Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Malam itu, Raka tidak tidur.
Luka di lengannya masih berdenyut, meski salep Laras sudah meredakan rasa panasnya. Salep hijau buatan Laras itu baunya menyengat—campuran akar pahit dan daun mint liar—tapi efeknya cepat. Kulit di sekitar luka terasa kebas, memungkinkan Raka untuk fokus pada hal lain selain nyeri.
Dia duduk bersila di halaman belakang gubuk, tepat di bawah cahaya bulan yang pucat. Di depannya, gulungan Teknik Bayangan terbuka lebar. Kertas kulit tua itu terlihat rapuh di bawah sinar rembulan, goresan tintanya seolah-olah hidup, bergerak pelan mengikuti irama napasnya.
Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun pohon pisang di sisi rumah. Suaranya berdesir. Srrrt. Srrrt. Seperti bisikan orang-orang yang sedang mengintip dari balik semak.
Raka menutup mata. Mencoba melupakan rasa sakit. Melupakan suara anjing pelacak yang masih terdengar samar dari kejauhan, menggonggong pendek-pendek setiap beberapa menit. Melupakan tatapan takut Bu Siti pagi tadi yang masih membekas di memorinya seperti noda di dinding.
Dia hanya fokus pada satu hal: bayangannya sendiri.
Bayangan itu panjang, hitam pekat, menempel di tanah berdebu. Diam. Pasif. Seperti biasa. Bagi mata awam, itu hanyalah ketiadaan cahaya. Proyeksi optik yang tidak memiliki massa, tidak memiliki niat, dan tidak memiliki bahaya.
Tapi Si Tua mengajarkan hal lain.
"Jangan percaya bayangan. Tipu dia."
Kalimat itu bergema di kepala Raka. Bukan sebagai nasihat bijak, tapi sebagai perintah militer. Perintah untuk memanipulasi realitas.
Raka menarik napas dalam-dalam. Udara dingin masuk ke paru-parunya, menyegarkan pikiran yang lelah. Energi internalnya, yang kini stabil di level 3.9, mulai dialirkan. Tidak kasar seperti kemarin saat dia hampir memecahkan pembuluh darahnya sendiri. Tapi halus. Perlahan. Seperti air yang merembes ke celah-celah batu kapur.
Dia membayangkan energinya bukan sebagai aliran panas di dalam tubuh, tapi sebagai benang-benang tipis transparan yang menjulur keluar dari pori-pori kulitnya. Benang-benang itu menjalar menyusuri kakinya, menyentuh tanah, dan akhirnya... menyentuh ujung bayangannya.
Menyentuh kegelapan itu.
[!] Deteksi aktivitas energi eksternal: Sangat rendah.
[!] Stabilitas koneksi: 2%... 3%...
Notifikasi Sistem muncul sekilas di sudut pandang Raka, lalu hilang. Angka-angka itu berubah cepat, tidak stabil. Raka mengabaikannya. Dia tidak butuh angka untuk memberitahunya apakah dia berhasil atau tidak. Dia butuh sensasi fisik.
Dan dia merasakannya.
Sebuah getaran halus. Sangat halus. Seperti arus listrik statis yang menyengat ujung jarinya saat menyentuh layar kaca retak. Sensasi itu aneh. Dingin. Licin. Seolah-olah dia sedang mencoba memegang asap dengan tangan telanjang.
Bayangan di kakinya... bergerak.
Bukan bergerak jauh. Hanya berkedut. Sedikit. Seperti otot mata yang kram karena kelelahan. Ujung bayangan itu terangkat mungkin hanya setinggi satu milimeter dari tanah, lalu jatuh kembali.
Tapi itu cukup.
Raka membuka matanya. Jantungnya berdetak kencang, memompa darah ke seluruh tubuhnya dengan ritme yang cepat. Bukan karena takut. Tapi karena adrenalin murni. Campuran antara kegembiraan anak kecil yang menemukan mainan baru dan kewaspadaan prajurit yang menemukan senjata mematikan.
Dia berhasil.
Meski hanya dua atau tiga persen. Meski hanya sebuah kedutan kecil yang hampir tak terlihat. Itu adalah bukti bahwa teknik ini nyata. Bahwa dia bisa memanipulasi kegelapan. Bahwa dia tidak lagi sepenuhnya terikat oleh hukum fisika biasa.
Dia mencoba lagi. Memfokuskan pikiran. Memaksa benang energi itu lebih tebal. Lebih kuat. Mengabaikan rasa pusing yang mulai menyerang karena penggunaan energi yang belum efisien.
Bayangan itu bergetar lagi. Kali ini lebih jelas. Getarannya bertahan selama dua detik sebelum akhirnya runtuh kembali menjadi bentuk datar di tanah.
Raka menghela napas. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Masih terlalu kasar," gumamnya pada diri sendiri.
Tiba-tiba, pintu gubuk terbuka. Suara engsel kayu yang berderit memecah keheningan malam.
Laras keluar membawa selimut tebal berwarna abu-abu kusam. Wajahnya mengantuk. Matanya setengah tertutup. Rambutnya acak-acakan, terjepit asal-asalan dengan tusuk konde dari bambu. Dia terlihat seperti orang yang baru saja diseret paksa dari mimpi indah.
"Kamu masih di sini?" tanyanya. Suaranya serak, berat, khas orang yang baru bangun tidur.
Raka menoleh, sedikit terkejut. Dia tidak mendengar langkah kaki Laras mendekat. Instingnya tumpul karena kelelahan.
"Latihan," jawab Raka singkat.
Laras menghela napas panjang. Napas yang terdengar seperti keluhan keberatan atas keberadaan dunia. Dia berjalan mendekat, langkahnya menyeret di tanah berkerikil, dan melemparkan selimut itu ke bahu Raka. Selimut itu berat, hangat, dan berbau sabun cuci murah.
"Gila," gumamnya. Dia tidak langsung masuk. Sebaliknya, dia duduk di samping Raka, memeluk lututnya erat-erat. Matanya menatap api unggun yang sudah mati di dalam gubuk. "Orang normal bakal istirahat kalau habis dikeroyok tiga orang bersenjata. Orang normal bakal tidur nyenyak sambil bermimpi jadi pahlawan."
"Aku bukan orang normal," jawab Raka. Matanya kembali tertuju pada bayangannya yang kini diam lagi.
Laras mendengus. Suara yang khas. Sinis. "Jelas. Orang normal nggak punya guru monster yang nyuruh lompat tebing dan sistem aneh di kepala yang cuma bisa ngasih nilai jelek."
Raka tidak menjawab. Dia tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. Dia terlalu fokus. Bayangan itu mulai stabil lagi. Tidak lagi berkedut liar. Tapi diam, menunggu perintah. Menunggu aliran energi yang tepat.
Hening sejenak. Hanya suara angin yang semakin kencang, membawa hawa dingin dari puncak gunung di kejauhan.
"Kalau mau latihan, cepat selesai," kata Laras tiba-tiba. Suaranya datar. Tanpa emosi. Tanpa nada peduli yang berlebihan.
Raka menoleh. Ada sesuatu dalam nada suara Laras yang berbeda. Bukan sekadar keluhan. Tapi peringatan.
"Kenapa?" tanya Raka.
Laras menunjuk ke arah kegelapan di balik pagar kebun, di mana semak-semak belukar tumbuh lebat dan tak tersentuh. Jari telunjuknya lurus, tegas.
"Tadi siang ada orang mondar-mandir dekat situ. Pakai sepatu bot. Solnya tebal. Bekas tapaknya dalam. Bukan warga desa yang biasa pakai sandal jepit atau sepatu karet usang."
Jeda singkat. Laras mengambil kerikil kecil dari tanah, melemparkannya ke kegelapan itu. Kerikil itu hilang ditelan malam.
"Mereka cari jejak. Mereka tahu kamu pulang. Dan mereka tahu kamu lemah sekarang."
Raka menatap ke arah yang ditunjuk Laras. Gelap. Kosong. Tapi dia percaya. Laras jarang salah soal hal-hal praktis seperti ini. Laras adalah pemburu yang sabar. Dia memperhatikan detail yang orang lain abaikan.
"Berapa lama waktu yang aku punya?" tanya Raka. Suaranya rendah.
"Sampai matahari terbit," jawab Laras. Dia bangkit, debu menempel di celananya. Dia tidak menatap Raka. Tatapannya kosong, menatap ke arah hutan yang gelap gulita. "Besok pagi, mereka pasti balik bawa teman. Atau mungkin bawa anjing yang lebih pintar."
Dia berbalik, berjalan kembali ke pintu gubuk. Langkahnya lambat. Lelah.
"Jangan mati," katanya tanpa menoleh. "Aku males ngurus mayat. Gali kuburan itu capek. Dan tanahnya keras banget musim kemarau begini."
Pintu tertutup. Klik. Suara kunci digeser.
Raka sendirian lagi.
Dingin malam menusuk tulang, meski ada selimut tebal di bahunya. Aroma salep herbal dan bau tanah basah bercampur menjadi satu, menciptakan aroma khas malam di desa ini. Aroma bahaya. Aroma kelangsungan hidup.
Dia menatap bayangannya. Yang kini tampak lebih hidup daripada sebelumnya. Lebih berbahaya. Lebih menjanjikan.
Raka menutup gulungan itu perlahan. Lipatan kertas kulit itu berderak pelan. Dia memasukkannya ke dalam tas kain di sampingnya, memastikan tidak ada sudut yang terlipat salah.
Dia berdiri. Meregangkan punggungnya yang kaku. Tulang-tulangnya berbunyi pelan. Luka di lengannya terasa nyeri lagi, berdenyut seiring dengan detak jantungnya, tapi dia mengabaikannya. Nyeri itu adalah pengingat. Pengingat bahwa dia masih hidup. Pengingat bahwa dia masih punya kesempatan.
Raka menatap bayangannya sekali lagi.
Bayangan itu tidak bergerak lagi. Diam. Menunggu.
Raka tidak berkata apa-apa. Dia tidak bersumpah akan balas dendam. Dia tidak berteriak menantang langit.
Dia hanya berbalik.
Masuk ke dalam gubuk.
Pintu ditutup.
Klik.
Kegelapan menelan semuanya.
Bersambung.