NovelToon NovelToon
SUKSESNYA ISTRI YANG TERSAKITI

SUKSESNYA ISTRI YANG TERSAKITI

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Selingkuh / Cerai / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Menjadi istri Ferdiansyah adalah ujian kesabaran tanpa batas bagi Sekar. Di rumah mertuanya, ia tak lebih dari babu yang harus melayani keluarga suaminya dengan jatah uang belanja hanya 25 ribu rupiah sehari. Ferdi selalu berdalih ekonomi sulit dan menuntut Sekar untuk terus berhemat, bahkan hanya untuk membeli bedak seharga 30 ribu pun Sekar harus menerima hinaan menyakitkan.
Ferdi ternyata menyimpan rahasia besar. Ia naik jabatan dengan gaji fantastis yang ia sembunyikan rapat-rapat. Tak hanya pelit pada istri sah, Ferdi ternyata berselingkuh dengan bawahannya di kantor. Tak mau hancur, Sekar mulai bangkit secara diam-diam. Lewat bantuan Amelia, ia belajar menjadi penulis novel sukses yang menghasilkan pundi-pundi rupiah dari balik layar ponselnya. Saat suaminya sibuk berkhianat dan mertuanya terus menghina, Sekar justru sedang membangun kerajaan hartanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sup Balungan

"Apa maksud kamu bilang baru celup? Kamu mau menghina aku lemah, hah???"

Bukannya merasa puas atau senang setelah ritual ranjang mereka selesai, Ferdiansyah justru langsung naik pitam. Wajahnya memerah, bukan karena gairah, melainkan karena harga dirinya sebagai laki-laki merasa tercoreng habis-habisan mendengar celetukan istrinya, Sekar.

Sekar yang masih mencoba mengatur napasnya di balik selimut tipis itu, hanya menatap langit-langit kamar yang kusam. "Bukan gitu, Mas. Ini tuh permainannya baru aja mulai loh. Aku baru mau menikmati, eh, kamu sudah 'finish' duluan. Kalau memang merasa kuat, ya ayo lanjut ronde kedua!" jawab Sekar tanpa rasa malu sedikit pun.

Bagi Sekar, rasa malu sudah lama ia buang jauh-jauh dari kamus rumah tangganya. Untuk apa malu? Urusan nafkah lahir saja sudah hampir tidak ada, masa nafkah batin juga harus ia terima seadanya? Ia merasa seperti sedang dirampok hak-haknya setiap hari.

Ferdiansyah mendengus kasar, wajahnya terlihat makin kesal. "Halah! Kamunya aja yang kegedean nafsu! Nggak ada ronde-ronde kedua. Aku capek, kerja seharian cari duit. Sudah lemas juga nih si Joni." seru Ferdiansyah seraya menarik diri dan segera menjauh dari istrinya.

Brukk!

Ferdiansyah kembali ambruk di samping Sekar, menarik selimut kasar sampai menutupi seluruh tubuhnya, lalu tidur membelakangi istrinya. Tak butuh waktu lama, suara dengkuran yang sangat nyaring seperti knalpot bocor mulai terdengar dari mulut Ferdiansyah.

"Ck! Lagi-lagi begitu. Egois banget jadi laki-laki! Nggak pernah sedikit pun mau mengerti perasaan istri." gumam Sekar pelan. Ia berusaha keras menahan gejolak yang masih membara di dalam dada dan perutnya.

Bayangkan saja, dia sudah dipancing sedemikian rupa, adrenalinnya sudah naik, egonya sudah siap untuk dipuaskan, eh sang suami malah "pingsan" duluan. Rasanya seperti sudah disuguhi aroma makanan enak, tapi saat mau menyuap, piringnya ditarik paksa. Kesal? Tentu saja! Sekar rasanya ingin sekali mencekik Ferdiansyah saat itu juga agar dengkurannya berhenti selamanya.

"Maunya enak sendiri, nggak mikirin gimana tersiksanya aku menahan gejolak ini. Dasar suami zalim! Aku doakan kamu jadi kere selamanya biar tahu rasa!" maki Sekar dalam hati. Tanpa sadar, rasa sakit hatinya membuat doa-doa buruk meluncur begitu saja.

Setelah berjuang hampir satu jam menenangkan diri, akhirnya Sekar berhasil memejamkan mata. Namun, baru sebentar ia terlelap, pukul tiga dini hari alarm ponselnya sudah menjerit-jerit.

"Berisik banget sih! Matiin nggak!" bentak Ferdiansyah yang terganggu tidurnya.

Sekar berdecak. Ia segera mematikan alarm, meraih handuk dan berjalan menuju kamar mandi yang letaknya di belakang rumah, sebuah bilik kecil yang dingin dan lembap. "Begini amat hidup. Cuma kebagian keramasnya doang, puasnya nggak." gerutunya setiap kali selesai melayani Ferdiansyah.

Selesai mandi besar, Sekar menyempatkan diri untuk salat Tahajud. Di atas sajadah yang mulai menipis warnanya, ia mencurahkan segala beban hidupnya.

"Ya Allah, jika ini memang takdirku, aku ikhlas menjalaninya. Tapi jika mereka sudah keterlaluan, bolehkah aku minta cerai? Aku merasa dizalimi, Ya Allah... Nafkah lahir batin tidak terpenuhi, aku tidak rida. Mereka juga selalu memusuhiku, padahal aku ini menantu di sini. Suamiku pun tidak pernah membelaku."

Sekar terisak pelan. "Ya Allah, kalau memang suamiku ini bukan jodoh asliku, tolong berikan petunjuk. Kalau bisa, kirimkan aku jodoh yang jauh lebih tampan, lebih kaya, dan tentunya... 'imunnya' kuat. Yang bisa memuaskanku saat beribadah malam Jumat." pintanya dengan jujur. Di dunia ini, Sekar sudah sebatang kara. Hanya kepada Sang Pencipta ia bisa menumpahkan segala kejujuran hatinya yang paling dalam.

Setelah merapikan mukena yang merupakan mahar dari Ferdiansyah dulu, Sekar tidak kembali tidur. Ia meraih ponselnya. Ini adalah rahasia kecilnya. Ia sedang merintis karier sebagai penulis di sebuah aplikasi novel online. Ia melanjutkan ceritanya yang belum mencapai target bab harian.

Dug... Dug... Dug!

Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Suara azan Subuh berkumandang. Sekar tersenyum lebar. Akhirnya, target tulisannya tercapai. Hari ini ia sudah bisa mengajukan kontrak kerja sama dengan aplikasi tersebut. Dengan tangan gemetar karena semangat, ia mengisi data diri dan mengklik tombol pengajuan.

"Semoga diterima... Amin. Mudahkan jalanku mencari rezeki sendiri, Ya Allah." bisiknya penuh harap.

**

Pagi harinya, rutinitas neraka dimulai.

"Nih, uang belanja hari ini. Masaklah ayam atau ikan patin gitu, bosan aku makan ikan asin terus." kata Ferdiansyah sambil menyodorkan selembar uang dua puluh lima ribu rupiah.

Sekar menatap uang itu dengan tatapan kosong. "Dua puluh lima ribu mau minta ayam sama patin?" batinnya. Namun, ia hanya bergumam "Hm" dan menerima uang itu dengan ogah-ogahan.

Ia segera berangkat ke warung Mak Piah. Di sana, para ibu rumah tangga sudah berkumpul, lengkap dengan "bumbu" gosip mereka.

"Eh Sekar, mau beli apa hari ini? Ikan cuek lagi? Ini ada kangkung kesukaan mertuamu." sindir salah satu ibu-ibu yang memang terkenal kepo.

Sekar tersenyum lebar, jenis senyum yang menyiratkan tantangan. "Enggak, Bu. Hari ini mau beli kepala ayam." jawabnya lantang. Sekar tahu betul seluruh kampung sudah tahu betapa pelitnya Bu Nimas, mertuanya. Ia tidak butuh menutupi aib itu lagi karena Bu Nimas sendiri yang sering memamerkannya lewat teriakan-teriakan marahnya yang terdengar sampai ke tetangga sebelah.

"Bisa kelolotan itu mertuamu, Kar, kalau dikasih kepala ayam.," celetuk ibu yang lain disambut tawa pecah.

Sekar ikut tertawa. "Ya biar tambah pintar dikit, Bu. Siapa tahu kalau makan otak ayam, pikiran Ibu mertuaku bisa sedikit terbuka."

"Ih Sekar, bukannya terbuka, malah makin dodol yang ada!" sahut yang lain. Tawa mereka makin meledak.

"Mak Piah, berapa totalnya? Jangan lupa dicatat ya, Mak. Nanti 'Mak Rombeng' (Bu Nimas) ngamuk kalau belanjanya nggak pakai catatan. Dikira aku korupsi uang anaknya lagi." seru Sekar blak-blakan.

Warga kampung justru bersimpati pada Sekar. Mereka tahu Sekar diperlakukan seperti pembantu tanpa gaji di rumah itu.

"Iya, Kar. Ini Mak hitung. Totalnya dua puluh tiga ribu.” kata Mak Piah sambil menyodorkan kertas kecil.

"Masih ada dua ribu ya, Mak? Kasih sampo aja deh, samponya habis di rumah." Sekar pun membayar. Ia membeli balungan (tulang) ayam untuk disop dan empat butir telur untuk makan malam nanti.

Saat hendak pulang, Bu Endang menahannya. "Tunggu, Kar. Buru-buru amat."

"Harus segera masak, Bu. Nanti singa di rumah mengaum." canda Sekar.

"Duduk sebentar, nih makan jajanan pasar. Kamu pasti jarang kan dijajanin suamimu?" Bu Endang menyodorkan bungkusan berisi kue-kue basah. Bu Endang merasa kasihan, Sekar itu seumuran dengan anaknya, Reni.

Sekar tidak menolak. "Wah, Bu Endang tahu aja. Makasih ya, Bu. Semoga Reni segera dapat jodoh yang baik, saleh, kaya, sayang istr dan sayang mertua. Jangan kayak yang di rumah saya." selorohnya sambil mulai mengunyah.

"Ih, jangan dulu! Reni biar kerja dulu, cari pengalaman. Jangan nikah muda kayak kamu, akhirnya cuma ngejugruk di dapur ngurus suami yang nggak seberapa itu." sahut Bu Endang jujur.

Sekar hanya mengedikkan bahu, menikmati setiap gigitan kue yang terasa jauh lebih nikmat daripada masakan di rumahnya sendiri. Setelah berpamitan, ia pulang dan mulai mengolah balungan ayam tersebut menjadi sup. Ia menambahkan banyak lada agar rasanya segar dan menutupi fakta bahwa isinya hanya tulang dan kulit.

**

Meja makan sudah tertata. Ferdiansyah, Bu Nimas, serta adik-adik iparnya, Riska dan Risal sudah berkumpul.

"Wah, baunya enak nih. Gini dong, masak yang bergizi, jangan ikan asin terus." puji Ferdiansyah saat melihat panci sup yang mengepul.

Bu Nimas diam saja, tangannya sudah siap dengan sendok karena merasa sangat lapar. Namun, saat mereka mulai menyendok...

"Loh? Kok isinya cuma kepala, ceker, sama pantat ayam? Dagingnya mana, Sekar?" tanya Ferdiansyah sambil mengaduk-aduk kuah sup, mencari paha ayam favoritnya yang tak kunjung ketemu.

Bu Nimas ikut mengaduk, wajahnya langsung berubah sangar. "Ck! Kamu kira kami ini kucing, Sekar?! Kenapa kamu beli balungan begini? Harusnya kamu beli paha atau sayap!" sentak Bu Nimas.

"Jangan kau korupsi terus uang belanja itu! Lama-lama Ibu pecat kamu jadi menantu!" lanjut Bu Nimas dengan suara melengking.

Sekar meletakkan kain lapnya, menatap mertuanya dengan tenang. "Ya sudah, pecat saja. Sekar juga sudah nggak betah jadi menantu Ibu."

Jawaban itu seperti petir di siang bolong. Mata Ferdiansyah membelalak sempurna.

Brak!!!

Ferdiansyah menggebrak meja makan hingga air sup dalam mangkuk terciprat keluar. "Sekar! Apa maksud kamu bilang begitu?! Kurang ajar kamu ya!" bentak Ferdiansyah dengan urat leher yang menonjol.

Sekar tidak gentar. Ia justru melipat tangan di dada, menatap suaminya dengan tatapan paling dingin yang pernah ia miliki. Permainan baru saja dimulai.

1
Ma Em
Dasar Ferdy suami laknat kasih uang belanja aja pelitnya minta ampun tapi Sekar hrs nurut apa kata Ferdy mana bisa begitu , msh untung Sekar msh mau tinggal di rumahmu dan cuma dijadikan pembantu kalau perempuan lain mungkin sdh minta cerai .
Dini Hidayani
makin seru nih lanjut ya
Ma Em
Nah mati kamu Ferdi karena kaget karena uang di ATM nya sdh kosong , Sekar hati hati kamu sekarang Ferdi sdh tau uang nya hilang jgn sampai ketahuan Ferdi bahwa Sekar yg ambil uang nya .
💝F&N💝
sukuriiiiiiiiiin
kapoooooooook
Ma Em
Bagus ada orang yg sayang sama Sekar , adik ipar Sekar yg baik mau belain Sekar dan memberitahukan pada Sekar bahwa Ferdi mau nikah lagi sama Manda .
Ma Em
Emang Sekar yg terbaik berani melawan mertua dan suami yg selalu menyiksanya , semangat Sekar maju terus pantang mundur 💪👍.
Ma Em
Sekar hebat berani melawan mertua julid nya juga Ferdi yg tukang selingkuh , semoga Sekar jadi sukses dgn hasil usahanya sendiri .
Ma Em
Bagus Sekar lelaki macam Ferdy mah kalau dibiarin malah ngelunjak kasih uang belanja dus puluh lima ribu mau dipotong lagi emang sinting , lbh baik Sekar ambil saja ATM Ferdy lalu kuras isinya .
Ma Em
Sekar berani melawan suami pelitnya dan mertua yg bawel cuma sayang cuma berani doang tapi bodoh mau saja diperbudak sama suami dan mertuanya .
Jumi
KK, seru bgt ceritanya... semangat trs y k
Noona Rara: Iyaaa....Makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!