Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Suara deru mobil mewah Kinanti perlahan menjauh, meninggalkan kepulan debu yang masuk melalui celah pintu kontrakan yang terbuka. Di dalam ruangan sempit itu, kesunyian mendadak menjadi sangat bising di telinga Alana.
Tidak ada lagi suara tangis bayi yang sesak, tidak ada lagi deru napas kecil yang membuatnya terjaga sepanjang malam. Yang tersisa hanyalah selembar kertas bermaterai di atas meja, bukti bahwa ia baru saja menjual haknya sebagai seorang ibu demi nyawa sang anak.
Alana masih bersimpuh di lantai semen yang dingin. Tangannya yang kosong meraba-raba tikar, seolah berharap masih bisa menyentuh kain lampin bayinya. Namun, yang ia temukan hanyalah kehampaan.
"Dia pergi... anakku sudah pergi," bisiknya dengan suara yang pecah.
Arkan, yang sedari tadi berdiri mematung di sudut ruangan, akhirnya melangkah mendekat. Ia ingin menyentuh bahu Alana, ingin memberikan kekuatan, namun tangannya tertahan di udara.
Ia sadar, ia tidak punya hak untuk menghibur wanita yang hancur karena pilihannya sendiri untuk tetap patuh pada Kinanti.
"Alana, ini yang terbaik," suara Arkan terdengar hambar, bahkan di telinganya sendiri. "Di rumah sakit itu, dia akan selamat. Kinanti sudah memesan dokter terbaik. Kamu lihat sendiri tadi, napasnya sudah mulai membiru. Kalau tetap di sini..."
"Kalau tetap di sini dia akan mati karena ayahnya lebih memilih sebuah jabatan Direktur daripada harga diri!" potong Alana tajam. Ia mengangkat wajahnya, menatap Arkan dengan mata yang merah dan bengkak. "Jangan berlagak seolah kamu peduli, Arkan. Kamu berdiri di sana, menonton istrimu merampas anakku, dan kamu tidak melakukan apa-apa."
"Aku tidak bisa melakukan apa-apa, Lan! Semua uangku, semua asetku, dikunci oleh Kinanti!" bentak Arkan, emosinya meledak karena rasa bersalah yang mencekik. "Kamu pikir aku senang melihat ini? Aku terhina! Tapi kalau aku melawan, kita semua akan mati kelaparan di jalanan. Kinanti tidak main-main dengan ancamannya."
Alana tertawa sumbang, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan. "Kalian berdua luar biasa. Yang satu merampas dengan uang, yang satu mengkhianati dengan ketakutan. Selamat, Arkan. Kalian adalah pasangan yang sangat serasi dalam menghancurkan hidup orang lain."
Sementara itu, di dalam mobil Rolls-Royce yang melaju kencang menuju Rumah Sakit Medika, Kinanti duduk dengan punggung tegak. Di dekapannya, bayi kecil itu tertidur pulas setelah diberi bantuan oksigen portabel oleh perawat pribadi yang sudah ia siapkan di mobil.
Kinanti menatap wajah bayi itu. Ada kemiripan yang kuat dengan Arkan pada garis rahangnya, namun ia tidak merasakan kehangatan seorang ibu. Baginya, bayi ini adalah sebuah instrumen.
Sebuah pengingat abadi bagi Arkan tentang pengkhianatannya, dan sebuah rantai yang akan memastikan Arkan tidak akan pernah berani melirik wanita lain lagi.
"Ibu, kita sudah hampir sampai. Dokter sudah menunggu di lobi VIP," lapor sopir.
"Bagus," jawab Kinanti singkat. Ia membelai pipi bayi itu dengan ujung jarinya yang dingin. "Selamat datang di dunia yang penuh aturan, Kecil. Di sini, kamu tidak akan pernah kekurangan harta, tapi kamu harus belajar bahwa tidak ada yang gratis di tangan seorang Kinanti."
Sesampainya di rumah sakit, Kinanti turun dengan langkah yang sangat berwibawa. Para perawat dan dokter segera mengerumuninya, mengambil alih bayi tersebut dengan sangat hati-hati.
Kinanti tidak ikut masuk ke dalam ruang perawatan intensif. Ia berdiri di balik kaca besar, menatap prosedur medis yang berlangsung dengan tatapan tanpa ekspresi.
Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Arkan.
"Bayi sudah di NICU. Prosedur berjalan lancar. Pulanglah ke rumah utama sekarang. Ada berkas yang harus kamu tanda tangani sebelum besok pagi."
Di kontrakan, ponsel Arkan bergetar. Ia membaca pesan itu dan menghela napas panjang. Ia menatap Alana yang kini mulai mengemasi barang-barangnya yang tinggal sedikit ke dalam tas belanja plastik.
"Kamu mau ke mana?" tanya Arkan.
"Ke mana saja. Asalkan tidak ada kamu dan istrimu di sana," jawab Alana datar. "Kinanti bilang aku harus pergi dari kota ini, kan? Aku akan pergi. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi di sini."
"Lan, tunggu sebentar. Aku akan memberimu uang untuk ongkos..."
"Uang dari Kinanti?" Alana berhenti sejenak, menatap Arkan dengan tatapan yang sangat dalam. "Simpan saja untuk membeli harga dirimu yang sudah terjual habis, Arkan. Mulai hari ini, jangan pernah cari aku. Dan kalau suatu hari anak itu bertanya siapa ibunya, katakan padanya bahwa ibunya sudah mati karena dibunuh oleh ayahnya sendiri."
Alana menyampirkan tas plastiknya di bahu, berjalan melewati Arkan tanpa menoleh sedikit pun. Langkah kakinya yang pincang dan tertatih menuruni anak tangga semen yang retak, menghilang di balik kegelapan gang sempit.
Arkan berdiri sendirian di ruangan yang kini benar-benar kosong. Ia melihat sekeliling, bekas botol susu bayi yang kosong, tikar yang berantakan, dan aroma Alana yang masih tertinggal. Ia merasa seperti pemenang yang baru saja kehilangan seluruh dunianya.
Ia berjalan keluar, mengunci pintu kontrakan itu untuk terakhir kalinya, dan masuk ke dalam mobil dinasnya yang mewah. Di sepanjang perjalanan pulang, lampu-lampu kota Jakarta tampak seperti kilatan memori yang menyakitkan.
Ia kembali ke rumah utama, kembali ke pelukan Kinanti yang dingin, kembali ke tahta Direktur yang kini terasa seperti kursi pesakitan.
Sesampainya di rumah, Kinanti sudah menunggu di ruang tengah, duduk di sofa favoritnya sambil memegang segelas anggur merah.
"Sudah selesai?" tanya Kinanti tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang dibacanya.
"Dia pergi," jawab Arkan pendek. Ia duduk di hadapan Kinanti, bahunya merosot. "Kamu puas, Kin? Kamu sudah mengambil bayinya, kamu sudah mengusir ibunya. Apa lagi yang kamu mau?"
Kinanti menutup bukunya perlahan, lalu menatap Arkan dengan senyum kemenangan yang tipis. "Aku tidak mengambil, Arkan. Dia yang menyerahkan. Aku hanya memberikan solusi untuk masalah yang kamu buat sendiri. Sekarang, anak itu akan memiliki nama belakangmu secara resmi di bawah kartu keluargaku. Dia akan menjadi pewaris sah, dan kamu... kamu akan menjadi ayah yang sangat sibuk bekerja untuk memastikan masa depannya tetap mewah."
Kinanti menyodorkan sebuah dokumen baru. "Ini adalah pernyataan bahwa kamu melepaskan seluruh hak komunikasi dengan Alana selamanya. Jika kamu melanggar, hak asuh anak itu akan kupindahkan ke panti asuhan di luar negeri yang tidak akan pernah bisa kamu temukan."
Arkan menatap kertas itu dengan tangan gemetar. Ia sadar, Kinanti tidak hanya merantai kakinya, tapi juga merantai jiwanya melalui anak itu. Dengan pasrah, Arkan meraih pulpen dan menandatanganinya.
Di kejauhan, di dalam terminal bus yang bising dan kotor, Alana duduk di kursi plastik yang keras, menatap tiket bus menuju kota kecil di Jawa Tengah.
Ia mengusap perutnya yang kini terasa kosong, sementara air matanya jatuh tanpa suara. Di kota ini, ia pernah bermimpi menjadi nyonya besar, namun sekarang, ia hanyalah bayangan yang tak diinginkan.
Roda pembalasan Kinanti telah selesai berputar untuk satu fase, namun bagi Arkan dan Alana, ini adalah awal dari penjara yang tidak memiliki pintu keluar.
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
apalagi Arkan gk bisa move on Dr Alana.