Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4--Tawaran Maut Sang Sales
Pria itu, Pak Budi, tertegun. Ia membalikkan badannya sepenuhnya, menatap Naufal dengan intensitas yang berbeda. Rasa malu yang tadi menyelimuti wajahnya kini berganti dengan rasa penasaran yang luar biasa.
"Bagaimana kamu bisa tahu jumlahnya sampai setepat itu, Nak?" tanya Pak Budi pelan, suaranya kini terdengar berwibawa, tak lagi terdengar seperti pria lemah yang bisa diinjak-injak.
Naufal melirik ke arah panel sistem yang melayang di samping Pak Budi.
[Ding!]
[Tingkat Kepercayaan Target Meningkat: 75%!]
Naufal tersenyum tipis. "Sebut saja insting seorang sales yang peduli, Pak. Saya tahu Bapak sedang mencari perangkat yang bukan hanya sekadar 'bisa foto', tapi punya memori besar untuk materi pembelajaran dan baterai yang awet agar anak-anak yatim di yayasan Bapak tidak kesulitan saat belajar."
Pak Budi terdiam cukup lama, lalu ia tertawa kecil—sebuah tawa yang penuh dengan rasa puas. "Luar biasa. Baru kali ini saya bertemu sales sepertimu. Baiklah, kalau begitu tunjukkan apa yang kamu punya."
Di sudut toko, Andre mulai menyadari ada yang tidak beres. Atmosfer di sekitar Naufal dan si 'ikan teri' itu mendadak terasa berat dan serius.
Naufal menggiring Budi ke meja display—produk Hp dari perusahaan milik Naufal untuk dilakukan probing. Dan Naufal berbicara dengan cukup lancar.
"Siska, itu bapak-bapak kok nggak jadi pergi? Malah ngobrol serius gitu sama si Naufal?" bisik Andre, tangannya berhenti melepas hp demo.
"Mungkin memang niat beli …” jawab Siska ketus, ia sebenarnya jengkel dengan senior toxic ini, namun cuma berusaha akrab dia takut kena imbasnya juga.
Pria bersandal jepit itu, Pak Budi, menyipitkan matanya. Ia sudah mendengar cerita rinci dari naufal, “jadi begitu unit … A5 ya. Memiliki baterai yang lumayan awet dengan kapasitas yang besar, cukup untuk digunakan belajar anak yayasan.”
“Sudah sangat cukup pak! Bahkan lebih dari cukup itu mah.”
“Oke, deal …”
Pak Budi merogoh saku celana kolornya yang kusam, mengeluarkan sebuah kartu nama yang sudah agak lecek, lalu meletakkannya di atas etalase kaca.
"Tunjukkan padaku A5 itu aku ambil semua 50 unit … untuk masalah warna seadanya saja!” ucap Pak Budi datar.
Andre yang mendengar kata memborong dan "50 unit" langsung tersedak ludahnya sendiri. Ia berlari mendekat, mencoba memotong pembicaraan. Jangan bercanda seri A5 itu harganya 2,5 juta … jika dia menjual 50 unit artinya total target naufal jelas nutup ditambah insentif produk itu walau seri menengah sudah 50 ribu satu unit.
Andre mana terima Naufal untung banyak, dia harus yang untung banyak disini.
Siska malah mematung. “Kak!”
“Kenapa sis?” Tanya Andre dengan tatapan tajam. “Jangan bilang lo mau hentikan gue?”
Siska menelan ludah. Nyalinya ciut melihat kilat keserakahan di mata Andre yang sudah seperti serigala kelaparan. Ia tahu Andre tidak akan segan-segan menindas siapapun yang menghalangi komisinya.
Siska membenci situasi ini, padahal jelas ia ingin Naufal selamat, namun dalam naluri hidup dan logikanya menolak untuk berani … ‘aku benar-benar manusia menjijikan.’
"Eng-nggak, Kak. Tapi itu kan jelas-jelas user milik Naufal... maksudku, dia yang melayani dari awal," cicit Siska, mencoba membela dengan suara sangat rendah.
"Terus?! Di nota belum ada nama, berarti masih milik umum! Jangan lupa kalian berdua cuma junior baru, gue senior disini!" Andre mendesis. “Lo cewek jadi kuharap keputusan lo lebih bijak … atau lo mau gue serang, dilihat-lihat lo punya perawakan yang lumayan.”
Siska bergidik ngeri nalurinya mengatakan untuk tidak ikut campur. “M-maaf kak.”
“Bagus kalau lo ngerti!” lalu dengan gerakan cepat ia menyambar selembar brosur produk brand miliknya sendiri dan merangsek maju ke arah Pak Budi
"Eh, Pak! Tunggu dulu!" Andre memotong pembicaraan dengan suara yang dibuat-buat ramah, hampir terdengar seperti menjilat.
"Jangan buru-buru ambil A5, Pak. Itu produk tanggung. Mari sama saya saja, saya Senior Sales di sini. Saya punya seri A-`17 yang spesifikasinya jauh di atas itu. Kameranya sudah pakai sensor terbaru, lebih cocok buat anak muda jaman sekarang.A-5 mungkin menang kapasitas baterai, namun A-17 saya lebih bagus untuk kebutuhan kamera.”
Pak Budi mengerutkan kening, merasa tidak nyaman karena ruang geraknya tiba-tiba diinvasi oleh pria yang tadi terang-terangan menghinanya.
[Sistem Analisis Nilai: Peringatan!]
[Target merasa terganggu oleh kehadiran 'Hama'. Tingkat Kepercayaan menurun 5%.]
[Saran: Singkirkan gangguan untuk mengunci transaksi senilai Rp125.000.000.]
Naufal yang melihat sistemnya berkedip merah langsung tersadar. Ia tidak boleh membiarkan Andre menghancurkan harapannya lagi. Kali ini, nasib ibu dan adiknya dipertaruhkan. Ia gak mau diinjak-injak lagi, seperti perkataan siska, dia harus tunjukan siapa raja disini!
"Maaf, Kak Andre," Naufal melangkah maju, memposisikan tubuhnya tepat di depan Pak Budi sebagai pagar pelindung. "Tadi Kakak bilang ini 'ikan teri' bagianku, kan? Kenapa sekarang Kakak malah repot-repot menawarkan produk lain?"
Andre terkejut, biasanya anak baru ini selalu takut kalau dia sudah maju namun tatapan hari ini terlihat tegas dan seperti orang lain.
"Lo anak baru diam aja! Gue cuma mau kasih yang terbaik buat Bapak ini!" Andre membentak, mencoba mendorong bahu Naufal.
Namun, Naufal tidak bergeming. Berkat sinkronisasi sistem semalam, ada rasa percaya diri yang tidak tergoyahkan dalam dirinya. Ia menatap Andre lurus-lurus.
"Memberikan yang terbaik atau mengejar insentif pribadi, Kak? Pak Budi butuh durabilitas baterai untuk belajar, bukan kamera sensor terbaru yang harganya lebih mahal 1 juta tapi baterainya boros, terus dari daya tahan juga, di A-5 sudah tahan banting, ada IP54 juga untuk ketahan air. Jangan sesatkan pelanggan demi kantong kakak sendiri."
Wajah Andre merah padam. "Lo berani ngajarin gue?!"
"Cukup!"
Suara Pak Budi menggelegar, dingin dan sarat akan otoritas yang membuat Andre seketika membeku. Pria tua itu mengambil kembali kartu namanya yang lecek, lalu memasukkannya kembali ke saku celana kolornya.
"Mas Senior," Pak Budi menatap Andre dengan pandangan merendahkan. "Tadi kamu tertawa paling keras saat saya masuk. Sekarang, kamu menjilat paling depan saat saya bilang mau beli lima puluh unit. Orang seperti kamu adalah alasan kenapa bisnis sering hancur; terlalu fokus pada uang, lupa pada martabat."
Pak Budi beralih menatap Naufal, ekspresinya melunak. "Nak Naufal, urus notanya sekarang. Saya bayar tunai. Dan saya tegaskan, jika sepeser pun komisi dari transaksi ini masuk ke kantong orang selain kamu, saya batalkan pembelian ini sekarang juga."
[Ding!]
[Tingkat Kepercayaan Target: 95% (Solid)!]
[Misi terbaru aktif!]
[Closing produk! Buat Bapak ini membeli produk anda!]
[Hadiah misi perkenalan dari sistem Rp 10.000.000!]
Siska yang menonton dari kejauhan hanya bisa menutup mulut dengan tangan, takjub. Ini dia yang dia suka, saat pria yang dihormati menunjukan taringnya untuk sekian lama. Ia terasa seperti kembali ke masa lalu lama, masa yang mungkin naufal melupakannya. Saat dia diselamatkan dan berhutang nyawa dengan pria itu.
‘bagus fal, serang semangat! Jangan kasih kendor!’ batin si gadis itu yang gak mungkin seumur hidup pun dia bakal bicara terang terang begitu!
Sementara itu, Manajer toko yang mendengar keributan langsung berlari keluar dari ruangannya. Ia mendengar percakapan dan transaksi besar, tentu ini sudah ranahnya manajer toko untuk masuk.
"Ada apa ini? Lima puluh unit?!" Manajer itu hampir pingsan melihat Pak Budi mengeluarkan tumpukan uang tunai dari tas kain lusuhnya. "Naufal! Kamu... kamu beneran closing segini banyak?"
Naufal tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan senyum tipis ke arah Andre yang kini berdiri gemetar, menyadari bahwa bukan hanya komisi besar yang hilang, tapi harga dirinya baru saja diinjak-injak oleh 'ikan teri' yang diremehkan.
"Bantu saya ambil stoknya, Kak Andre. Oh, dan tolong pelan-pelan ya, jangan sampai lecet. Ini pesanan VIP," ucap Naufal dengan nada tenang yang sangat mematikan.
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN