Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 Kehilangan Itu Sakit
Bau antiseptik bercampur darah masih melekat di udara ketika Raznalira terbaring lemah di ranjang sempit bernomor lima belas. Wajahnya pucat, bibirnya kering, dan matanya kosong menatap langit-langit putih.
Matanya melirik ke beberapa sudut kamar, namun tak ada siapapun di sana. Bahkan suaminya pun tidak terlihat batang hidungnya. Air matanya merembes keluar.
"Jadi kau tetap tidak menjengukku Mas? Di saat aku sedang mempertaruhkan nyawa di sini, kau masih tidak peduli..." lirihnya dalam hati.
Rasa sakit hati terus dirasakan di saat moment terpentingnya tidak dihadiri suami.
Razna kecewa dengan sikap suaminya belakangan ini. lebih kecewa lagi saat tahu suaminya sering bermain game online sejak di PHK. Uang pesangon yang seharusnya untuk biaya persalinan, habis hanya untuk game online.
Gerimis yang sejak tadi ragu menyapa bumi akhirnya jatuh lebih deras. Tetesannya berkejaran di kaca jendela buram, membentuk garis-garis air yang bergetar setiap kali angin menerpa. Hawa dingin terasa menusuk jiwa.
Raznalira menggerakkan jemarinya yang dingin. Rasa nyeri masih menjalar di perutnya, berdenyut pelan sisa melahirkan sesar semalam. Ia memejamkan mata untuk mengingat detik-detik persalinannya. Lampu ruang bersalin yang menyilaukan mata, suara bidan yang tegas namun menenangkan, dan tangis bayi yang sempat memecah kesunyian.
"Oeeek....oeeek....oeeek,"
Tangis itu sangat memekakkan telinga namun tak sempat menatap wajah mungil itu, Razna tak kuasa untuk bertahan. Dia memejamkan mata, tak sadarkan diri setelah bayi itu dilahirkan.
Perlahan matanya terbuka kembali. Ia menoleh lemah ke sisi ranjangnya. Ranjang bayi di sampingnya kosong. Tidak ada sosok bayi yang telah ia lahirkan. Napasnya tercekat.
“Kemana bayiku?” suaranya nyaris tak terdengar, lebih mirip hembusan angin yang patah sebelum sampai ke telinga orang lain.
Sepi. Tidak ada siapa pun di ruangan. Dia merasa sendirian. Tetiba dia ingat sosok seorang ibu yang melahirkannya. Ada rasa penyesalan yang tidak bisa ia gambarkan. Kepedihan masa lalu saat diusir orang tuanya karena tidak mau patuh membuatnya semakin menyesal dan salah dalam memilih pasangan.
"Maafkan aku, Ma.." lirihnya hampir tercekat. Seraya mengusap air matanya mengingat masa lalunya yang penuh kepedihan.
Seorang perawat mendekat dengan menyibakkan tirai secara perlahan. Seraya tersenyum ramah.
“Ibu sudah sadar?” tanya perawat itu dengan suara lembut.
Raznalira mengangguk, menatapnya dengan mata penuh tanya karena melihat perawat itu tidak membawa bayi yang diharapkan kehadirannya.
“Bayi saya di mana Sus?” tanya Raznalira lirih.
Perawat itu terdiam beberapa saat. Hal ini membuat dada Raznalira terasa sesak.
“Bayi Ibu ada di ruangan lain. Bayi Ibu perempuan, tapi..." suara perawat itu menggantung membuat Razna semakin penasaran.
"Tapi kenapa Sus? Bayiku baik-baik saja, kan? Mana bayiku, aku mau lihat!" tanya Razna secara beruntun. Matanya memindai ruangan itu.
"Maaf Bu, bayi Ibu masih ada di ruang perawatan khusus. Bayi ibu mengalami gangguan pernapasan setelah lahir,” jawabnya penuh hati-hati.
“Sekarang ditangani dokter yang berusaha untuk menstabilkannya. Berdoa saja Bu, semoga selamat!" lanjutnya merasa kasihan terhadap pasien yang ada di hadapannya.
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar lebih keras dari yang mengguncang langit di luar sana. Sungguh menyayat hati.
Raznalira mencoba bangkit, namun tubuhnya terlalu lemah. Tangannya mencengkeram seprai tipis di bawahnya.
Sssshhhhh!
“Saya mendengar bayi saya menangis semalam,” bisiknya lirih seolah meyakinkan dirinya sendiri.
“Ya, Bu. Memang bayi ibu lahir dengan menangis tapi ternyata pernafasannya terganggu,” perawat itu menenangkan. “Kami akan melakukan yang terbaik.”
Di luar, hujan akhirnya turun deras, memukul atap seng dengan suara riuh yang nyaris menelan semua percakapan mereka. Angin menyusup lewat celah jendela, membuat tirai berkibar perlahan.
Raznalira menatap langit-langit putih dengan nanar. Air matanya mengalir diam-diam ke pipinya. Tak disangka anak yang dilahirkannya harus mengalami sakit yang membutuhkan penanganan serius dari dokter.
Di suatu ruangan lain yang terpisah dinding dan lorong, seorang bayi kecil berjuang dengan napasnya sendiri, dikelilingi alat-alat sederhana dan tangan-tangan cekatan yang tak berhenti bekerja penuh kehati-hatian demi menyelamatkan bayi mungil tersebut. Namun ternyata keinginan tidak bisa berpihak pada mereka, bayi itu akhirnya...
Hujan masih turun deras ketika pintu bangsal terbuka secara perlahan. Langkah dokter terdengar lebih pelan dari sebelumnya. Tidak tergesa, tidak pula ringan. Ada beban di setiap pijakan sepatunya. Perawat yang tadi menenangkan Raznalira berdiri di belakangnya, menunduk.
Raznalira yang sejak tadi menatap pintu langsung merasa jantungnya bergetar tak menentu. Dia merasa ada yang tidak beres.
“Dok… bayi saya?” suaranya serak, penuh harap namun hatinya rapuh.
Dokter itu berhenti di samping ranjangnya. Ia melepas masker dan menarik napas panjang sebelum berbicara.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” katanya pelan. “Namun kondisinya terlalu lemah. Bayi Ibu tidak bisa bertahan.”
"Maksud dokter?" tanyanya belum paham dengan ucapan dokter yang membuat hatinya berdegup kencang.
"Bayi Ibu...meninggal...." ucap dokter dengan berat hati.
Kalimat itu jatuh seperti benda berat di ruang sempit itu. Menghantam kepalanya secara bertubi-tubi.
Raznalira terdiam. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangis histeris. Hanya tatapan kosong yang perlahan bagai kehilangan cahaya.
“Tidak. Itu tidak mungkin,” bibirnya bergerak pelan, hampir tanpa suara. Seraya menggelengkan kepalanya tanda tak percaya pada ucapan dokter yang menangani anaknya.
“Semalam aku dengar bayiku menangis. Aku yakin itu suara bayiku,” protesnya kecewa.
Air mata mengalir tanpa ia sadari. Dadanya terasa hampa, seolah sesuatu yang baru saja hadir kini direnggut begitu saja.
Di luar, petir kembali menggelegar. Dentumannya mengguncang kaca jendela, seakan langit pun ikut bersedih mendengar berita duka tersebut.
Perawat mendekat, menyentuh bahu Raznalira dengan lembut. “Kami akan membawa bayi Ibu sebentar lagi… jika Ibu ingin melihatnya.”
Kali ini Raznalira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangis yang sejak tadi tertahan akhirnya pecah juga. Dia belum siap menerima takdir yang sudah ditetapkan Sang Khaliq padanya. Sungguh cepat takdir merenggut bayinya. Bahkan dirinya pun belum sempat untuk memeluknya, menciumnya, bahkan membuainya.
Hujan terus memukul atap seng tanpa henti. Lorong bangsal kembali dipenuhi langkah perawat dan suara roda troli, seolah hidup harus tetap berjalan. Namun di ranjang bernomor lima belas itu, waktu terasa berhenti.
Beberapa menit kemudian, seorang perawat datang membawa bungkusan kecil berselimut kain putih. Gerakannya hati-hati, seakan masih takut menyakiti sesuatu yang sudah tak lagi merasakan desiran angin pagi yang menampar lembut kulitnya.
Bayi itu diletakkan perlahan di pelukan Raznalira. Tubuhnya bergetar hebat saat menerima bayi. Bayi itu sudah terlihat pucat, tidak bernyawa.
"Hanya sebentar ya Bu!" Pesan perawat itu berdiri di samping ranjang.
Wajah kecil itu tampak tenang. Terlalu tenang. Matanya terpejam tanpa bisa dibuka lagi. Bayi tersebut seolah sedang tertidur lelap.
Raznalira menatapnya lama. Jemarinya gemetar menyentuh pipi mungil yang kini dingin.
“Maafkan Ibu, Sayang…” bisiknya, suaranya patah.
Razna mencium pipi mungil itu dengan penuh haru. Matanya berkaca-kaca. Hatinya begitu hancur menerima kenyataan ini.
“Ibu belum sempat memberimu apa-apa. Ibu belum sempat memelukmu sepenuhnya. Maafkan Ibu, Nak," lanjut Razna tak kuasa menahan tangis. Bibirnya bergetar. Memeluknya erat sekali, seolah tidak ingin ada perpisahan raga di sana.
"Maaf Bu, saya harus mengambil bayi ini kembali. Tidak boleh lama-lama," kata perawat itu mengingatkan
bnar kata renndra.. patuhin aja razz
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...