NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Kontrak

Cinta Dibalik Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DinaSafitri

Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CDK. 5

Di dalam kamar bergaya klasik yang temaram, Alya duduk di sisi ranjang sambil memijat perlahan kaki Tyo. Wajahnya masih menyimpan sisa ketegangan setelah bentakan Helena barusan. Kekhawatiran mendorongnya mencari sang ayah—dan kini ia menemukannya terbaring lemah, dengan pintu kamar yang bahkan tak tertutup rapat, seolah tak ada tenaga tersisa untuk sekadar menjaganya.

Dengan hati-hati, Alya menempelkan telapak tangannya ke dahi Tyo. Panas.

“Pah… panas papa tinggi sekali,” gumamnya lirih, nyaris seperti bisikan pada dirinya sendiri.

Tanpa banyak bicara, Alya mengambil kain basah, mengompres, merapikan selimut, dan sesekali mengusap keringat di pelipis ayahnya. Ia tetap di sana, setia, sampai napas Tyo mulai lebih teratur dan tubuhnya tak lagi sepanas sebelumnya.

Kesunyian kamar mendadak pecah.

TRING!!

TRING!!

TRING!!

Alya dan Tyo sama-sama menoleh ke arah ponsel yang bergetar di atas nakas.

Tyo meraih ponselnya dengan gerakan lemah, matanya menyipit membaca layar. “Nomor siapa ini…?” gumamnya bingung.

Alya mendekat, menatap penuh tanya. “Kenapa, pah? Siapa yang menelepon?”

Tyo menggeleng pelan. “Papa nggak tahu. Nomor tidak dikenal.”

Alya menatap ayahnya sejenak, lalu berkata pelan namun tegas, “Angkat saja, pah. Siapa tahu itu orang penting.”

Ada jeda singkat. Tyo tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk kecil. Ia menarik napas sebelum mengangkat panggilan itu.

“Ha-halo?”

Suara di seberang terdengar tenang, berwibawa. “Ya, halo. Apa ini Tuan Gabrielsen?”

“Ya, benar, Tuan. Maaf… dengan siapa saya berbicara?” jawab Tyo sopan, meski matanya sempat melirik Alya yang kini memasang wajah penuh rasa ingin tahu.

“Ah, tepat sekali. Saya Ethan Wijaya, Tuan Gabrielsen.”

Seketika, tubuh Tyo menegang. Ekspresinya berubah drastis.

“Ah! Maafkan saya, Tuan Ethan,” katanya cepat, suaranya sedikit bergetar. “Saya tidak mengenali Anda. Saya hanya… kaget karena Anda menghubungi saya langsung, bukan melalui asisten.”

Dari seberang, terdengar tawa ringan—hangat, tapi tetap berkelas. “Tak masalah. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu. Mungkin ini akan membuat Anda semakin terkejut.”

Alis Tyo berkerut dalam. Rasa penasaran bercampur waswas mengendap di dadanya.

Alya yang memperhatikan perubahan wajah ayahnya langsung mengerti—ini bukan percakapan biasa. Dengan gerakan halus, ia memberi isyarat untuk keluar, memberi ruang. Ia melangkah pergi tanpa suara, menutup pintu perlahan di belakangnya.

Di dalam kamar, suasana terasa semakin berat.

“A-apa itu, Tuan?” tanya Tyo gugup. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

Entah kenapa, firasatnya berkata—ini bukan hal sepele.

“Baiklah, saya langsung ke intinya saja,” ujar Ethan tenang. “Saya dan istri berencana datang ke rumah Anda besok malam. Kami ingin melamar putri Anda… dan menjadikannya menantu keluarga Wijaya. Bagaimana menurut Anda?”

Deg.

Dunia Tyo seakan berhenti berputar.

Tangannya nyaris kehilangan cengkeraman pada ponsel. Ia menelan ludah, mencoba mengumpulkan kesadarannya kembali.

“M-me-lamar putri saya?” ulangnya, nyaris tak percaya.

“Benar,” jawab Ethan mantap. “Ini permintaan langsung dari istri saya. Beberapa waktu lalu, ia bertemu putri Anda. Putri Anda membantu istri saya, dan sejak saat itu, ia sangat menyukai kepribadiannya. Karena itu, kami ingin datang melamar secara langsung.”

Tyo terdiam.

Bukan karena tak ingin menjawab, tapi karena pikirannya penuh sesak. Putrinya… dilamar oleh keluarga Wijaya? Tapi… putra yang mana?

Bukankah selama ini publik bahkan tak pernah tahu siapa anak mereka?

“Hallo? Anda masih di sana, Tuan?” suara Ethan menyadarkannya.

“Ah—iya! Maaf, saya sedikit tidak fokus,” jawab Tyo cepat. “Kabar ini… terlalu mengejutkan. Tapi, maaf Tuan Ethan… selama ini kita semua tahu Anda tidak pernah memperlihatkan putra Anda. Bahkan publik mengira Anda tidak memiliki anak. Dan sekarang… tiba-tiba ingin melamar putri saya. Apakah… Anda baru saja mengadopsi anak?”

Begitu kalimat itu keluar, Tyo langsung menyesal. Ia sadar betapa lancangnya pertanyaan itu.

Namun rasa penasarannya sudah memuncak, tak terbendung lagi.

Anehnya, Ethan tidak tersinggung.

Ia justru tertawa lagi—lebih lepas dari sebelumnya.

“Saya tahu apa yang Anda pikirkan,” katanya santai. “Nanti Anda juga akan tahu siapa putra saya selama ini.”

Ada jeda singkat, lalu ia melanjutkan, “Bersiaplah untuk besok malam, Tuan Gabrielsen. Kami akan datang.”

Klik.

Telepon terputus sepihak.

Tyo menatap layar ponselnya yang kini gelap. Pikirannya berputar liar, mencoba menebak—siapa sebenarnya putra Ethan Wijaya?

~

Di tempat lain, Isabella berdiri dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Sejak tadi, ia diam-diam menguping percakapan suaminya.

“Gimana, pah? Mereka setuju?” tanyanya tak sabar.

Ethan tersenyum tipis, sedikit angkuh. “Tidak ada yang bisa menolak permintaan dari seorang Ethan Wijaya, Mah.”

Plak!

Isabella memukul pelan lengannya. “Mama serius, Pa!”

Ethan tertawa kecil, lalu mengajak istrinya duduk di sofa. Ia menyandarkan tubuhnya dengan santai, satu kaki disilangkan.

“Tidak tahu,” jawabnya akhirnya. “Papa tidak memberinya waktu untuk menjawab. Kita lihat saja besok.”

Wajah Isabella langsung berbinar. “Mama nggak sabar nunggu besok!”

Ethan menatapnya dengan heran. “Memangnya Mama yakin perempuan itu orang baik?”

“Yakin banget!” jawab Isabella mantap. “Mama lihat sendiri. Dia yang menghajar jambret itu. Waktu Mama kasih uang sebagai imbalan, dia malah nolak. Katanya nggak perlu.”

Ia tersenyum bangga. “Papa harus percaya. Dia itu baik, cantik juga. Cocok banget buat Max.”

Ethan menghela napas pelan. “Percaya pada orang yang baru sekali dilihat… belum tentu dia benar-benar baik.”

“Tepat sekali.”

Suara lain tiba-tiba menyela dari arah pintu.

Ethan dan Isabella menoleh bersamaan.

Max berdiri di sana, bersandar santai dengan senyum tipis yang sulit ditebak.

“Apa maksudmu, Boy?” tanya Ethan, mengernyit.

Max tak langsung menjawab. Ia justru mendekat perlahan, senyumnya semakin misterius. “Bagaimana kalau tebakanku kali ini benar? Mau taruhan?”

Isabella langsung tertarik. “Ayo! Kamu pikir Mama takut? Kalau Mama menang, kamu harus menikah dengan wanita pilihan Mama.”

Max menyeringai, menyambut uluran tangan ibunya. “Deal. Tapi kalau Mama kalah… berhenti menyuruhku menikah. Setuju?”

Alisnya naik turun menggoda.

Isabella terdiam sesaat, menimbang. Namun keyakinannya terlalu besar.

“Setuju,” katanya mantap. “Mama pasti menang.”

Max tersenyum tipis—senyum yang tak sampai ke mata. “Silakan berbangga diri untuk sekarang, Ma.”

Ia lalu berbalik, meninggalkan ruangan tanpa menoleh lagi.

Ethan hanya menggeleng pelan melihat itu semua.

~

Di kota yang sama, suasana meja makan keluarga Tyo dipenuhi bunyi dentingan sendok dan garpu. Tak ada percakapan berarti, hanya keheningan yang terasa berat.

Sesekali, Tyo melirik kedua anaknya. Ucapan Ethan terus terngiang di kepalanya.

Ia menahan diri.

Menunggu.

Beberapa menit berlalu, makan malam pun usai. Saat semua hendak bangkit, suara Tyo menghentikan mereka.

“Tunggu!”

Helena menghela napas kesal. “Apa lagi sih? Mama ngantuk, mau istirahat.”

Tyo menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. “Duduk sebentar. Ada hal penting yang ingin Papa sampaikan.”

Dengan enggan, mereka kembali duduk.

Ella menyandarkan tubuhnya, wajahnya malas. “Kalau cuma mau bilang besok kita jatuh miskin, nggak usah deh, Pah. Mood-ku lagi nggak bagus.”

“Kak…” tegur Alya pelan.

Namun Ella hanya mendengus.

Tyo menggeleng. “Bukan itu.”

Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah di depannya.

“Besok malam… keluarga Wijaya akan datang.”

Semua langsung menegang.

“Untuk melamar.”

“APAA?!”

1
Neng Nosita
apa yg drencanakan max? apakah pernikahan hanya dijadikan alat bagi mereka yg berkuasa?
Barru Kab
mana kelanjutannya thor
Dina Safitri: OTW yaa🤭
total 1 replies
Neng Nosita
semoga nanti Max mengetahui kelicikan ibu mertuanya
Neng Nosita
wah..siapa tuh?
Neng Nosita
lamaran yang jauh dari kata romantis,...😄
Neng Nosita
sak sek syok pasti si Alya...
Neng Nosita
uuuh..seru thor👍
Dina Safitri: MasyaAllah terimakasih sudah mampir kakak. mohon untuk saran keritikan nya😍

cerita ini masih dalam proses kontrak, begitu kontrak turun aku akan melanjutkan ceritanya. sekali lagi terimakasih karena sudah mampir🙏
total 1 replies
pieyyy
bgs kak, sini mampir bntr kak aku baru keluarin karya baruku, makasihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!