Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Layar yang Gak Estetik
Bagi Rian, membuat konsep video kreatif setara dengan menyeduh kopi instan: cepat, takaran pas, dan langsung dinikmati. Namun, bagi Arini, sebuah ide tidak akan bernyawa sebelum melewati ritual paling sakral di dunia korporat: Formulir Pengajuan Anggaran dan Dokumen Persetujuan Vendor.
"Ingat, Rian. Di divisi pemasaran, konten estetik itu cuma sepuluh persen dari hasil akhir," ujar Arini datar, tangannya meletakkan tiga map jepit tebal di atas meja kubikal Rian yang biasanya bersih—hanya ada laptop, tablet, dan satu botol tumbler ramah lingkungan. "Sembilan puluh persen sisanya adalah birokrasi. Selamat datang di dunia nyata."
Rian menatap tumpukan kertas itu dengan alis terangkat. "Mbak Arini, ini tahun 2026. Kita masih pakai kertas sebanyak ini? Bukannya kantor kita punya jargon ‘Go Green, Go Digital’ di LinkedIn?"
Arini hampir saja memutar bola matanya, namun ia berhasil mempertahankan ekspresi profesionalnya. "Sistem verifikasi keuangan kita masih butuh tanda tangan basah untuk nominal di atas lima puluh juta. Karena tim kreatifmu minta talent sekelas micro-influencer yang rate card-nya lumayan, silakan diisi. Form A1 untuk anggaran, Form B3 untuk profil vendor, dan Form C untuk timeline produksi."
"Oke, siap, Bu," sahut Rian santai, masih dengan senyum khasnya yang seolah berkata ‘gampanglah ini’. "Sore ini beres."
Arini hanya tersenyum tipis—jenis senyuman yang menyembunyikan kalimat: kita lihat saja nanti. Ia kemudian berbalik menuju ruangannya, sengaja membiarkan Rian "berenang" sendiri di dalam kolam birokrasi kantor. Sebagai Kepala Staf, Arini tahu betul betapa menyebalkannya menghadapi Pak Bambang dari divisi Keuangan yang terkenal super kaku dan hobi menolak pengajuan dana jika ada salah ketik satu huruf saja.
Biar dia tahu, jadi orang kreatif itu gak cuma modal ide di awang-awang, batin Arini puas saat menutup pintu ruang kerjanya.dengan senyum yang masih menempel.
Pukul dua siang, dari balik kaca transparan ruangannya, Arini sesekali mencuri pandang ke arah meja Rian.
Pemandangan di sana sudah berubah total. Sifat santai Rian mulai goyah. Cowok berusia 24 tahun itu kini sedang memegangi kepalanya yang mendadak pening. Rambutnya yang biasa tertata rapi gaya anak Jaksel kini agak berantakan karena sedikit frustrasi.
Di layar laptop Rian, terpampang dokumen Excel dengan ratusan baris angka. Di sebelah kanannya, ponselnya menyala, menampilkan pesan WhatsApp dari vendor kamera yang meminta uang muka buru-buru, sementara Pak Bambang dari Keuangan baru saja mengirim balasan email singkat yang sangat mematikan mental: “Mohon revisi, format NPWP vendor tidak sesuai dengan sistem baru 2026. Ajukan ulang dari awal.”
"Gila, birokrasi di sini lebih ribet daripada nyari jodoh yang se-frekuensi," gumam Rian pelan, menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
Ia baru sadar, membuat konsep peluncuran produk skincare alami yang keren ternyata tidak ada gunanya jika form anggaran meleset seribu rupiah saja. Rian melirik ke arah ruangan Arini. Pintunya tertutup, memperlihatkan siluet sang bos yang sedang sibuk mengetik.
Mbak Arini tiap hari ngadepin ginian tapi mukanya tetep glowing tanpa kerutan? Fix, skincare dia mahal banget atau dia emang punya mental baja, pikir Rian takjub sekaligus merana.
Sore harinya, jam kantor hampir berakhir. Arini keluar dari ruangannya, membawa cangkir kopi kosong menuju pantri. Ia sengaja melewati meja Rian.
Anak baru itu tampak layu, kontras dengan energinya yang meluap-luap kemarin saat presentasi. Lembar-lembar form berserakan di mejanya, lengkap dengan coretan pulpen merah—hasil koreksi dari divisi keuangan.
"Gimana, Rian? Sore ini beres?" tanya Arini dengan nada sedikit menyindir, meski sebenarnya ada rasa iba yang tipis di hatinya.
Rian mendongak, menatap Arini dengan tatapan memelas yang dibuat-buat, mencoba mencairkan suasana. "Bu... Pak Bambang dari Keuangan itu manusia atau robot AI yang diprogram buat nolak kebahagiaan orang ya? Masa cuma karena salah masukin kode cabang bank vendor, semuanya harus di-print ulang dari bab satu?"
Arini tidak bisa menahan senyum gelinya lagi. Ia bersedekap. "Itu namanya ketelitian, Rian. Kalau vendor salah terima transferan, kamu mau ganti pakai uang jajanmu?"
"Nggak,Bu"Rian menggelengkan kepanya pelan. Ia lalu menegakkan posisi duduknya, menatap Arini dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah serius namun tetap hangat. "Tapi makasih ya, Bu."
Arini mengernyit. "Makasih buat apa? Saya kan gak bantuin kamu."
"Makasih karena udah dilepas begini," kata Rian sambil tersenyum tipis. "Kalau Bu Arini langsung ambilin alih atau manjain saya, saya gak bakal tahu kalau di balik layar pembuatan konten yang estetik itu ada proses berdarah-darah kayak gini. Saya jadi makin respek sama posisi Ibu."
Mendengar kalimat itu, jantung Arini tiba-tiba berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia terpaku sejenak. Arini mengira Rian akan mengeluh, protes, atau bahkan menyerah dan minta pindah divisi. Namun, kedewasaan tersembunyi di balik sifat santai cowok Gen Z ini selalu berhasil mengejutkannya.
Menyadari dirinya mulai salah tingkah, Arini buru-buru berdeham dan mengalihkan pandangan. "Ehem. Ya... bagus kalau kamu paham. Bersihin meja kamu, besok pagi saya bantu cek dokumennya sebelum kamu ajuin lagi ke Pak Bambang. Jangan sampai malu-maluin divisi Pemasaran.dan Ya jangan panggil saya Ibu,saya bukan ibu ibu."
"Siap,Bu!Eehh Mbak Arini!Maaf mba...Siap dibimbing, sampai peluncuran," ucap Rian spontan.
"iya,sok lanjut kerjaan kamu!"dengan wajah yang dingin dan sedatar mungkin.
Arini langsung berjalan santai menuju pantri, meninggalkan Rian yang menghela nafas panjang dengan matanya yang tertuju pada tumpukan map tebal di kubikalnya. Di dalam pantri yang sepi, Arini mengepalkan tanganya dengan gerakan bahagia,"Yess,Rasain tuh pusing pusing kan Lo!" Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengembalikan Senyum bahagianya. dia lalu berjalan keluar dari pantri dengan santai dan senyum yang tak lepas dari sudut bibirnya.
"Ingat ya Rian,ini baru permulaan,"batinya,bersiap untuk menyiapkan rencana agar anak baru itu gak bisa santai santai lagi kalo ngerjain Proyek.
Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya Rian selesai dengan tugasnya.
"Akhirnyaaa... selesai juga!"
Rian langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerja, melepas penat yang menumpuk setelah berjam-jam berkutat dengan tugasnya. Ia meregangkan otot-otot lehernya yang kaku, lalu melirik jam dinding. Sudah waktunya pulang.
Rian segera membereskan meja kerjanya, menyambar tas, dan melangkah menuju lift untuk turun ke lobi. Namun, tepat sebelum pintu lift tertutup, sesosok wanita yang sangat ia kenal masuk dengan tergesa-gesa.
Arini.
Kondisi lift sore itu sangat padat. Begitu Arini masuk, ia terpaksa berdiri di barisan paling depan, tepat di hadapan Rian karena ruang yang tersisa sangat minim. Jarak mereka begitu dekat, hingga Rian bisa mencium aroma parfum Arini yang khas. Suasana di dalam lift mendadak terasa canggung dan hening, hanya terdengar suara dengung halus mesin lift yang bergerak turun.
Deg.
Tiba-tiba, sebuah guncangan hebat terjadi. Lift tersentak mendadak, membuat keseimbangan semua orang di dalamnya goyah. Karena posisi Arini berada di paling depan dan tidak ada pegangan, tubuhnya langsung terdorong ke belakang dengan keras.
Melihat Arini yang hampir terjatuh, secara refleks Rian langsung bergerak maju. Kedua tangannya dengan sigap menangkap dan menahan tubuh Arini, mendekapnya agar tidak terbentur dinding lift atau terjatuh ke lantai.
"Eh?!" Arini tersentak kaget.
Matanya terbelalak lebar saat menyadari punggungnya tertahan kokoh oleh dada Rian, dan sepasang lengan pria itu kini menjaganya dengan erat. Sentuhan yang tiba-tiba dan jarak yang memangkas semua ruang di antara mereka membuat napas Arini sempat tertahan karena terkejut.