NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20

Valerius berjalan santai melewati kekacauan pertempuran berdarah itu seolah sedang berjalan-jalan di taman bunga. Ia bahkan tidak repot-repot mencabut pedang baja dari pinggangnya untuk melawan para pembunuh rendahan tersebut.

Dua orang anggota Gagak Besi melihat celah terbuka dan langsung menerjang ke arah punggung Valerius secara bersamaan. Mereka mengayunkan pedang bergerigi mereka dengan kecepatan tinggi, mengincar tulang belakang pemuda aristokrat itu.

Valerius hanya menghela napas bosan dan mengaktifkan skill 'Langkah Bayangan' dalam sekejap mata. Tubuhnya memudar menjadi siluet asap hitam, membuat kedua pembunuh itu hanya menebas ruang udara yang kosong melompong.

Sebelum mereka berdua sempat menyadari ke mana target mereka menghilang, hawa dingin maut menyelimuti leher mereka. Valerius telah berdiri santai di belakang mereka, memegang dua buah batu seukuran kepalan tangan yang ia pungut dari tanah.

Tanpa basa-basi, Valerius menghantamkan kedua batu itu dengan kekuatan penuh ke sisi kepala kedua pembunuh tersebut. Bunyi retakan tengkorak yang hancur terdengar sangat nyaring, diikuti tubuh mereka yang ambruk lemas ke tanah berlumpur.

Nyonya Karat yang menyaksikan pemandangan gila itu dari kejauhan merasa napasnya seolah tercekat di tenggorokan. Ia selalu membanggakan dirinya sebagai algojo kematian, namun pemuda pucat ini membunuh dengan efisiensi sebuah mesin penghancur.

"Ini bukan pangeran buangan, Tuan Muda Aldrich telah mengirim kita untuk memburu sesosok dewa iblis!" batin Nyonya Karat yang dipenuhi teror murni. Insting bertahannya yang selalu tajam kini berteriak keras menyuruhnya untuk segera melarikan diri dari neraka ini.

Namun Valerius tidak akan pernah membiarkan burung gagak peliharaan kakaknya terbang kembali ke sarangnya secara utuh. Ia menatap lurus ke arah Nyonya Karat yang sedang perlahan mundur, mata hitam kelamnya mengunci jiwa wanita itu.

Valerius menarik Belati Penyedot Jiwa dari balik jubahnya, bilah obsidian itu seketika memancarkan dengungan magis yang memuakkan. Ia melesat maju menembus medan pertempuran dengan kecepatan yang mustahil bisa diikuti oleh mata telanjang manusia fana.

Nyonya Karat terbelalak lebar saat tiba-tiba Valerius sudah berdiri tegak hanya beberapa inci dari wajahnya. Ia secara refleks mengayunkan pedang kembar bergeriginya untuk memotong leher pemuda iblis di depannya itu.

Valerius hanya mengangkat sebelah tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam, menangkap kedua bilah pedang itu dengan tangan kosong. Percikan api menyala terang saat logam tajam itu bergesekan kuat dengan lapisan Mana yang melindungi telapak tangannya.

"Kau terlalu lambat untuk ukuran seorang pembunuh elit berharga mahal, Nyonya bertopeng karat," bisik Valerius dengan senyum asimetrisnya. Ia memelintir tangannya dengan kasar, mematahkan kedua pedang kembar itu menjadi kepingan logam rongsokan tak berguna.

Nyonya Karat menjerit tertahan melihat senjata pusakanya hancur berantakan dengan begitu mudahnya. Ia mencoba mundur untuk melarikan diri, namun tangan kiri Valerius telah mencengkeram kerah jubahnya dengan sangat kuat.

Valerius tidak segera menusuknya dengan belati maut, ia ingin bermain-main sedikit dengan pikiran rapuh sang pemimpin pembunuh ini. Ia menekan ujung tajam Belati Penyedot Jiwa itu tepat di atas kulit perut Nyonya Karat, menembus lapisan kain bajunya.

"Jika belati ini masuk ke dalam perutmu, ia tidak akan memotong ususmu," suara Valerius mengalun lembut namun membekukan jiwa. "Belati ini akan mencabik-cabik esensi nyawamu secara paksa dari dalam, memberikanmu rasa sakit terburuk di seluruh alam semesta."

Nyonya Karat gemetar hebat, sisa-sisa keberaniannya menguap habis tak bersisa melihat jurang keputusasaan di mata Valerius. "A-Apa yang kau inginkan dariku, dasar monster kegelapan?" desisnya dengan air mata yang mulai menetes di balik topeng besi.

"Aku menginginkan kesetiaan absolut dari kelompok Gagak Besimu," jawab Valerius seraya menekan ujung belati itu sedikit lebih dalam. Sedikit energi kehidupan wanita itu mulai tersedot, membuat Nyonya Karat mengerang kesakitan luar biasa yang belum pernah ia rasakan.

Rasa sakit itu terasa seperti ribuan jarum panas yang ditusukkan langsung ke dalam saraf otaknya secara bersamaan. Ia jatuh berlutut di tanah, memegangi lengan Valerius dengan putus asa, memohon agar siksaan gaib itu segera dihentikan.

"Gagak Besi tidak pernah tunduk pada siapa pun selain kontrak koin emas!" jerit Nyonya Karat mencoba mempertahankan prinsip terakhirnya. Namun rasa sakit yang menembus jiwanya itu dengan cepat meruntuhkan sisa-sisa tembok ego dan harga dirinya sebagai pembunuh elit.

Valerius tertawa pelan, sebuah tawa dingin yang membuat udara pagi itu terasa semakin beku dan mematikan. "Kalau begitu, aku akan membeli seluruh jiwa kalian menggunakan nyawa kotor kalian sendiri sebagai bayarannya."

Ia menggunakan skill 'Lidah Berbisa' miliknya dengan kapasitas penuh, mengalirkan gelombang manipulasi mental langsung ke otak Nyonya Karat. "Mulai detik ini, Aldrich bukanlah tuan kalian, ia hanyalah target yang sedang menunggu pisau jagal kalian di dalam istananya."

Pikiran Nyonya Karat yang sedang disiksa oleh Belati Penyedot Jiwa sama sekali tidak mampu menahan invasi hipnotis gelap tersebut. Matanya yang semula memancarkan perlawanan kini perlahan meredup, digantikan oleh kepatuhan absolut yang terlahir dari keputusasaan tanpa batas.

Di sekeliling mereka, pertempuran telah berakhir dengan pemandangan pembantaian yang sangat mengerikan dan tak seimbang. Sisa-sisa pembunuh Gagak Besi telah dibantai habis-habisan oleh prajurit perbatasan yang tak kenal rasa takut maupun sakit.

Beberapa pembunuh yang masih hidup terkapar di tanah, mengerang merana dengan anggota tubuh yang telah dipotong paksa. Baron Kaelos duduk di atas genangan darah, menatap tangannya yang gemetar melihat kekejaman pasukannya sendiri.

Valerius melepaskan cengkeramannya dari kerah jubah Nyonya Karat, membiarkan wanita itu bersujud mencium tanah berbatu di ujung kakinya. "Kumpulkan sisa anjing-anjing bayaranmu yang masih hidup, Nyonya Karat, kita memiliki sebuah istana besar yang harus kita bakar."

Nyonya Karat mengangguk cepat berulang kali, napasnya tersengal-sengal menahan sisa rasa sakit dari kutukan belati iblis itu. Ia telah sepenuhnya menjadi boneka baru Valerius, budak pembunuh yang siap diarahkan ke leher mantan majikannya sendiri.

Layar holografik sistem tiba-tiba berkedip terang di sudut pandangan Valerius dengan bunyi mekanis yang memuaskan.

[Misi Terselubung 'Menundukkan Gagak Besi' Selesai. Poin Dosa: +600. Faksi Bayangan berhasil diakuisisi.]

Valerius kembali berjalan menuju kereta kuda hitamnya, mengabaikan mayat-mayat berserakan dan lolongan penderitaan para musuhnya yang sekarat. Ia kini memiliki dua jenis pasukan di bawah kendalinya: anjing penjaga perbatasan yang fanatik, dan gagak pembunuh dalam bayangan.

"Bersihkan sisa jalan ini dengan cepat, ibu kota sudah terlalu lama menunggu kehadiran sang pangeran," teriak Valerius dari dalam kabin.

Prajurit perbatasan yang berlumuran darah segera bergerak menyingkirkan mayat pembunuh elit layaknya membuang tumpukan ranting kering. Nyonya Karat mengumpulkan lima sisa bawahannya yang masih hidup, memaksa mereka berlutut di sisi jalan untuk memberikan jalan pada sang tiran.

Iring-iringan maut itu kembali melanjutkan perjalanannya, meninggalkan noda darah segar yang mustahil bisa dihapus oleh hujan badai sekalipun. Di ujung jalan yang mulai rata, bayangan tembok raksasa ibu kota Aethelgard mulai menjulang tinggi menutupi cakrawala pagi.

Gerbang Utama Cahaya Suci, pintu masuk paling megah di seluruh benua, kini terpampang jelas di hadapan Valerius. Ratusan ksatria elit berzirah emas berjaga ketat di atas tembok, menatap waspada ke arah rombongan kumal yang mendekat dari kejauhan.

Valerius menatap kemegahan palsu di depannya itu dengan seringai psikopat yang mengembang sempurna. Panggung utama dari teater kehancurannya telah berada tepat di depan mata, menanti untuk diruntuhkan hingga menjadi abu.

[Pencapaian Baru Terbuka: Memasuki Jantung Aethelgard. Sistem Arc 2 'Penyesalan Abadi' resmi diaktifkan.]

Bunyi notifikasi terakhir itu terdengar seperti dentang lonceng kematian yang menyambut kedatangan sang terpidana kejam. Valerius menyandarkan kepalanya ke belakang, siap menyebarkan wabah keputusasaan yang akan membuat sejarah dunia ini menangis darah.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!