Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar dari Benua Timur
Besok paginya Lin Tian meninggalkan losmen dengan langkah ringan. Jubah putihnya masih rapi meski tidur di dipan bambu sempit. Ia tersenyum kecil mengenang Bai Feng yang semalam penuh percaya diri. Mungkin pria tambun itu tidak seburuk kesan pertamanya.
Ia melesat rendah menggunakan pedang terbangnya melewati atap-atap kota, kemudian mendarat di depan gerbang sekte yang katanya bernama Sekte Ombak Biru. Ternyata sekte itu tidak berada di dalam kota, melainkan di sebuah bukit kecil di luar tembok timur. Sebuah gapura batu biru berdiri kokoh dengan ukiran ombak yang tersapu angin dan waktu.
Di halaman depan sudah banyak orang berkumpul. Puluhan pemuda dan pemudi dari berbagai penjuru Kota Naga Patah dan sekitarnya berdiri dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang tampak gugup, ada yang tertawa santai, dan beberapa bahkan sudah berlatih ringan dengan pedang kayu mereka.
Lin Tian melihat Bai Feng sendiri sedang duduk di atas batu besar sambil memanggang sepotong ayam di atas api kecil. Bau harum ayam bakar menyebar membuat beberapa calon murid lain melirik dengan perut keroncongan. Bai Feng menyantapnya dengan lahap tanpa peduli tatapan orang lain.
Lin Tian tersenyum lalu menghampiri meja pendaftaran yang dijaga oleh dua murid sekte berjubah biru. Seorang pria berkumis tipis dan seorang wanita dengan rambut diikat tinggi.
"Nama dan asal," ucap pria berkumis tipis tanpa mengangkat wajah.
"Lin Tian. Tidak ada asal sekte. Saya praktisi mandiri dari wilayah selatan," jawab Lin Tian dengan sopan.
Pria itu mendongak, mengamati Lin Tian dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Pendirian Fondasi awal ya... cukup bagus. Ini token pendaftaranmu. Ujian akan dimulai dua hari lagi, jadi jangan terlambat."
Lin Tian menerima token kayu kecil berwarna biru dengan ukiran angka 47.
"Terima kasih, tuan."
Saat ia berbalik, suara Bai Feng memanggil dari kejauhan. "Lin Tian! Kemari!"
Lin Tian mendekati Bai Feng yang masih mengunyah paha ayam dengan mulut penuh lemak. Pria tambun itu menepuk batu di sampingnya.
"Kau sudah daftar, Itu bagus. Santai saja ya... ujiannya mudah katanya. Jangan dipusingkan dulu," ucap Bai Feng sambil menyeka mulutnya dengan lengan baju.
"Kau sepertinya tahu banyak tentang sekte ini," kata Lin Tian sambil duduk.
Bai Feng tertawa kecil. "Tentu saja. Keluargaku sudah tiga generasi bergabung di sini. Aku hanya perlu melewati formalitas. Tapi untuk saat ini... ikut aku dulu. Aku ada urusan bisnis dengan komandan tentara bayaran di luar kota."
"Bisnis?"
"Ya. Keluargaku memproduksi pil tingkat rendah. Ada seorang komandan bayaran dari benua Shenxiou yang rutin membeli dalam jumlah besar. Katanya banyak anggota baru bergabung dari sana, jadi dia butuh stok pil untuk anak buahnya. Aku belum pernah lihat langsung tentara bayaran dari benua Shenxiou. Jadi aku penasaran. Ayo ikut, biar tidak bosan menunggu ujian," jelas Bai Feng sambil berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya.
Lin Tian berpikir sejenak. Mereka belum kenal dekat, tapi si tambun ini tiba-tiba ramah. Tapi ia juga tidak memiliki aktivitas lagi setelah ini, ikut adalah pilihan terbaik.
Selain itu, benua Shenxiou... itu adalah tempat asalnya dulu sebelum ibunya memindahkan seluruh ras ular ke Lingzhou. Mungkin ada informasi menarik.
"Aku ikut."
Setelah itu mereka berdua meninggalkan halaman sekte. Bai Feng memimpin jalan ke arah barat, melewati hutan pinus yang jarang, hingga sampai di sebuah perkemahan kecil di tepi sungai. Beberapa tenda kain tebal berdiri tidak beraturan, dengan beberapa pria kekar berseragam kulit tipis berjaga di sekeliling.
Bai Feng melambaikan tangan pada seorang penjaga. "Aku Bai Feng dari keluarga Bai. Aku punya janji dengan Komandan Li."
Penjaga itu mengangguk dan membiarkan mereka masuk. Suasana di dalam perkemahan cukup ramai. Beberapa tentara duduk di sekitar api unggun sambil mengasah pedang atau memperbaiki baju zirah mereka. Percakapan mereka cukup keras, dan Lin Tian tanpa sengaja mendengar beberapa potong obrolan.
"Kau dengar? Kekaisaran Daxia benar-benar runtuh beberapa bulan lalu."
"Siapa yang tidak dengar? Seluruh benua Timur sedang gempar. Seorang pria tampan berjubah putih dengan kekuatan kegelapan yang aneh masuk sendirian ke istana."
"Kaisar Ming yang sudah Formasi Jiwa... mati? Bersama semua keturunan dan ahli Jiwa Awal?"
"Aku mendengar mayat mereka ditemukan dalam keadaan mengerikan. Tidak ada yang mau menjelaskan detailnya. Yang jelas, seluruh kerajaan yang dulu berjaya itu kini tinggal nama."
Lin Tian mengerutkan kening. Kekaisaran Daxia? Namanya samar-samar terasa familiar. Ia lahir dan menghabiskan masa kecilnya di benua Shenxiou, di alam tersembunyi milik ras ular putih. Tapi saat itu usianya terlalu kecil, jadi tidak mengingat banyak hal. Mungkin ibunya pernah menceritakan, tapi Lin Tian lupa karena sudah terlalu lama.
Dan Lin Tian hampir tidak peduli dengan runtuhnya sebuah kekaisaran asing. Tapi cerita tentang seorang pria tampan berjubah putih dengan kekuatan kegelapan yang aneh... entah mengapa membuat bulu kuduknya meremang tipis. Bukan karena takut, tapi ada rasa ingin tahu kecil yang muncul.
Bai Feng sudah berjalan menuju tenda terbesar di tengah perkemahan. Lin Tian mengikutinya dari belakang. Di dalam tenda, seorang pria botak dengan janggut tebal duduk bersila di atas karpet merah. Matanya tajam dan tubuhnya kekar penuh otot. Dari aura yang terpancar, pria ini berada di tingkat Inti Emas tahap awal. Jauh di atas mereka berdua.
"Komandan Li," sapa Bai Feng sambil membungkuk sopan. "Saya membawa pesanan pil pemulihan Qi sebanyak seratus botol seperti yang tuan pesan."
Komandan Li mengangguk. "Bagus. Anak buahku bertambah empat puluh orang baru minggu lalu. Semuanya butuh pasokan pil."
Sambil menunggu Bai Feng mengeluarkan barang dari cincin penyimpanannya, Lin Tian melirik ke sudut tenda. Di sana tergantung peta besar yang menggambarkan tiga benua: Shenxiou di timur, Lingzhou di selatan tempat mereka sekarang, dan Hanxuan di utara. Tidak ada gambar Huanggu di barat.
Lin Tian tersenyum kecil. Benua asalnya meski sudah lama ditinggalkan, tetap terasa familier di matanya. Tapi ia tidak bernostalgia. Yang ia butuhkan hanyalah satu petunjuk kecil. Siapa ayahnya... dan siapa Kakek Han sebenarnya.
Bai Feng menyelesaikan transaksinya. Seratus botol pil berganti dengan sekantong batu roh menengah yang membuat matanya berbinar.
"Urusan selesai, Komandan. Kami pamit," ucap Bai Feng.
Di luar tenda, Bai Feng berbicara. "Sekarang kita punya waktu dua hari untuk bersantai sebelum ujian. Ayo makan, biar aku traktir."
Lin Tian tertawa kecil. Pria tambun ini memang lugas dan sedikit sembrono, tapi tidak membosankan.
"Baik. Tapi jangan ayam panggang lagi."
Bai Feng tertawa keras. "Dasar. Ayam itu makanan dewa, kau tahu?"
Mereka berjalan kembali ke Kota Naga Patah, melewati hutan pinus yang sunyi. Lin Tian melihat ke arah timur, ke arah benua Shenxiou yang jauh di seberang lautan. Di sana, makam Kakek Han terbaring di alam tersembunyi yang kosong. Suatu hari nanti ia akan kembali. Tapi tidak sekarang.
Sekarang ia akan fokus pada ujian masuk Sekte Ombak Biru. Dan menikmati setiap prosesnya.