Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengurus Perceraian
Nathan menatap pelayan itu sejenak, lalu mengangguk ringan. ”Bangkitlah,” katanya singkat.
Wulan perlahan berdiri, namun tetap menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap langsung wajah sang putra mahkota.
Nathan kemudian berbicara dengan nada lebih tenang. ”Terima kasih telah menjaga adikku selama ini, Wulan,” ucapnya tulus.
Wulan langsung menggeleng cepat. ”Itu sudah menjadi tugas hamba, Yang Mulia,” jawabnya gugup.
Nathan menghela napas pelan, lalu menambahkan, ”Dan mulai sekarang, panggil dia ‘Nona’, bukan ‘Nyonya’.”
Wulan tertegun sejenak, lalu segera mengangguk cepat. ”Baik, Yang Mulia. Hamba mengerti,” ucapnya patuh.
**
**
Nathan dan Natalia kini berdiri di depan sebuah kediaman besar yang tersembunyi di balik pepohonan rindang. Bangunannya megah namun tidak mencolok, seolah sengaja dirancang untuk tidak menarik perhatian.
Natalia mengerutkan keningnya, menatap bangunan itu dengan penuh tanya. ”Ini milik siapa, Kak?” tanyanya heran.
Nathan melirik sekilas ke arah kediaman itu, lalu kembali menatap adiknya. ”Tentu saja milikmu,” jawabnya santai.
Natalia tertegun. ”Milikku?” ulangnya pelan, jelas tidak percaya.
Nathan mengangguk ringan. ”Hanya saja, selama ini ditempati oleh orang-orangku,” lanjutnya. ”Mereka menjagamu dari jauh tanpa sepengetahuanmu.”
Tatapan Natalia langsung berubah. Ia menatap kakaknya dengan campuran kaget dan haru yang sulit disembunyikan.
”Jadi ... selama ini ....” suaranya mengecil, seolah menyusun potongan kenyataan yang baru ia sadari.
Nathan tersenyum tipis. ”Kenapa?” tanyanya ringan. ”Kau pikir kakak akan benar-benar tidak mempedulikanmu lagi?”
Natalia terdiam. Semua emosi yang ia pendam selama ini seakan perlahan runtuh.
Nathan melangkah mendekat, lalu menatap adiknya dengan lebih serius. ”Kau tahu,” ucapnya pelan, ”sebelum ibu pergi untuk selamanya, ia menitipkan pesan padaku.”
Natalia menatapnya. ”Pesan?” tanyanya lirih.
Nathan mengangguk. ”Ia memintaku menjagamu,” lanjutnya, suaranya melembut. ”Sampai kau menemukan pasangan yang benar-benar tepat untukmu.”
Mata Natalia kembali berkaca-kaca. Ia langsung menggeleng pelan. ”Aku tidak akan menikah lagi setelah ini,” ucapnya tegas, meski suaranya sedikit bergetar.
Nathan berdecak pelan, lalu menghela napas. ”Tidak perlu terburu-buru mengambil keputusan seperti itu,” katanya santai. ”Hidupmu masih panjang.”
Ia kemudian menepuk ringan bahu Natalia. ”Untuk sekarang, kau hanya perlu beristirahat,” tambahnya.
Nathan memberi isyarat ke arah pintu kediaman. ”Masuklah. Tempat ini aman.”
Natalia menatap bangunan itu sekali lagi sebelum akhirnya melangkah masuk.
Di dalam kediaman, suasana terasa tenang dan hangat. Natalia dan Nathan duduk berhadapan, masing-masing memegang cangkir teh yang masih mengepul lembut.
Aroma teh memenuhi ruangan. Natalia menyesap perlahan, mencoba menenangkan pikirannya yang masih penuh rencana.
Nathan memperhatikan adiknya dalam diam sebelum akhirnya membuka suara. ”Jadi, setelah menjual kediaman itu, apa yang akan kau lakukan?” tanyanya tenang.
Natalia meletakkan cangkir tehnya dengan hati-hati. ”Besok, aku akan pergi ke pengadilan kekaisaran,” jawabnya tanpa ragu.
Nathan sedikit mengernyit. ”Untuk apa?” tanyanya singkat.
”Mengajukan permohonan perceraian,” sahut Natalia dengan suara tegas.
Nathan langsung menghela napas pelan. Ia menyandarkan tubuhnya, menatap Natalia dengan sorot mata serius.
”Natalia, perceraian untuk keluarga berstatus pejabat tidak bisa diputuskan oleh pengadilan biasa,” ucapnya. ”Hanya Kaisar yang memiliki wewenang untuk itu.”
Natalia terdiam sejenak. Jemarinya sedikit mengencang di sekitar cangkir teh.
Nathan melanjutkan dengan nada lebih ringan. ”Kalau kau mau, Kakak bisa membawamu menemui Kaisar Yuhang,” katanya. ”Dengan begitu, semuanya bisa selesai lebih cepat.”
Namun Natalia langsung menggeleng. ”Tidak,” jawabnya tegas.
Nathan mengangkat alisnya. ”Kenapa?” tanyanya.
Natalia menatapnya lurus. ”Kalau aku muncul di hadapan Kaisar bersama kakak, identitasku akan terbongkar,” ucapnya pelan namun pasti. ”Aku tidak ingin keluarga Andrian mengetahui siapa aku sebelum perceraian itu terjadi.”
Nathan terdiam, memahami maksud di balik kata-kata itu.
”Aku ingin mereka kehilangan segalanya terlebih dahulu,” lanjut Natalia. ”Baru setelah itu, mereka tahu siapa yang sebenarnya mereka remehkan.”
Nathan menghela napas panjang. ”Kau benar-benar tidak berubah,” gumamnya.
Natalia hanya tersenyum tipis. ”Biarkan aku yang meminta perceraian itu,” katanya. ”Aku punya caraku sendiri.”
Nathan menatapnya lama, seolah menimbang-nimbang keputusan itu. Namun pada akhirnya, ia mengangguk pelan.
”Baiklah,” ucapnya akhirnya. ”Aku akan mengalah kali ini.”
Ia menatap adiknya dengan serius. ”Tapi ingat, jika sesuatu terjadi, kau harus memberitahuku,” tambahnya.
Natalia mengangguk. ”Aku tahu, Kak,” jawabnya pelan.
*
*
Malam itu, Natalia kembali ke kediaman keluarga Li dengan langkah tenang. Begitu melewati gerbang utama, langkahnya langsung terhenti saat melihat seluruh keluarga Li sudah berdiri menunggunya, seolah sengaja menghadang.
Di sana berdiri Li Andrian dengan wajah dingin, di sampingnya Lilith yang tampak angkuh sambil mengelus perutnya. Nyonya Li Anna berdiri di depan dengan tatapan penuh penghinaan, sementara Li Bao, Karina, Lusi, dan Li Andra ikut menyaksikan dengan ekspresi meremehkan.
”Lihatlah dia, Andrian,” ujar Nyonya Li Anna dengan nada sinis. ”Semakin liar saja. Pulang larut malam seperti ini, seolah tidak punya harga diri.”
Ia melipat tangannya di dada. ”Seharusnya dia mengurus suaminya dan kediaman ini, bukannya berkeliaran entah ke mana.”
Natalia menghela napas pelan, rasa lelah jelas tergambar di wajahnya. Ia sama sekali tidak berniat melayani mereka, hanya ingin mengambil barangnya dan pergi dari tempat itu untuk selamanya.
Andrian melangkah maju, menatap Natalia dengan sorot tajam. ”Kau dari mana?” tanyanya dingin. ”Berani pulang malam seperti ini?”
Belum sempat Natalia menjawab, Lilith sudah lebih dulu menyela dengan senyum mengejek. ”Ah, masih perlu ditanya?” katanya ringan. ”Dia pasti keluar mencari mangsa.”
Lilith tertawa kecil. ”Apalagi sekarang kau, tidak memberinya uang. Mungkin saja dia menjual diri di rumah bordil demi bertahan hidup.”
Tatapan Natalia langsung berubah dingin. Ia menoleh perlahan ke arah Lilith, matanya tajam seperti pisau.
”Aku tidak seperti dirimu,” ucap Natalia tenang namun menusuk. ”Yang rela memanjat ranjang pria beristri demi mendapatkan posisi.”
Wajah Lilith langsung memerah karena marah. Ia menunjuk Natalia dengan tangan gemetar.
”Kau berani menghina aku?” bentaknya. ”Aku wanita terhormat dari keluarga Gu! Bahkan pamanku adalah Kaisar Zhao!”
Mendengar itu, Natalia justru terkekeh pelan. Tawanya ringan, namun terdengar begitu meremehkan.
Lilith mengernyit kesal. ”Apa yang kau tertawakan?” tanyanya tajam.
Natalia melirik ke arah Wulan yang berdiri di belakangnya. Wulan tak bisa menahan senyum kecilnya, ikut tertawa pelan.
”Benarkah kau keponakan Kaisar Zhao?” tanya Natalia santai. ”Aneh sekali. Aku tidak pernah mendengar hal itu.”
Tentu saja, Kaisar Zhao adalah ayah Natalia, jadi ia merasa lucu. Sejak kapan ia punya sepupu? Pikirnya.
Karina langsung maju dengan wajah kesal. ”Tentu saja kau tidak tahu!” katanya sinis. ”Kau ini wanita miskin, mana mungkin tahu urusan kekaisaran.”
Lusi ikut menimpali dengan nada merendahkan. ”Kau bahkan belum pernah menginjakkan kaki di kekaisaran. Jadi jangan sok tahu.”
Tatapan Natalia kembali berubah dingin. Ia hendak membalas, namun suara Andrian lebih dulu membentaknya.
”Cukup, Natalia!” katanya keras. ”Kau semakin tidak terkendali.”
Ia menatap tajam. ”Aku ini suamimu. Sudah seharusnya kau mengurusku, orang tuaku, dan seluruh kediaman ini.”
Natalia tersenyum sinis, seolah mendengar lelucon yang tidak lucu. Ia menatap Andrian tanpa sedikit pun rasa hormat.
”Kenapa harus aku?” balasnya dingin. ”Bukankah kau sudah menyerahkan cap kediaman kepada Lilith?”
Ia melirik ke arah wanita itu dengan tatapan merendahkan. ”Kalau begitu, sudah seharusnya dia yang mengurus semuanya. Termasuk orang tuamu.”
Wajah Andrian mengeras. ”Lilith sedang hamil,” katanya dengan nada menekan. ”Sedangkan kau .…”
Ia menatap Natalia dengan jijik. ”Kau mandul. Seharusnya kau membantu dia.”
Tangan Natalia langsung mengepal kuat. Ucapan itu seperti memicu sesuatu yang selama ini ia tahan. Tanpa peringatan.
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah Andrian. Suara itu menggema di halaman, membuat semua orang terdiam seketika.
Natalia menatapnya dengan mata dingin. ”Aku bukan pelayanmu,” ucapnya tegas.
Tanpa menunggu reaksi mereka, Natalia langsung berbalik dan berjalan menuju paviliunnya. .
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah