Novelette
Di tengah keputusasaan, harapan datang dari masa yang belum terjadi.
Iris Astridewi, seorang siswi sekolah menengah atas yang hidup dalam keterbatasan di Makassar, harus menelan pil pahit kehidupan.
Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, takdir memaksanya menjadi sebatang kara setelah sang ayah meninggal dunia, meninggalkan beban hidup dan hutang yang mengancam masa depannya.
Seorang pria tampan dengan penampilan yang tidak wajar bernama Kim, tiba-tiba muncul di hadapan Iris.
Ia mengaku sebagai Humandroid tipe RK800, ciptaan tahun 2109 yang dikirim melintasi dimensi waktu.
Kim membawa pesan yang sulit dipercaya
Di masa depan, dunia akan hancur oleh tangan Iris sendiri. Bisakah Iris merubah masa depan ataukah hancur di tangan nya sendiri.
Ini kisah Iris bersama Humanoid bernama Kim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon [ Fx ] Ryz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Duka yang mendalam
...■▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎■...
Robot cerdas yang memiliki kemampuan dan kemiripan yang sama seperti manusia merupakan impian dari setiap para penggemar robot.
Salah satu nya seorang gadis belia penggemar robot dan sci fi, dia bernama Iris Astridewi.
Iris pada tahun 2026 ini masih berusia 17 tahun dan masih duduk di sekolah menengah atas.
Kehidupan Iris tergolong keluarga miskin dan sederhana.
Ayahnya bernama Joseph, dia bekerja sebagai nelayan di kapal ikan perairan timur Persatuan Indonesia.
Dikarenakan pekerjaan itulah membuat Iris jarang bertemu dengan ayahnya itu mungkin bisa hitung setahun dua atau tiga kali bertemu.
Lalu, Ibunya Iris. Dwi Putri. Dia telah meninggal dunia saat Iris berumur 4 tahun lantaran penyakit kanker darah yang di derita dan saat Iris sudah berumur 10 tahun.
Teman-teman sebayanya di sekitar Iris sering meledek dan menghina Iris bahwa ibunya meninggal bukan karena sakit melainkan di kutuk yang dibawa oleh Iris.
Iris yang saat itu masih kanak-kanak menjadi marah karena ledekan mereka. Namun, Iris hanya bisa diam dan menerima nya.
Iris tinggal di perkampungan terpencil yang ada di Makasar. Dia tinggal seorang diri di sana. Meski begitu, terkadang ada tetangga yang membantu nya karena merasa iba dengan kehidupan Iris.
Iris yang sudah berumur 17 tahun, dia pun terbiasa dengan kehidupan kesederhanaan nya itu terkadang juga di waktu luang nya Iris mencari uang sendiri dengan membantu salah satu tetangga yang membuka usaha nya di pasar.
Banyak pekerjaan yang dia lakukan disana seperti mengangkat barang, mengantar barang dan membeli beberapa barang pasar.
Karena itulah membuat sekolah Iris terbengkalai dengan sering tidak masuk sekolah dan tidur di kelas.
Walaupun begitu, Iris anak yang pandai dan selalu mendapatkan peringkat pertama di kelasnya.
Maka dari itu, pihak sekolah tidak mempermasalahkan absensi dan sikap yang tidur di kelas nya.
Sampai suatu hari di jam istirahat, wali kelasnya datang ke kelas dan memanggil Iris.
"Iris, kemari sebentar!" seru wali kelas yang masih berada di dekat pintu.
Iris yang tidur mengunakan kedua tangan nya diatas meja terbangun. Lalu, dia bangun dan beranjak dari kursi menghampiri wali kelas nya itu.
Wali kelas itu bernama Indra. Selain wali kelas 12-D, Pak Indra juga mengajar sejarah dan dia merupakan sosok guru yang baik dan perhatian.
"Ada apa, pak?" tanya Iris.
Saat Iris bertanya seperti itu, ekspresi pak indra berubah sedih dan empati menatap Iris.
"Iris, bapak mendapatkan kabar bahwa ayah kamu meninggal dunia saat dia tengah berlayar mencari ikan dan saat ini jenazah nya berada di rumah sakit umum," ucap pelan Pak Indra.
Mendengar perkataan itu, Iris sontak terkejut hingga melangkah mundur satu langkah dan ekspresi nya pun berubah sedih dan bingung menanggapi berita itu.
"Tidak mungkin?! Bagaimana bisa?" ucap kaget Iris.
Semua teman-teman sekelas nya pun menjadi terdiam dan melihat kearah Iris dengan tatapan simpati.
Pak Indra pun memegang bahu kanan Iris.
"Iris, bapak turut berdukacita. Kuat kan hatimu! Sekarang, kamu bapak izinkan pulang lebih cepat!" ucap Pak Indra.
Iris yang mendengar itu, dia sontak berpamitan dengan wali kelas nya itu. "Terimakasih, pak. Saya pulang dulu!"
Pak Indra mengangguk kepalanya dan melihat respon itu, Iris sontak berlari meninggalkan kelas tanpa memikirkan tas dan buku nya yang masih ada di meja nya.
Salah satu murid pria menghampiri pak Indra.
"Pak, bagaimana dengan tas dan buku-bukunya Iris?"
Pak Indra sontak melihat kearah murid pria itu, "Bayu, kamu mau menemani bapak untuk pergi ke rumah sakit dan membawakan tas juga buku Iris. Kita akan menyusulnya setelah pulang sekolah!"
Nama murid pria itu Bayu dan dia merupakan teman dekat dari Iris yang mana dia berteman sejak sekolah menengah pertama. Maka dari itu, Bayu pun tidak menolak perintah dari wali kelas nya tersebut.
"Baik, pak," jawab Bayu.
Disisi lain, Iris yang berlari keluar kelas hanya bisa menangis meski dia mencoba menahan nya namun, air mata masih menetes.
Setelah itu, Iris pun mengambil sepeda nya dan melajukan sepeda nya itu sekuat tenaga hingga menghasilkan kecepatan tinggi.
Selama perjalanan, Iris mengingat tentang kenangan-kenangan bersama ayahnya itu yang mana ayahnya telah merawat dan membesarkan nya seorang diri sejak umur empat tahun dan kini, dia harus kehilangan sosok tersebut.
Setibanya di rumah sakit dan salah satu dokter menunjukkan jenazah nya, Iris hanya bisa menangis dan memarahi ayahnya tersebut.
"Ayah, kenapa kamu meninggalkan ku seorang diri disini?! Kenapa ayah menyusul ibu?! Kenapa!" ucap keras Iris disertai dengan tangisan serta memukul jenasah yang ayah dan diakhiri dengan memeluknya.
Beberapa saat kemudian, Iris sudah tenang dan sedang berdiam diri menundukkan kepalanya di kursi depan ruang jenazah didatangi oleh Bayu dan Pak Indra.
"Iris, bagaimana?" tanya Pak Indra.
Iris yang mendengar itu, dia melihat kearah Pak Indra dan Bayu.
"Saya sedang menunggu pengurusan pemakaman nya," jawab Iris dengan senyum paksa meski wajahnya sudah sangat pucat dan merah.
"Kalau begitu, Iris kamu tidak perlu khawatir. Bapak akan mengurus semua nya!" jawab Pak Indra. Lalu, dia melihat kearah Bayu. "Bayu, kamu disini saja dahulu menemani Iris!"
Bayu pun mengangguk kepala. "Iya, pak."
Setelah itu, Pak Indra meninggalkan Iris dan Bayu. Lalu, Bayu pun duduk disamping Iris.
"Iris, aku membawa buku dan tas mu," ucap Bayu.
Mendengar itu, Iris sontak menoleh kearah Bayu dan tersenyum kepada nya.
"Terimakasih, Bayu. Kamu sudah datang dan membantu."
"Apa sih, Kamu? Santai aja kaya yang sama siapa aja?" jawab Bayu yang diakhiri dengan tawa kecil.
Tawa kecil Bayu itu pun membuat Iris juga tersenyum lebar.
"Nahh, gitu dong dan aku turut berdukacita," ucap Bayu dengan senyuman lebar.
"Terimakasih," jawab Iris.
Lalu, Bayu dan Iris pun saling bertukar senyum.
Keesokan harinya, Iris yang sudah lebih tegar mengadakan pemakaman yang sederhana dan hanya segelintir orang yang hadir dalam Pemakaman itu lantaran keluarga Iris dan diri nya sendiri kurang bergaul dengan banyak orang.
Setelah para tamu sudah pulang dan hanya Iris seorang diri di tempat itu datang pria tampan yang aneh dengan rambut rapih serta mengenakan pakaian futuristik yang aneh.
Pria itu memanjatkan doa serta memberikan nya sekuntum bunga untuk makam.
Iris yang melihat itu, dia sontak beranjak diri dan memberikan hormat kepada nya walaupun dia sama sekali tidak mengenali nya.
Sesudah itu, pria aneh menghampiri Iris dan bertanya kepada nya.
"Kamu Iris Astridewi di tahun 2026?" tanya pria aneh.
Mendengar pertanyaan yang aneh, Iris memiringkan sedikit kepalanya dan bertanya kepada nya.
"Iya. Saya Iris dan ini memang tahun 2026 tapi, paman siapa?" tanya Iris.
Pria aneh itu tersenyum kecil dan menjawab, "Saya Humandroid RK800. Codename, Kim."
Iris yang mendengar itu langsung mengerutkan keningnya, "Hah?! Humandroid? Apa maksud anda?"
"Saya di kirim oleh Putra anda sendiri untuk membimbing dan melindungi anda."
Ekspresi Iris semakin aneh dan dia sama sekali bingung dengan situasi yang dialami nya saat ini.