Alfina dan Alfino teman masa kecil yang selalu bertengkar jika berada di dalam satu kelas.
Fina mempunyai tambatan hati bernama Choki, sedangkan Fino memiliki Anjani, hubungan itu tidak berarti sama sekali ketika kedua orang tua memaksa mereka untuk menikah muda.
Fina membuat perjanjian setelah pernikahan, Jika disekolah menjaga jarak, jika dirumah berperan layaknya pasutri. Tujuan Fina buat janji karena untuk melindungi Fino dari gangguan Choki.
Pada akhirnya perjanjian yang Fina buat seakan masuk ke perangkap nya sendiri. Fina semakin di ganggu oleh Choki, sedangkan Fino semakin dekat dengan Anjani.
Apakah Fina bertahan dengan janji yang sudah ia buat, jika kalau tidak bertahan bagaimana kisah mereka membina sebuah pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FINA FINO 28.
Untuk menagih janji soal lima belas juta itu, Fina sampai menyeret Fino ke perusahaan papah nya bekerja.
Di depan pintu ruangan itu, Fino sebenarnya agak tidak enak minta uang sebanyak itu ke papahnya. Ia mendelik ke Fina yang sudah menatapnya penuh harap. Fina ingin uang lima belas juta itu jatuh padanya.
Karena menurut Fina, membuat kepercayaan dari orang lain yang akan percaya pada kita adalah sebuah janji. Dengan catatan janji itu cepat di tepati.
Janjinya yang mentraktir Anjani belanja sepuasnya, ia yakin akan bisa mewujudkan rencananya yang sudah ia buat sebelumnya.
"Bisa-bisanya kok mereka bisa akur ya? saya ngira mereka ga bisa akur loh" Kata Fino masih membahas soal kedekatan Anjani dengan Niko.
Fina terkekeh sebelum menjawab. "Jangan meremehkan status teman masa kecil maka nya, siapapun pacarnya, apapun bentuk fisik nya, tapi teman masa kecil lah yang akan jadi pemenangnya. Sudah buruan gedor pintu nya" Kata Fina gak sabaran.
"Fin..." Panggil Fino.
"Iya? Apaan lagi?"
"Kita pulang saja yuk, lupakan lima belas juta itu, saya enggak tau cara mintanya sumpah"
"Dih!" Fina langsung menatap sinis. Dari pada itu, Fina menolak permintaan Fino yang mau lupakan uang taruhan itu begitu saja.
Dengan gerakan tegasnya, Fina mengetuk pintu ruangan Pak Santo tanpa bisa Fino cegah.
"Siapa?" Suara Pak Santo dari dalam.
"Ini Fina ayah"
"Oh... Tunggu sebentar" Sepertinya penghuni dalam ruangan itu ingin membuka pintu.
"Fina!" Jujur, Fino agak kesal lihat kelakuan istrinya sekarang.
Saat pintu itu terbuka, Pak Santo langsung mencetus pertanyaan yang membuat Fina menunjuk ke arah Fino. "Ini ayah, kedatangan kita kesini Fino mau minta uang lima belas juta. Tadi kemarin-kemarin bilang nya santai aja gampang diatur gitu"
Astaga Fina!!
Seperti itu kata-kata yang akan dikeluarkan dari mulut Fino, tapi ia memilih senyum menatap sang papah. "Pah, Fino boleh gak minta uang lima belas juta?"
"Untuk apa?"
"Untuk kebahagiaan Fina ayah" Timpal Fina.
Awalnya emang Pak Santo ingin sekali menjambak rambut anaknya karena mau minta uang sebanyak itu. Tapi saat Fina menimpal ucapan itu membuat beliau memberi ruang untuk Fina masuk ke dalam ruangan lebih dulu.
"Kalau untuk kebahagiaan Fina mah ayah akan ngasih tanpa pikir-pikir, tapi kalau untuk Fino papah gak bakal ngasih uang sebanyak itu lagi sama dia, takutnya kejadian seperti yang dulu-dulu terulang lagi"
Tidak meminta saja kena, apa lagi kalau Fino meminta?. Fino berpikir keras. apakah dirinya sudah blunder membuat taruhan ini?
Fina mengerut kening penasaran. "Apa tuh ayah?"
"Dulu ayah ngasih uang sepuluh juta buat jajan dia sebulan, tapi seminggu sudah habis, pas ditanya ngakunya setiap bulan menyewa LC sampai jutaan cuma buat kesenangan nya saja."
"Anak biadab!" Fina murka dan mendelik ke Fino dengan tajam.
"Emang!"
Fino terkekeh tipis seraya menatap penuh di kasihani. Tapi dalam hatinya Fino sedang berkacak pinggang.
Sebab, papahnya menyebar aib di masa lalu nya. Itu terjadi saat Fino dengan Fina sedang marahan hebat karena tidak akurnya mereka yang dulu-dulu. Tapi itu dulu ya, sekarang hubungan mereka sudah tidak seperti dalam film kartun tom and Jerry yang selalu ribut tidak jelas.
"Kau tidur diluar malam ini!" Kata Fina kesal sendiri.
"HAAAAAAAAHHHHHHH!!" Jerit Fino serasa tak percaya. "Apa salah saya njir?!"
"Apa salah kamu? Kamu sudah nyewa LC!"
"Eh itu masa lalu saya sayang, kenapa kau ungkit di masa sekarang sih?!, ingat tidak waktu saya sedang kesal-kesalnya sama kamu karena sengaja banting ponsel saya sampai pecah?, Saya sampai sewa LC karena mau hilangin stres aja sumpah" Kata Fino membela diri.
"Yang dulu adalah yang sekarang!, karena dulu saya banting ponsel kamu karena kamu ketahuan simpan video b*kep!!!!"
"Apa!!" Kini papahnya yang marah. "Fino! Sudah papah bilang ke kamu, nonton video begituan yang ada nanti otak kamu gak konsen! Kamu gak fokus belajar! Kenapa membangkang sih!"
"Pah sumpah itu dulu pah, sekarang ponsel Fino sudah bersih dari video-video begituan" Kata Fino tampak lelah untuk menjelaskan kepada kedua orang ini.
"Udah-udah papah malas ngomong sama kamu Fino.. Fina mana barcode nya? Ayah bakal kirim uang lima belas itu ke kamu, abis ini cepat kalian pergi dari kantor ini"
"Baik ayah" Dengan begitu, Fina langsung memaparkan layar ponsel berupa barcode pada ayah mertuanya.
To be continue,