Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing
Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.
Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.
Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.
Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.
Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Niat Buruk Pendeta
Beberapa hari kemudian...
Hari yang sudah lama ditunggu akhirnya tiba.
Dua orang pendeta tingkat menengah datang berkunjung ke kediaman keluarga Swan. Tujuan mereka datang yakni hanya satu, yaitu memeriksa kondisi Alexia yang terluka.
Penjaga pintu membiarkan para pendeta masuk setelah mereka melewati prosedur yang ditetapkan. Para pelayan juga mengantarkan mereka berdua menuju kamar Alexia.
Saat menelusuri lorong, mereka membuka percakapan.
"Bagaimana situasinya?" tanya salah satu pendeta yang memegang sebuah buku. "Apa kamu sudah menemukan jejak dari mata-mata kita yang menghilang tiga hari lalu?"
Dan identitas salah satu dari pelayan itu adalah Siria.
Dia menggelengkan kepalanya tanpa menoleh.
"Tidak ada petunjuk." balasnya dengan acuh tak acuh.
Mendengarnya bicara santai membuat orang lain kesal.
"Tunjukkan rasa hormatmu!" sahut pendeta yang berjalan di belakangnya dengan tatapan sinis. "Ingatlah, adikmu masih ada di tangan kami. Kau pasti tahu apa yang akan terjadi kalau berkhianat, 'kan? Jadi, perbaiki sikapmu itu!"
Siria mengepalkan tangannya, ingin meninju pendeta itu, tapi dia menahan diri agar rencananya tidak berantakan.
'Aku harus menahan hinaan ini sedikit lebih lama lagi ...'
Itulah yang dipikirkan Siria selagi mengontrol emosinya.
"Cari tahu kenapa mereka menghilang! Jika kita gagal di sini, maka kita pasti akan mendapatkan banyak keluhan dari petinggi. Dan kondisi terburuknya, kita semua mati."
"Ya, aku tahu itu." jawabnya dengan nada tidak berdaya.
Setelah melewati beberapa bangunan, mereka akhirnya tiba di depan pintu kamar Alexia. Siria tanpa basa-basi mengetuk pintu dan mengatakan tujuannya berkunjung.
Tok tok tok
"Nona Alexia, pendeta dari gereja cahaya datang untuk memeriksa kondisi anda. Apa anda berkenan?" katanya.
Alexia yang ada di dalam pun menjawab, "Ya, masuklah."
Suaranya terdengar lirih dan penuh dengan kesakitan.
Setelah mendapatkan jawaban, Siria membuka pintunya.
"Silahkan, saya akan menunggu anda di luar pintu. Jika anda membutuhkan sesuatu, jangan ragu panggil saya."
Tanpa curiga, dua pendeta itu masuk ke dalam kamar.
Dan pemandangan yang mereka lihat saat pertama kali masuk adalah Alexia yang terbaring lemas di atas kasur.
Wajahnya lesu dan kulitnya pucat seperti mayat hidup.
Matanya yang merah juga mulai kehilangan cahayanya.
"Maaf karena tidak bisa menyambut kalian dengan baik."
Cough!
Alexia batuk dan berkata, "S-seperti yang anda lihat, saya tidak sedang dalam kondisi sehat untuk menyapa kalian."
Kedua pendeta itu pun berjalan menghampiri Alexia.
"Itu bukan masalah besar, putri Alexia. Saya tahu kondisi anda tidak sehat, jadi tidak perlu memaksakan diri." balas pendeta yang membawa buku dengan ramah dan sopan.
"Benar seperti yang dikatakan oleh pendeta Harley," sahut pendeta lain yang berdiri di sebelahnya. "Anda tidak perlu memaksakan diri, karena kami ke sini untuk memberikan anda perawatan. Jadi, anda tidak perlu segan pada kami."
Keduanya tersenyum tanpa terlihat mencurigakan.
Ada samar-samar aroma daun barley yang menyengat di udara, yang membuat kedua pendeta gereja menurunkan kewaspadaannya. Apalagi, mereka bisa merasakan kalau energi kehidupan Alexia semakin lama semakin menipis.
"Sepertinya firasat tuan salah." bisik pendeta Harley pada pendeta yang bernama Grast. "Siria melakukan tugasnya dengan baik. Tidak mungkin dia akan mengkhianati kita."
Apa yang dikatakan oleh pendeta Harley tidak salah.
Namun, pendeta Grast punya pemikiran yang berbeda.
"Seseorang tidak akan berkhianat selama mereka belum menemukan alasan. Lebih baik kita berhati-hati daripada menanggung masalah yang besar." ucap pendeta Grast.
Berhati-hati sebelum melihat sesuatu yang sudah pasti.
Itulah prinsip yang dipegang oleh pendeta Grast.
'Selain itu ...' batin pendeta Grast sambil menatap ke arah Alexia. 'Entah kenapa aku punya firasat buruk tentang ini.'
"Pendeta, kapan perawatannya akan dimulai?"
Alexia yang tiba-tiba berbicara membuat mereka panik.
"A-ah... iya, maaf. Pendeta Harley, kapan kita akan mulai?"
"K-kalau begitu, mari kita mulai saja perawatannya." ucap pendeta Harley sambil memberikan sebuah kotak hitam kecil yang berisikan berbagai macam herbal pengobatan.
"Pendeta Grast, tolong siapkan obat untuk putri Alexia."
"Baik, pendeta Harley." balasnya sambil mengangguk.
Pendeta yang bernama Harley membuka buku yang dia pegang di tangannya dan membacakan sebuah mantra.
Di sisi lain, pendeta Grast sibuk menyiapkan obatnya.
【 Holy Magic 3–star : Cure Heal 】
Proses penyembuhan pun dimulai.
Gelembung kecil yang bersinar putih muncul dan masuk ke dalam tubuh Alexia secara perlahan. Rasanya hangat hingga membuat Alexia merasa sedang berada di sauna.
Tak ada kejanggalan maupun keanehan saat prosesnya.
Semuanya berjalan dengan baik dan lancar.
Namun, sesuatu yang tidak diinginkan tiba-tiba terjadi.
Saat proses penyembuhan, pendeta Harley tiba-tiba saja merasakan energi asing yang masuk ke dalam tubuhnya.
Energi itu terasa bertolak belakang dengan energi suci.
"Cough! I-ini ...?!"
Dan perasaan tidak nyaman tersebut membuat pendeta Harley tiba-tiba muntah darah dan jatuh berlutut di lantai.
Tubuhnya terasa kaku dan sihir suci tidak merespon. Hal itu membuat pendeta Harley bingung dengan apa yang terjadi padanya. Apalagi, jantungnya terasa begitu sesak.
Pendeta Grast menoleh saat mendengar suara batuk.
"Pendeta Harley!" teriak pendeta Grast, panik.
Tanpa basa-basi, pendeta Grast meninggalkan apa yang dia persiapkan di meja dan menghampiri pendeta Harley.
"Ada apa? Apa yang terjadi padamu?!" tanyanya, bingung.
Saat melihat tangan pendeta Harley yang melepuh dan berwarna hitam seperti terbakar oleh api, pendeta Grast langsung mengerutkan dahinya, merasa ada yang aneh.
'Lukanya tampak tidak normal.' pikir pendeta Grast.
"Bagaimana kau bisa berada dalam kondisi seperti ini?"
Pendeta Harley mengertakkan giginya dan berkata,
"Berhenti bertanya dan berikan aku sihir penyembuhan!"
"B-baiklah." jawabnya sambil mengulurkan tangan.
【 Holy Magic 2–star : Healing Light 】
Pada saat dua pendeta itu panik, Alexia yang terbaring di kasur tersenyum tipis. Dengan gerakan jarinya, Mana di udara bergerak dan membuat lukanya makin memburuk.
Daripada memburuk, lukanya menjadi semakin parah.
"K-kenapa lukanya tidak mau sembuh?!"
"Apa yang kau lakukan?!" pendeta Harley marah. "Kenapa lukanya tidak juga membaik dan malah jadi lebih parah?!"
Pendeta Grast menggelengkan kepalanya dengan panik.
"A-aku tidak tahu... ini situasi yang sangat aneh."
Dan di saat itulah, Alexia berhenti untuk berpura-pura.
"Tentu saja tidak akan mudah, bagaimana mungkin luka yang disebabkan sihir bisa begitu mudah disembuhkan dengan sihir suci?" kata Alexia sembari turun dari kasur.
Dua pendeta itu mendongak dan terkejut melihat Alexia bangun. Keadaannya yang tadi lemas dan tidak berdaya, seolah-olah hanya ilusi biasa yang menipu mata mereka.
Kebingungan, terkejut dan ketakutan mereka bercampur.
"K-kenapa kamu bisa bangun? Dan juga, apa maksudmu dengan tidak mudah disembuhkan dengan sihir suci ...?"
Alexia membuka selimutnya dan meraih pedang panjang yang dia dapatkan dari Siria sebelumnya. Setelah pedang itu dicabut, bilahnya langsung dihunuskan pada mereka.
"Ini bukan giliran kalian untuk bertanya, jadi diamlah!"
Alexia mengerutkan alisnya dan berkata, "Ini sama sekali tidak terduga. Siapa sangka, pendeta gereja cahaya yang biasanya berpihak pada kebaikan melakukan hal tercela."
Mereka berdua mengernyit, tidak dapat membantahnya.
"P-putri Alexia, apa ada semacam kesalahanpahaman?"
Pendeta Grast dengan panik mencari sebuah alasan.
"K-kami benar-benar tidak tahu apa yang sedang anda—"
Slash!
Belum menyelesaikan kalimatnya, pedang melayang dan langsung memotong tangan pendeta Grast. Gerakannya sangat cepat hingga dia sendiri tidak merasakan apapun.
"Bukankah aku tadi sudah menyuruhmu untuk diam?!"
Pendeta Grast menatap tangannya yang buntung hingga darah berceceran di lantai. Rasa sakit yang membakar di tangan langsung membuatnya berteriak sekuat tenaga.
"AHHHHH! Tanganku ...!"
Teriaknya begitu keras hingga memekakkan telinga.
"Tanganku... tanganku ...!" kata pendeta Grast dengan air mata yang mengalir di pipinya sambil merintih kesakitan.
Dengan kebencian besar, pendeta Grast pun berkata,
"Padahal kau akan mati sebentar lagi, tapi beraninya kau memotong tanganku! Dasar hama kotor keluarga Swan!"
"H-hei!" pendeta Harley berusaha tuk menghentikannya.
Alexia pun tersenyum. "Jadi itu tujuanmu datang ke sini."
"Ah ...!" celetuk pendeta Grast, menyesal mengatakannya.
Apa yang akan dilakukan Alexia pada kedua pendeta itu?