NovelToon NovelToon
My Cold Boss Is A Spicy Writer!

My Cold Boss Is A Spicy Writer!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wie Arpie

Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.

Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"

Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.

Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepastian di Tengah Bisikan

Senin pagi di lantai 42 Dewangga Group biasanya dimulai dengan sunyi yang produktif. Namun, pagi ini suasananya berbeda. Atmosfer terasa lebih "berisik" meskipun tidak ada suara keras. Bisikan-bisikan tertahan di area pantry dan lirikan mata para staf saat Sia melintas menjadi pertanda bahwa rahasia yang selama ini dijaga ketat mulai mengalami kebocoran.

Pemicunya sederhana: Arkan tetap pada pendiriannya untuk menjemput dan mengantar Sia. Pagi tadi, mobil SUV hitam milik sang CEO berhenti tepat di depan lobi utama, dan Arkan sendiri yang membukakan pintu untuk Sia sebelum mereka naik ke lift khusus bersama-sama. Bagi para karyawan, itu adalah konfirmasi visual yang lebih valid daripada sekadar foto buram di pasar malam.

Sia mencoba fokus pada tumpukan dokumen di mejanya, namun konsentrasinya buyar saat Gibran masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu—seperti biasa—namun kali ini dengan wajah yang sangat serius.

"Sia, Arkan ada di dalam, kan?" tanya Gibran.

Sia mengangguk ragu. Di dalam ruangan, Arkan sedang menatap layar monitornya. Begitu melihat Gibran masuk dengan wajah ditekuk, Arkan menyandarkan punggungnya.

"Ada apa, Gib? Stok kopi lo habis?" sindir Arkan santai.

Gibran tidak tertawa. Ia meletakkan sebuah tablet di meja Arkan. "Foto lo berdua turun dari mobil pagi ini sudah masuk ke grup anonim kantor. Bahkan ada yang mulai bikin spekulasi kalau Sia itu cuma 'simpanan' lo karena tiba-tiba dapat perlakuan istimewa. Mereka nggak tahu kalau Sia itu memang kompeten, Kan. Mereka cuma lihat sisi negatifnya."

Rahang Arkan mengeras. Aura "robot" yang dingin kembali muncul. "Biarkan saja mereka bicara. Gue nggak punya kewajiban menjelaskan kehidupan pribadi gue ke staf."

"Tapi ini menyangkut reputasi Sia, Kan!" seru Gibran. "Gue dukung lo berdua, sumpah. Tapi sebagai sahabat, gue nggak mau Sia jadi sasaran empuk di kantor ini. Lo harus kasih kepastian publik kalau ini bukan sekadar main-main."

Sia yang berdiri di ambang pintu merasa tersentuh. Gibran, meski tidak tahu kalau Arkan adalah Nightshade, ternyata sangat peduli pada posisi Sia.

"Gue akan kasih kepastian, Gib. Segera," jawab Arkan tenang namun tajam. "Persiapkan rilis internal. Bilang kalau gue dan Sia sedang dalam hubungan serius menuju pertunangan. Siapa pun yang bergosip negatif di jam kantor, silakan ambil surat peringatan di HRD."

Gibran melongo. "Pertunangan? Wow. Oke. Fast track ya, Bos. Gue urus sekarang."

Malam harinya, Arkan mengantar Sia sampai ke depan pintu apartemennya. Suasana terasa sunyi, hanya ada suara deru AC di koridor. Saat Sia hendak membuka pintu, Arkan menahan lengannya.

"Sia, boleh aku masuk sebentar? Ada yang mau aku kasih tahu," pinta Arkan.

Sia mengangguk. Begitu pintu tertutup, suasana apartemen Sia yang kecil namun rapi terasa sangat hangat. Arkan tidak duduk di sofa. Ia justru berdiri di tengah ruangan, menatap Sia dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ada apa, Kan? Kamu kelihatan tegang," tanya Sia sambil meletakkan tasnya.

Arkan menarik napas panjang. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru biru tua. Tanpa aba-aba, ia berlutut di depan Sia di tengah ruang tamu yang mungil itu.

"Kan? Apa yang kamu lakukan?" Sia terperanjat, tangannya refleks menutupi mulutnya.

"Sia," suara Arkan terdengar sedikit serak namun mantap. "Selama ini aku hidup di balik dinding yang aku bangun sendiri. Aku pikir kesuksesan dan privasi adalah segalanya. Sampai kamu datang. Kamu bukan cuma asisten yang hebat, tapi kamu adalah editor dari hidupku yang kaku. Kamu yang melengkapi setiap bab yang kosong dalam hatiku."

Arkan membuka kotak itu. Sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil yang sangat cantik berkilau di bawah lampu apartemen.

"Aku nggak mau menunggu sampai acara resmi keluarga. Aku mau bertanya padamu di sini, di tempatmu, di dunia nyata kita yang paling jujur. Saffiya Adhisti, maukah kamu menikah denganku? Menjadi rumah tempatku pulang selamanya?"

Air mata Sia jatuh tanpa bisa dibendung. Nama lengkapnya disebut dengan begitu penuh perasaan. Tidak ada kamera, tidak ada keluarga Dewangga yang mengawasi, tidak ada pembaca Nightshade yang menanti kelanjutan cerita. Hanya ada mereka berdua.

"Iya, Kan. Aku mau," bisik Sia di sela isakannya.

Arkan tersenyum lega—senyum paling tulus yang pernah Sia lihat. Ia menyematkan cincin itu di jari manis Sia, lalu berdiri dan memeluk Sia dengan sangat erat.

Satu minggu kemudian, persiapan pertunangan resmi dilakukan. Sesuai permintaan Sia dan disetujui oleh Arkan, acara ini tidak dilakukan di hotel mewah, melainkan di rumah sederhana milik Ayah Sia.

Sabtu pagi, rumah Pak Gunawan sudah tampak rapi. Ada tenda kecil sederhana di halaman depan. Ibu Tiri Sia sibuk luar biasa, memastikan kue hantaran tertata cantik, sementara Doni pun tampil rapi dengan kemeja batik, meskipun sesekali masih mencuri waktu main game.

Rombongan keluarga Dewangga tiba tepat jam sepuluh pagi. Sesuai rencana, hanya ada Pak Hardi, Bu Ratna, dan Om Malik yang ikut serta. Arkan ingin suasana tetap intim dan tidak membuat Ayah Sia terintimidasi.

Melihat mobil Pak Hardi yang mewah berhenti di depan gang, warga sekitar sempat heboh. Namun, begitu Pak Hardi turun dengan batik berwibawa namun wajah yang ramah, suasana menjadi lebih tenang. Pak Hardi berjalan berdampingan dengan Bu Ratna yang tampil sangat bersahaja namun tetap elegan.

Kedua ayah itu bersalaman. Ada momen unik di sana. Pak Hardi yang biasanya kaku dan irit bicara, tampak berusaha mencairkan suasana. "Rumahnya sejuk ya, Pak Gunawan. Pohon mangganya rimbun sekali."

"Iya, Pak Hardi. Ini kesibukan saya kalau lagi senggang," jawab Pak Gunawan mulai rileks.

Di dalam ruang tamu yang mungil, mereka duduk lesehan di atas karpet yang sudah disiapkan. Paman Malik, dengan gayanya yang santai, langsung bisa akrab dengan Doni. "Wah, kamu main game itu juga? Nanti mabar (main bareng) sama Om ya," bisik Malik yang membuat Doni langsung nyengir lebar.

Inti acara pun dimulai. Pak Hardi berdeham, suasana menjadi sakral.

"Pak Gunawan, kedatangan kami di sini dengan maksud yang sangat tulus. Putra sulung saya, Arkananta Dewangga, sudah menyampaikan niatnya untuk meminang putri Bapak, Saffiya Adhisti. Kami sebagai orang tua sangat merestui. Jika Bapak berkenan, kami ingin meresmikan ikatan mereka dalam pertunangan hari ini," ujar Pak Hardi dengan sangat berwibawa namun penuh rasa hormat.

Pak Gunawan menatap Sia yang duduk bersimpuh di samping Ibu Tirinya. Sia mengangguk kecil dengan mata berkaca-kaca.

"Sebagai orang tua, saya cuma mau Sia bahagia. Dan saya melihat Arkan adalah pria yang baik. Saya terima lamaran Nak Arkan untuk putri saya."

Bu Ratna langsung memeluk Sia dengan haru. "Selamat ya, Sia sayang. Sekarang kamu resmi jadi calon menantu Mama."

Acara dilanjutkan dengan tukar cincin secara simbolis di depan keluarga. Meskipun sederhana suasana terasa jauh lebih hangat daripada pesta pora mana pun di gedung mewah.

Om Malik sesekali melontarkan candaan. "Jadi Arkan, habis tunangan jangan galak-galak lagi di kantor. Nanti Sia mogok jadi calon istri kamu kalau disuruh lembur terus."

Arkan hanya bisa tersenyum pasrah sambil menggenggam tangan Sia. "Kalau dia mogok, aku yang akan jemput dia, Om."

Malam harinya, setelah rombongan Dewangga pulang, Sia dan Arkan duduk sebentar di teras rumah Ayahnya, menatap bintang-bintang di sela daun mangga.

"Terima kasih, Arkan," bisik Sia.

"Terima kasih sudah menjadi rumahku, Sia," balas Arkan sembari mengecup kening Saffiya di bawah cahaya lampu teras yang temaram.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!