Guntur Hidayat dan Ali Hidayat awalnya bersekolah di SMA yang mayoritas dihuni anak orang kaya. Karena keterbatasan biaya, keduanya terpaksa putus sekolah. Mereka lalu membantu kakak tertua mereka, Faris Hidayat — sosok yang disegani, ahli memperbaiki dan memodifikasi motor, serta diam-diam pandai mengembangkan uang lewat saham terindeks. Bersama orang tua mereka, Bapak Wijaya Hidayat dan Simbok Arum Sari, ketiga bersaudara ini berjuang membangun masa depan lewat bengkel kecil mereka. Membuktikan: keberhasilan tidak harus selalu lewat bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Proyek Istimewa Sang Legenda CB
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti atap-atap rumah warga saat Faris sudah bangun duluan, berdiri di depan sebuah motor tua yang teronggok di sudut bengkel. Bentuknya klasik banget, rangka kokoh, bodi bulat khas motor legendaris Honda CB. Catnya sudah kusam, ada bagian yang terkelupas, besi-besinya mulai ada bercarat karat, tapi kalau dilihat kerangkanya, masih lurus dan kuat banget. Ini motor kesayangan Faris, warisan dari Bapak dulu. Sudah bertahun-tahun nganggur nggak terpakai, menunggu waktu yang pas buat dihidupkan kembali.
Guntur sama Ali keluar dari rumah sambil menguap lebar, kaget lihat Abangnya sudah sibuk mengelap debu tebal yang menempel di tangki bensin motor itu.
"Wih, Bang! Mau dibangkitkan lagi nih si Legenda?" seru Guntur sambil duduk bersimpuh di samping Faris, ikut mengelap bagian spakbor belakang yang sudah penyok dikit.
Faris tersenyum, matanya memandang motor itu penuh kerinduan. "Iya, Gun. Ini motor pertama yang Bapak punya, motor yang beliau pakai cari nafkah buat kita bertiga dulu. Dulu pas Bapak sakit, motor ini kami simpan baik-baik, niatnya kapan-kapan kita benerin bareng-bareng. Sekarang rasanya waktunya pas. Kita udah mulai punya nama, udah punya sedikit dana, dan yang paling penting... kita udah punya pengalaman lebih."
Ali yang tadinya cuma ngeliatin, langsung bersinar matanya. Dia paling suka sama motor klasik, bentuknya sederhana tapi gagah, dan katanya Abang, mesinnya paling enak dipelajari karena komponennya nggak serumit motor zaman sekarang.
"Wah, asik nih! Berarti ini proyek rahasia kita ya Bang? Bukan buat dijual, bukan buat pelanggan, tapi buat kita sendiri?" tanya Ali antusias.
"Betul sekali. Ini proyek istimewa. Tapi ingat ya, walaupun ini motor tua, tantangannya nggak kalah berat sama motor Bima kemarin. Justru lebih susah karena suku cadang aslinya udah jarang banget, banyak yang udah nggak diproduksi lagi. Kita harus cari, kita harus akali, kita harus rakit ulang biar dia jalan lagi, enak dipakai, tapi tetap menjaga wujud aslinya. Biar nanti kalau kita naik ini ke jalan, semua orang bisa lihat... ini bukti keahlian kita, bukti cinta kita sama peninggalan Bapak," jelas Faris serius sambil menunjuk tulisan CB yang masih samar terbaca di samping tangki bensin.
Mereka bertiga langsung sibuk. Suasana pagi itu beda dari biasanya. Nggak ada rasa tertekan atau takut salah kayak pas ngerjain motor Bima. Yang ada cuma semangat, rasa ingin tahu, dan rasa hormat ke motor tua itu.
"Ali, kamu catat semua bagian yang rusak atau karatan. Jangan ada yang kelewat. Guntur, kamu bantu aku bongkar pelan-pelan. Hati-hati sama baut-bautnya, udah tua, takutnya slek atau patah di dalam," perintah Faris tenang.
Proses bongkar pun dimulai. Faris mengajar satu per satu. "Lihat deh, rangka ini. Dulu Bapak pernah bilang, motor ini pernah jatuh, pernah nabrak, tapi rangkanya nggak pernah bengkok. Kuat banget besinya, kayak sifat Bapak kita dulu."
Guntur sama Ali mendengarkan sambil memperhatikan gerakan tangan Abangnya. Faris menjelaskan perbedaan mesin CB sama motor modern. "Mesin ini mekanis murni, nggak ada sensor-sensor rumit, nggak ada komputer. Semuanya tergantung penyetelan tangan kita, kepekaan kita. Kalau kita bisa benerin dan nyetel mesin ini sampai enak banget suaranya, berarti dasar ilmu kita udah kuat banget. Nanti pas ketemu mesin canggih pun, pasti lebih gampang ngertinya."
Siang harinya, masalah mulai muncul persis kayak dugaan. Pas mau ganti komponen pengapian dan beberapa bagian blok mesin, ternyata barangnya nggak ada di toko langganan. Penjualnya cuma geleng-geleng kepala.
"Nak Faris, barang ini udah langka banget. Kalau ada pun harganya selangit, atau kondisi bekasnya udah jelek. Apalagi kemarin ada orang borongan ambil barang-barang stok lama juga, katanya buat koleksi. Saya curiga, orang yang sama yang bikin kamu susah cari barang kemarin, dia lagi ngalangin jalan kamu lagi nih," kata Pak Penjual sambil berbisik pelan.
Faris menghela napas panjang. Pasti ini ulah Bima lagi. Dia nggak cuma mau ngalangin usaha, tapi mau bikin Faris susah bahkan pas lagi ngurus barang pribadi. Bima pengen ngebuat Faris putus asa, ngebuat dia merasa dikepung dari segala sisi.
Pulang ke bengkel, Faris ceritakan semuanya ke adik-adiknya. Wajah Guntur langsung merah padam menahan marah.
"Keterlaluan banget sih dia! Sampai ke urusan motor kita sendiri aja dia ikut campur! Dia pikir dia siapa penguasa kota ini?!" bentak Guntur sambil banting kunci pas ke meja.
Ali juga kelihatan kecewa. "Terus gimana dong Bang? Kita harus nunggu lama cari barangnya? Atau kita urungkan aja dulu?"
Faris diam sebentar, matanya menatap tajam ke arah mesin CB yang sudah terbongkar separuh. Dia ingat lagi kata-kata Bima, ingat tantangan kemarin. Senyum tipis mulai terukir lagi di bibirnya.
"Nggak ada kata nunggu atau nyerah, Li. Justru karena dia ngalangin, kita harus buktiin kita bisa lebih hebat lagi. Dulu pas motor dia nggak ada sensor, kita bikin sendiri kan? Nah, sekarang sama. Komponen ini nggak ada yang jual? Kita akali pakai komponen lain yang seukuran, kita ubah sedikit dudukan, kita sesuaikan ukuran, kita rakit sendiri biar pas. Dia pikir dengan nimbun barang, dia bisa matiin kreativitas kita? Salah besar!"
Sore itu sampai malam, bengkel Hidayat Bersaudara jadi tempat eksperimen baru. Persis kayak di gambar itu: Faris duduk di tengah, memegang ponsel buat ngecek data dan ukuran pas, tangan kirinya lagi menyetel bagian dalam mesin CB dengan obeng kecil, fokus banget. Di belakang kiri, Guntur sibuk merakit ulang bagian depan motor, teliti banget. Di kanan belakang, Ali lagi ngelas dan memodifikasi dudukan komponen pengganti yang mereka cari solusinya.
Faris nunjukin keahlian lain yang jarang orang tahu. Dia bisa ngubah fungsi satu komponen jadi fungsi lain, asal hitungannya pas dan kekuatannya terjamin. Dia ngajarin adik-adiknya cara ngukur presisi, cara menyesuaikan celah, cara memastikan aliran bahan bakar sama kompresinya pas banget.
"Lihat, Gun, Li... ini intinya. Bukan soal barang mahal atau barang baru. Tapi soal tangan kita, pengetahuan kita, dan keberanian kita nyoba. Kalau kita paham cara kerjanya, barang apa aja bisa kita pakai, asal kita teliti. Bima cuma punya uang buat beli barang, tapi dia nggak punya ilmu buat bikin barang yang nggak ada. Di situlah bedanya kita sama dia," kata Faris tegas sambil matanya sesekali melirik layar ponsel yang menampilkan grafik dan hitungan teknis, bukti kalau dia juga terus belajar hal baru, bukan cuma sekadar mekanik biasa.
Malam makin larut, lampu bengkel jadi satu-satunya penerang di situ. Aroma oli, besi, dan kopi kental jadi teman setia. Motor CB itu perlahan mulai terbentuk lagi, tapi bukan lagi motor tua biasa. Dia jadi motor yang punya jiwa baru, punya sentuhan tangan ajaib Hidayat Bersaudara. Lebih kuat, lebih canggih di balik wujud klasiknya.
Dan di sudut jalan sana, ada mobil gelap yang diam-diam mengawasi. Bima duduk di dalamnya, kaget bukan main lihat cahaya bengkel yang masih menyala sampai malam, lihat mereka bertiga tertawa dan bekerja seolah nggak ada masalah apa-apa. Dia makin bingung, makin kesal, tapi juga makin penasaran. Seberapa hebat sih sebenarnya anak-anak putus sekolah itu? Kenapa setiap kali dia kasih masalah, mereka malah makin kelihatan hebat dan makin maju?
Pagi berikutnya, saat matahari naik tinggi, motor CB itu sudah berdiri tegak lagi. Catnya sudah dikilapkan ulang, besi-besi yang berkarat sudah diganti atau dihaluskan, mesinnya sudah terpasang rapi.
Faris naik ke atas joknya, napasnya ditarik panjang. Guntur sama Ali menahan napas menunggu.
Tek... Kunci diputar.
Bruk... bruk... bruk... Suara kompresi berat terdengar.
BRUUUUUUUUUMMM!!!
Hidup! Suaranya gembok, halus, bulat, dan berisi banget. Beda banget sama motor CB biasa. Nadanya pas, tenaganya padat, nyalanya stabil. Suara itu menggema ke seluruh kampung, bikin tetangga-tetangga nongol keluar rumah kaget mendengar suara motor legendaris itu hidup lagi, bahkan lebih bagus dari dulu.
Guntur sama Ali langsung bersorak heboh, saling peluk kegirangan. Mereka berhasil! Bukan cuma berhasil benerin, tapi berhasil mengalahkan rencana jahat Bima sekaligus menghidupkan kembali kenangan berharga dari Bapak.
Faris turun dengan senyum paling lebar yang pernah dia punya. Dia mengelap keringat di dahi, menatap adik-adiknya bangga.
"Lihat kan? Nggak ada yang nggak bisa. Dia bisa tupok barang, tapi dia nggak bisa tupok otak dan tangan kita. Ini baru permulaan, adik-adikku. Nanti kalau motor ini kita bawa keliling kota, nama kita bakal makin dikenal luas. Dan satu hal lagi... pesan buat si Bima: makin dia ngalangin, makin kuat kita jadi. Dia lagi ngelatih kita buat jadi pemenang sejati."
Hari itu berakhir dengan kemenangan kecil yang besar maknanya. Tapi mereka semua tahu, Bima nggak bakal diam saja. Tantangan yang lebih besar, persaingan yang lebih sengit, dan rencana jahat yang lebih rumit sedang disiapkan. Tapi buat Faris, Guntur, dan Ali, selama mereka kompak, punya ilmu, dan berani berjuang, rintangan apa pun bakal mereka lalui, satu per satu, sampai bengkel Hidayat Bersaudara jadi nama besar yang nggak bisa diremehkan siapa pun lagi.