Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!
Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.
Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....
Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.
Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Yang Terlihat dan Yang Tersembunyi
Tiga bulan sejak pernikahan suci dilangsungkan, miasma berangsur-angsur menghilang. Bukan saja tidak lagi terdengar adanya korban, kondisi tanah dan air di wilayah Norton pun membaik.
Walau ancaman nyata sudah tidak tampak, wilayah itu tetap diawasi dengan ketat. Perintah dari Kaisar masih berlaku—untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di sana. Kaisar Lucerian seolah tidak sepenuhnya mempercayai bencana itu selesai ditangani dengan ‘penyatuan darah suci’ dan sihir perlindungan. Sejumlah ksatria dikirim untuk melakukan patroli di wilayah Norton dan sekitarnya.
Meski tidak banyak yang bisa dilaporkan, keberadaan mereka membuat rakyat lebih tenang. Terlebih karena Norton adalah salah satu wilayah strategis untuk jalur perdagangan dengan Negeri Sheren.
Loran dan tiga ksatria lain adalah yang bertugas malam itu. Kuda-kuda yang terlatih memasuki area Hutan Karne dalam derap konstan. Obor diangkat tinggi sebagai penerangan. Barangkali karena lokasinya yang tidak jauh dari Hutan Selubung Maut, hutan itu begitu gelap. Cahaya obor di tangan mereka nyaris tidak memiliki guna.
Hutan itu sunyi. Tidak ada angin. Tidak ada satu pun suara hewan dan serangga malam. Derak ranting yang terinjak tapal kuda terdengar begitu nyaring, seolah suara itu dipantulkan dan diamplifikasi.
“Berhenti.”
Perintah itu tiba-tiba terdengar dari ksatria di posisi paling belakang.
Rombongan kecil itu seketika menahan laju. Tangan mereka refleks meraih gagang senjata. Pasang mata memicing menyapu kegelapan di antara rapat pepohonan.
“Ada apa?” Loran bertanya. “Apa yang kau lihat?”
Garret, ksatria yang berada di baris paling belakang itu, tidak lekas menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan. Matanya membelalak dengan pupil bergetar, seolah tengah menyaksikan hal yang teramat mengerikan.
Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Hanya tangannya yang menunjuk ke arah pepohonan di depan.
Tiga ksatria itu mengikuti arah yang ditunjuk. Namun, tidak menemukan apa-apa. Tidak juga mendengar suara apapun.
“Tidak ada apa-apa di sana.”
“Kau… tidak melihatnya?”
Sebelum ada yang sempat menjawab, tiba-tiba sebuah suara terdengar.
Seperti auman. Seperti jeritan. Seperti ledakan.
Bersamaan dengan itu, bayangan besar muncul dari kegelapan. Lebih besar dari hewan buas yang sesekali muncul di sekitar situ. Bahkan lebih besar dari harimau api hitam. Sementara wujudnya—tidak bisa dijelaskan. Dia seperti asap pekat yang hidup, dan bergerak dengan cara yang amat ganjil.
“Apa—”
“Hewan buas!!?”
“Hati-hati sayapnya!”
“Moncongnya—!"
"Api!! AWAS!”
Teriakan itu terdengar saling tumpang tindih.
Salah satu dari mereka melompat dari kuda untuk menghindari serangan. Satunya menarik tali kekang dan memaksa kudanya berlari. Loran menangkis serangan dari sulur berduri yang melesat cepat. Pedangnya terayun untuk menebas.
Namun, ia tidak mengenai apa-apa, seolah makhluk di depannya tiba-tiba hilang. Lalu, ia terlempar begitu saja, seperti ada tangan besar tak terlihat yang menghantamnya hingga jatuh berguling.
“Garret!!”
“Menjauh dari sana!!”
Garret masih berdiri di tempatnya. Membeku. Seolah tubuhnya terpancang di titik itu. Matanya terpaku ke depan. Bukan pada bayangan hitam yang sedang mendekatinya, tapi pada sesuatu yang lain.
Seolah ada hal lain di sana yang hanya bisa dilihat olehnya.
“GARRETT!”
Loran berusaha bangkit dan menolong temannya. Namun, ia kalah cepat.
Makhluk itu telah ada di hadapan Garret yang terpaku.
“Serang!”
Dengan aba-aba itu, secara bersamaan tiga ksatria menghunuskan senjata. Akan tetapi, kemanapun mereka mengarahkan serangan, mereka hanya menebas angin. Makhluk itu seakan telah berpindah sebelum sempat mereka sadari. Malah, senjata mereka beradu; nyaris melukai satu sama lain.
Lalu, terdengar benturan mengerikan. Taring yang mengoyak. Api yang berderak. Geraman yang menggetarkan pepohonan.
Ketika tersadar, lutut mereka telah mencumbu bumi dan senjata mereka terlepas berkelontang di tanah.
“Apa… yang…”
Selang satu detik, Garret ambruk di atas tanah.
Lalu, makhluk itu menghilang.
Dia lenyap begitu saja. Seolah tidak pernah ada.
Loran mendekati kawannya dengan susah payah. Seluruh tubuhnya gemetar oleh nyeri yang tidak bisa ia jelaskan. Apapun serangan yang mereka terima dari makhluk itu, besar kemungkinan memiliki racun, menyebabkan kepalanya berputar dan tubuhnya menggigil. Hal yang sama dialami temannya.
Terkecuali Garret.
Yang terbujur kaku dengan mata melotot dan mulut terbuka, seakan tengah berteriak ngeri.
“Dia… sudah tak bernyawa." Loran berucap, pelan. Ragu. Berharap dirinya salah.
“Tidak mungkin. Makhluk itu tidak menyerangnya.”
“Tidak ada luka apapun di tubuhnya.”
Apa yang mereka katakan tidak salah. Meski kabur, mereka yakin makhluk itu tidak sempat menyentuh kawannya. Tapi, tubuh Garret di hadapan mereka memang sudah tidak bernyawa.
“Makhluk apa.. tadi itu?!”
“Seperti serigala raksasa? Dia—”
“—bersayap.”
“—menyemburkan api.”
“—memiliki sulur beracun.”
Tiga ksatria itu bertukar pandang satu sama lain. Terdiam. Tak satupun dari mereka menyebutkan ciri-ciri yang sama.
Dingin merayapi punggung hingga ujung jari.
Makhluk apa yang sebenarnya baru mereka temui??
Hanya satu hal yang pasti, Keluarga Lysarent tidak akan menyukai berita ini.
...*...
...*...
...*...
Hari itu, karena bosan, aku berjalan-jalan di aula singgasana Kaelros. Sudah berkali-kali kemari pun tetap saja ruangan ini membuatku berdecak kagum.
Memang tidak salah ruangan ini menjadi pusat kuasa istana. Dia menjulang tinggi dengan pilar-pilar batu yang diukir cantik, sepintas menyerupa sisik naga. Di ujung ruangan, di ujung permadani bertabur emas, singgasana berdiri di atas tangga rendah. Pintu-pintu besar yang terbuka menghadap halaman utama istana berada di sisi lainnya. Jendela-jendela tinggi memastikan cahaya matahari menyinari ruangan; tepat jatuh di mana singgasana berada, seperti light effect yang diatur secara profesional.
Di bagian atas, setengah tersembunyi oleh lengkung dinding, terdapat balkon batu yang menjorok keluar. Di sana Kaisar biasa menyampaikan pengumuman kepada seluruh rakyat. Satu-satunya akses menuju balkon itu ialah sebuah tangga sempit di balik dinding, tersembunyi dari pandangan. Dari atas balkon itu aku bisa melihat alun-alun Valtheris. Benar-benar posisi strategis untuk Kaisar menyapa rakatnya.
Setiap kali kemari, aku lebih sering mengawasi dari salah satu pilar atau kusen jendela. Dari posisi itu aku bisa melihat semua orang dengan leluasa.
Karena ini sore hari dan tidak ada hal genting, ruangan itu kosong. Aku menapaki permadani merah yang terbentang dari pintu utama hingga tangga singgasana.
Dilihat dari dekat, kursi itu semakin tampak seperti kursi biasa.
Ukurannya besar, bisa diduduki sampai tiga orang dewasa. Peliturnya begitu menawan dengan ukiran rumit berlapis emas asli. Jelas mahal. Jelas mewah. Jelas diperuntukkan bagi seorang spesial. Tapi, tetap saja hanya sebuah kursi.
Kenapa ya kursi seperti ini selalu diperebutkan? Hingga menjadi pertumpahan darah dan perang saudara.
Karena ambisi?
Aku tidak mengerti.
Yah, setidaknya, kursi ini cukup nyaman diduduki. Bukan tempat untuk bersantai, tapi setidaknya tidak akan menusuk bokong. Permukaannya dilapisi bantalan empuk dengan kain lembut. Sementara dandarannya cukup tinggi, dan semakin tampak tinggi dengan ukiran naga di bagian kepalanya.
Dipikir-pikir, ornamen naga benar-benar muncul di banyak tempat di Kaelros ini—fakta kecil lain yang tidak aku temukan dalam game.
Berkah naga selalu lekat dengan sejarah Kaelros; aku mengingat pelajaran yang diberikan Tuan Melvaris tempo lalu. Syarat mutlak untuk menaiki tahta ialah mendapat pengakuan dari Naga Pelindung.
Jujur saja, aku sedikit penasaran apakah benar dulu Kaelros seperti itu? Bagaimana kaisar Kaelros dulu mendapat “pengakuan naga” untuk menaiki tahta? Apa ada pemberkatan atau semacamnya?
Atau mungkin dulu kaisar Kaelros berteman akrab dengan naga; seperti yang aku lihat di televisi?
Didorong penasaran, aku memanjat ukiran naga di kepala singgasana megah itu. Dari atas sini, menatap ke seisi aula, rasanya memang seperti sedang ‘mengawasi’ kelakuan manusia.
Jangan-jangan memang ada “spirit” naga agung yang mengawasi Kaelros selama ini.
Haha—
NYAAA!!
Gara-gara memikirkan hal melantur, aku sedikit kehilangan pijakan dan tergelincir dari si ukiran naga.
Refleks, aku berpegangan pada salah satu sayapnya yang terbentang.
Kraakkk!
Aku membeku ketika mendengar suara itu.
Seperti suara patah......
Gawat.
Apa aku baru saja merusak properti agung istana???
Sebelum aku sempat memutuskan apa aku harus kabur atau menyerahkan diri pada Kaisar, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Seperti suara batu berat yang digeser perlahan.
Bersamaan dengan suara itu, aku melihat tembok di belakang singgasana perlahan turun. Lapis batu tenggelam ke lantai hingga terbuka ruang seukuran pintu—tidak sebesar pintu utama aula, tapi jelas lebih besar dari pintu ruangan biasa. Dan di sana aku melihat keberadaan lorong dengan cahaya temaram.
“Woaahh.”
Sungguh, peribahasa “curiosity kills the cat” itu tepat sekali. Melihat pintu rahasia itu aku tidak bisa menahan rasa ingin tahuku. Andaikan aku masih manusia, aku mana berani mendekati tempat mencurigakan begitu. Tapi, di wujud kucing ini, dorongan untuk menyelidiki dan mencari tahu itu sulit sekali dikendalikan.
Melompat dari singgasana, aku pun memasuki lorong itu dengan sedikit berdebar.
Terowongannya cukup panjang. Cahayanya redup, bukan berasal dari lilin ataupun obor, dan jelas bukan dari lampu. Ada sesuatu yang menyala di permukaan dinding itu. Seperti stiker yang menyala dalam gelap. Setelah aku sentuh, endus, dan perhatikan cukup lama, sepertinya itu semacam jamur. Mereka padam tiap kali aku pegang, lalu kembali menyala sekitar sepuluh detik setelahnya.
Menarik.
Semakin dalam aku melangkah, ada cahaya lain yang bersinar lebih terang. Yang ini entah dari mana asalnya.
Terowongan itu berhenti di semacam gua kecil. Di tengah gua itu terdapat semacam meja batu pendek, di atasnya ada lempeng batu yang diikat dengan rantai pada tiang kecil yang mengelilinginya serupa pagar. Sepintas mirip barang antik mahal di museum yang dijaga ketat supaya tidak ada pencuri yang bisa mengambil.
Tapi, aneh.
Untuk apa lempeng batu kusam yang tampak seperti batu tulis itu dijaga ketat sedemikian rupa?
Dilihat dari dekat, tidak ada tulisan yang bisa dibaca. Ada ukiran lengkung yang tidak aku mengerti, entah itu semacam plakat atau apa. Anehnya, lempeng batu itu berpendar samar. Berdenyut. Seolah ada bayang kehidupan di dalamnya.
Apa jangan-jangan itu semacam roh monster keramat yang disegel?
Kalau iya, kenapa disembunyikan di belakang singgasana? Apa tidak ada tempat lain yang lebih aman?
Baru saja berpikir begitu, tiba-tiba aku mendengar suara. Mula-mula seperti bisikan. Saling bersahutan. Lama-lama suara itu semakin keras. Semakin banyak. Semakin rusuh. Tumpang tindih. Begitu nyaring sampai rasanya jeritan-jeritan itu tepat dilakukan di samping telinga.
Telingaku sampai berdenging.
Mendadak ruangan itu seperti penuh oleh presensi yang tidak bisa dilihat kasat mata.
Dinding gua itu sejenak berdetak. Berwarna merah seperti darah.
Lalu, ada ribuan pasang mata yang berkedip dan menatap tajam ke arahku.
Bulu kudukku meremang.
Alarm bahaya menyala keras dalam kepalaku.
Aku merasakan keberadaan sesuatu yang hendak menyerang. Tapi, entah siapa dan entah dari mana.
Panik seketika mendera. Hanya ada satu hal yaang aku tahu; yaitu untuk segera menyingkir dari sana.
Baru saja aku mengambil satu langkah mundur, gua kecil itu tiba-tiba berubah menjadi kamar apartemenku di Tokyo.
Sekejap.
Seolah aku berteleportasi ke sana.
Tapi, hanya satu detik, kamar apartemenku itu kembali menghilang. Gua berdinding merah dengan ribuan pasang mata itu kembali di sana. Sebelum kemudian kamar apartemenku kembali muncul di hadapan. Lalu berganti lagi.
Seperti itu berulang-ulang. Seperti ada kesalahan pada layar monitor atau semacamnya. Seperti ada saklar yang ditekan berganti-ganti.
Aku tidak tahu berapa kali hal itu terjadi, yang aku tahu adalah aku berbalik dan berlari secepat yang aku bisa. Tidak sekalipun aku menoleh. Meninggalkan gua aneh itu. Meninggalkan aula. Tidak tahu ke mana. Yang penting menyingkir dari sana.
Biarpun jeritan yang saling tumpang tindih itu semakin jauh dan tidak lagi terdengar, aku tidak berhenti berlari.
Sampai aku melihat kelebatan kain biru pucat dan sepasang tangan lembut menangkap tubuhku; barulah aku berhenti.
“Lumi? Kau baik-baik saja?”
Suara halus Havren terdengar seperti udara pagi yang menyegarkan, membangunkan dari mimpi buruk. Aku menelungkup, berusaha menyembunyikan diri, mencari kehangatan dalam dekapnya.
Jantungku berdetak begitu cepat sampai rasanya akan keluar dari kerongkongan.
“Kau dari mana…?” Havren bertanya pelan. Telapaknya mengusap bulu emasku dengan lembut.
Betapapun ingin, aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Tubuhku masih gemetar. Dan suaraku tidak bisa keluar.
Yang tadi itu apa???
...*...
...*...
...*...
Havren tidak melepasku sampai malam tiba. Seakan pangeran bungsu itu tahu bahwa aku masih terguncang. Aku juga tidak memiliki energi untuk melakukan apapun. Tidak memiliki keinginan meninggalkan presensinya yang menenangkan.
Havren membawaku ke tempat biasa ia memainkan flute.
Ketika musik lembut itu mengalun di udara malam, perlahan tubuhku merileks. Detak jantungku yang memburu perlahan kembali konstan.
Lamat-lamat aku terlelap, di samping Havren yang memainkan musiknya.