NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:880
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Sisi Rapuh di Balik Pintu Kamar

Dunia bisnis hanya mengenal satu warna untuk seorang Rani: hitam atau putih. Tidak ada ruang untuk warna abu-abu, dan sama sekali tidak ada ruang untuk sebuah kelemahan. Di bawah lampu neon ruang rapat utama Rani Group sore itu, Rani berdiri dengan tegak, menyampaikan presentasi triwulan dengan suara yang lantang dan tatapan yang mengintimidasi jajaran direksi. Siapa pun yang melihatnya akan berpikir bahwa wanita ini terbuat dari baja.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik pembawaannya yang dingin, pandangan Rani beberapa kali sempat mengabur. Kepalanya terasa berdenyut hebat, dan rasa dingin yang aneh perlahan mulai menjalar dari ujung jari kaki hingga ke seluruh tubuhnya. Tekanan dari dewan komisaris mengenai proyek Central District—yang prediksinya tepat seperti kritik Riko tempo hari—benar-benar menguras energi dan kesehatannya selama dua hari terakhir.

Pukul delapan malam, mobil sedan mewah Rani akhirnya memasuki gerbang rumah. Begitu melangkah turun, Rani harus memegang pintu mobil selama beberapa detik hanya untuk memastikan kakinya tidak lemas dan membuatnya tersungkur di atas paving blok. Dengan sisa-sisa kekuatannya, dia berjalan masuk, melewati Bi Inah dengan anggukan formal yang dipaksakan, lalu melangkah menaiki tangga menuju lantai dua.

Cklek.

Rani mendorong pintu kamar utama mereka. Di dalam ruangan, Riko sedang duduk di sofa kulitnya sembari membaca beberapa dokumen cetak mengenai verifikasi berkas Pratama Corp yang baru saja dinyatakan lolos tahap pertama oleh asosiasi pengusaha.

Mendengar suara pintu, Riko mendongak. Dia berniat menyapa Rani dengan sindiran ringannya seperti biasa, namun kalimat itu seketika tertahan di tenggorokannya begitu melihat kondisi wanita di hadapannya.

Rani berjalan dengan langkah yang sangat tidak stabil. Wajah cantiknya yang biasa dipulas riasan sempurna kini tampak pucat pasi, nyaris tanpa warna. Bibirnya kering, dan sepasang mata elangnya yang biasa berkilat tajam kini tampak sayu dan kehilangan fokus. Dia bahkan tidak melepaskan tas kerjanya dengan benar; tas itu merosot begitu saja dari genggaman tangannya dan jatuh ke lantai.

"Rani? Kamu tidak apa-apa?" Riko segera berdiri dari sofa, meletakkan dokumennya.

Rani tidak menjawab. Dia mencoba melangkah menuju tempat tidur, namun baru dua langkah, dunianya serasa berputar hebat. Kegelapan mendadak menyergap pandangannya, dan lututnya seketika kehilangan daya untuk menopang tubuhnya sendiri. Rani limbung, jatuh ke arah depan.

"Rani!"

Dengan refleks kilat, Riko melompat maju. Dia berhasil menangkap tubuh Rani tepat semendetik sebelum wanita itu menghantam lantai marmer yang keras. Riko mendekap tubuh ramping Rani dalam pelukannya. Saat kulit telapak tangannya menyentuh pundak dan leher Rani, Riko tersentak. Tubuh wanita itu terasa sangat panas, seperti tungku yang sedang membara.

Rani telah pingsan, ambruk total akibat demam tinggi dan kelelahan yang ekstrem.

Tanpa membuang waktu, Riko mengangkat tubuh Rani dengan kedua lengan kekarnya—membawanya dengan penuh kehati-hatian menuju ranjang king size di tengah ruangan. Dia merebahkan tubuh Rani di atas kasur empuk, melepaskan sepatu hak tingginya, lalu menyelimuti tubuh istrinya hingga sebatas dada.

Riko berdiri di tepi ranjang, menatap wajah Rani yang kini terpejam rapat. Dalam kondisi tidak berdaya seperti ini, keangkuhan yang biasanya membentengi wajah Rani menguap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah seorang wanita muda yang tampak begitu lelah, begitu rapuh, seolah-olah dia telah memikul beban seluruh dunia di atas pundak kecilnya sendirian selama bertahun-tahun.

Monolog batin Riko bergetar hebat. Rasa bersalah yang sempat mereda kini kembali mencuat. Dia teringat bagaimana marahnya Rani di ruang kerja tempo hari, berteriak tentang betapa hancurnya dia saat ditinggalkan sendirian tiga tahun lalu. “Aku membangun Rani Group sendirian...” Kata-kata itu kini terasa nyata di depan mata Riko. Rani terpaksa menjadi robot yang kuat karena dunia di sekitarnya—termasuk ibunya sendiri—tidak pernah memberinya ruang untuk menjadi lemah.

Riko menarik napas pendek, lalu bergegas menuju kamar mandi. Dia mengambil sebaskom air hangat dan selembar handuk kecil. Kembali ke tepi ranjang, Riko duduk di sisi kasur. Dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh ketelatenan, dia memeras handuk hangat tersebut lalu menempelkannya perlahan di atas dahi Rani yang berkeringat dingin.

Riko juga mengambil minyak terapi dari meja rias, lalu dengan perlahan memijat tengkuk dan telapak tangan Rani yang terasa kaku, mencoba menyalurkan kehangatan agar aliran darah wanita itu kembali lancar. Sepanjang malam, Riko tidak beranjak sepeser pun dari samping ranjang Rani. Setiap kali handuk di dahi Rani mulai mengering dan mendingin, Riko akan menggantinya dengan yang baru.

Sekitar pukul tiga dini hari, tubuh Rani mulai menggeliat gelisah di balik selimut tebalnya. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, namun bibirnya yang kering mulai bergerak, menggumamkan igauan yang putus-putus dengan suara yang sangat lirih dan serak.

"Kenapa... kenapa tidak ada yang percaya padaku...?" gumam Rani, air mata perlahan menetes dari sudut matanya yang terpejam, membasahi bantal sutranya. "Ibu selalu menuntut... Hendra brengsek... Riko... kenapa kamu pergi... aku tidak pernah melakukannya... aku lelah... aku sangat lelah..."

Mendengar namanya disebut dalam igauan rapuh tersebut, dada Riko terasa seperti diremas dengan sangat kuat hingga memicu rasa sesak yang menyakitkan. Dia mengulurkan tangannya, menggenggam jemari tangan Rani yang terasa panas dan gemetar di atas sprei.

"Aku di sini, Rani. Aku tidak akan pergi," bisik Riko lembut, suaranya dalam dan sarat akan emosi penyesalan yang mendalam. Dia merapatkan genggaman tangannya, ibu jarinya mengusap punggung tangan Rani dengan gerakan menenangkan. "Maafkan aku karena dulu aku terlalu bodoh dan egois. Aku di sini sekarang. Kamu tidak perlu berpura-pura kuat lagi di depan semua orang, setidaknya tidak di dalam kamar ini, di hadapanku."

Seolah-olah mendengar suara magis Riko yang memberikan rasa aman, igauan gelisah Rani perlahan-lahan mereda. Tarikan napasnya mulai kembali teratur, dan jemari tangannya yang berada di dalam genggaman Riko perlahan membalas remasan itu dengan sangat lemah sebelum akhirnya kembali terlelap dalam tidur yang lebih tenang.

Riko tetap bertahan dalam posisi itu, duduk di tepi ranjang dengan tangan yang masih saling bertautan erat dengan tangan istrinya hingga semburat cahaya fajar pertama perlahan mulai menyembul dari balik gorden jendela. Di malam yang sunyi itu, di balik pintu kamar yang terkunci rapat dari dunia luar, sang elang tidak lagi memikirkan tentang kontrak atau utang materi; dia hanya tahu bahwa wanita yang ada di hadapannya ini adalah belahan jiwanya yang terlanjur terluka, dan dia bersumpah akan melakukan apa pun untuk menyembuhkannya.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!