Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .
_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Jihan yang tidak tega melihat putri kesayangannya menangis langsung mengelus punggung Jenita dan menatap Faas dengan tatapan menghunus.
"Mas Husen, ini keterlaluan!" bela Jihan dengan suara tinggi pada suaminya. "Jenita ke club itu bukan karena mau nakal. Dia diundang temannya yang sedang ulang tahun, dipaksa untuk datang. Sebagai anak muda, wajar kalau dia tidak enak untuk menolak. Lagian ini pertama kalinya Jenita ke club, Tapi si Faas ini? Tiba-tiba datang seperti orang kesurupan dan mempermalukan adiknya sendiri!"
Gavin yang biasanya selalu ikut menyudutkan Faas, kali ini memilih diam. Sebagai Direktur Utama yang sedang menjaga citra perusahaan, ia tahu betul bahwa tindakan Jenita yang mabuk-mabukan di club malam saat menjelang kelulusan bisa menjadi skandal buruk bagi Husen Property Group jika tercium media.
Brakkk!...
Husen menggebrak meja makan dengan keras.
"Cukup, Jihan! Jangan kau bela terus anakmu yang salah!" bentak Husen tegas. Husen menatap Jenita dengan pandangan tajam. "Bagaimanapun juga, apa yang kamu lakukan itu memalukan! Benar apa yang dilakukan Faas. Kalau berita kamu mabuk-mabukan sampai keluar, saham perusahaan Papa bisa anjlok!".
"Tapi Jeni tidak ikut mabuk pah!" protes Jenita dengan suara parau.
Gavin ikut mendengus, menatap adiknya dengan dingin. "Kali ini Papa benar, Jen. Kamu itu kekanak-kanakan. Tapi..." Gavin mengalihkan pandangan sinisnya kepada Faas. "Cara kamu juga salah, kak Faas. Kamu tidak punya otak atau bagaimana? Datang menjemput anak perempuan keluarga Abrari menggunakan mobil sedan tua murahan itu?"
Mendengar hal itu, tangisan Jenita semakin histeris. "Itu dia, Pa! Itu yang bikin Jenita paling malu! Teman-teman Jenita, anak-anak konglomerat semua, mereka melihat Jenita diseret masuk ke dalam mobil rongsokan itu! Mereka bertanya-tanya, siapa laki-laki miskin itu? Pekerjaannya apa?"
Jenita menatap Faas dengan kejengkelan yang amat sangat. "Karena Jenita tidak mau menanggung malu punya kakak pengangguran yang tidak berguna seperti kamu, terpaksa Jenita berbohong! Jenita bilang ke mereka kalau kamu itu baru pulang dari Amerika karena memimpin anak cabang Abrari Group di sana! Kamu harusnya tahu diri, Kak ! Harga diri Jenita hampir hancur karena penampilan gembelmu itu!"
Di tengah badai makian, air mata egois, dan tatapan merendahkan dari ibu tiri serta adik-adik nya, Faas tetap bergeming.
Ia meletakkan cangkir kopi nya dengan ketukan yang sangat pelan. Wajahnya yang tampan dengan garis Arab Saudi yang tegas tidak menunjukkan riak emosi sedikit pun. Kilatan di matanya begitu tenang, namun jika ada agen Sektor 7 lain di sana, mereka akan tahu bahwa ketenangan Faas adalah jenis ketenangan sebelum badai menghancurkan segalanya.
Bagi Faas, makian Jenita tentang mobil sedan murahan miliknya terasa sangat menggelikan. Mobil sedan hitam yang mereka sebut rongsokan itu adalah mobil modifikasi khusus Sektor 7 yang dilengkapi bodi antipeluru militer, mesin jet siluman, dan sistem radar pengacak sinyal seharga miliaran rupiah, jauh lebih mahal dari gabungan semua mobil sport milik Gavin dan Jenita.
Faas melirik jam tangannya sekilas. Alasan utama ia menjemput paksa Jenita tadi bukan karena ia peduli pada drama remaja adiknya. Sebagai mantan agen rahasia, radar informannya menangkap bahwa club yang didatangi Jenita malam ini sedang diincar oleh kepolisian atas kasus peredaran obat-obatan terlarang skala besar. Jika Faas tidak menyeret Jenita keluar sepuluh menit lebih awal, saat ini Jenita dipastikan sudah mendekam di sel tahanan bersama teman-teman sosialitanya.
Bagaimanapun juga, Jenita adalah darah daging Husen. Dia adalah adik satu ayah dengannya. Faas memiliki prinsip dan tanggung jawab moral yang besar, ia tidak akan membiarkan nama baik ibunya, Diana, ikut tercoreng hanya karena kebodohan adik tirinya.
Faas meneguk air putihnya perlahan, lalu berdiri dari kursinya. Ia menatap Husen dan Diana dengan hormat.
"Papa, Ibu. Faas permisi ke kamar," ucapnya dengan suara berat yang sangat tenang, sama sekali tidak menanggapi satu patah kata pun dari histeria Jenita atau sindiran Gavin.
"Faas! Kamu dengar tidak sih kalau diajak bicara?! Dasar tuli, tidak punya sopan santun!" jerit Jihan frustrasi karena diabaikan begitu saja.
Faas terus berjalan menjauh tanpa menoleh ke belakang. Baginya, singa tidak akan pernah berbalik hanya karena gonggongan rubah yang ketakutan.
Sambil melangkah menaiki tangga menuju kamarnya, Faas meraba ponsel di sakunya. Sebuah pesan dari Diki masuk,
"Tuan Malik, semua berkas persiapan untuk interview Eliza Daneswara besok pagi pukul 09.00 sudah siap di meja Anda."
Faas membaca pesan itu, dan seketika sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan misteri.
Biarlah malam ini Jenita menangis karena gengsinya yang terluka, batin Faas.
Roda takdir sedang berputar, dan keluarga Abrari sama sekali tidak menyadari bahwa mereka sedang berjalan menuju tepi jurang yang diciptakan oleh anak yang paling mereka remehkan.
_____
Di Meja sarapan, Jihan baru saja meletakkan ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Wajahnya yang semula penuh keangkuhan mendadak memucat.
"Mas... Mas Husen," panggil Jihan dengan suara bergetar, menatap suaminya yang sedang menyesap kopi hitam.
"Ada apa lagi, Jihan? Pagi-pagi sudah gelisah begitu," sahut Husen, mengerutkan kening.
Gavin yang baru saja rapi dengan setelan jas mahalnya ikut menoleh, sementara Jenita turun ke ruang makan dengan wajah yang masih ditekuk, matanya sembab karena sisa amarah semalam.
"Teman-teman Jenita... gengnya Clarissa dan anak-anak pengusaha yang semalam di club," ucap Jihan terbata-bata, melirik putrinya. "Baru saja mami Clarissa telepon. Semalam... terjadi penggerebekan besar-besaran di club itu oleh pihak kepolisian. Kasus narkoba skala besar."
Deg.
Langkah kaki Jenita langsung terhenti di anak tangga terakhir. Jantungnya serasa copot.
"Apa, Ma?!" pekik Jenita, wajahnya seketika kehilangan warna. Ia langsung menyambar ponselnya sendiri, melihat grup obrolan aplikasinya yang sudah meledak dengan ratusan pesan.
Benar saja. Berita lokal pagi ini sudah dipenuhi dengan foto-foto wajah teman-teman sosialitanya yang tertunduk lesu di kantor polisi. Meskipun teman-teman gengnya tidak terbukti mengonsumsi dan dinyatakan tidak bersalah, status mereka sebagai saksi membuat mereka harus menginap semalam di sel pemeriksaan dan baru pagi ini dijemput paksa oleh orang tua masing-masing dengan jaminan yang tidak murah. Nama keluarga mereka langsung tercoreng di media bisnis pagi ini.
Husen yang mendengar hal itu langsung meletakkan cangkir kopinya dengan keras hingga airnya sedikit tepercik. Ia menatap Jenita dengan pandangan yang mengerikan.
"Kamu lihat itu, Jenita?!" bentak Husen, suaranya menggelegar di ruang makan. "Kalau semalam Faas tidak menyeret kamu pulang, pagi ini muka kamu, muka Gavin, dan muka Papa sudah terpampang di televisi sebagai anak korporat yang tertangkap di sarang narkoba! Saham Abrari Property bisa hancur berantakan dalam waktu satu jam!"
Gavin pun terdiam, tak mampu membela adiknya lagi. Sebagai pria yang ambisius dalam bisnis, ia tahu betul bahwa Faas baru saja menyelamatkan leher mereka dari kehancuran finansial.
Di posisinya, tubuh Jenita gemetar hebat. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada kilatan rasa bersyukur yang teramat sangat. Sebuah suara kecil di hatinya berbisik mengakui bahwa kakak nya yang pendiam itu telah menyelamatkannya dari jurang kehancuran masa depan. Jika tidak ada Faas semalam, ia pasti sedang menangis di balik jeruji besi sekarang.
Namun, rasa egois dan gengsi mudanya yang setinggi langit menolak untuk tunduk. Jiwanya yang angkuh dan terbiasa menindas orang lemah tidak rela jika harus berutang budi pada seorang Faas, anak sulung yang selama ini ia cap sebagai aib dan pengangguran tidak berguna.
"Nggak! Ini pasti cuma kebetulan!" teriak Jenita histeris, menolak kenyataan. Egoisme dalam dirinya berontak. "Kak Faas semalam menjemput Jenita bukan karena dia tahu ada polisi, Pa! Dia cuma mau sok jadi pahlawan dan mempermalukan Jenita di depan teman-teman! Dia cuma beruntung aja waktunya pas!"
"Jenita! Jaga bicaramu!" tegur Diana dari atas kursi rodanya dengan suara bergetar menahan sedih melihat keangkuhan anak tirinya.