NovelToon NovelToon
Because Of Music We Met

Because Of Music We Met

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Crazy Rich/Konglomerat / Anak Genius
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sandra Yandra

Banyak yang beranggapan bahwa musik hanyalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama suara yang dihasilkan dari alat-alat yang mampu menciptakan nada indah.

Namun, tidak... Musik tidak sesederhana itu.

Musik jauh lebih kompleks dan dalam daripada apa pun di dunia ini. Musik mengandung kekuatan magis yang mampu membuat seseorang menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, lebih peka terhadap rasa, dan bahkan menjadi sosok yang penuh dramatis.

Musik memiliki kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang, namun di saat yang sama, ia juga bisa menjadi alat yang menghancurkan segalanya.

Ketika musik menjadi alasan bagi seseorang untuk memutuskan ikatan emosionalnya dengan orang lain, lalu menutup diri dari dunia...

Maka pertanyaannya kini adalah...

Bisakah musik itu juga menjadi alasan untuk mempersatukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandra Yandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Rabu, pukul 10.30..

Hari itu anggota klub musik sekolah Harmoni High School kembali berkumpul di ruangan kesayangan mereka. Jam dinding baru menunjukkan pukul setengah sebelas siang.

Namun seluruh jam pelajaran sudah dibatalkan dan para siswa dibebaskan melakukan aktivitas masing-masing.

Pasalnya, kepala sekolah mengadakan rapat mendadak yang mengharuskan seluruh guru dan staf ikut hadir.

Bagi anak-anak klub musik, ini tentu saja kabar gembira. Tanpa ada pengawasan dan beban tugas sekolah, mereka bisa menghabiskan waktu sepuasnya, berkutat dengan alat musik, mencoba lagu baru, atau sekadar bersantai dan bercanda seperti biasa.

"Berarti waktu itu mereka nggak bilang apa-apa lagi ya, kak?" tanya Tamma.

Tamma mendekati Arjuna yang sedang mencuci dan membersihkan gelas-gelas bekas minum. Dia menempelkan telinganya mendekat, seolah takut ada orang lain yang mendengar pembicaraan rahasia mereka.

Arjuna mengangguk pelan, tangannya tetap bergerak membersihkan sisa noda di gelas kaca itu.

"Setelah Chandra secara terang-terangan bilang kalau Judika itu adik kandungnya, mereka langsung diam dan memutuskan pergi. Aku yakin sekali, mereka tidak tahu soal konflik panjang antara Judika sama kakaknya sendiri. Makanya mereka tiba-tiba ragu, sampai tidak berani lagi menuntut atau menyuruh kita melakukan hal apa pun."

"Untuk saat ini, kondisi ini justru menguntungkan kita. Mereka bakal berpikir dua kali bahkan tiga kali kalau mau macam-macam, baik sama Judika maupun sama kita semua. Paling tidak, sampai masa hukuman yang diberikan sekolah ini selesai."

Saat ini hanya ada Arjuna dan Tamma di dalam ruangan. Anggota lain sedang pergi bergerombol ke minimarket di luar kompleks sekolah, membeli persediaan makanan dan minuman yang nanti akan mereka habiskan bersama.

Tamma mengangguk setuju, tapi masih terlihat bingung.

"Iya, aku juga mikir begitu. Cuma satu hal yang masih buat aku tidak mengerti jalan pikiran mereka. Padahal masalahnya cuma karena aku tidak sengaja mecahin kaca jendela ruang klub mereka, tapi mereka bereaksi berlebihan banget. Mengancam, menunggu aku di gerbang sekolah sampai buat laporan resmi ke guru. Aneh sekali kan?"

"Kayaknya hal sepele aja, tapi diperbesar sampai segitunya."

Tamma kembali duduk di sofa, memain-mainkan ujung sepatunya menyentuh kaki meja kayu besar di depannya.

"Mereka sengaja memancing kita, Tamma. Kalau kita sampai emosi dan melawan, atau melakukan kesalahan sedikit saja selama masa hukuman ini. Otomatis alasan mereka sudah siap. Klub ini bisa langsung dibubarkan begitu saja." Arjuna berhenti sejenak. Dia eletakkan gelas yang sudah bersih ke rak penyimpanan.

"Tapi kak, kita kan jelas-jelas kalah jauh dari mereka. Kalau kita adu bakat secara sportif, mau bagaimana pun hasilnya pasti mereka yang menang. Mereka kan klub musik nomor satu di seluruh wilayah ini. Terus buat apa mereka susah-susah pakai cara curang seperti itu? Buang-buang tenaga aja rasanya."

"Memang benar, kita masih jauh tertinggal. Dari segi pengalaman, fasilitas, sampai popularitas, mereka memang di atas angin. Dari sudut pandang manapun, mereka pasti menang. Kecuali satu hal."

Arjuna berhenti bergerak. Dia menoleh menatap Tamma sambil mengedipkan sebelah matanya dengan misterius.

Sementara Tamma menunggu dengan sabar, matanya mengikuti setiap gerakan Arjuna yang kini berjalan mendekat ke arahnya.

"... Musik hip hop," sambung Arjuna pelan namun tegas.

"Hip hop? Maksud kakak... di genre ini kita lebih unggul dari mereka?"

"Tepat sekali. Klub Harfa itu memang multitalenta. Mereka bisa membawakan semua jenis musik dengan sempurna. Dimulai dari jazz, pop, klasik, sampai R&B. Tapi ada satu celah, satu kelemahan yang jarang orang sadari. Mereka tidak pernah menyentuh genre hip hop. Tidak pernah sekali pun aku lihat mereka menampilkan lagu beraliran itu. Padahal hampir semua jenis aliran sudah mereka kuasai dan bawakan dengan apik. Di situlah letak kekurangan mereka, dan di situlah letak kelebihan kita."

"Jadi intinya, apa yang jadi titik lemah mereka, justru jadi senjata andalan kita ya, kak?"

"Benar sekali. Selama bertahun-tahun aku amati setiap penampilan dan rekaman mereka. Tidak ada jejak sama sekali. Makanya aku yakin kesimpulan ini benar. Dan itulah alasan utama kenapa mereka begitu ingin menyingkirkan kita. Kita adalah satu-satunya ancaman yang mereka punya, meskipun secara umum kita masih kalah jauh."

Tamma menggigit ujung jarinya. Dia mulai mencerna semua ucapan Arjuna. Apa yang dikatakan kakaknya itu memang benar adanya. Dia sendiri sudah sering melihat penampilan klub Harfa di acara televisi maupun festival antar sekolah. Mereka selalu dipuji, dan selalu mendapatkan standing ovation. Bakat mereka memang diakui semua orang. Tapi memang, belum pernah sekalipun mereka membawakan lagu berirama hip hop.

Dan kalau dipikir-pikir lagi, memang klub Harfa punya keunggulan di bidang itu.

Ambil contoh Nathan, dia adalah rapper underground yang sudah punya nama di komunitasnya. Kemampuan freestyle-nya luar biasa. Bahkan kalau ditantang menggunakan bahasa Inggris sekalipun dia bisa melakukannya dengan mulus. Otak jeniusnya itu adalah tulang punggung kekuatan utama mereka.

Lalu ada Yongki, orang yang punya kemampuan luar biasa merangkai kata. Dia berperan sebagai komposer sekaligus produser. Hampir semua lagu yang pernah mereka bawakan adalah hasil karya pemikiran Yongki.

Dan seperti yang diketahui, pondasi utama musik hip hop terletak pada lirik yang jujur, menyentuh, dan bercerita. Yongki mampu mengubah pengalaman pahit, suka duka kehidupan. Bahkan cerita orang lain menjadi rangkaian kalimat yang indah, menusuk, dan cocok dipadukan dengan irama khas.

Belum lagi Hendy, sosok yang bakat menarinya seolah sudah diturunkan dari langit. Popping, breakdance, bahkan beatbox, semuanya dia kuasai dengan sempurna.

Kalau soal gerakan dan ritme, Hendy tidak akan kalah bahkan jika dibandingkan dengan penari terbaik dari klub Harfa sekali pun.

Sedangkan Tamma sendiri, bersama Jericko dan Judika, lebih banyak berperan sebagai vokal. Mereka mahir membawakan lagu dengan ketukan lebih lambat, berirama pop atau mellow, melengkapi kekuatan yang sudah ada.

Jadi walaupun hip hop adalah andalan utama, mereka tetap punya senjata lain yang tak kalah kuat.

Mungkin inilah alasan sebenarnya kenapa klub Harfa merasa terancam. Meskipun secara keseluruhan mereka lebih hebat. Ada satu wilayah di mana mereka tidak bisa menginjakkan kaki, dan justru di situlah anak-anak Harmoni berdiri tegak.

Tamma masih tenggelam dalam pikirannya, sampai suara langkah kaki dan suara bising barang-barang membawanya kembali ke dunia nyata. Nathan dan Yongki baru saja kembali membawa kantong-kantong belanjaan.

Nathan meletakkan semuanya di atas meja, langsung duduk dan membuka buku catatannya.

Sedangkan Yongki membuka kaleng minuman bersoda yang baru saja dibeli, meneguk isinya dengan rakus.

"Ahhh... capek sekali hari ini," keluh Yongki sambil menyeka sudut bibirnya.

"Kak, aku mau juga!" seru Tamma.

Tamma langsung merebut kaleng minuman itu dari tangan Yongki sebelum sempat dia minum lagi.

"Kemana yang lain?" tanya Arjuna sambil mulai memilah-milah isi kantong belanjaan.

"Jericko sama Hendy mampir dulu ke tempat pangkas rambut. Tadi pagi ditegur habis-habisan sama guru piket. Katanya rambut mereka sudah melebihi batas aturan sekolah. Apalagi sebentar lagi ujian besar, jadi dipaksa rapi," jawab Yongki tanpa menoleh, matanya masih tertuju ke layar ponselnya.

"Terus Judika? Dia ikut tidak?"

"Biasalah. Dia bilang mau mampir sebentar di taman belakang. Sepertinya dia butuh waktu sendiri, masih belum pulih sepenuhnya dari kejadian dua hari lalu."

"Begitu ya," gumam Arjuna sambil mengangkat alisnya, memahami keadaan Judika. Jika dia diposisi Judika, aka dia juga akan sama seperti Judika.

1
whiteblack✴️
apa Dika mulai buka hatinya untuk damai...akan lebih baik...terus mengejar cinta ya dika
sri wahyu
judika masih perang dengan batinnya sendiri pelan pelan saja
whiteblack✴️
hati Dika masih tertutup rapat... apa masih proses menerimaan..
sri wahyu
pelan2 saja judika jangan terburu buru
sri wahyu
pecah sudah tangisku di bab ini kak,,,, mendengar cerita judika
sri wahyu
baru baca 4 bab aq dah mau nangis kak💪💪💪👍👍👍
sri wahyu
cerita baru ya kak
whiteblack✴️
Dika masih perang ego nya😤
Himme
Ada yang mau bantu nonjok si Chandra... sungguh bikin emosi banget. Nggak sadar diri💢/Speechless/
whiteblack✴️
sahil loe ya...enggak ngerti suasana serius...tadi ngomong serius..biar chandra itu sadar mala..di ajak bercanda..😒
whiteblack✴️
sepertinya butuh waktu lama..Dika berdamai ..apa lagi punya kakak emosian suka maen tangan pula😒
Himme
Taukan kenapa Judika sulit memberikan maaf pada ibu dan kakaknya tapi mereka berdua aja yg egois/Wilt//Grievance/
Sandra Yandra: benar sekali.
Egois nya adalah mereka tidak mau memaafkan dan memberikan kesempatan kepada suaminya/ayahnya. Sementara mereka terus mendesak Judika untuk memaafkan mereka.
total 1 replies
Himme
Benci banget sumpah.. yang satu egois dan satunya emosian💢
whiteblack✴️
aku benci banget kakaknya gampang emosian maen tangan pula apa lagi ibunya egois sekali/Panic/
whiteblack✴️
lebih baik judika belajar untuk ikhlas aja..siapa tau hari" nya bisa menyenangkan kembali...
Himme
Kasihan Judika.. lagian itu si Chandra dan ibunya egois nya kebangetan💢
Himme
Part yang paling aku hindari/Sob/
whiteblack✴️
chan loe egois dan gampang emosi/Panic/ .. enggak sadar kesalahan loe huh/Angry/
whiteblack✴️
pertempuran ego+ hati= suara mulut pedas akan segera di mulai/Scare/
whiteblack✴️
hemmm...tuw kan Judika marah besar...ama ibunya..../Grievance/....sepertinya butuh waktu untuk berdamai semuanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!