Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Saat Arnold masih di luar, tanpa sadar tangan Alia bergerak. Tidak lama setelah Arnold menenangkan diri, ia berniat kembali ke ruangan Alia. Namun, sebelum sempat masuk, dirinya dipanggil oleh anggota osis.
Akhirnya, Arnold memilih pergi sebentar karena ada urusan sekolah yang tidak bisa ia tinggalkan. Maklum, Arnold adalah ketua OSIS sekaligus siswa berprestasi di sekolah. Siapa yang berani menghukum Arnold—pria idaman di sekolah sekaligus incaran semua wanita. Alia termasuk salah satu wanita beruntung yang dipedulikan Arnold.
---
Arnold di Ruangan OSIS
“Kak Arnold, jadi gini… Untuk pensi yang akan diselenggarakan dua minggu lagi, semuanya sudah dipastikan tidak ada masalah. Cuma, untuk lomba talent-nya belum ada peserta yang mendaftar, Kak. Ini gimana ya, solusinya?”
Arnold, yang masih memikirkan Alia, sama sekali tidak memerhatikan kata-kata anggotanya. Baginya, apa yang dibicarakan saat itu terasa tidak penting.
Para anggota hanya terdiam dan duduk, tapi mereka bisa menebak kalau ketua mereka sedang tidak fokus.
Arnold mencoba tetap adil kepada anggotanya yang membutuhkan saran. Akhirnya ia berkata,
“Soal ini akan saya pikirkan dulu. Tapi nanti, kalau kalian ada ide atau apa pun, boleh dibicarakan di grup. Mungkin sekarang kalian belum punya ide atau lagi buntu, nggak apa-apa. Nanti kita diskusikan bersama, ya. Kalau begitu, saya keluar dulu. Makasih.”
Para anggota tidak mungkin merasa kecewa pada Arnold. Bagaimanapun, tugas ketua jauh lebih berat daripada tugas anggota. Mereka juga mengerti kalau ketua mereka sedang tidak dalam posisi yang enak untuk diajak bicara.
Lebih baik Arnold berbicara dengan tenang seperti tadi, daripada pergi begitu saja dan meninggalkan tanggung jawab. Setidaknya, ia sudah berusaha meluangkan waktu untuk membicarakan masalah OSIS—dan itu adalah bentuk apresiasi yang sangat dihargai oleh anggotanya.
---
Arnold kembali ke ruangan Alia untuk mengecek keadaannya. Bagaimanapun, apa yang terjadi sebelumnya adalah kesalahannya juga.
Saat masuk, Arnold kaget karena tidak melihat Alia. Ia mencari-cari, dan tidak lama kemudian dokter datang menghampirinya.
“Loh, kok kamu di sini? Dokter kira kamu nganterin Alia… Ternyata nggak sama kamu, ya? Terus, Alia pulang sama siapa kalau bukan sama kamu? Apa sama keluarganya? Dan keluarganya udah tahu kondisinya? Apa kamu sudah bicara pada keluarganya tadi?”
Salah satu sifat Arnold adalah tidak membicarakan soal kesehatan seseorang kepada orang tuanya. Padahal, seharusnya ia mengabarkan kondisi Alia agar kedua orang tuanya tidak khawatir.
Rasa kecewa pun timbul. Arnold bingung, apa yang harus ia lakukan kalau seandainya Alia bercerita pada orang tuanya, lalu mereka membencinya?
---
Sampai di Rumah Alia
Mama hanya menatap Alia dengan tatapan dingin, namun Alia tetap mencoba bersikap manja.
“Mama, kenapa sih? Kayaknya kesel banget sama Alia.”
“Gimana nggak kesel? Bisa-bisanya tiba-tiba pingsan. Udah pingsan, nggak kasih tahu Mama lagi. Kamu itu mikirin apa sih, sampai nggak mau kasih tahu Mama? Emangnya kamu kira Mama bakal tahu sendiri kalau kamu tiba-tiba pingsan di sekolah? Untung ada teman kamu yang baik, nganterin kamu ke UKS. Kalau nggak, nasib kamu gimana?”
Seketika, Alia berpikir. Siapa yang nganterin aku ke UKS? Jangan-jangan Arnold? Tapi ia ragu—cowok sedingin Arnold rasanya tidak mungkin melakukan itu.
“Ya udah deh, Mama udah capek ngomel. Tapi Mama harap, Papa kamu jangan sampai tahu. Kalau dia tahu, pasti marah sama kamu. Lebih baik dia nggak usah tahu. Sekarang kamu istirahat, mandi, habis itu kita makan bareng, ya.”
“Baik, Mama sayang. Aku sayang Mama.”
“Ya, Mama juga sayang kamu, Nak.”
Alia pergi ke kamarnya dan bersiap mandi. Tidak lama, HP-nya berdering— dari Arnold yang menelepon.
Namun, telepon itu tidak ia jawab karena ia sudah berada di kamar mandi. Suara percikan air membuatnya tidak mendengar apa-apa dari luar.
Arnold semakin khawatir dengan kondisi Alia. Ingin rasanya ia langsung ke rumah Alia, tetapi ia tidak tahu alamatnya. Akhirnya, ia memilih menunggu kabar.
---
Setelah Mandi
Alia selesai memakai baju, lalu mengambil HP. Ia kaget melihat ada notifikasi pesan dari Arnold. Jantungnya berdegup kencang, dan ia bingung harus berbuat apa. Ia menarik napas pelan-pelan, lalu membukanya.
Arnold:
“Gimana keadaan lu? Udah membaik belum? Maaf ya, pas lu sadar gue nggak ada di samping lu. Sebenarnya gue dari tadi nungguin, tapi karena ada urusan mendadak di OSIS, jadinya gue harus pergi sebentar.”
Alia:
“Gue baik-baik aja kok. Makasih ya udah nganterin gue ke UKS. Tadi gue nggak tahu siapa yang nganterin. Pas tahu ternyata itu lu, gue berterima kasih banget. Bersyukur banget orang itu ternyata lu.”
Arnold sampai memerah pipinya saat membaca balasan itu, membuatnya sulit berkata-kata.
Arnold:
“Udah seharusnya aku membantu calon istri aku sendiri, betul?”
Alia yang mendengar kalimat itu langsung tersipu malu. Dalam hati, ia ingin buru-buru menikah dengan Arnold.
---
Tok… tok… tok…
Alia tidak sadar pintunya diketuk. Tiba-tiba, Mama langsung masuk tanpa berpikir panjang.
Alia spontan kaget.
“Ya ampun, Mama! Ngagetin aja. Mama mau bikin aku lemah jantung apa gimana, sih? Nggak bisa gitu ketuk pintu dulu? Kalau aku lagi pakai baju gimana? Malu, kan?”
“Halo, anak Mama yang paling cantik. Mama itu udah ketuk pintu dari tadi, sebelas kali! Kamunya aja yang nggak buka.”
Alia hanya menggeleng, lalu menyampingkan ponselnya. Ia tahu, kalau Mama masuk ke kamarnya pasti ada yang mau dibicarakan.
“Mama, ada apa ke sini? Pasti mau bicara sesuatu, kan? Udah, bilang aja. Aku tahu kalau Mama datang ke kamar aku berdua doang, pasti ada topik serius. Bilang sekarang, biar nanti malam aku nggak mimpi buruk gara-gara penasaran.”
“Iya, bawel. Ini juga Mama mau cerita. Kenapa sih kamu bawel banget? Kayaknya makin dewasa, makin bawel. Siapa sih yang ngajarin kamu bawel? Dulu waktu kecil, kamu pendiam, deh. Bahkan waktu di perut Mama, kamu nggak pernah gerak-gerak kayak anak lain. Tapi kenapa pas gede malah bawel banget? Sampai Mama merasa, jangan-jangan anak Mama ketukar di rumah sakit dulu.”
“Ih, kok bicaranya gitu sih? Kan aku jadi sedih kalau Mama ngomong begitu. Tapi beneran, emang aku anak Mama, bukan? Kalau misalkan aku bukan anak Mama, gimana? Mama tetap sayang aku nggak? Dan kalau seandainya Mama ketemu sama anak kandung Mama, Mama bakal buang aku dong?”
“Kamu bicara apa sih? Orang Mama cuma bercanda doang. Lagian, mana mungkin anak secantik kamu bukan anak Mama. Kalau kamu bukan anak Mama, terus siapa lagi anak Mama?”
Alia mencoba tersenyum dengan apa yang Mamanya bicarakan; mungkin Mamanya kalau berbicara terlalu spontan, tetapi Alia tahu kalau dirinya adalah anak Mamanya.