Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: HANCURNYA ISTANA YANG MEGAH
...BAB 13:...
...HANCURNYA ISTANA YANG MEGAH...
Sudah genap enam tahun berlalu sejak hari pernikahan itu.
Waktu berjalan begitu cepat. Gadis kecil yang dulu selalu menangis dan mengamuk karena tidak mau punya ibu baru, kini sudah tumbuh menjadi remaja cantik berusia tujuh belas tahun, duduk di bangku kelas dua SMA. Itu Alina. Tinggi badannya sudah hampir menyamai Kirana, wajahnya cantik menurun dari mendiang Mamanya, Ratna. Namun di balik kecantikannya, sikapnya tetap sama, bahkan semakin keras dan dingin dibandingkan enam tahun lalu.
Sementara itu, Aditya Mahendra, pria berusia 39 tahun itu, masih terlihat gagah dan berwibawa, namun garis lelah mulai terlihat jelas di wajahnya. Enam tahun menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab, enam tahun memimpin perusahaan-perusahaan besar milik keluarganya, membuat bahunya terasa semakin berat memikul beban hidup.
Di mata orang luar, keluarga mereka masih tampak sempurna. Rumah besar dan mewah, kendaraan mewah terparkir rapi di garasi, kehidupan serba berkecukupan. Namun, di dalam tembok rumah itu, ketegangan selalu terasa di udara.
Kirana tetaplah Kirana. Wanita itu tidak berubah sedikit pun. Masih sederhana, masih lembut, masih sabar bagai sungai yang mengalir meskipun dihantam batu karang setiap hari. Masih bangun subuh buta untuk menyiapkan sarapan untuk anak kandung dan anak sambungnya, masih menjahit yang lepas sampai malam, karena Karina sudah tak lagi mengajar. Maka ia mencari kesibukan dengan menjahit pakaian di rumah mewah suaminya. Ia masih berjalan kaki atau naik motor tuanya sendiri ke mana-mana, meskipun Aditya sudah berkali-kali menyuruhnya untuk memakai mobil atau supir yang tersedia.
“Bu, untuk apa Bu simpan uang nafkah Papa kalau tidak dipakai sama sekali?” sering kali Alina bertanya dengan nada sinis, sambil memandang rendah penampilan Kirana yang selalu rapi tapi masih berpenampilan seperti orang susah, tidak pernah memakai perhiasan berlebih seperti ibu-ibu teman di sekolahnya. “Mungkin Bu Kirana simpan buat dibawa mati ya? Atau Ibu simpan buat dibawa kabur sama anak Ibu sendiri, Dimas?”
Kalimat itu selalu menusuk hati Kirana, tapi ia hanya akan tersenyum tipis, menggeleng pelan, lalu pergi meninggalkan Alina tanpa membalas sepatah kata pun. Ia menyimpan semua uang nafkah yang Aditya berikan setiap bulan, dari tahun ke tahun, tidak pernah disentuh sedikit pun. Ia hidup hemat, memakai uangnya sendiri sebagai penjahit rumahan, memakai apa yang ada, dan selalu berkata cukup.
Kirana tahu, kekayaan itu tidak akan pernah abadi. Ada masanya suatu saat dalam keadaan kritis. Sejak kecil Kirana sudah tahu rasanya hidup dalam garis kemiskinan, ia pernah merasakan pahitnya hidup tanpa sepeser pun uang di saku. Maka ia menabung, bukan untuk dirinya sendiri, bukan untuk Dimas semata, tapi untuk hari yang ia takutkan akan datang. Hari di mana kemewahan ini mungkin akan lenyap dalam sekejap mata.
Dan ketakutan Kirana itu, akhirnya menjadi kenyataan pahit.
Beberapa bulan kemudian. Awalnya hanya satu perusahaan milik Aditya yang mengalami kerugian karena krisis ekonomi dan kesalahan mitra usaha. Aditya berusaha keras menambal kekurangan itu dengan aset lain, berpikir masalah itu hanya sementara. Namun ternyata, masalah itu seperti bola salju yang semakin lama semakin besar. Satu per satu usaha yang ia bangun selama belasan tahun mulai runtuh. Utang-utang besar datang menagih, investasi gagal total, nasabah besar menarik diri, dan bencana terbesar terjadi: bank melikuidasi seluruh aset milik Aditya Mahendra karena gagal bayar.
Berita itu meledak bagai petir di siang bolong. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, pria yang dulu dipanggil dengan hormat “Tuan Aditya Mahendra”, pria yang punya segalanya, tetapi kini...
Mansion mewah, tempat mereka tinggal disita dan akan dijual lelang. Mobil-mobil mewah ditarik paksa oleh kreditur. Tanah-tanah dan properti lainnya habis untuk menutupi utang yang menumpuk. Semua kemegahan, semua kemewahan yang selama ini Alina nikmati dengan bangga, lenyap dalam sekejap mata.
Hari terakhir mereka berada di rumah itu, suasana terasa begitu suram dan menyakitkan. Barang-barang pribadi sudah dikemas ke dalam kardus-kardus sederhana. Pelayan-pelayan yang dulu melayani mereka dengan hormat sudah pulang ke rumah masing-masing. Lorong-lorong luas yang dulu selalu ramai, kini kosong melompong dan dingin.
Aditya duduk di sudut ruang tamu, wajahnya pucat pasi, mata cekung, dan tubuhnya terlihat menyusut. Pria yang dulu selalu percaya diri, tegap, dan penuh kuasa itu, kini tampak seperti orang yang kehilangan seluruh nyawanya. Ia menundukkan wajah di kedua telapak tangannya, bahunya berguncang menahan tangis. Ia merasa gagal. Gagal menjadi kepala keluarga, gagal menjamin kehidupan anak dan istrinya.
Di sebelahnya, Alina berdiri gemetar. Matanya memerah, napasnya memburu, dan rasa marah bercampur ketakutan meledak di dadanya. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini. Ia tidak mau hidup susah. Ia tidak mau turun derajatnya. Ia adalah putri Tuan Aditya Mahendra, ia terbiasa hidup serba ada, serba mudah.
Dan di saat pikirannya sedang kacau balau, pandangannya jatuh pada sosok Kirana yang sedang mengangkat kardus-kardus barang ke depan pintu dengan tenang, tidak ada air mata, tidak ada teriakan, hanya ketegaran yang membuat Alina semakin marah.
“SEMUA INI SALAH KAMU!”
Teriakan Alina mengguncang seluruh ruangan kosong itu. Suaranya melengking keras, penuh kebencian yang meluap-luap.
Kirana menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan, wajahnya datar namun mata penuh kepedihan menatap anak tirinya yang sedang gemetar karena emosi.
“Alina… bicara apa kamu, Nak?” tanya Kirana pelan, suaranya parau.
“JANGAN PERNAH SEBUT AKU NAK! Aku bukan anakmu! Dan semua ini, semua keruntuhan yang Papa alami, SEMUANYA TERJADI KARNAMU!” Alina menunjuk wajah Kirana dengan kasar, air mata kemarahan membanjiri pipinya. “Kalau saja dulu Papa tidak menikahimu! Kalau Papa tidak sia-siakan mengurus kamu dan anakmu yang bodoh itu! Mungkin harta Papa tidak akan habis begini! Kamu itu pembawa sial! Kamu wanita murahan yang membawa nasib buruk ke dalam rumah kami!”
Bersambung....
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄