mulai bermunculan di benaknya, mengisi hari-harinya yang kini terasa begitu hidup dan bebas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!