Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Sudut yang Menyempit
Embusan angin malam yang dingin mengiringi putaran roda motor Hino saat memasuki pekarangan kontrakan bawah. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Di belakangnya, Irmi turun dari boncengan dengan tubuh yang sedikit gemetar. Ancaman Baskoro di meja kasir toko tadi malam benar-benar merusak ketenangan sang janda kaya. Pikiran tentang warga yang akan datang menggerebek rumah peninggalan mendiang suami pilotnya membuat wajah cantiknya pucat pasi di bawah temaram lampu teras.
Hino mematikan mesin motor, membiarkan keheningan malam yang pekat menyelimuti mereka. Ia mendongak, menatap ke arah jendela lantai dua. Lampu kamar Linda masih menyala terang, memantulkan dua siluet tubuh di balik gorden—Linda dan Risa, mahasiswi polos yang akhirnya terpaksa menginap karena ketakutan untuk pulang sendirian semalam ini.
"Hino... bagaimana jika Baskoro beneran membawa orang-orang Pemda dan ketua RT besok pagi?" bisik Irmi, suaranya bergetar saat mereka melangkah masuk ke koridor bawah. "Reputasiku, toko kita, dan... anak di dalam rahimku ini, semuanya bisa hancur jika lingkungan ini tahu."
Sebelum Hino sempat menenangkan Irmi, pintu kamar depan yang luas berderit terbuka. Erni keluar dengan daster mahal barunya, matanya yang dingin langsung mengunci ke arah suaminya. Ia mengabaikan wajah panik Irmi, lalu melangkah mendekati meja tengah dengan keangkuhan seorang benalu yang tahu cara menuntut hak.
"Kau pulang terlambat satu jam, Mas," ucap Erni, suaranya pelan namun menusuk di keheningan koridor. Ia menunjuk ke arah meja rias di dalam kamarnya yang terbuka. "Sesuai kataku sebelum kau berangkat kerja tadi siang, mana lembaran uang jatah belanjaku untuk besok pagi? Jangan bilang kau lupa karena sibuk berduaan dengan bos tokomu ini di jalanan."
Beban moral yang menumpuk, lelah fisik pasca-audit, gertakan cengkeraman kerah dari Baskoro, hingga ancaman rekaman digital Linda seolah meledak bersamaan di dalam kepala Hino sore ini. Pria berusia dua puluh tujuh tahun itu merasakan pandangannya menggelap. Kewarasannya berada di ambang batas terdalam.
Hino melangkah maju dua langkah besar, mencengkeram pergelangan tangan Erni dengan sentakan yang cukup kuat hingga istrinya itu tersentak kaget. "Uang? Hanya itu yang ada di dalam otakmu sekarang, Erni?! Kau tahu tidak, di luar sana rumah ini sedang diincar oleh suami Bu Hina! Besok pagi tempat ini terancam digerebek warga karena kelakuan lancangmu yang menampar orang dan memeras modal toko Irmi!"
Erni tersentak, rasa terkejut melintas di wajahnya melihat Hino yang biasanya mengalah kini membentaknya dengan mata yang memerah penuh urat kemarahan. Namun, ego dan rasa sakit hatinya akibat pengkhianatan ranjang menolak untuk membuatnya tunduk. "Lalu kau mau aku peduli, Mas?! Biarkan saja mereka datang menggerebek! Biar sekalian semua orang tahu kalau suamiku yang tampan ini digilir di atas dan di bawah demi sesuap nasi!"
"Tutup mulutmu, Erni!" jerit Irmi, air matanya akhirnya luruh karena tidak sanggup lagi menahan tekanan psikologis yang menyempitkan ruang gerak mereka di kontrakan ini. "Jangan memancing keributan di jam begini! Linda ada di atas bersama mahasiswanya, kau mau mereka mendengarnya?!"
Di atas langit-langit koridor bawah, suara perdebatan itu memang merayap naik melalui celah ventilasi udara yang tipis. Di dalam kamar lantai dua, Linda berdiri di dekat pintu yang tertutup, memegang gelas minumnya dengan senyuman miring yang dingin. Di atas kasur, Risa duduk meringkuk sambil memeluk lututnya, wajah polos mahasiswi itu tampak ketakutan mendengarkan pecahan kalimat yang lolos dari lantai bawah.
Risa mendongak, menatap dosen pembimbingnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Bu Linda... sebenarnya suara ribut-ribut di bawah itu tentang apa? Siapa yang sedang hamil? Saya... saya takut berada di sini, Bu."
Linda tidak menjawab pertanyaan mahasiswanya. Ia perlahan meraba saku pakaian dasternya, mengeluarkan ponsel pintarnya yang kembali berada dalam mode siap merekam. Dominasi fisik Hino yang mencekiknya di tangga sore tadi sempat membuatnya syok, namun malam ini, pertengkaran baru di bawah adalah pasokan data riset digital yang terlalu mahal untuk dilewatkan.
Linda berjalan mendekati ranjang, menepuk bahu Risa dengan keangkuhan intelektualnya yang kembali tegak, lalu berbisik menenangkan namun sarat akan manipulasi yang rapi.
"Tidak usah takut, Risa. Tetaplah di dalam kamar ini dan fokus saja pada draf skripsimu besok pagi," ucap Linda, matanya berkilat menatap pintu luar sebelum kembali melirik layar HP pintarnya yang menangkap suara isolasi konflik dari bawah. "Orang-orang di lantai bawah itu hanya sedang menyelesaikan hitungan utang mereka. Selama kau bersamaku di atas sini, kau aman dari kegilaan yang sedang mereka bangun di rumah ini."