NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB ENAM

Kamar hotel itu luas, bergaya modern dengan sentuhan kayu hangat khas resort pegunungan. Balkon kaca terbuka menghadap hamparan kota Bandung di kejauhan, lampu-lampu kecil berkelip bagai bintang di kaki langit. Udara malam menusuk dingin, membuat Maharani menarik tirai tebal lalu menyalakan pemanas ruangan.

Ia meletakkan tas kecilnya di kursi, lalu menjatuhkan tubuh ke ranjang king size yang rapi. Seprei putih bersih itu terasa dingin, tapi justru membuatnya makin sulit tenang. Tangannya meraih remote, menyalakan televisi sekadar untuk ada suara, tapi channel demi channel hanya lewat tanpa benar-benar ia perhatikan.

Di meja samping ranjang, ponselnya berkedip. Satu notifikasi masuk dari Risyad. Maharani menatap layar itu lama, jantungnya seperti tertarik dua arah. Ada dorongan untuk membukanya, ada pula penolakan keras. Dengan kesal ia membalik ponselnya, layar menghadap ke bawah.

Ia mendesah panjang, lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangan.

Kenapa malah dia lagi? Kenapa nggak bisa pergi aja dari hidupku?

Tapi justru bukan Risyad yang menguasai pikirannya malam itu. Rakha. Tatapan dingin itu, suara beratnya yang terlalu tenang, genggaman tangannya-semuanya hadir begitu jelas seolah ia masih duduk di lounge tadi. Maharani bahkan bisa mengingat aroma maskulin samar dari jas hitamnya.

Ia bangkit, berjalan ke balkon, membuka sedikit celah tirai. Angin dingin masuk, membuat rambutnya beterbangan. Dari ketinggian itu, lampu kota terlihat seperti laut cahaya yang tak ada ujungnya. Maharani menggigit bibir bawahnya, dadanya terasa sesak.

"Kenapa gue terus mikirin dia sih?" bisiknya pada diri sendiri. "kami bahkan baru kenal..."

Namun ada sesuatu di sorot mata pria itu-sesuatu yang mengganggu, tapi sekaligus menariknya semakin dalam. Rasa takut bercampur penasaran, membuat perutnya bergejolak.

Ia kembali ke ranjang, mencoba tidur. Matanya terpejam, tapi pikirannya tetap berlari. Kalimat terakhir Rakha menggema di kepalanya:

Sampai bertemu lagi...

Maharani menggeliat gelisah, menarik selimut hingga menutupi wajah. Jantungnya berdebar terlalu keras untuk bisa terlelap. Dan di antara lelah, dingin, serta riuh pikirannya, ia hanya bisa berbisik dalam hati-bahwa pertemuan singkat itu bukanlah akhir. Itu baru permulaan.

***

Sidang siang itu berjalan alot. Para pengacara saling melempar argumen, saksi bergantian dipanggil, hakim mengetukkan palu beberapa kali untuk meredam ketegangan. Ruang sidang penuh sesak dengan wartawan dan pengunjung, namun bagi Rakha... semuanya terasa jauh, kabur.

Bukan karena ia tak mampu berkonsentrasi-Rakha Adiwangsa Wiratama selalu dikenal sebagai pengacara dengan fokus tajam bak pisau. Tapi kali ini ada yang berbeda. Sejak tadi, wajah seorang perempuan terus menempel di pikirannya.

Maharani Ayudia Soetomo.

Bayangan itu datang begitu jelas. Tatapan matanya yang sempat gelisah tapi berusaha tegar, senyum canggung yang ia sembunyikan dengan tawa kecil, hingga aroma samar parfum bunganya saat mereka duduk berhadapan di lounge apartemen semalam. Semua detailnya seperti tak mau pergi, terus menghantui bahkan di tengah keseriusan sidang.

Rakha sempat menutup mata sejenak, menarik napas panjang, berusaha menepis pikiran itu. Apa-apaan ini? Sejak kapan aku membiarkan seorang perempuan mengacaukan konsentrasiku?

Namun semakin ia berusaha melupakannya, semakin kuat bayangan Maharani menancap. Bukan sekadar wajah cantik atau pesona seorang bintang panggung. Ada sesuatu pada dirinya-sesuatu yang membuat Rakha tak bisa berhenti mengingat.

Tangannya mengepal di atas meja kayu ruang sidang. Ia tahu, ini bukan sekadar rasa penasaran biasa. Ada gejolak aneh, semacam tarik-menarik antara rencana gelap yang sudah ia susun bertahun-tahun... dengan perasaan yang tiba-tiba muncul begitu saja.

Hakim memanggil namanya, meminta ia memberi sanggahan. Rakha bangkit, menegakkan jas hitamnya, lalu melangkah maju dengan wibawa seperti biasa. Suaranya tetap tenang, argumennya tetap tajam. Semua orang menatapnya, kagum dengan karisma dan kekuatannya.

Namun di balik ketenangan itu, pikirannya tak henti berulang-ulang pada satu nama.

Maharani.

Seolah sidang ini hanya panggung formalitas, sementara sidang sebenarnya terjadi di dalam kepalanya-antara logika dingin seorang Rakha Wiratama dan bayangan seorang wanita yang tak seharusnya ia biarkan masuk ke dalam hidupnya.

Ketukan palu terakhir hakim menandai sidang ditutup. Rakha menundukkan kepala singkat sebagai tanda hormat, lalu membereskan berkas-berkasnya. Riuh tepuk tangan kecil dari klien dan timnya terdengar samar, tapi ia hanya menanggapinya dengan anggukan dingin.

Ia keluar ruang sidang dengan langkah mantap, jas hitamnya terayun elegan, sorot matanya tetap tajam. Namun begitu ia sampai di koridor yang lebih sepi, tanpa sadar genggamannya pada map dokumen sedikit melemah. Ada rasa sesak yang sejak tadi ditahannya-sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sidang.

Ia menyandarkan punggungnya pada dinding marmer dingin, menarik napas panjang. Suara langkah orang berlalu-lalang terdengar jauh. Untuk pertama kalinya, Rakha merasakan pikirannya tidak sepenuhnya berada di kendalinya.

Tangan kanannya merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi surel dan pesan, tapi ia tidak peduli. Jari-jarinya langsung mengetik satu nama:

Maharani Ayudia Soetomo.

Dalam hitungan detik, layar dipenuhi hasil pencarian. Foto-foto Maharani bermunculan: senyum anggunnya di atas panggung, wajah seriusnya saat menjadi bintang iklan, bahkan candid paparazi saat ia mengenakan hoodie sederhana di bandara. Rakha menatap layar itu lama sekali.

Wajah perempuan itu begitu berbeda dari citra yang dilihatnya semalam. Di foto, Maharani tampak seperti bintang terang yang sempurna-jauh dari kesan rapuh yang sempat ia tangkap ketika perempuan itu menunduk menggenggam cangkir kopi.

Rakha menyipitkan mata, senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang samar, nyaris tak bisa dibaca-antara kagum, penasaran, atau justru... ancaman.

"Jadi ini wajahmu di mata dunia, Maharani Soetomo..." gumamnya lirih. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan. "Terlalu sempurna. Terlalu mudah jatuh. Dan terlalu mudah... untuk dihancurkan."

Namun di balik kata-kata itu, hatinya berdenyut aneh. Ada bagian dari dirinya yang justru ingin menjaga cahaya perempuan itu, bukan memadamkannya.

Rakha segera mematikan layar ponselnya, memasukkannya kembali ke saku. Ia menegakkan tubuh, merapikan jasnya, lalu melangkah keluar gedung pengadilan. Wajahnya kembali datar, dingin, seperti pria yang tidak terguncang apa pun.

Tapi hanya dia yang tahu: nama Maharani Ayudia Soetomo kini sudah menjadi duri sekaligus magnet di dalam pikirannya.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!